Murid Sukses Sebab Adabnya, Murid Gagal Karena ….?


Oleh: Rahmi Andri Wijonarko (Ko. Kesiswaan SPiLuqkim)

Murid, begitu akrab istilah ini di telinga setiap orang. Ada juga beberapa istilah lain seperti siswa, santri, anak-didik, dan yang terakhir peserta didik. Kata ‘murid’ dulu berkaitan erat dengan dunia tasawuf, dimana ada istilah pasangannya untuk guru, yaitu ‘mursyid’. Kata ‘murid’ seolah memberikan makna bahwa guru sebagai subyek, memberikan ilmu secara searah (100%) kepada obyek (yaitu murid) yang menerima saja.

Istilah ‘siswa’ dipakai oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia (populer dengan Taman Siswa). Beliau pernah menjabat Menteri Pengajaran di era Soekarno. Kata ‘siswa’ menyerap dari bahasa daerah Jawa dan mungkin ada hubungannya  dengan pelajaran tata krama, budi pekerti, etika, meskipun ini hanya dari perspektif penulis saja.

‘Santri’ dipahami khalayak sebagai orang/anak yang diajar dalam satu lingkup institusi yang bernama pondok pesantren. Biasanya dipimpin seorang ulama/kyai yang tentunya lekat dengan ajaran Islam di Indonesia (meskipun dalam Pameran Pesantren sekitar tahun 2006 di Surabaya, kok ada juga institusi non muslim, kalau tidak keliru, ikut menggunakan nama pesantren).

Istilah ‘anak didik’ ikut digunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia, kurang lebih dengan pengertian: adanya pengurangan dominasi peran pendidik menjadi sekitar 75% saja dan peran anak didik 25%. Selain itu juga pendekatan memanusiakan manusia dalam pendidikan. Ada nilai rasa kasih sayang dalam mendidik. Dan yang mutakhir, istilah ‘peserta didik’. Ini mungkin  digunakan karena paradigma pendidikan sekarang yang menjadikan peserta didik setara dalam hal peran dengan pendidik (50-50). Bahkan ada kecenderungan partisipasi peserta didik sampai 100%.  Artinya guru tidak berperan lagi??? Belajar mandiri? Otodidak? Belajar lewat sumber non person/non guru yang disebut media? Bisa jadi…. Kalau mengikuti kata dunia…
(By the way, di sini digunakan kata murid saja, karena ada kaitannnya dengan judul di atas).
Seorang pemikir muslim abad 20, Sa’id Hawa, dalam bukunya Mensucikan Jiwa menuliskan bahwa murid yang menginginkan dirinya sukses maka harus mempunyai adab islami diantaranya:
Pertama, murid harus mendahulukan kesucian jiwa sebelum yang lainnya.
Maksudnya, sama halnya dengan shalat, ia tidak sah bila tidak suci dari hadats dan najis. Meramaikan hati dengan ilmu tidak sah kecuali setelah hati itu bersih dari kotoran akhlak. Murid itu jiwanya harus suci. Indikatornya terlihat dari akhlaknya. Perhatikan: AKHLAK! AKHLAK! AKHLAK! Jangan tanya kalau lulus sekolah tidak jadi manusia yang diharapkan. Secara nilai di kertas dia bagus tapi jiwanya kotor dan kepandaiannya menjadikan dia disebut koruptor. Naudzubillahi min dzalika. Pokok utamanya adalah akhlak.

Kedua, murid harus mengurangi keterikatannya dengan kesibukan duniawiah yang melenakannya dari menuntut ilmu.
Allah menyatakan bahwa Allah tidak akan menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongga dada (QS Al Ahzab:4). Hati disini bukan bermakna fisik kebendaan tetapi ruhani/pikiran. Jika pikiran terpecah maka murid tidak bisa memahami kebenaran suatu hal (hakikat). Karena itu dikatakan :

“Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kalian menyerahkan kepada ilmu itu seluruh jiwamu; jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya (sungguh-sungguh) tetapi ilmu baru memberikan sebagiannya kepadamu maka itu berarti kamu masih dalam bahaya.”

Pikiran yang terpecah pada berbagai hal adalah seperti saluran irigasi yang airnya berpencar kemudian sebagian terserap tanah dan sebagian lagi menguap ke udara sehingga tidak ada air yang terkumpul dan sampai ke sawah/ladang untuk diserap tanaman. Intinya adalah murid harus berkonsentrasi menuntut ilmu, tidak mengkonsentrasikan pada hal-hal yang selain itu, apalagi bertentangan. Bagaimana dengan kondisi kita? Sudahkah berkonsentrasi menuntut ilmu dan mengesampingkan urusan semisal keinginan cari pacar, cari perhatian, dll.?
Ketiga, tidak sombong terhadap orang yang berilmu
Murid tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Ia harus patuh kepada guru seperti patuhnya pasien terhadap anjuran dokter yang merawatnya. Murid harus tawadlu’ kepada gurunya dan mencari pahala dengan cara berkhidmat (hormat dan berbuat baik) pada guru. Di antara sikap sombong terhadap guru adalah murid menyepelekan dan tidak menggubris apalagi memanfaatkan ilmu yang diajarkan. Malah bimbingan guru juga disia-siakan. Maka ilmu itu akan enggan bersama murid yang congkak, kalau diumpamakan seperti air/banjir yang tidak mau menuju tanah yang tinggi. Intinya: PATUHLAH PADA GURU. Tandanya patuh: tawadlu’ dan laksanakan saran-sarannya.
Semoga tulisan ini menjadi bahan perbaikan diri kita sehingga dengan 3 adab yaitu: mensucikan jiwa, konsentrasi, dan tawadlu semua murid akan lulus menjadi manusia yang SUKSES. Insya ALLAH. Amin. (artikel: raw)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s