A Journey to the Equator City


(Catatan Mudik Lebaran 1429 H, oleh: Abah Nov)

Meski dilahirkan di Surabaya, saya dan keluarga sejak tahun 1983 tinggal di kota Pontianak (Kalimantan Barat). Riwayat pendidikan saya sejak TK hingga lulus SMA saya lalui di kota khatulistiwa ini. Baru sejak tahun 1998 saya (sendiri) merantau ke Surabaya untuk menempuh pendidikan tinggi dan selanjutnya bekerja sebagai guru di SPiLuqkim ini.

Seperti halnya para perantau lainnya, idul fitri adalah momen yang sakral dan dinanti-nantikan. Karena hanya pada saat lebaranlah kami, yang kampungnya jauh, punya kesempatan lebih leluasa untuk pulang ke rumah. Terlebih lagi karena liburan semester genap kemarin saya tidak mudik, maka kesempatan kali saya bertekad bulat untuk mudik.

Hanya saja, mudik tahun ini harus saya lalui dengan jalan berliku. Bahkan sempat hilang harapan karena kehabisan tiket kapal. Singkat cerita, untuk menuju Pontianak saya harus melalui Tuban, Bandung, dan Jakarta. Di kota-kota itu saya mampir ke rumah-rumah saudara. Jadi sekalian safari ramadhan dan silaturrahim. Saya mudik (Senin, 29 September) menggunakan pesawat Garuda lewat bandara Soekarno – Hatta, Tangerang dan tiba di Pontianak menjelang buka puasa.

Kota Pontianak mendapat julukan kota khatulistiwa karena memang kota ini dilalui oleh garis lintang nol derajat tersebut. Di kota ini juga terdapat sebuah tugu sebagai penanda lokasi lintang nol derajat. Cuaca harian di kota ini termasuk panas namun kelembabannya dan curah hujannya cukup tinggi. Meski di musim kemarau, dalam satu bulan pun masih bisa turun hujan minimal sekali. Berbeda dengan pulau Jawa yang di musim kemarau sama sekali tidak turun hujan berbulan-bulan.

Sebagai kota pelabuhan kota ini cukup ramai dengan kaum pendatang. Karena itu tidak ada etnis yang terlalu dominan disini. Berbagai suku: Melayu, Dayak, Bugis, Jawa, Madura, Padang, Batak, Tionghoa, dan lain sebagainya berbaur disini. Bahasanya tidak spesifik bahasa tertentu namun lebih mengarah kepada dialek melayu seperti di Malaysia.

Namun yang unik, disini (dan di daerah lain di Kalimantan Barat) etnis Tionghoa masih cukup memiliki identitas budaya yang kental. Meski kita tahu semasa orde baru etnis Tionghoa mendapat perlakuan yang sangat diskriminatif. Sejak TK saya sudah terbiasa menjumpai orang Tionghoa yang masih menggunakan nama etnisnya (umumnya mereka juga punya nama Indonesia) dan berbicara dengan bahasa tradisional Cina.

Berbeda sekali dengan di Jawa, etnis Tionghoa sudah berganti nama dengan nama-nama Jawa. Jangankan berbahasa etnis Cina, logat mereka saja sudah sangat Jawa. Ya baru belakangan ini saja sejak reformasi bahasa Mandarin banyak dipelajari. Namun jangan salah. Bahasa Mandarin itu ibarat bahasa Indonesia disini. Bahasa itu adalah bahasa resmi negara. Sedangkan sehari-hari justru etnis Cina tidak menggunakan bahasa Mandarin. Seperti kita yang sehari-hari berbahasa Jawa, Suroboyoan, atau bahasa-bahasa etnis lainnya. Jika tahun baru Imlek baru-baru ini saja dijadikan libur nasional, kami sejak dulu sudah maklum jika teman Tionghoa kami tidak masuk sekolah untuk merayakan Imlek.

Menurut saya, dinamika kehidupan di kota Pontianak tidaklah sekencang kota besar lain, Surabaya misalnya. Kota ini pun jauh dari hiruk-pikuk kehidupan nasional. Buktinya, jarang sekali kan kota ini masuk berita di koran-maupun televisi nasional. Paling-paling kalau masuk berita, ya pas musimnya kabut dan asap.

Jadi, jika Anda punya idealisme tinggi dan cita-cita besar, sebaiknya Anda tidak menetap disini, karena potensi diri Anda tidak akan berkembang. Tapi itu menurut saya lo. Jika Anda tidak sependapat, ya silahkan.

