Deteksi CON Mading 2K8: Sebuah Renungan Kilas Balik dan Curahan Isi Hati


Oleh: Novrian Eka Sandhi
Tim pembina mading SPiLuqkim

Gelaran tahunan DetEksi CON 2K8 sukses digelar kembali tahun ini. Menurut klaim penyelenggaranya, tidak kurang dari 85 ribu pengunjung silih berganti memadati Surabaya Supermal Convention Center (SSCC) Pakuwon Trade Center (PTC) di kawasan Darmo Boulevard. Ratusan SMP, SMA, dan SMK berbagai latar belakang ikut serta dalam ajang multi talent ini.
Ada beberapa faktor yang membuat ajang DetEksi CONvention ini menjadi magnet yang sangat luar biasa kuat menarik kaum muda untuk terjun ke dalamnya, yaitu:
* SATU-SATUNYA dan TERBESAR di Indonesia, can’t you believe it? Ajang seperti ini ternyata tidak ada, atau paling tidak belum ada yang selevel dengannya, di kota-kota lain. Bahkan di Jakarta dan Bandung yang dianggap sebagai trend-setter dunia anak muda ataupun Yogya yang dijuluki sebagai kota pelajar. So, boleh dunk kalo kita mengklaim bahwa sesungguhnya trend-setter dunia anak sekolahan Indonesia saat ini adalah: SURABAYA! Kita punya SMP, SMA, dan SMK negeri maupun swasa yang berkualitas. Siswa-siswi brilian kita bergiliran menyumbang medali di berbagai olimpiade mata pelajaran. Kita juga punya ITS, PENS-ITS, UNAIR, dan UNESA, plus PTS-PTS bergengsi lain yang kerap unjuk kemampuan di ajang-ajang ilmiah internasional. Dan satu lagi, kita punya DetEksi CONvention!
* Asli produk arek Suroboyo. Lahir sebagai ide brilian seorang Azrul Ananda, anak sang taipan media Jawa Pos Grup, Dahlan Iskan. Aza, panggilan akrab Azrul Ananda, yang pernah sekolah di Amerika menjadikan John, ortu asuhnya, sebagai sang inspirator. Aza membentuk “DetEksi” yang diawaki oleh anak-anak muda yang bekerja part-time(!), sambil sekolah atau kuliah, untuk menghelat even-even inovatif sebagai penyaluran bakat dan minat anak-anak muda. Saat ini even garapan DetEksi telah merambah ke luar Jawa, kecuali Jakarta (konon, alasan mengapa Jakarta tidak pernah disinggahi even-even DetEksi, ada kaitannya dengan ‘obsesi’ sang ayah, Dahlan Iskan, yang ingin membuktikan bahwa “Indonesia bukan hanya Jakarta saja”, wallahu’alam).
* Even-even yang digelar sesuai dengan aspirasi anak-anak muda (umumnya). Mulai dari adu kreativitas, adu kecerdasan otak, adu kecantikan, maupun adu kepiawaian bermusik dan bernyanyi. Semuanya dikemas dalam gebyar rangkaian kegiatan nan gemerlap di tempat yang bergengsi pula. Di samping hadiah yang cukup menggiurkan, coverage liputan dari media besar mendorong siapa pun ingin tampil menunjukkan kemampuan dirinya.

Artikel ini sesungguhnya ingin me-review keikutsertaan SPiLuqkim dalam ajang DetEksi CONvention beserta dasar pemikiran, langkah-langkah yang dilakukan, dan segala pernak-pernik yang ‘menghiasinya’.

Namun kami ingin mengajak pembaca untuk sekedar kilas balik perjalanan hidup SPiLuqkim (dan sedikit menerima keluh-kesah kami, jika tidak keberatan)…

Saat dibentuk tahun 2005, SPiLuqkim hanya dikelola (langsung) oleh tiga orang guru putri (Ustd. Rita, Ustd. Mila, dan Ustd. Ulfa)! Padahal mereka bertiga adalah fresh graduated dan hanya Ustd. Mila yang berlatar belakang pendidikan. Sementara Ustd. Rita lulusan Biologi MIPA dan Ustd. Ulfa lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat. “Kreativitas” mereka bertigalah yang mengantarkan SPiLuqkim mampu survive melewati tahun pertamanya. SPiLuqkim baru punya satu kelas yang berisi 22 siswi (mereka adalah lulusan pertama SPiLuqkim tahun lalu). Ruang kelasnya nunut SD Luqman Al Hakim di lantai 3 persis di sebelah hall. Sedangkan ruang gurunya terpencil di belakang panggung hall dekat toilet.

