gals, coba renungkan. Banyak dari saudarimu tak dapat menjalankan Islam ini karena kondisi yang sulit. Sementara Anda di Indonesia bebas mengenakan atribut identitas kemuslimahan Anda. Tetapi mengapa masih banyak yang juga abai terhadap perintah-Nya? Bersyukurlah atas nikmat ini. Berdoalah kekauasaan Allah akan merubah setiap kesulitan kita menjadi kemudahan. Simak surat dari Laila berikut.
Aku Tak Dapat Berjilbab
Saya tidak bisa melepaskan masalah ini ..
Saya pindah dan hidup dengan adik dan ibu saya yang non muslim. Di sana saya ingin memakai jilbab sehari-hari.
(saya tak tahu bagaimana menyampaikan problem saya) Jadi harus mulai dari mana ..
Saya telah dilarang dari jilbab dan mempraktekkan Islam yang sebenarnya bahkan secara terbuka. Sayatelah berjuang. Allah mengetahui betapa keras saya mencoba. Namun itu tidak cukup. Hanya ada alasan pelarangan saya untuk tidak memakainya adalah bahwa saya belum 18 tahun dan entah bagaimana bisa hal itu disebut berbahaya. Meskipun ia membiarkan kakak saya-yang sekarang menjadi murtad bersama-sama dengan dia-memakainya pada usia yang sama.
So, saya mengambil penerbangan sendirian ke Dallas Texas dari kota saya…
Aku pergi dan mengunjungi ayah biologis saya yang hanya baru-baru ini saja (musim panas lalu) saya temui. Saya berjalan keluar dari pintu rumah dengan kepala mengenakan jilbab putih setelah ibuku meneriaki saya dan mencoba merobek-robek kain di kepala saya itu 2 kali sehingga saya menjerit memanggil polisi. Kemudian dalam perjalanan ke bandara saya dipengaruhi Ayah dari ibu saya. Dia juga meminta saya untuk melepas jilbab dan kemudian berkhotbah kepada saya selama 3 jam tentang bagaimana tuhannya turun ke dunia dan menyelamatkan.
Satu-satunya pikiran yang muncul di kepala saya maukah dia meminta Maria ibu tuhannya itu untuk melepas jilbabnya?
Setibanya di bandara saya adalah satu-satunya muslim yang terlihat dan Anda tahu, tidak ada yang memberi saya suatu masalah. Saya naik penerbangan itu sendiri. Itu adalah penerbangan pertama saya.
Mendarat di Dallas juga ada keluarga kandung saya sendiri yang membombardir saya dengan khotbah yang lebih gencar. Dan karena alasan lain yang tidak ingin saya sampaikan aku ditinggalkan tanpa pilihan lain. Pokoknya saya harus melepas jilbab.Titik.
Khotbah masih berlanjut. Dan setelah tiba kembali di PA saya menemukan kamar saya kosong. Semua jilbab, semua buku-buku Islam, Al-Qur’an segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Islam telah lenyap. Ibu saya ternyata telah memasukkannya ke dalam kantong sampah, menganggap seolah-olah barang-barang itu sampah. Namun Alkitab nya bahkan bergeletakan di sekitar rumah. Alkoholnya ditaruh di lemari es. Babi nya pun di lemari. Standar ganda yang sempurna
Beberapa minggu kemudian ayah dari ibu saya – orang yang mengantarkan ke bandara-memanggil saya. Dia tidak hanya meminta bahwa saya perlu mengubah email “Laila_Habibti@yahoo.com”, tetapi juga mengatakan agama saya tidak benar dan berada di jalan yang sesat dan bahwa semua orang saat itu “benar-benar” cinta dan perhatian pada diri saya .
Saya tidak menjawab seperti yang saya pernah lakukan. Bahkan ketika dia mengajarkan keyakinannya kepada saya, saya langsung menutup mulut dan menunggu percakapan itu berlalu. So, saya cepat menutup telepon mengatakan saya harus pergi. Dan saya belum bicara lagi dengannya sejak saat itu.
Pikiran saya adalah” oh benarkah kalian mencintaiku?” tapi kemana saja kalian selama 16 tahun!. Kedua, bagaimana kalian berani berkata kepada seseorang “untuk satu hal, itu tidak benar” tentang agama seseorang padahal saya sudah selalu berbuat baik padanya.
Haknya untuk mengagung-agungkan agamanya, meskipun saya pikir agamanya bukan apa-apa. Paganisme (penyembahan berhala) dalam penyamaran monoteisme. Tapi apakah akan saya katakan begitu? Tidak!Karena saya yakin kami dapat hidup berdampingan. Saya percaya perdamaian. Saya percaya pada kebebasan agama tanpa paksaan. Dan semua gagasan indah ini bukan milik saya. Itu adalah apa yang diajarkan agama saya.
So, itu membuat saya bertanya-tanya, jika seperti ini adalah cara dia menyebarkan keyakinannya atau bahkan memojokkan saya lantas apa yang diajarkan agamanya pada dia?
Saat ini saya tidak dapat mengenakan jilbab lagi. Sekolah baru, rumah baru, adalah serangan lengkap terhadap identitas saya. Dan semua harapan saya telah dibuang ke toilet oleh keluarga saya sendiri.
Tapi aku akan terus berusaha… Saya hanya akan berdoa agar waktu cepat berlalu. Dan berharap bahwa tujuan saya bulan depan atau setelahnya dapat tercapai.
-Laila Jihad
(sumber: blogs.muxlim)




0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.