Crazy Little Thing Called … LOVE!


loovee

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Every one can see, there’s a change in me
They all say I’m not the same kid I used to be
Don’t go out and play, I just dream all day
They don’t know what’s wrong whit me, and I’m too shy to say

………………………….
(First Love, song by: Nikka Costa)

Pertama, saya mohon maaf karena tidak berkapasitas sebagai seorang psikolog maupun student counselor. Namun aktivitas keseharian saya di SPiLuqkim mendorong saya untuk menulis artikel ini.
Kedua, judul artikel di atas, diambil dari judul salah satu hit dari kelompok Queen, memang benar apa adanya. “Cinta” (love) benar-benar mampu membuat orang yang terlibat di dalamnya menjadi “gila” (crazy). Baik si subyek yang sedang jatuh cinta (falling in love) itu sendiri, maupun orang-orang yang berada di sekitarnya.
Ketiga, petikan lirik lagu yang dibawakan oleh Nikka Costa itu, tentu tak asing bagi generasi 80-an, memang benar-benar mendeskrispsikan keadaan putri-putri kita.

Mari kita analisa…
Terjemahan bebas dari petikan lirik lagu tadi kurang lebih sebagai berikut:
Setiap orang bisa melihat, ada perubahan dalam diriku
Mereka semua bilang, aku bukanlah seperti anak yang dulu
Tidak pergi/keluar dan bermain, aku hanya bermimpin/melamun sepanjang hari
Mereka tak tahu apa yang salah denganku, dan aku terlalu malu untuk mengungkapkannya

Anda sebagai ortu, atau Anda sendiri sebagai siswi, pasti setuju dengan ungkapan tersebut (kata anak jaman sekarang, “Wah, gue banget, tuh!”). Semua bisa mengamati setiap perubahan yang terjadi, mulai dari fisik (sebagai akibat dari perkembangan organ seks sekunder) yang dipenuhi dengan gejolak hormonal dan kemudian memicu “ledakan-ledakan” psikologis. Untuk urusan perubahan fisik, monggo berkonsultasi kepada Ustd. Rita sebagai guru Biosains. Sedangkan untuk urusan perubahan psikologis, monggo berkonsultasi kepada Ustd. Feni sebagai psikolog/konselor (BK). (kalau dengan saya sih, monggo berkonsultasi tentang urusan gaya, energi, listrik, eksperimen, dan sejenisnya🙂 )

Memasuki dunia remaja (atau ABG, atau puber, atau apalah namanya) berarti memasuki dimensi baru dalam kehidupan “cinta”. Mulanya “cinta” seorang anak yang hanya terfokus di lingkaran kecil (keluarga, teman, dan sekolahnya) kini mulai mengalami divergensi keluar dari lingkaran itu. Kebutuhan akan “unconditional love” yang murni berupa kasih sayang mulai berinterferensi dengan “sexual love”. Remaja mulai melihat lawan jenisnya dengan cara yang “berbeda”. Mereka juga mulai mencari bentuk relasi sosial privat yang “berbeda” pula. Fase ini secara biologis dan psikologis sesungguhnya tidaklah berlebihan sebagai dampak dari aktivitas hormonal di masa pubertas.

Saya, dan Anda para ortu, pasti pernah muda (jadi kayak BCL?!). Yang kayak gini-gini dulu kita sudah ngalami, lah. Masa muda saya yang dibesarkan di sekolah negeri mulai SD hingga PTN dan di lingkungan muslim yang awam memberikan pelajaran penting bagi saya: “cinta di masa remaja harus di-manage dengan baik”. (saya yang tidak menjadikan kehidupan masa lalu yang gak standar syariah sebagai pembenaran/pemakluman atas perilaku negatif siswi-siswi saya sekarang, salahkah???)

Dari pengalaman, terbukti “cinta” menyimpan potensi energi (atau energi potensial, ya?) yang besar. Dulu, saya jadi semangat belajar, berangkat ke sekolah, dan aktif di kelas serta organisasi, ya karena naksir teman sekolah saya. Jadi, saya bisa men-transform ledakan-ledakan emosi cinta menjadi energi pendorong untuk berprestasi.