Di tahun kedua, 2006, saya dan beberapa guru lain bergabung dan memperkuat tim SPiLuqkim. Kami sudah menempati gedung sendiri meski baru satu lantai dan lantai atas selesai digarap tahun 2007. Personil guru full-time ada yang pergi, mutasi, dan ada yang datang. Siswi-siswi baru pun berdatangan memenuhi kelas SPiLuqkim.

Sebagai sekolah swasta, SPiLuqkim berada di segmen pasar serba tanggung. Mahal bener yo nggak, murah bener yo nggak. Gitu gampangnya. Tapi sebagai sekolah yang baru membangun, wajar jika RAPBS SPiLuqkim masih serba minus. Jadi jangan dibayangkan kami ini masing-masing dibekali laptop, kelas dilengkapi AC dan LCD Projector, lengkap dengan internet bebas hambatan 24 jam. Ooo, belum! Masih jauh dari itu. (FYI, blog ini >95% dikelola secara ‘swadaya’ oleh beberapa guru SPiLuqkim) Karenanya dalam operasional sehari-hari, kreativitas para pengelolanya benar-benar dituntut. Bukan hanya untuk menjalankan sekolah, namun memenuhi tuntutan dari orang tua/wali dan yayasan sebagai induk organisasi. Kami (terus-terusan) dikejar untuk berkinerja profesional, berprestasi cemerlang, berinovasi dalam metodologi pendidikan, dan lain-lain sebagainya. Di sisi lain, sebagai sekolah pesantren dan sebagai guru yang dipanggil ‘ustadz’ atau ‘ustadzah’, kami pun dituntut sedemikian tinggi dalam aspek moral, akhlak, dan ibadah.

Bagi sebuah sekolah, ikut lomba adalah pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan apa?

Pertama, kebutuhan penyaluran minat dan bakat murid-muridnya. Murid bukan komputer. Otak murid bukan harddrive yang hanya perlu diinstal software. Murid adalah manusia yang tumbuh dan berkembang dengan dinamis. Mereka memiliki kehendak, keinginan, dan kecenderungan. Tugas sekolah pesantren (seperti SPiLuqkim) ini adalah mengarahkannya sesuai dengan fitrah kewanitaan dan syariat islam.

Kedua, kebutuhan mengukuhkan eksistensi dirinya melalui prestasi. Terlebih bagi sekolah swasta, keikutsertaan (dan kemenangan) dalam lomba berkaitan dengan citra diri sekolah. Jika citra terbangun secara positif, nantinya akan sangat memudahkan bagi tim marketing untuk mempromosikan sekolah yang bersangkutan. Bayangkan betapa sulitnya kerja tim marketing, ngecap sana-sini menjual sekolah untuk mencari murid, jika tidak punya prestasi. Meski belum ada studi yang membuktikan korelasi kuat antara prestasi lomba dengan peroleh siswa baru, tapi sebagai orang tua, apakah Anda tidak tergiur jika melihat sebuah sekolah yang kehabisan tempat untuk memajang pialanya? Atau sering diliput di media karena prestasinya?

