Makna Di Balik Nama-Nama Grup Eksperimen Fisika Kelas VIII


Oleh: Ust. Novrian, Guru Fisika

Williams Shakespeare mengatakan, “What is a name?”. Pertanyaan yang bernada retoris itu kurang lebih bermaksud, “Apalah arti sebuah nama?”. Shakespeare berkeyakinan, sekuntum bunga mawar tetaplah ‘mawar’ (warnanya merah, baunya harum, tangkainya berduri, dan dijadikan lambang cinta antara sepasang kekasih), meski ia tidak diberi nama ‘mawar’. Artinya, hakikat sesuatu bukanlah terletak pada ‘namanya’, namun lebih pada ‘isinya’. Benarkah? Pentingkah arti sebuah nama?

Memberikan nama yang baik untuk seorang bayi adalah ‘ritual wajib’ kedua yang harus dilakukan oleh orang tua, setelah membacakan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri sang bayi. Rasulullah mengajarkan bahwa nama adalah simbol pengharapan dan doa orang tua bagi anaknya. Nggak mungkin kan ada orang tua yang mengharapkan dan mendoakan yang jelek-jelek bagi anak-anaknya?!

Jadi, kalo ortu memberi mana ‘Syahidah’, artinya ortu ingin kelak kamu mati syahid di jalan ALLAH, atau minimal kamu punya semangat juang yang membara layaknya pasukan jihad. Atau kalo ortu memberi nama ‘Zahro’, artinya ortu ingin kamu ‘mengharumkan’ dunia dengan karya dan prestasimu, layaknya sekuntum bunga yang mengharumkan seluruh taman. Bila ortu kamu memanggil dengan sebutan ‘Izza’, maka tentunya ortu ingin kamu menjadi orang yang mulia.

Seringkali, ortu mengambil nama-nama tokoh buat anaknya. Tentu dengan harapan agar prestasi tokoh itu menjadi inspirasi buat anaknya atau anaknya mengikuti jejak tokoh tersebut. Misalnya, ‘Khansa’ adalah seorang ibu yang keempat anaknya gugur dalam jihad. Ketika ditanya apakah ia sedih dengan kematian keempat anaknya, ia justru menjawab bahwa tugasnya sebagai ibu telah sempurna. Baginya, mengantarkan anaknya menjadi syuhada adalah tujuan paling mulia sebagai ibu. Jadi, ia tidak bercita-cita mengantarkan anak-anaknya ke Dufan, menjadi sarjana, atau menjadi pengusaha sukses, apalagi hanya sekedar menjadi selebriti dadakan ala Mamamia Show.

Begitu pentingnya arti sebuah nama, sampai-sampai Pak Jalal rela menyembelih kambing untuk selamatan dan memberi makan orang sekampung dalam rangka mengganti nama anaknya. Semula anak perempuannya ia beri nama ‘Dewi Naga Geni’. ‘Dewi’ adalah sebutan dewa untuk perempuan, ‘Naga’ adalah hewan mitos/takhayul yang di kawasan Asia dipercaya berwujud seperti ular raksasa dan mulutnya dapat menyemburkan api, sedangkan ‘Geni’ artinya api. Akhirnya, atas saran Aya ia mengganti nama anaknya menjadi ‘Zahrotusyita’, yang berarti ‘bunga di musim dingin’, ya lumayanlah daripada ‘ratu ular’.

Jadi, islam nggak sepakat dengan Shakespeare yang nggak mementingkan arti sebuah nama. Islam menganggap nama adalah penting. Nama, sebagai doa dan pengharapan, adalah langkah awal dalam mengawali proses pendidikan generasi muda islam.

Saya diberi amanah dari ALLAH Swt. untuk mendidik generasi muda muslim khususnya kaum perempuan. Siswi-siswi saya memiliki rentang usia antara 12 – 14 tahun. Secara psikologis, kelompok usia ini disebut remaja atau ABG (Anak Baru Gedhe). Kelompok remaja sudah memiliki kebutuhan yang lebih besar akan aktualisasi diri, pengakuan eksistensi dan privasi, dan peran yang lebih besar dalam proses-proses sosial. Repotnya, pada rentang usia ini, mereka tidak mau dibilang anak-anak. Namun sayangnya, taraf berpikirnya masih belum bisa dianggap dewasa pula.

Hal ini masih ditambah dengan kenyataan, bahwa remaja masa kini dibesarkan dengan berbagai pencapaian dan kemajuan teknologi yang demikian cepat. Akibatnya, mereka memiliki akses yang sangat luar biasa besar terhadap berbagai sumber informasi. Media massa, telepon selular, internet, siaran televisi teresterial dan satelit berlangganan, telah menjadi bagian dari hidup remaja saat ini.

Saya sepenuhnya sadar bahwa tantangan yang akan dihadapi oleh siswi-siswi saya sebagai generasi penerus perjuangan islam akan sangat jauh lebih berat daripada yang saya hadapi di masa kini. Oleh karena itu, saya merasa bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswi-siswi saya untuk menghadapi tantangan di masa depan. Perang yang akan dihadapi di masa depan adalah perang pemikiran dan ideologi. Mungkin kita di Indonesia tidak akan menghadapi perang fisik seperti saudara kita di Palestina dan Irak. Namun bukan berarti kita tidak mempersiapkan diri untuk berperang, karena perang ideologi tak kalah dahsyat dibandingkan dengan perang senjata.

Saya membayangkan dalam diri siswi terdapat dua karakter sekaligus. Kedua karakter itu sepintas saling bertolak belakang. Namun sesungguhnya keduanya saling melengkapi. Dan agar dapat saling melengkapi, kedua karakter itu harus sama-sama dibangun agar tercapai harmoni yang seimbang. Kedua karakter itu adalah karakter SUTERA dan karakter LOGAM.

