Selasa (31/03), SPiLuqkim kembali mengadakan Studi Wisata II ke Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan. Kegiatan yang dilakukan berupa outbound dipandu oleh Tim Outbound Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang juga merupakan Tim SAR Hidayatullah. Tujuan kegiatan ini selain sebagai wisata alam, juga dalam rangka menggali potensi diri, menumbuhkan percaya diri, dan menciptakan jiwa sportif di kalangan siswi. Outbound Ceria merupakan salah satu kegiatan luar yang dipilih karena tantangan dan medan yang dihadapi di sana benar-benar nyata. Dunia di luar kelas dengan nuansa berbeda diharapkan bisa menjadi stimulus lahirnya semangat dan penyegaran bagi PBM yang hendak dijalani selanjutnya.

Sebanyak 36 siswi dari kelas 7 dan 8 yang telah direstui para orang tuanya hari itu wajib datang ke sekolah lebih awal (05.30 WIB.) lengkap dengan segala perlengkapannya karena memang dijadwalkan berangkat jam 06.00 WIB.
Di dalam bis para siswi dipandu oleh Ustd. Ina, Ustd. Ulfa, Ustd. Feni, Ustd. Yuni, Ustd. Uni, Ustd. Nia, dan Ust. Andri. Ada juga sebagian anggota tim outbound yang berangkat bersama rombongan (Ust. Rudi, Ustd. Sita, dkk). Suasana gembira mengiringi keberangkatan mereka. Memang, momen studi wisata ini cukup ditunggu-tunggu sebagai kegiatan refreshing pasca ujian tengah semester.
Sekitar jam 9 rombongan sudah menginjakkan kaki di Kebun Raya Purwodadi. Tiupan angin semilir menyapa rombongan yang berjalan menuju lokasi di sekitar lapangan sepakbola. Rasa capek tak terasakan karena di sana-sini terlihat hijau dan lapang.
Pembentukan kelompok
Di lapangan para siswi segara dibagi menjadi empat kelompok secara undi. Kelompok yang sudah dibentuk diberi nama kelompok: bebek, ayam, kambing, dan kucing. Untuk pemanasan setiap tim berkumpul dan membuat yel-yel masing-masing sesuai ciri khas nama timnya. (Kalau bagian yang kayak begini, anak SPiLuqkim langsung heboh) Seperti Tim Ayam, begitu dikomando, “Are you ready?” Sontak mereka teriak, “Yess… Ayam ready!” (lho??!)
Games
- Untuk melatih keberanian diadakan game tiup balon sampai pecah
- Kereta Balon, dua kelompok saling beradu untuk mempertahankan balon yang dipasang di pinggang peserta paling belakang. Tujuannya untuk melatih kebersamaan, kerjasama, tanggung jawab, serta mengatur strategi.
- Pos I: Kotak cerdas, permainan strategi dimana peserta pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan aturan tidak boleh menempati satu kotak untuk berdua.
- Pos II: Halang Rintang. Masing-masing peserta masuk ke dalam jejaring tali dengan syarat yang telah masuk tidak boleh diulang.
- Pos III: Jaring Laba-laba dan Flying Fox. Ini nih games yang seru. Apalagi buat kaum perempuan yang jarang manjat-manjat. Mereka harus menaiki jaring yang di pasang di sebuah pohon untuk mencapai posisi fying fox. Setelah sampai mereka harus meluncur kembali ke bawah menggunakan tali. Tujuannya agar tumbuh keberanian dan percaya diri mereka, begitu kata pemandunya. Terbukti memang anak yang tadinya takut, begitu sudah mencoba dan berhasil, malah pengin lagi. Vany, yang sempat ‘ngoplok’ di giliran pertama juga tak patah semangat berusaha mencoba kedua kalinya. Ust. Tri (pemandu) yang menjaga di bawah sempat merasakan kuatnya tarikan Vany saat ‘meluncur’ dari pohon.
- Pos IV: Titian Tali. Lebih extreme daripada Flying Fox. Peserta meniti tali yang melintasi sungai di bawahnya. Wah, cukup deg-degan, nih! Kalau jatuh resikonya masuk ke sungai dan bisa-bisa membentur batu besar, lho!
- Pos V: Penelusuran Gua. Masing-masing kelompok berjalan merunduk di bawah tali rafia dan di situ mengalir air setinggi lutut. Tiap anak tidak boleh menyentuh rafia. Bila menyentuh akan ditaburi tepung sebagai sanksinya. Peserta diajak melatih kewaspadaan.
- Penutup: Perahu Karam. Masing masing kelompok berjalan menaiki/ menginjak dua potong kardus menuju suatu titik tujuan (mengambil gelas air mineral). Saat di perjalanan mereka harus menghadapi serangan lemparan granat air dari para pemandu dan pendamping (termasuk asatidzah-nya). Kluncum, deh!
Mari kita lihat bagaimana sih suasananya? (artikel: and/foto: and & zha)































3 tanggapan so far ↓
AWIK // 2 April 2009 pada 10:02 am |
yang selalu terlupakan adalah evaluasi kegiatan terhadap tujuan kegiatan, tercapai atau tidak. Berikutnya, seberapa besar pengaruh kegiatan terhadap perubahan perilaku anak dan berapa lama daya tahannya.
Kalau itu dilakukan ..wow ..luar biasa.
abi ENHA // 3 April 2009 pada 9:00 am |
SlmWrWb
ALHAMDULILLAH, sungguh sebuah metode pembelajaran yg menyegarkan baik dari sisi akidah maupun kebugaran tubuh. Mungkin bidang studi sains-pun bisa dimasukkan dalam tadzabbur alam ini.
Saya pribadi, sungguh kurang setuju dengan pemberian nama kelompok dengan hewan2 yg rasanya kurang tepat bagi pembentukan karakter siswa. Karena hewan-hewan yg dipakai untuk nama kelompok tersebut koq tidak membangun positive-character (ayam – bebek – kambing – kucing) InsyaALLAH kedepan bisa dipilihkan nama2 yg lebih merangsang pembentukan karakter positif siswa kita sebagaimana selama ini dilakukan pada klas 9 (misalnya). Apalagi dengan yel2 yg meng-ayam, mem-bebek, meng-kambing maupun meng-kucing !
Mohon maaf atas kritik ini, semoga ALLAH membantu setiap langkah mulia para ustadzah/ustad di smp putri dalam membentuk karakter mujahidah kita.
Salam dari bumi sasando kupang !
arnold // 15 Oktober 2009 pada 5:52 pm |
Hai, Salam Kenal
sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping, pembuatan dan penjualan tenda,
Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
email : tendakubandung@yahoo.com
thx..