Simbol atau Substansi?


Oleh: Ust. Andri, Koordinator Kesiswaan

Motto Sekolah Integral Luqman Al Hakim adalah ‘Buka Hati dengan Pendidikan Tauhid’. Tujuan yang ingin dicapai yaitu generasi taqwa, cerdas, dan mandiri. Ortu yang menyekolahkan anaknya disini tentu mengharapkan perkembangan positif pada putra-putri mereka.

Dalam forum kelas pernah dibicarakan tentang pemahaman bahwa menyekolahkan anaknya di sekolah full-day bukan seperti pesan baju di penjahit. Serahkan kain, nego harga, tinggal pergi, lalu ambil kalau baju sudah jadi.

Ortu, warga pesantren, dan warga sekitar sekolah yang memperhatikan “profil” siswi SMP Putri memiliki persepsi yang beragam. Mereka melihat ada perubahan pada siswi SMP Putri. Secara sederhana saya bagi menjadi dua: perubahan simbol dan perubahan substansi.

Perubahan simbol bersifat kasat mata yang mewujudkan diri dalam bentuk verbal simbol-simbol. Sedangkan perubahan substansi bersifat menyentuh ke isi atau inti masalah, tak kasat mata, namun dapat dirasakan dan diamati kehadirannya.

Sebagai contoh, setelah sekolah di SMP Putri, siswi Fulanah telah menunjukkan perubahan (hijrah) . Pertama, dia terbiasa berpakaian longgar tertutup yang syar’i, berjilbab, pakai rok panjang dan kaos kaki. Dia tidak mau lagi berpakaian ketat dan hanya bercelana panjang seperti laki-laki. Kedua, gemar menebar salam. Padahal dulu dia cuek. Ketiga, sholat tepat waktu dan sholat sunnah Dulu? Saat subuh sulit diba-ngunkan, bahkan jam enam baru sholat subuh! Keempat, rajin membaca dan menghafal Quran. Kelima, berkomunikasi dengan adab yang baik. Padahal dulunya dia hobi berteriak seperti kuli di pasar. Keenam, menjaga jarak dengan lawan jenis bila ada urusan dengannya. Ketujuh, patuh kepada ortunya. Serta masih banyak hal yang lain yang bisa diamati

Tentu, ortu bahagia dengan itu semua. Bagaimana dengan siswi-siswi yang lain? Insya Allah, juga begitu. Kita berharap minimal sama seperti si Fulanah tadi.

Cukupkah sampai di sini? Kita boleh berbangga bahwa mereka telah hijrah. Tetapi perubahan yang seperti ini baru sebatas perubahan simbol belaka. Perubahan secara kasat mata yang (pasti) akan hilang jika tidak didukung oleh perubahan substansi (isi, makna). Kalaupun tidak hilang, maka simbol itu hanya akan menjadi “topeng”, palsu!

Menurut saya, perubahan substansi hanya dapat diketahui oleh si individu itu sendiri (dan ALLAH), namun dapat dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Pernahkah kita terpikir (tanpa bermaksud su’udzon), si Fulanah melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan pengakuan dari komunitasnya? Atau ia hanya sekedar ikut-ikutan saja tanpa memahami makna dari hal yang dilakukannya? Ataupun karena ia sudah terlanjur “terdampar” di SMP Putri?

Hal itu perlu diuji apakah semuanya hanya sekedar perubahan simbol ataukah perubahan substansi sejati.

Seseorang dikatakan melakukan perubahan substansi ketika ia melakukan sesuatu atas dasar pemahaman. Hal itu akan terbukti oleh berjalannya waktu. Sejauh mana dia istiqomah dengan perubahan-perubahan simbolis itu. Bagi saya, perubahan substansilah yang sejatinya akan dapat mendorong terjadinya perubahan simbol.

Jawabannya adalah ketika si individu diuji dengan berbagai cobaan hidup di dunia nyata. Dapatkah dia tetap teguh dengan “simbol” yang telah disandangnya? Sanggupkah dia bersabar dan bertahan ketika dihadapkan pada alternatif-alternatif sulit yang benar-benar menguji kepahaman atas “simbol” yang dia kenakan selama ini?

Ya Rabbi, ihdinashshirathal mustaqim. (raw)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s