Sutera adalah kain yang sangat mahal, tidak semua orang dapat memilikinya. Untuk mendapatkannya harus melalui proses yang panjang dan rumit. Gaun sutera menjadi simbol kemuliaan bagi yang memakainya.

Namun sutera butuh perlakuan khusus. Sutera adalah kain yang sangat lembut. Jika salah dalam memperlakukannya, maka kita akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sutera harus diperlakukan dengan amat sangat hati-hati dan cermat. Tidak semua desainer bisa merancang gaun indah berbahan sutera. Hanya sedikit penjahit yang dapat menjahit kain sutera menjadi gaun yang indah.

Karakter sutera dalam diri wanita adalah kelemahlembutan dan kemuliaan. Dengan kelemahlembutannya, wanita dapat menaklukkan pria yang karakternya sekeras apapun. Wanita adalah simbol kemuliaan bagi suami, anak, dan keluarga. Demikian mulia dan pentingnya kedudukan wanita, bahkan ada ungkapan, “Wanita adalah tiang negara”. Bila kaum wanita di suatu negara berakhlak mulia, maka mulia pulalah negara itu.

Logam adalah salah satu kelompok unsur-unsur yang menyusun alam semesta. Logam umumnya memiliki sifat-sifat fisik: keras, ulet, tangguh, penghantar kalor dan listrik yang baik, mudah dibentuk, dan mengkilap. Logam menjadi bahan dasar berbagai peralatan yang memudahkan manusia dalam aktivitas hidupnya. Logam pula yang dapat dijadikan senjata untuk menghantam musuh-musuh. Logam juga menjadi perisai yang melindungi diri kita dari serangan senjata musuh.

Namun sayangnya, logam tidak mudah didapatkan di alam. Secara kimia logam selalu bergabung dengan unsur-unsur lain membentuk campuran. Makanya kita kenal istilah bijih besi, bijih timah, dan bijih aluminum. Untuk mendapatkan besi, timah, dan aluminium murni diperlukan proses yang panjang dan rumit. Logam-logam itu harus dipisahkan dan dimurnikan dari unsur-unsur lain yang ‘mengotorinya’. Tidak jarang proses pula itu memakan biaya yang besar.

Setelah logam yang murni didapatkan pun, proses masih belum berakhir. Semisal untuk membuat besi menjadi pedang yang tajam dan kuat. Bahan besi harus dipanaskan hingga membara. Setelah itu ditempa dengan keras. Dipanaskan lagi, kemudian ditempa lagi. Demikian terus berulang-ulang. Setelah setengah jadi, masih harus diasah lagi hingga tajam. Setelah itu digosok hingga mengkilap.

Memproses besi menjadi pedang adalah proses keras yang panjang nan melelahkan, memakan banyak pikiran, waktu, dan energi, terkadang menyakitkan, bahkan beresiko tinggi. Namun, bila pedang telah berhasil dibuat, maka kita memiliki senjata yang ampuh untuk membabat habis musuh-musuh kita. Bahkan mungkin saking hebatnya pedang itu, musuh yang melihatnya saja sudah gentar. Apalagi bila pedang itu dihunus dan diacungkan kepada musuh-musuh. Hanya sedikit orang yang mau dan mampu untuk menjadi pandai besi (tukang yang mengolah besi).

Dari pemikiran-pemikiran inilah saya memilihkan nama-nama untuk kelompok eksperimen fisika kelas VIII, yaitu: Auruma, Argenta, Beryllia, Magnesia, Rubydia, Talia, Titania, dan Vanadia. Semua itu diambil dari nama unsur-unsur logam: ‘Auruma’ dari Aurum (Au) artinya emas, ‘Argenta’ dari Argentum (Ag) artinya perak, ‘Beryllia’ dari Beryllium (Be), ‘Magnesia’ dari Magnesium (Mg), ‘Rubydia’ dari Rubydium (Rb), ‘Talia’ dari Talium (Ta), ‘Titania’ dari Titanium (Ti), dan ‘Vanadia’ dari Vanadium (V). Dua logam yang pertama disebut, Au dan Ag, adalah logam mulia yang dijadikan perhiasan. Sedangkan yang lain adalah logam-logam eksotis yang sangat sulit didapatkan, sangat mahal, dan sangat berharga. Di negara maju, logam-logam eksotis tersebut digunakan dalam teknologi tinggi (hi-tech), misalnya: militer, dirgantara, komputer, riset, hingga mesin-mesin kompetisi di balap Formula 1 dan MotoGP.

Saya memilih untuk menjadi seorang pandai besi. Saya memutuskan untuk mengkhususkan diri saya menempa karakter logam dalam diri siswi-siswi saya (karena penanganan karakter sutera telah dilakukan oleh ustad dan ustadzah yang lainnya). Saya berkeyakinan wanita juga harus mengambil peranan penting dalam membangun peradaban islam dan juga dalam jihad fi sabilillah.

Karena itu wanita harus membangun karakter logam dalam dirinya. Di balik kelemahlembutannya, wanita harus memiliki karakter tangguh layaknya logam. Tak jarang saya menyemangati siswi-siswi saya dengan ungkapan: be strong, be brave, and be tough! Artinya: jadilah kuat, jadilah berani, dan jadilah tangguh. Semua itu mirip dengan karakter logam.

Saya sadar pilihan ini membawa resiko bagi diri saya. Minimal, saya menjadi guru yang dibenci oleh siswi-siswi saya. Karena saya ‘menempa’ mereka dengan keras, layaknya logam. Dan saya tidak memperlakukan siswi saya dengan lemah lembut layaknya sutera. Wallahu’alam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s