Karena tahun ini saya berlebaran ikut pemerintah (Rabu 1 Oktober), saya sempat merasakan puasa di kota ini di hari Selasa (30 September). Malamnya, saya dan adik menyempatkan diri keliling kota melihat-lihat suasana. Sebenarnya kami berharap bertemu dengan pawai takbiran yang dulu menjadi tradisi.

Sayangnya, pawai takbiran tak kami temui. Yang ada hanya kelompok-kelompok kecil menggunakan kendaraan bak terbuka, berbendera partai politik, keliling kota takbiran secara sporadis.

Selain pawai takbiran yang ‘besar’ dan terorganisir, ada lagi kelompok takbiran kecil di kampung-kampung. Dulunya kelompok takbiran ini dikoordinir mesjid besar di tiap-tiap kampung. Ba’da isya mereka takbiran keliling kampungnya dan mampir ke rumah-rumah penduduk. Biasanya tuan rumah yang dihampiri memberikan sumbangan sekedarnya, entah uang atau makanan/minuman, sebagai wujud partisipasi. Namun, kali ini tidak ada lagi yang seperti itu. Malahan kesempatan ini dimanfaatkan oleh kelompok anak-anak kecil untuk meminta-minta. Dengan hanya meneriakkan satu-dua kalimat takbir, tujuan mereka hanyalah mengharap sedekah dari tuan rumah. Sayang, ya…

Mungkin sama saja di tempat-tempat lain, malam idul fitri diwarnai dengan jalan-jalan yang macet, terutama di kawasan perbelanjaan, dan berjubelnya para pembelanja di pertokoan. Yang menyebalkan adalah rusaknya kekhusyukan dan kesakralan malam takbiran oleh ledakan petasan dimana-mana. Setahu saya larangan petasan ini sudah menjadi perintah resmi dari pimpinan Polri kepada anggotanya di seluruh Indonesia selama Operasi Ketupat. Tapi disini, oknum-oknum tak bertanggung jawab malah bermain petasan di dekat pos Polantas. Macam mana pula ini, Bapak Kapolri??!

Sebetulnya, berkaitan urusan ledakan-ledakan ini, di Pontianak ada tradisi membunyikan meriam karbit. Meriam ini terbuat dari pohon kelapa yang dilubangi tengahnya dan beramunisi batu karbid (calcium carbide) dicampur air. Gas acetylene yang dihasilkan dari campuran berkilo-kilo batu karbid dan air akan menghasilkan suara ledakan bila dipicu oleh api. Meriam-meriam karbid ini berjajar di sepanjang bantaran sungai Kapuas dan dibunyikan bersahut-sahutan mulai tepat tengah malam (00.00 WIB.).

Bisa dibayangkan seperti apa bunyi ledakan (yang terdengar hingga berkilo-kilo jauhnya) dan efek getarannya. Benar saja! Adik saya, yang bekerja di koran lokal Pontianak mendapat laporan dari wartawan lapangan yang meliput, bahwa ada musholla yang retak dan pecah kacanya. Naudzubillah…

To be continue

Iklan

One thought on “A Journey to the Equator City

  1. himawan SANTOSO berkata:

    SlmWrWb
    ustNOV,
    selamat iedul fistri 1429 hijriyah
    semoga ALLAH SWT menerima amal ibadah kita sebulan penuh ramadhan kemarin, serta masih diberikan kesempatan untuk mensyukuri nikmatnya merindukan ramadhan 1430 hijriyah yad.
    maaf lair batin yo !

    wah, betapa indahnya ……………..
    melebur kerinduan dalam hiruk pikuknya petasan di pontianak
    semoga bisa menjadi tambahan (catu daya) semangat pengabdian stlah kembali di surabaya.
    tentang petasan sendiri, rasanya itu adalah budaya etnis tionghoa khususnya yg berada di daerah pesisir. beberapa literatur kebudayaan menceritakan bahwa itu adalah cara mereka untuk berpesta ria sambil melepas ketegangan setelah jenuh dalam pelayaran muhibah mereka. memang sungguh disayangkan klo kita umat muslim justru larut dalam budaya jahiliyah ini.
    saya sebetulnya berharap cerita perjalanan lewat laut dengan kapal penumpang yg 3 hari 3 malam itu. moga dikesempatan lain, panjenengan bisa ceritakan hal itu. sekaligus menumbuh kembangkan jiwa kebaharian anak2 kita untuk lebih mencintai lautnya.
    what ever, it was really nice story along. good luck guys, may ALLAH bless your prosperous, happy & peace. best regard !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s