Oleh: Ust. Novrian, Guru Fisika
Williams Shakespeare mengatakan, “What is a name?”. Pertanyaan yang bernada retoris itu kurang lebih bermaksud, “Apalah arti sebuah nama?”. Shakespeare berkeyakinan, sekuntum bunga mawar tetaplah ‘mawar’ (warnanya merah, baunya harum, tangkainya berduri, dan dijadikan lambang cinta antara sepasang kekasih), meski ia tidak diberi nama ‘mawar’. Artinya, hakikat sesuatu bukanlah terletak pada ‘namanya’, namun lebih pada ‘isinya’. Benarkah? Pentingkah arti sebuah nama?
(lagi…)
Kategori: Akademik · Bina Keputrian (Nisa') · Kesiswaan
Oleh: Ust. Andri, Koordinator Kesiswaan
Sudahkah kita merasa nyaman di sekolah ini?
Berapa banyak orang yang menjadi sahabat kita di sini?
Apakah dengan full-day school kalian (baca: siswi) aman dari pergaulan negatif di luaran?
Ataukah malah jadi takut dengan banyaknya pelajaran dan ujian?
Apakah potensi minat, bakat, dan kemampuan telah tergali dengan baik di sini?
Apakah kalian sudah diperlakukan dengan adil?
Apakah kalian sudah mendapat hak setelah melakukan kewajiban?
Apakah harapan telah sesuai dengan kenyataan?
Akrab…
Sudahkah kita semua saling menghormati?
Sudahkah kita semua saling peduli?
Sudahkah kita semua saling menjaga satu sama lain?
Ikuti akhlak Rasulullah?
Aman…
Terancamkah anda dengan segala aturan?
Sadarkah anda warga sekolah ini mendukungmu dalam hal kebenaran?
Pernahkah anda menerima bantuan dari warga sekolah ini?
Jadi orang beriman?
Adil…
Sudahkah anda diberi kesempatan yang sama?
Tetap diperlakukan baik walaupun karakter anda begini atau begitu?
Tetap dihargai walaupun tingkat kemampuannya segini?
Terus perbaiki diri?
Akrab aman adil…
Bukanlah cuma slogan.
Yang hanya ditaruh dalam tulisan.
Tapi…
Akrab aman adil adalah harapan yang harus dijadikan kenyataan.
Kategori: Bina Keputrian (Nisa') · Kesiswaan · Konseling
oleh: Ust. Novrian, Guru Fisika
Di suatu Minggu yang cerah, bermula dari tayangan dokumenter di MetroTV, saya dan seorang siswi berSMS-ria tentang efek rumah kaca dan lapisan ozon yang bolong. Rupanya sang siswi salah persepsi. Ia mengira gedung-gedung tinggi yang dindingnya terbuat kaca adalah tersangka utama rusaknya lapisan ozon di atmosfer bumi. (lagi…)
Kategori: Bina Keputrian (Nisa') · Posting
Oleh: Ust. Aziz, Guru Bahasa Indonesia
Angin mengendap dari keharuan cinta
Tanah-tanah kering basah air mata
Siswa-siswi rekah hatinya
Merengkuh ilmu dalam gembira nestapa
Agar hidup seimbang
Tak mudah guncang
Selalu teguh berpegang Islam
Sebagai anak zaman
Mereka serempak teriak
Ke mana kami harus belajar
Sementara waktu terus mengejar
Kami adalah tunas-tunas harapan
Tengadah di gurun kehampaan
Ingin selalu kibarkan semangat
Dengan ilmu, agama, dan pengetahuan
Kami ialah para generasi
Memuat genangan cita-cita
Dalam pedih segala bara
Tetap mengalir wujudkan impian
Tangguh dalam atasi segala rintangan
Mantap dalam pendirian
Menjadi generasi masa depan
Kategori: Bina Keputrian (Nisa') · Kesiswaan · Posting
Oleh: Ust. Andri, Koordinator Kesiswaan
Motto Sekolah Integral Luqman Al Hakim adalah ‘Buka Hati dengan Pendidikan Tauhid’. Tujuan yang ingin dicapai yaitu generasi taqwa, cerdas, dan mandiri. Ortu yang menyekolahkan anaknya disini tentu mengharapkan perkembangan positif pada putra-putri mereka.