Lalu, apa urusan saya? (tadi di awal kan saya sudah minta maaf, karena kesannya dalam masalah ini saya adalah outsider dan tukang rese’)

Saya akan fokus pada judul artikel ini, atau hal kedua yang saya sampaikan di awal.

Crazy little thing called… LOVE!!!

Little
“Cinta”, berhala yang didewa-dewakan oleh para pujangga dan disembah-sembah oleh para pelaku industri hiburan, sebenarnya adalah hal “kecil”. Dalam artian, ia hanya segelintir aspek dari beragamnya dimensi kehidupan manusia. Contoh aspek lainnya: aqidah, akhlak, ibadah, muamalah, ilmu pengetahuan, teknologi, kemanusiaan, lingkungan, dsb.

Tapi, meski kecil, ternyata “cinta” benar-benar telah menyerap perhatian dan energi dunia. Coba hitung, berapa judul lagu, album, dan sinema yang bertema cinta dan uang yang dikeruk pada pelaku showbiz dari jualan “cinta”. “Cinta” juga telah menjadi barang dagangan kaum kapitalis. Lihat saja, ada bank yang menggunakan jargon “cinta” untuk memikat nasabahnya. Menjelang tanggal 14 Februari, “cinta” benar-benar laris bak kacang goreng (bodohnya, kaum muda muslim pun terseret ke dalam arus “Valentine’s Day” itu). Perhatikan lagi, lokalisasi doly yang diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara (should we proud of this???), dalam semalam milyaran rupiah berputar di dunia “cinta” sesaat, semu, penuh maksiat, dan 100% (tanpa diskon) jaminan neraka itu.

Jadi, “cinta” yang dibilang kecil, ternyata ya gak kecil-kecil amat. Tidak salah pula jika kita menyematkan gelar “CRAZY” untuk “cinta”. Karena, terbukti “cinta” yang tidak di-manage dengan baik akan bertransformasi menjadi energi negatif yang berwujud “crazyness”, “madness”, dan “insanity”!

Urusan “kegilaan” inilah yang menjadi concern saya.

Bagaimana tidak “gila”??!
Gara-gara “cinta” siswi berbohong kepada ortu dan guru. Berbohong urusan uang: uang jajan bulanan yang jadi cepat habis, uang SPP yang terkorupsi, uang teman sekelas yang tiba-tiba raib, dsb. Berbohong urusan aktivitas: ngakunya belajar, taunya keluyuran memadu “cinta”, ngakunya ke warnet cari bahan makalah, taunya dua-duaan di bilik warnet bersama sang “pecinta”.
Gara-gara “cinta” siswi yang tadinya berprestasi gemilang, tiba-tiba terjun bebas ke jurang remedial (bisa dibayangkan, siswi yang semula sudah menjadi pelanggan tetap remedial, sekarang malah jadi pecandu remedial).
Gara-gara “cinta”, siswi yang cantik, feminim, lembut, lucu, dan imut tiba-tiba jadi punya nyali besar untuk berjibaku fisik dengan rekannya yang sudah bertahun-tahun berbagi suka-duka, sedih-gembira, tawa-tangis di kelas.
Satu lagi, yang jauh lebih memprihatinkan, gara-gara “cinta” pula, hijab yang sudah ditegakkan dengan susah payah, harus runtuh akibat rayuan gombal yang meluncur dari mulut lelaki laknat yang ngaku-ngaku “cinta” pada putri kita. Naudzubillah!!!

Saya yakin, problem “kegilaan” ini ada di setiap sekolah dan pesantren. Jika ada sekolah yang mengaku tidak ada, kemungkinannya ada dua. Pertama, saking canggih siswa-siswinya menutupi. Kedua, saking gak pedulinya pihak sekolah dengan masalah ini (Bodo amat! Mending ngejar akreditasi, mburu sertifikasi, ngurus tunjangan, atau ngopeni keluarga sendiri daripada soro-soro miara anak orang lain, wong ortunya aja gak ngurusi sampe segitu-gitunya…).

Perlu saya tekankan kepada Anda, MASALAH INI NYATA ADANYA. Bukan dibuat-buat atau dibesar-besarkan. Bukan pula saya yang PARANOID. Lihatlah berita-berita di berbagai media yang ada. Kerusakan akhlak yang luar biasa “gila” telah nyata di hadapan kita harus segera disikapi dengan tindakan nyata. Hal yang luar biasa, menuntut sikap dan tindakan yang luar biasa pula, gak cukup biasa-biasa saja!

