Liputan Talk Show “Menulis itu Candu”


Di Surabaya, acara-acara yang berkaitan dengan buku dan membaca tergolong langka. Padahal kegemaran membaca dan menulis buku yang berkualitas bisa menjadi indikator sejauh mana kemampuan berpikir ilmiah suatu masyarakat. Karena itu ketika organisasi Muslimat Hidayatullah (MUSHIDA) menggelar Talk Show “Menulis itu Candu” pada hari Sabtu (01/11), SPiLuqkim tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mengutus Qonita Ainurrahma dan Alya Asy’ari, dua orang calon jurnalis dari Writing Club, untuk hadir dalam acara tersebut. Berikut ini hasil liputannya:

Talk Show yang dimulai pukul 08.05 WIB. ini membuat Aula Rahman Pondok Pesantren Hidayatullah dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga ibu rumah tangga. Di antara mereka ternyata terselip beberapa peserta ikhwan, meski pada awalnya acara ini dikhususkan untuk para ukhti. Tampak hadir pula para jurnalis cilik dari SD Luqman Al Hakim yang belajar melakukan liputan seperti halnya kami.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh Mutia dan saritilawah oleh Sherlin, keduanya siswi SPiLuqkim kelas VII rekan sekelas kami.
talkshow_011108_01Ust. Nur Cholis dari Tim Bina Ilmu bertugas sebagai moderator memandu perbincangan yang berlangsung hangat dan penuh canda itu. Narasumber pertama, Ust. Fauzil Adhim, yang dikenal sebagai penulis dan pemerhati pendidikan anak, berbagi pengalamannya dalam menulis. Pria kelahiran Mojokerto yang sudah menghasilkan 25 buku dan 5 di antaranya menjadi best seller ini menuturkan bahwa menulis tidak boleh tergantung pada teknologi seperti komputer, laptop, dan sebagainya. Beliau menegaskan bahwa menulis harus didasari pada keinginan dan kehendak dari diri sendiri sehingga dengan demikian menulis tidak akan macet atau berhenti sebelum diselesaikan.
Hal senada diungkapkan oleh Ibu Shinta Yudisia yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Lingkar Pena Surabaya. Beliau sendiri mengaku tidak memiliki bakat untuk menulis ataupun keturunan seniman. Meski sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga, Ibu Shinta memiliki tekad yang kuat untuk menulis. Bahkan sejak mengandung anak ketiga beliau aktif kembali menulis setelah lama vakum sejak SMP. Subhanallah, hasilnya pun sangat mengagumkan. Tidak kurang dari 40 buah karya novel dan satu best seller, yaitu “Lafaz Cinta”, dihasilkan dari goresan penanya.
Baik Ust. Fauzil Adhim maupun Ibu Shinta Yudisia berpendapat bahwa menulis bukan hanya menjadi candu. Namun juga dapat menjadi obat bagi diri kita karena merupakan aktivitas yang mengasyikkan dan menimbulkan ketenangan dalam diri kita. Menulis juga menjadi hal yang mulia jika dapat berkontribusi positif bagi pembacanya.
talkshow_011108_02Sementara di dalam ruang aula diramaikan dengan peserta talk show, di pelataran kampus Pondok Pesantren Hidayatullah juga dipadati pengunjung bazar yang digelar oleh ibu-ibu Mushida… (artikel: nita/alya, editor: nov, foto: nita/raw)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s