Manusia atau Hewan


oleh: Novrian Eka Sandhi*

monyetAda sebagian orang (kafir) yang meyakini bahwa manusia tidaklah berbeda dengan hewan. Manusia makan, hewan makan. Manusia minum, hewan minum. Manusia berkembang biak, hewan berkembang biak. Bahkan ada mereka yang lebih sinis lagi menyatakan bahwa manusia adalah produk evolusi dari hewan, khususnya primata.
Dengan berbagai dalil Qur’an maupun Hadits shahih, kita kaum muslimin pasti dapat mematahkan pernyataan tersebut dengan sangat mudah. Tapi perkaranya bukan sampai disitu saja. Bisakah kita membuktikan bahwa kita memang makhluk yang lebih tinggi derajatnya dari hewan? Memang, ALLAH telah meninggikan derajat kita, bahkan malaikat yang suci pun disuruh-Nya sujud kepada kita. Tapi, sekali lagi, apakah kita telah membuktikan diri sebagai makhluk yang pantas ditinggikan oleh ALLAH? Pantaskah kita menjadi makhluk yang disujudi oleh malaikat.
Tanpa sadar, manusia sebenarnya telah terjebak dalam rutinitas hewani. Kita telah menjadi hewan “tingkat tinggi”. Memang, kita bisa mengklaim bahwa kita lebih tinggi dari hewan. Tapi siklus hidup kita sesungguhnya tidak lebih baik dari siklus hewani, hanya saja lebih rumit.
Coba perhatikan siklus hidup hewan. Lahir, belajar jalan, belajar mencari makan, tumbuh dewasa, mencari makan sendiri, mencari pasangan, kawin, punya anak, membesarkan anak. Kalau umurnya panjang, ia akan mencari makan lagi, mencari pasangan lagi, punya anak lagi, membesarkan anak lagi, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya mati.
Mari kita bandingkan dengan siklus hidup manusia. Manusia lahir. Menjalani masa kanak-kanak. Usia 5 tahun mulai TK. Setelah TK masuk SD. Di SD orang tua berdoa semoga nilainya bagus agar masuk SMP favorit. Masuk SMP favorit. Orang tua berdoa lagi agar bisa masuk SMA favorit. Masuk SMA favorit. Lagi-lagi orang tua berdoa agar masuk PTN favorit. Berdoa lagi agar lulus dengan IPK bagus agar bisa kerja di tempat bergengsi. Kalau sudah dapat kerja di perusahaan besar, gaji besar, berikutnya mencari pasangan. Menikah. Setelah menikah, punya anak. Membesarkan anak. Dan memulai lagi siklus seperti yang telah dilakukan dulu oleh orang tuanya. Akhirnya mati.
Benar, kan? Manusia tidak lebih dari hewan “tingkat tinggi”. Anda pasti menyangkal pernyataan tersebut. Silahkan saja, sangkal sekeras-kerasnya! Itu hak asasi Anda yang boleh punya pendapat beda. Tapi bukan penyangkalan jawabannya. Refleksikan hidup Anda sendiri. Jangan-jangan Anda sekarang sedang terjebak di dalam siklus tersebut. Tanyakan orang tua Anda, apa harapan mereka atas diri Anda kelak. Kalau mereka menjawab, “Yah, yang penting kamu sekolah yang baik. Jadi pinter, biar gampang cari uang. Nanti dapat jodoh muslim yang sholeh. Itu sudah cukup buat kami”, berarti keluarga Anda sedang berada dalam siklus hewani seperti yang penulis ceritakan sebelumnya.
ngaji1Nah, bila Anda tidak mau disandingkan dengan hewan, Anda harus memutus siklus hidup hewani tersebut. Di sini, semua hal tersedia untuk menjadi manusia seutuhnya. Ada pelajaran Diniyah, yang akan menundukkan kita hanya di hadapan ALLAH Swt. Anda akan belajar bagaimana memaknai hidup, bagaimana mendefinisikan tujuan hidup, apa misi hidup di dunia, kemana tujuan akhir hidup, dan bagaimana masa depan di akhirat kelak. Jadi mulai sekarang, ikuti pelajaran Diniyah dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya berdoa dan mengaji dengan suara keras, tapi tancapkan makna dan hikmah ilahiyah dari pelajaran-pelajaran Diniyah ke dalam diri Anda masing-masing. Pelajaran Diniyah akan mengasah aqidah, mental, dan nurani Anda.
Ada lagi pelajaran akademik: Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Bukan hanya sekedar lolos SKM. Pelajarilah dengan sungguh-sungguh. Anda tidak perlu pusing dengan pertanyaan, “Buat apa sih susah-susah belajar beginian?! Paling-paling juga ilmunya nggak berguna…”. Asal Anda tahu, berguna atau tidak, itu terserah Anda. Andalah yang memaknainya. Tapi minimal, pelajaran akademik akan mengasah akal Anda.
diskusiYa! Akal. Inilah salah satu hal yang membedakan kita dari hewan. Kita mendayagunakan akal dan memadukannya dengan hati nurani dalam menghadapi permasalahan hidup kita. Pelajaran akademik akan menuntun Anda berpikir logis, sistematis, dan analitis. Berpikir logis adalah berpikir menggunakan akal pikiran yang bersih, tidak terkekang oleh nafsu hewani. Berpikir sistematis akan menuntun Anda menguraikan permasalahan mulai dari yang pokok hingga ke akar-akarnya. Berpikir analitis akan mengarahkan Anda pada penyelesaian masalah yang utuh dan menyeluruh, dan satu lagi, manusiawi. So, mulai sekarang. Berhentilah tidur di kelas saat pelajaran, pelajaran apapun! Berhentilah mengeluh setiap mendapat tugas! Berhentilah mengeluh setiap akan ulangan! Berhentilah menjadi hewan! Mulailah menjadi manusia!!!

Wallahu’alam

* Penulis adalah pengajar bidang studi Fisika pada SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Iklan

One thought on “Manusia atau Hewan

  1. bilal berkata:

    Nama saya M.Bilal Akbar, Saya Alumni Sd Integral!!

    Saya sangat Kangen dengan Guru-guru Sd Saya!!!!

    Terutama P.Amrozi,P.Wafi,P.Asyari,P.Adi,DLL…

    ada bagian dari komen ini yang diedit oleh admin. mohon maaf dan harap maklum…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s