Ketiga, kebutuhan lahan penerapan ilmu-ilmu yang diajarkan di kelas terutama pendidikan akhlak. Guru terbaik adalah pengalaman. Dan pengalaman berkesan justru adanya di luar sekolah, bukan di dalam kelas yang sempit. Mulut kita sampai berbusa-busa dan urat leher kita sampai tertarik keluar kulit saat mengajarkan akhlak. Satu-satunya cara untuk membuktikan sukses tidaknya adalah dengan membawa siswi keluar dari sekolah, meletakkannya di tengah masyarakat, dan menyaksikannya menghadapi dunia nyata. Bukan dengan ujian tertulis, pilih a, b, c, d atau ngarang-ngarang essai! SPiLuqkim adalah sebuah sekolah yang benar-benar homogen, muridnya perempuan semua, sebagian besar gurunya perempuan, dan semua warganya adalah muslim. Padahal realita kehidupan adalah heterogen. Ada laki-laki dan ada perempuan, dalam berbagai sektor kehidupan, laki-laki dan perempuan butuh dan harus bekerja sama. Contohnya kami sendiri asatidz/asatidzah selaku pengelola SPiLuqkim (note: saya dan Ust. Andri detik ini juga siap mengundurkan diri jika SPiLuqkim harus dikelola sepenuhnya oleh perempuan seperti tuntutan beberapa pihak!!!). Ada yang muslim dan ada pula yang kafir, Rasulullah pun bermuamalah dengan kaum kafir. Sesama muslim sendiri ada beragam warna pemahaman dan kadar keimanan. Lingkungan SPiLuqkim dan Pondok Pesantren Hidayatullah (berusaha) menerapkan syariat islam. Padahal, di luar sana, nilai-nilai islam masih jauh dari kenyataan. Ibaratnya, siswi seperti ikan yang dipelihara dalam akuarium yang sempit dan terbatas (sekolah/pesantren). Padahal, nantinya ia harus, sekali lagi, harus hidup seperti ikan di samudera yang luas, lepas, dan bebas di dunia nyata, tanpa ada orang tua ataupun guru yang mendampinginya.

Dalam perjalanan hidupnya, SPiLuqkim selalu berusaha mencari dan mengikutsertakan siswinya dalam ajang-ajang kompetisi pelajar. Sebagai sekolah berbasis pesantren yang (maunya) menerapkan syariat islam, ada sederetan panjang daftar pertimbangan yang harus kami pikirkan sebelum memutuskan ikut serta dalam suatu even. Wis gampangnya, menghindari fitnah sejauh mungkin.

Meski pada prakteknya sulit dan seringkali kami harus (dengan berani, nekad, dan Bismillah, serta siap-siap dikomplain banyak pihak) memilih: the best of the worst. Keputusan sulit yang harus diambil oleh orang-orang ‘lapangan’ bagian operasional (seperti kami) yang harus bergumul dengan urusan tetek-bengek pating krenthil sehari-hari, yang seringkali sangat-sangat sulit dipahami oleh para pengamat, pemerhati, kritikus, dan “orang-orang luar” yang berada di luar dan melihat SPiLuqkim hanya dari luar atau mengandalkan informasi-informasi “katanya”.

Melalui petunjuk dan pengarahan dari para pimpinan, sesepuh, dan senior di berbagai kesempatan, kami menyimpulkan ada beberapa rambu yang harus ditaati ketika mengirim siswi SPiLuqkim untuk berlomba:
1. bukan lomba fisik, seperti: kontes kecantikan, modeling, lomba lari, baris-berbaris, dsb. (BTW, meski urgensi dan argumen pendukungnya sangat-sangat-sangat kuat, hingga detik ini SPiLuqkim dilarang mengajarkan bela diri kepada siswinya, meski hanya bela diri pasif yang bersifat defensif dan bukan untuk prestasi)
2. tidak menampilkan siswi di panggung untuk ditonton oleh banyak orang termasuk laki-laki bukan muhrim
3. tidak mengekspos aurat perempuan, ada yang berpendapat suara adalah bagian dari aurat perempuan yang karenanya dilarang untuk diperdengarkan kepada laki-laki yang bukan muhrim
4. (ini yang sulit dan nyaris tidak ada) harus ada hijab antara laki-laki dan perempuan. Rambu ini hanya dapat dipenuhi jika organizer-nya adalah lembaga islam yang menerapkan syariat islam dengan baik (kan ada tuh sekolah islam tapi, jangankan syariat islam, siswinya aja gak wajib berjilbab). Masalahnya, adakah? Maksudnya, lembaga islam yang menerapkan syariat sih memang banyak. Tapi yang mau repot-repot dan berkeringat (sampai berdarah-darah) bikin even adu kreativitas buat anak-anak muda muslim, adakah????????????????????????????? Tolong kami diberitahu jika (sudah) ada. Karena ikut lomba disana, insya ALLAH, jauh lebih ‘aman’ buat siswi-siswi kami.

