Lebaran in the Equator City


(Catatan Mudik Lebaran 1429 H bagian II, oleh: Abah Nov)

Kami sekeluarga menunaikan sholat ied di masjid Al Mabrur yang jaraknya 200-an meter dari rumah. Karena dekat, kami cukup berjalan kaki. Hanya adik bungsu saya yang tidak turut bersama kami, dia sholat ied bersama teman-temannya di masjid lain.

Masjid Al Mabrur dikelola oleh komunitas muslim (peranakan) Madura – Pontianak yang banyak bermukim di dekat rumah saya (komplek Navigasi). Tak heran jika nuansa NU tradisionalnya terasa cukup kental. Hanya ada satu masalah krusial yang saya temui (nyaris) di berbagai masjid di berbagai kota (termasuk di Jawa) yang pernah saya singgahi, yaitu penataan shaf yang kurang lurus dan rapat. Semestinya patokan lurus dan rapat adalah belakang tumit kita segaris dan jari kelingking kaki kiri kita bertemu dengan jari kelingking kaki kanan jamaah di sebelah kiri kita. Walhasil, seruan imam “Luruskan dan rapatkan shaf demi kesempurnaan sholat.” hanya menjadi sekedar basa-basi saja.

Masjid ini juga menyimpan kenangan tersendiri buat saya. Sejak TK hingga lulus SMA, disinilah saya menunaikan sholat Jumat. Saat SD saya termasuk generasi yang mendapat penugasan dari guru agama Islam yaitu meminta tanda tangan takmir masjid (disini dijuluki binter, dalam sinetron PPT disebut marbot) sebagai bukti menjalankan sholat tarawih di bulan ramadhan serta merangkum kuliah subuh. Saya pun ingat, di masjid ini dulu sholat tarawihnya 21 rakaat: 10 kali 2 rakaat tarawih, 2 plus 1 rakaat witir (aneh ya, witir kan harusnya ganjil). Saya sendiri cuma sholat tarawih delapan rakaat. Selanjutnya berleha-leha menunggu saatnya sholat witir. Setelah usai, buru-buru minta tanda tangan binter yang bertugas.

Dulu saat malam ramadhan, di pelataran masjid, ada anak-anak berjualan jajanan khas ramadhan di Pontianak yaitu sotong pangkong (sotong = cumi-cumi, pangkong = penthung dalam bahasa Jawa). Bahan utamanya adalah cumi-cumi asin (yang dikeringkan seperti ikan asin) dipotong kecil-kecil dan dibakar di atas lempengan logam. Setelah matang, potongan cumi itu dipukul-pukul dengan palu hingga pipih. Selanjutnya disajikan dengan sambal cair (campuran cuka, cabe, bawang putih, dan apa lagi ya? Lupa…).

Kota Pontianak memiliki tradisi lebaran yang unik dan (sebenarnya) positif. Tiap usai adzan sholat lima waktu, muadzin mengumandangkan takbiran hingga tiba waktu iqomah. Takbiran ini terus dikumandangkan meski lebaran sudah memasuki hari ketiga, keempat, dan seterusnya. Hanya saja, saya tidak tahu pasti apakah masjid-masjid terus mengumandangkan takbiran hingga akhir bulan Syawal ataukah tidak. Dibandingkan dengan di Surabaya misalnya, paling-paling tanggal 2 Syawal sudah tidak lagi terdengar kumandang takbiran di masjid-masjid. Selain setelah adzan, di Pontianak takbiran juga dikumandangkan sebagai ganti wirid setiap usai sholat fardhu (sebelum berdoa).

Usai sholat ied, masing-masing keluarga sungkeman dengan anggota keluarga di rumahnya. Setelah itu biasanya mereka beramai-ramai mengunjungi rumah anggota keluarga yang dituakan secara berjenjang. Contohnya… (ini baru sekedar contoh lo). Saya dan beserta istri dan anak saya mengunjungi keluarga kakak saya. Selanjutnya bersama keluarga kakak-kakak, kami ke rumah orang tua (dan mertua). Berikutnya, jika ada lagi anggota keluarga yang hirarkinya lebih tinggi, maka kita berama-ramai silaturahim ke rumahnya. Begitu seterusnya. Alternatifnya, bisa juga kami sepakat kumpul langsung di rumah orang tua atau sesepuh.

Demi tradisi ini, kadang keluarga yang ekonominya pas-pasan menempuh resiko yang cukup besar. Misalnya, menyewa pikap atau truk sebagai angkutan masal. Dulu, ketika sungai dan anak sungai masih menjadi jalur transportasi, bepergian silaturrahim juga dilakukan dengan perahu (speedboat). Yang jelas, sejauh apapun lokasi rumah si keluarga sepuh (tetua), tetap diupayakan untuk dijangkau di hari pertama lebaran.