Satu jargon yang tak henti didengung-dengungkan oleh tim BK – Kesiswaan SPiLuqkim kepada para ortu yaitu, “MARI KITA BERSINERGI”, “MARI KITA BERSINERGI”, dan “MARI KITA BERSINERGI”…

Dalam hal ini, mari kita bersinergi me-manage masalah “cinta”  putri-putri kita dan mencegah mereka dari terjerumus ke lembah “kegilaan”.

Haruskah kami menghadapi “kegilaan” ini sendiri? Sementara ortu malah sewot dengan menuding “pelanggaran privasi” ketika kami menggeledah tas, dompet, ponsel, dan friendster account putrinya untuk melacak “aktivitas cinta negatif” mereka???
Haruskah kami menghadapi “kegilaan” ini dengan daya kami sendiri? Sementara ortu malah menghamburkan hartanya (atas nama kasih sayang) justru untuk memfasilitasi putrinya melanggar aturan sekolah dan syariah???
Haruskah kami menghadapi “kegilaan” ini dengan pikiran, tenaga, air mata, dan darah kami sendiri? Sementara ortu malah sibuk mengerahkan segenap fokus hidupnya kepada hal-hal yang justru menjauhkan dirinya dari tanggung jawab mendidik putrinya???

Mau menunggu apa lagi? Menunggu wajah putri kita tampil di foto dan rekaman video aksi cabul yang beredar via internet dan ponsel seperti yang lagi marak dilakukan oknum-oknum pelajar di berbagai kota? Menunggu sampai kelimpungan mencari penghulu buat menikahkan siri putri kita dengan pacarnya karena “kebobolan”? Atau, menunggu di-azab oleh ALLAH???

Harap diingat, ortulah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH Swt. atas putri-putrinya, ortu jualah yang akan ikut terseret ke neraka jika putri-putrinya terjerumus kesana.

Tiada daya dan upaya, kecuali atas pertolongan ALLAH semata…

(Artikel ini ditulis untuk kepentingan menggugah kesadaran dan seruan untuk amar ma’ruf nahi munkar semata. Kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian adalah kebetulan yang memang bisa benar-benar terjadi di sekitar kita. Tidak dimaksudkan untuk mendhalimi pihak-pihak tertentu. Mohon maaf atas segala kekhilafan.)

* Penulis adalah pengelola dan pengasuh di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

2 thoughts on “Crazy Little Thing Called … LOVE!

  1. cak mengatakan:

    Seorang ibu tua yang sedang belanja di pasar, kemudian tasnya ada yang merampas. Seketika itu pula ia akan berteriak, malinngg…, maaaaliiiinnngg…! Di tas itu memang ada uang 1 juta untuk dan KTP. Tas dan uang 1 juta itu dianggap sangat berharga karena ia kumpulkan selama 3 bulan, dari sisa jatah ikut demo sepuluh kali untuk menentang UU pornografi. Dan ketika maling itu ketangkap oleh satpam. Ia sangat berterima kasih kepada satpam tersebut. Dan ketika maling itu dihukum dia semakin berterima kasih, karena kejahatan semakin berkurang.