Belakangan ini SPiLuqkim hanya membatasi diri pada lomba-lomba bidang studi dan kreativitas berupa ‘produk’ tanpa harus tampil (misalnya: karya tulis, mengarang cerpen dan puisi, mading, dan sejenisnya). Dulu, SPiLuqkim pernah juara lomba nasyid. Namun karena kami lelah harus terjepit di tengah-tengah penentang dan pendukung, ya sudahlah, jangan lagi ikut lomba nasyid. Karena lomba nasyid melanggar semua rambu-rambu tersebut. Belum lagi ada sebagian orang yang berkeyakinan bahwa semua bentuk musik dan nyanyian adalah haram, tak segan mengintervensi kebijakan lewat berbagai cara tanpa mengindahkan eksistensi dan kredibilitas SPiLuqkim sebagai sebuah institusi formal (dalam berbagai kasus lain, intervensi seperti ini juga sering terjadi).

Kembali ke masalah even DetEksi CONvention…

Tahun 2008 ini, SPiLuqkim kembali ikut serta dalam ajang DetEksi CON. Mengapa? Mengacu kepada pemenuhan tiga kebutuhan yang diuraikan sebelumnya, maka setiap kali ada even yang ditujukan untuk anak sekolahan, yang menguji kreativitas, kecerdasan, dan keterampilan, selama tidak mengekspos potensi dan kecantikan fisik/jasmaniah siswi dalam bentuk apapun, serta dapat menjadi wahana latihan bagi siswi untuk menghadapi tantangan hidup di dunia nyata, pantang bagi SPiLuqkim untuk mengabaikan dan membiarkannya berlalu begitu saja!!!

Dari sekian banyak kompetisi yang digelar dalam even DetEksi CONvention 2K8 ini, SPiLuqkim memutuskan hanya mengikuti lomba Mading On the Spot (MOS). Sementara lomba yang lain tidak kami ikuti. Ada dua kategori penghargaan yang diperebutkan yaitu gelar mading terbaik dan gelar mading terfavorit. Gelar mading terbaik ditentukan oleh tim juri penilai yang bisa dipercaya kredibilitasnya.

Sedangkan gelar mading terfavorit diraih lewat usaha peserta. Bagaimana caranya? Setiap pengunjung SSCC membeli tiket masuk yang juga terlampir kupon untuk memilih mading yang menjadi favoritnya, baik SMP maupun SMA/SMK. Jadi penentuannya berdasarkan suara-suara pengunjung yang masuk ke panitia. Nah, agar pengunjung mau mendukung dan memilih madingnya sebagai favorit, sekolah peserta mading mengadakan aksi-aksi (semacam kampanye) untuk meraih simpati dari pengunjung. Berbagai cara dan beragam bentuk aksi/atraksi kampanye dilakukan oleh peserta dari sebuah sekolah. Jika kita lihat dari sudut pandang kreativitas semata, boleh dikata aksi-aksi mereka sebenarnya memang menarik, unik, terkadang lucu, dan kreatif khas anak muda.

Namun belakangan ini, aksi kampanye sudah mulai bergeser dari sekedar meraih simpati dukungan menjadi adu gengsi antar sekolah dan upaya agar diliput media (masuk Jawa Pos). Adu gengsi tersebut wujudnya berupa adu aneh, adu nyeleneh, adu berani, memberi ‘sesuatu’ ke pengunjung, dan sejenisnya. Misalnya, siswa laki-laki berdandan ala banci, atau siswa-siswi mengenakan kostum-kostum aneh lainnya. Bila menggunakan sudut pandang syariat islam, aksi-aksi yang dilakukan mereka jelas sudah bertentangan, selain menghabiskan banyak biaya alias pemborosan uang orang tuanya. (Kami sangat menyarankan kepada pihak DetEksi selaku organizer agar di tahun depan mulai diterapkan pembatasan biaya agar even adu kreativitas ini tidak terjerumus ke arah pemborosan, hedonisme, dan jor-joran duit. Menjadi kreatif tidak harus mahal, kan? Justru tantangannya adalah, dengan segala keterbatasan bisa menghasilkan karya yang hebat.)