Hari kedua lebaran biasanya diisi dengan silaturahim di kawasan tempat tinggal. Prinsipnya sama. Yang lebih muda mengunjungi yang lebih tua atau dituakan. Warga mengunjungi pak RT atau pak Lurahnya. Para karyawan mengunjungi atasan kantor. Sedangkan murid mengunjungi gurunya.

Nah, hal yang unik adalah…

Jika di tempat (daerah) lain, asal sudah bertemu dan bermaafan dengan teman/kenalan dimana saja (di jalan sekalipun), ya sudah. Tapi disini, jika belum bertamu ke rumahnya dan mencicipi kue lebaran, dianggap belum lebaran. Bagi si tuan rumah, dia merasa dihormati jika kita berlebaran ke rumahnya.

Tidak heran, di Pontianak, yang namanya lebaran benar-benar ‘lebar – an’. Maksudnya, setelah kurus karena sebulan puasa, badan jadi ‘lebar’ karena saat lebaran perut kita dijejali makanan dan minuman dari rumah ke rumah. Oh ya, di Pontianak pantang menolak makanan dan minuman yang disajikan oleh tuan rumah . Jika menolak, dipercaya sang tamu bisa kemponan (apa ya? Susah mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia). Meski sedikit, ya kita tetap harus makan dan minum. Makanya kita jadi ‘lebar’ saat ‘lebaran’.

Hal unik lainnya adalah…

Tradisi balas mengunjungi. Jadi, jika kita berlebaran ke rumah teman, maka di lain hari (selama bulan Syawal juga) teman kita akan balas berlebaran ke rumah kita. Lo, kan sudah ketemu dan maafan? Ya, memang begitu tradisinya. Bahkan ada mitos, jika tidak balas berkunjung ke rumah orang-orang yang bertamu ke rumah kita tahun ini, maka lebaran tahun depan orang-orang akan enggan berlebaran lagi ke rumah kita.

Tradisi ini sesungguhnya menunjukkan sifat masyarakat Melayu yang egaliter. Setelah di awal-awal lebaran yang muda mengunjungi yang tua, maka di hari-hari setelahnya ganti yang tua mengunjungi yang muda. Bahkan pimpinan kantor pun berkunjung ke rumah karyawannya.

Tapi…

Tradisi ini bukannya tanpa efek samping. Malahan mendorong masyarakat jadi konsumtif. Karena akan dikunjungi oleh banyak tamu, masyarakat lebih sibuk mempersiapkan lebaran daripada menghabiskan hari-hari terakhir Ramadhan dengan ibadah (i’tikaf misalnya). Mulai dari renovasi rumah, membeli perabotan baru, menyiapkan begitu banyak makanan, kue, dan minuman (termasuk piring saji, toples, gelas, dsb.), serta belanja pernak-pernik fashion.

Kan tidak semua seperti itu?! Ya iyalah… Memang tidak bisa dipukul rata semua masyarakat Pontianak seperti itu. Tapi, coba jujur deh. Berapa banyak masjid yang mengadakan acara i’tikaf? Saat sholat tarawih, ada berapa shaf jamaah yang hadir? Bandingkan dengan kemacetan dan berjubelnya orang di pertokoan, apalagi menjelang lebaran. Ayo bandingkan… Harus jujur lo…

Tapi (lagi)…

Seperti halnya yang lain, lambat laun tradisi-tradisi itu pun mulai luntur. Meski belum hilang sama sekali, saya merasakan adanya perubahan sikap masyarakat dari tahun ke tahun. Saya menganggap ada tiga penyebab lunturnya tradisi lebaran ini:

  1. semakin pragmatisnya pola pemikiran masyarakat, gejala yang satu ini juga melanda ke hal-hal lain, misalnya kecurangan UAN, perjokian SPMB, penyakit suap, dsb. (nyambung gak sih???)
  2. booming telepon selular, sekarang orang merasa lebaran sudah cukup lewat SMS saja
  3. menjamurnya mal dan plaza, masyarakat (terutama kaum muda) lebih memilih hang-out di mal dan plaza (dengan dandanan ala selebritis yang dipaksakan) daripada silaturahim ke rumah-rumah

Jika tradisi silaturrahim dan balas mengunjungi mulai hilang dan yang tersisa hanyalah perilaku konsumtif (yang cenderung eksibisionis) saja, maka APE NAK JADI???

to be continue with “Flying Back to Surabaya”…

Iklan

11 thoughts on “Lebaran in the Equator City

  1. aima berkata:

    oky,,
    ya… tpi q g tw calon siswi-na k sna kpn.
    d tunggu z ia kbar na.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s