Dalam forum kelas pernah dibicarakan tentang pemahaman bahwa menyekolahkan anaknya di sekolah full-day bukan seperti pesan baju di penjahit. Serahkan kain, nego harga, tinggal pergi, lalu ambil kalau baju sudah jadi.
(lagi…)
Kategori: Bina Keputrian (Nisa') · Kesiswaan · Konseling
Oleh: Ustd. Feni, Guru Bimbingan dan Konseling
Sejak anak kita memasuki gerbang sekolah SMP Putri Luqman Al Hakim dengan seragam baru, kita mungkin baru menyadari bahwa ter-nyata anak kita sudah bukan “anak-anak” lagi.
Ini terlihat dari perubahan fisik, sikap, dan gaya bicara. Mereka sudah mulai menutup diri dan sembunyi-sembunyi dari ortu untuk membicarakan “sesuatu” dengan saudara atau teman sebayanya. Mereka telah bertransformasi dari “anak” menjadi “remaja”.
What’s going on with my daughter? Does she have problems? What kind of problems is she going through?
Wajar bila ortu khawatir dengan perubahan mendadak dalam diri remaja. Inilah remaja yang sedang menjalani masa puber. Menghadapi mereka ternyata butuh strategi khusus. Manajemen masa puber yang tepat dapat berperan memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan bagi remaja putri buah hati kita.
Bagaimana sikap yang tepat bagi ortu untuk menciptakan suasana kondusif yang dibutuhkan remaja?
Langkah awal adalah mengenali kecenderungan sikap dan perilaku mereka. Umumnya remaja putri lebih dulu mengalami puber dibandingkan remaja putra. Karena itu biasanya mereka:
- ingin dianggap sudah besar dan bisa mengatur dirinya sendiri, sehingga tidak suka disuruh, diatur-atur, dan dinasehati
- ingin tahu hal-hal baru yang lebih menantang
- mulai tertarik dengan lawan jenis, yaitu laki-laki
- ingin populer, gaul, dan funky
- lebih percaya kepada teman atau sahabat
- mulai peduli pada image dan penampilan diri termasuk hal-hal yang berbau fashion
Ortu bijak yang memahami perubahan-perubahan ini harus segera menyiapkan diri dengan memberikan teladan yang baik dalam bersikap dan bertutur kata. Dalam rangka usaha menasehati remaja, ortu harus melakukan pendekatan dengan cara:
- memberi kesempatan kepada mereka untuk berpendapat atau sekedar bercerita tentang pengalamannya hari ini
- menjadi pendengar yang baik di kala mereka punya keluhan atau uneg-uneg
- memberi saran yang simple, enjoy, dan disertai joke segar, tentu saja yang sesuai dengan syariah islam
- memahami harapan, keinginan, dan kesukaan mereka agar ortu tahu cara memotivasinya
- menghindari berbicara de-ngan nada yang formal, mendikte, atau mencari-cari hal yang tidak ingin mereka bicarakanmenjauhi prasangka, amarah, kata-kata kasar, dan terutama tindakan kekerasan sekalipun ortu emosi karena ulah mereka
- membantu mencari solusi, karena sesungguhnya remaja belum mampu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya
Wahai Ayah dan Bunda, saat ini anak-anak remaja putri kita sedang menjalani sebuah proses pematangan dan pendewasaan diri. Masih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan. Sedikit demi sedikit, marilah kita belajar.
Belajar apa? Belajar untuk menjadi ortu. Dari merekalah kita belajar menjadi ortu yang baik. Mereka membutuhkan orang yang bisa membimbing mereka menjalani proses ini.
Memang tidak mudah. Namun apakah kita akan menyerah dan membiarkan mereka gagal dalam melalui proses ini sendirian? Tentu saja tidak! Kita harus yakin bahwa ALLAH akan menuntun kita untuk menjadi ortu yang baik.
Ingatlah selalu bahwa anak adalah amanah dari ALLAH dan kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas diri mereka. (fen)
Kategori: Konseling