Belajar dari pengalaman itulah, ketika memutuskan ikut even ini tim pembina mading SPiLuqkim juga menetapkan hanya mengikuti lomba mading (MOS) saja dan berusaha mengejar gelar terbaik (yang dinilai oleh juri). SPiLuqkim memutuskan tidak akan menggelar aksi kampanye untuk meraih simpati pengunjung, alias tidak ikut mengejar gelar terfavorit. Meski pada dua tahun sebelumnya SPiLuqkim turut menggelar aksi kampanye sederhana. Keputusan ini tentu saja mengecewakan siswi SPiLuqkim yang jauh-jauh hari sudah berencana dan menyiapkan aksi kampanye. Tapi, tidak semua keinginan siswi harus dituruti, kan? Apalagi jika kita sebagai pendidik dan pengasuh memiliki argumen kuat tentang suatu keputusan.

Persiapan untuk mengikuti even ini kami gelar sejak Agustus 2008 lalu, yaitu melalui audisi calon anggota tim mading. Kami tidak asal menunjuk atau memilih begitu saja. Namun kami mengadakan seleksi bagi siswi SPiLuqkim yang berminat untuk mengikuti even ini, dan memang banyak sekali siswi yang berminat. Sehingga di antara mereka saling bersaing dan berkompetisi.

Adapun seleksi yang kami adakan meliputi team-work, kreativitas, dan wawancara. Hal-hal yang ditanyakan dalam wawancara pun mencakup berbagai aspek mulai dari pengetahuan siswi tentang Hidayatullah dan Luqman Al Hakim, tata krama dan etika pergaulan, serta motivasinya dalam mengikuti even ini. Keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan hasil seleksi semata. Namun juga mempertimbangkan masukan dari guru-guru (yang kami tanyai secara informal) dan terutama masukan dari BK.

Setelah anggota tim terpilih (Ridha, Puput, Ida, Nita, dan Diba), sebelum libur panjang Idul Fitri 1429 H, Ust. Andri (Ko. Kesiswaan SPiLuqkim) menghadap para pimpinan, yaitu Ustd. Ina Choriyati (wakil kepala sekolah SPiLuqkim) dan Ust. Marni Mulyana (kepala sekolah SMP Luqman Al Hakim). Lewat berbagai pertimbangan, kedua pimpinan tersebut mengijinkan tim mading SPiLuqkim untuk ikut even DetEksi CON. Beliau berdua juga memberikan nasehat-nasehat yang kemudian menjadi motivasi bagi kami dalam mengemban amanah dan menjaga kepercayaan dari sekolah. Setelah itu barulah kami berangkat ke Graha Pena untuk mendaftar.

Usai lebaran, SPiLuqkim masih harus menggelar UTS I. Karenanya tim mading belum bisa melakukan persiapan teknis. Namun kami selaku pembina mading, bersama BK, mulai mempersiapkan mereka dari sisi mental. Mereka mendapatkan berbagai gambaran tentang kondisi riil yang akan dihadapi, berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Termasuk pula hal-hal yang bertentangan dengan syariat islam yang akan mereka temui selama lomba. Apakah Anda pernah mengira, siswi yang akan mengikuti lomba mading tapi justru mendapatkan pembekalan tentang bagaimana menghadapi orang non muslim, bagaimana menghadapi laki-laki muslim bukan muhrim, bagaimana menghadapi laki-laki non muslim, bagaimana menghadapi pelecehan seksual, bahkan bagaimana menghadapi orang yang menghina islam??? Tapi, itulah yang terjadi di SPiLuqkim. Kami menyiapkan mereka untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Jadi, persiapan di luar masalah teknis justru jauh mendahului persiapan-persiapan teknis untuk lomba mading itu sendiri. Karena hal-hal di luar masalah teknis itulah justru yang jauh lebih krusial karena menyangkut aqidah dan akhlak yang harus dipegang teguh oleh siswi.