    Suatu saat si Ibu ditanya wartawan, berikut cuplikan dialognya.
    Wartawan : “ibu yang sering demo itu yah”. Dengan semangat ibu itu mengiyakan. “Iya betul de, saya ikut prihatin dengan UU pornografi itu. Itu jelas melanggar HAM, bahkan memutus hak ekonomi orang yang kecimpung di dunia itu, seperti majalah, film denga seluruh krunya”. Seolah ibu itu telah melupakan kejadian penjambretan, ia begitu semangat ketika ada wartawan yang bertanya tentang demony.
    Wartawan: Wah… ibu ini benar-benar pejuang HAM nampaknya.
    Senyum terklum, rasa percaya diri mengembang di dadanya. dan ia semakin ingin banyak ditanya oleh wartawan. Mungkin dikira ia pun akan menjadi orang terkenal gara-gara memperjuangkan penggagalan UU pornografi.
    Ibu : Coba de lihat, bagaimana tidak dikatakan perbuatan keji, kantor majalah di rusak, orang-orang ketakutan, para seniman tidak bisa lagi berkreasi. Jelas itu perbuatan biadab. Apalagi main hakim sendiri.
    Wartawan : Ibu tadi kok geram sekali dengan penjambret tas ibu, tetapi mengapa ibu tidak geram dengan orang yang mengajak, mempengaruhi pikiran anak ibu untuk buka-bukaan. Dan bisa jadi setelah setelah buka-bukaan terus buka beneran, atau melakukan seks bebas. Ibu kan tahu 60 % anak SMP/SMA sudah pernah melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Dari mana itu mulanya ? Apa bukan dari informasi, termasuk media, dan seni buka-bukaan yang disajikan media massa. Mana yang lebih berharga bu, tas ibu atau putri ibu ?
    Ibu : Dasar wartawan tak tahu HAM. Ketus ibu sambil cemberut meninggalkan wartawan yang bengong.
    Jika demikian halnya, sama saja guru yang merajia tas disekolah untuk menjaga siswa-siswinya dari pengaruh jahat, dianggap melanggar hak privasi siswanya.
    Jina itu sebuah kejadian dan sebuah proses (artinya, mungkin terus berkelanjutan) dari hal yang sederhana tetapi mengarah. Makanya Allah menegaskan “Jangan mendekati perbuatan jina”. Dalam Islam jina itu perbuatan keji, hukuman yang setimpal bagi pelaku jina itu di rajam sampai seratus kali. Bagi sang sudah bersuami istri, kemudian berjina maka ia layak mati pelan-pelan dengan sangat menyakitkan, karena hukumannya yang setimpal adalah dilempar batu/dirajam sampai ia mati.
    Lantas bagaimana dengan “cinta” apalagi bagi para remaja ?. Padahal di fase remaja itu fase dimana cinta sedang tumbuh menggebu-gebu.
    Pendek kata, dengan kaca mata apa cinta itu kita lihat, dengan media apa cinta itu tumbuh. Jika dari kaca mata nafsu, atau kehidupan dunia yang sesaat, maka cinta adalah inspirasi yang paling menakjubkan untuk dieksploitasi, dan kemudian disajikan, yang menjadikan banyak orang tertarik kepadanya, walaupun akibatnya kenitaan yang didapat.
    Dan jika hidup itu adalah ibadah hanya kepada Allah, maka “cinta” itu juga adalah yang memberikan inspirasi yang menakjubkan, yang akan medatangkan keindahan sesungguhnya, kebaikan dan kemaslahatan buat ummat manusia itu sendiri. Bagaimana bentuknya ? Tentu dengan menjalankan ketentuan Allah (syariat Allah), itulah caranya.

    “Siapakah ucapannya, kiprahnya, yang paling baik, selain orang yang mengajak kepada (syariat) Allah”? (QS).

    Tugas guru dalam menghantarkan putra-putrinya menjadi anak yang sholih dan sholihat tanatangannya bukan hanya sekedar para orang tua yang merasa memiliki anak, sehingga merasa punya hak untuk dijadikan apapun, tetapi juga masyarakat kita yang sedang sakit.

    Selamat berjuang, semoga Allah memberi kekuatan untuk pantang menyerah dalam berdakwah, sakalipun dari orang yang engkau paling cintai.

    subhanallah… andalah saudara seiman sejati yg kami cari. hikmah dari anda benar2 menyejukkan dan menguatkan kalbu kami. semoga barisan perjuangan kita semakin kuat dan semakin banyak saudara seiman yg bersinegi dgn kita… amiin…

  2. awik mengatakan:

    Duh senangnya dan bahagianya seandainya anak saya bersekolah dan didik oleh guru-guru yang punya prinsip seperti anda. Dan memang benar pikiran seseorang akan berubah secara pelan-pelan tanpa kita rasakan. Tahu tahu sudah berbelok arah bahkan berbalik arah tanpa kita sadari. NGAJI dan NGAJI satu-satunya cara untuk menjaga dan meyakinkan bahwa kita masih berada di jalur yang benar. Termasuk membaca artikel ust novri, serasa kami NGAJI lagi ke kyai yang telah lama kami tinggalkan.

    syukron atas dukungannya ust. amun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s