Setelah UTS I kelar diselenggarakan, sembari masih sibuk dengan tumpukan koreksian, rekapan nilai, bimbel UAN kelas IX, agenda PSB, serta urusan-urusan sekolah lainnya, kami tim mading mulai melatih siswi untuk menghadapi lomba mading. Mulai dari membangun konsep, membagi tugas, menginventarisir alat dan bahan, simulasi lomba, dan lain sebagainya. Sementara itu, BK (dibantu wali kelas dan guru-guru diniyah) terus memberikan pembekalan mental kepada siswi. BK juga bersilaturrahim secara intensif dengan orang tua/wali kelima siswi peserta lomba mading. Sehari sebelum lomba, tepatnya hari Kamis 20 November 2008, BK menelepon orang tua/wali kelima siswi tim mading untuk mengadakan rapat koordinasi pemantapan di hari itu juga.

Jadi, jika ada pihak yang menuding bahwa SPiLuqkim tidak berkoordinasi ketika mengikuti even DetEksi CONvention, apa dasarnya? Lagipula koordinasi macam apa yang mereka maksudkan/inginkan? Tentu saja yang kami ajak berkoordinasi adalah pihak-pihak yang memang berkompeten, terlibat, atau ikut bertanggung jawab secara langsung terhadap SPiLuqkim. Yang lain, ya nyuwun sewu

Lomba Mading On the Spot (MOS) dalam DetEksi CONvention ini digelar dua hari, 21 – 22 November 2008. Hari pertama, peserta mulai check-in dan menjalani pemeriksaan barang mulai pukul 9 pagi hingga 12 siang. Selanjutnya, acara seremonial pembukaan, hingga akhirnya lomba dimulai pukul 14 dan berakhir pukul 19 malam. Hari kedua, esoknya, lomba dimulai pukul 12 siang dan berakhir pukul 17 sore. Tim peserta mendapatkan jatah waktu lima jam dalam sehari untuk mengerjakan madingnya.

Selama dua hari pelaksanaan MOS, siswi selalu didampingi oleh guru-guru SPiLuqkim dan orang tua/wali yang secara bergantian datang ke arena lomba di SSCC. Hari pertama, ada Ust. Andri, Ustd. Feni, dan Ustd. Yuni yang bertugas. Hari kedua, Ust. Andri (lagi) dan saya yang menjaga siswi. Menunggui siswi yang berlomba ini bukanlah perkara nyaman bagi kami. Selain lokasinya sangat jauh dari rumah dan sekolah, waktu lombanya yang lama dan menjemukan, kami juga bukan penghobi cangkruk di mal! Terkadang, siswi kami panggil untuk mendapatkan pengarahan teknis. Saat waktu sholat tiba, mereka kami panggil untuk menunaikan sholat secara bergantian. Jadi jangan dikira kalau siswi kami lepas begitu saja ke alam bebas tanpa pendampingan. (Dalam berbagai kesempatan lomba, kami ini sudah mirip bodyguard siswi, bahkan mungkin cenderung over-protective! Yah, mau bagaimana lagi?)

Akhirnya, gelaran DetEksi CONvention 2K8 pun usai. Para juara telah diumumkan, congratulations to all of you! Ribuan siswa SMP/SMA/SMK yang terlibat telah kembali ke sekolahnya dengan setumpuk kisah. Duka dan suka, sedih dan gembira, tangis dan tawa. Semuanya bercampur mengisi ruang memori romantika kehidupan anak-anak muda ini. Dan nampaknya, tahun depan even ini akan kembali digelar dan menunggu kiprah anak-anak muda kreatif lainnya.

Bagaimana dengan SPiLuqkim? Meski tanpa gelar, kami tetap berucap alhamdulillah atas segala kemudahan yang dilimpahkan ALLAH sebelum, selama, dan sesudah lomba ini. Ikut lagi tahun depan? Yah, kita lihat sajalah nanti.

Bagi kami, satu pekerjaan telah dirampungkan. Satu amanah telah diemban dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Dedikasi dan komitmen kami telah (dan akan terus) diuji dan dibuktikan. Pekerjaan-pekerjaan lainnya telah menggunung menunggu giliran untuk disentuh tangan-tangan kecil kami yang cuma dua ini.

Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada tim mading SPiLuqkim (Ridha, Puput, Ida, Nita, dan Diba) beserta orang tua/walinya, rekan-rekan asatidz/asatidzah SPiLuqkim yang selalu menjadi tim yang kompak, para pimpinan yang memberikan kepercayaan dan mendorong kami untuk terus berprestasi dunia dan akhirat, siswi-siswi SPiLuqkim yang mengisi hidup kami dengan segala kisah romantisnya, dan orang tua/wali siswi SPiLuqkim yang selalu bersinergi bersama kami dalam mendidik putri-putrinya.

Kepada mereka yang selama ini telah meluangkan waktu, tenaga, biaya, dan pikirannya untuk SPiLuqkim lewat sorotan tajam dan kritikan keras, yang lebih banyak disebarluaskan kemana-mana ke pihak-pihak di luar SPiLuqkim di waktu dan tempat yang tidak tepat, daripada dikonfirmasikan secara langsung kepada kami selaku pengelola dan penanggung jawab SPiLuqkim, kami ucapkan terima kasih dan ijinkan kami mengajak Anda…

Bagaimana jika kita semua bersama-sama bersinergi mendidik putri-putri titipan ALLAH generasi muda muslimah penerus peradaban islam yang kelak akan mewarisi dan memperbaiki kehidupan umat (calon-calon bidadari surga) ini, berdoa memohon petunjuk dan perlindungan dari ALLAH, dan dengan sungguh-sungguh serta keikhlasan hati berikhtiar mencari segala alternatif solusi yang dapat memaksimalkan manfaat positif dan meminimalkan dampak negatif dari kehidupan nyata yang toh memang realitanya jauh dari nilai-nilai islam serta bersama-sama menanggung segala konsekuensinya??? (daripada terus-menerus ribut soal halal/haram – boleh/tidak boleh, menuding sana-sini, mencari-cari kesalahan, dan saling menyakiti perasaan kita satu sama lain)

Wallahu’alam

Ditulis oleh Novrian Eka Sandhi berdasarkan pikiran, perasaan, dan pengalaman pribadi sebagai pengelola SMP Putri Luqman Al Hakim (SPiLuqkim) dan tim pembina mading SPiLuqkim.
Meski dalam tulisan sering menggunakan kata ‘kami’, penulis tidak mengatasnamakan ataupun mewakili institusi SPiLuqkim maupun Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.
Jika Anda adalah pihak yang keberatan, tersakiti, ataupun tersinggung dengan tulisan ini, silahkan menemui penulis secara pribadi dan langsung untuk mencari solusi penyelesaian secara terhormat dan bermartabat. Tanpa membawa-bawa jabatan, kekuasaan, oknum-oknum, dan institusi di belakang Anda. Serta tanpa membawa-bawa institusi dan oknum-oknum di belakang penulis.
Contact: n.sandhi@yahoo.com, ponsel: +623172032134

Iklan

One thought on “Deteksi CON Mading 2K8: Sebuah Renungan Kilas Balik dan Curahan Isi Hati

  1. tya berkata:

    Selamat!!!
    awalnya q sangat gak suka, gak mau, binti gak2 yg lain bwt sekolah di SPiLuqKim. tapi apa daya, nilai ukm yg gak mumpuni berhasil membawaku ke sekolah yg (ternyata) indah ini. skrg, q sdr. sdh byk kisah2 romantis yg gak mgkn q dptkan di smpn pilihanq dulu. dan aq (baru) sadar, ternyata aq perlu dididik utk mjd muslimah tangguh spt didian SPiLuqKim.
    Aq bangga jd ank SPiLuqKim. Terima kasihku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s