Kamera di Tangan Remaja Palestina


Oleh: Rahmi Andri Wijonarko*

Maraknya penggunaan produk  berkamera (ponsel, MP6, handycam, Digicam) di kalangan remaja (siswa sekolah) emang sering bikin heboh. Sayangnya, kehebohan itu berkisar pada aksi-aksi yang, maaf, seronok, mesum, dan  cabul, yang populer dengan pornografi. Mereka tidak sadar telah mempermalukan diri dengan sengaja di mata dunia lewat jaringan internet yang murah (terjangkau uang sakunya) dan mudah ditemui di pinggir jalan. Naudzubillah!!!

Sangat memprihatinkan memang. Rupanya mereka ini terpengaruh oleh slogan dan kampanye Hak Asasi Manusia (HAM) yang kerap mereka baca di koran, dengar di radio, dan tonton di TV.

Seperti kata-kata ini mudah dilontarkan remaja kita (termasuk muslimah),

Pake kamera buat apa terserah gw, donk! Beli pake duit-duit sendiri. Lagian apa loe pada terganggu dengan kamera gw ini? Kan keren. Ngiri ya liat FS gw ya? Jaman sekarang mesti berpikir moderen, donk….*( Xbvhu, oiop[[iyih…;P :-P.oip 090-D..”, dan lain sebagainya.

Ada yang perlu dibenahi. Orang tua memberi kepercayaan kepada anaknya, seyogyanya tidak langsung lepas tangan begitu saja. Anak yang mendapat fasilitas juga mesti berpikir minimal dengan timbangan: baik-buruk, pantas-tidak pantas di mata umum. Gunakan hati nurani, bukan menurutkan hawa nafsu.

Di belahan lain  dunia Islam, Gaza yang tengah dilanda serangan zionis, mereka menangis. Bukan menangis gara-gara pacarnya selingkuh. Tetapi menangis karena ayah, ibu, dan saudaranya terbunuh. Kebahagiaan keluarga telah terenggut. Kamera yang digenggam menjadi saksi mata apa yang sebenarnya terjadi.

Allahu akbar! Di tangan seorang remaja muslimah Palestina, sebuah rekaman kamera amatir pun mampu menggugah mata dunia. Kamera yang difungsikan sebagai perekam pelanggaran HAM yang sebenarnya. Coba perhatikan kutipan berita berikut.
Juni 21, 2008
Rekaman Video Amatir Remaja Palestina, Hebohkan Israel

Sumber: eramuslim.com
Masyarakat Israel kini sedang diramaikan oleh beredarnya sebuah video yang merekam perlakukan buruk seorang pemukim Yahudi terhadap warga Arab Palestina tetangganya di kota Hebron, Tepi Barat.

Kejadian itu berhasil direkam oleh seorang remaja puteri bernama Fida Abu Aisha, yang dengan cepat tersebar ke situs-situs internet, bahkan sebuah saluran televisi Israel ikut menayangkannya. Sehingga muncul protes dan perdebatan bahwa kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi di Hebron terhadap warga lokal, seperti yang kerap dilansir organisasi pemantau hak asasi manusia, memang terjadi dan intensitasnya makin meningkat.

“Kekerasan terhadap warga Palestina makin meningkat, tapi di lapangan kami belum melihat ada tindakan terhadap permasalahan tersebut, ” ujar Limor Yehuda, pengacara dari Association for Civil Rights di Israel.

Video hasil rekaman Fida menimbulkan kontroversi, karena dalam video itu terlihat seorang perempuan Yahudi mendorong-dorong pagar besi rumah seorang keluarga Palestina, sambil melontarkan caci maki pada seorang perempuan Palestina, yang tidak lain adalah ibu Fida sendiri.

Perempuan Yahudi itu memaki ibu Fida dengan kata-kata kotor seperti “Sharmuta, kamu dan anak-anak perempuanmu.” Sharmuta dalam bahasa Arab, artinya pelacur. Sementara ibu Fida dengan dengan raut muka bingung, berdiri beberapa inci di balik pagar besi itu.

Di rekaman video kedua, terlihat anak-anak pemukim Yahudi yang sedang melempari rumah orang-orang Palestina dengan batu.

Ironisnya, dalam kedua rekaman video tersebut, terlihat sejumlah tentara Israel, tapi mereka tidak melakukan apapun untuk menghentikan perbuatan para pemukim Yahudi itu.

Ayah Fida, Taysir Abu Aisha mengungkapkan, “Rekaman video Fida menunjukkan pada dunia, apa yang sedang terjadi di sini. Setiap hari kami diserang oleh para pemukim-pemukim itu. “

“Tapi, kami hanya diberi janji-janji, tidak ada tindakan sama sekali.”, keluhnya.

Taysir Abu Aisha juga mengungkapkan kesulitan yang dialaminya setiap hari. Untuk mencapai toko pakaian miliknya di pasar yang sebenarnya berjarak dekat, ia harus menempuh jarak yang jauh, karena jalan biasa dibarikade dan dipasangi timbunan karung pasir oleh tentara Israel.

Ia juga harus menyusuri tembok pemisah yang didirikan oleh Israel di Kota Tua, di bawah pengawasan para tentara Israel. Di pos-pos jaga Israel, ia harus melewatinya dengan pemeriksaan metal detector.

“Mereka (Israel) sedang berusaha mengusir kami. Para pemukim Yahudi melempari kami dengan batu, menyiram kami dengan air, dan menghina kami, tapi mereka tidak tersentuh hukum.” ujar Taysir Abu Aisha.

Sikap Israel

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengungkapkan “rasa malu”nya setelah melihat rekaman video Fida.

Tapi Ketua Yad Vashem Holocaust Memorial, Tommy Lapid, membandingkannya dengan fanatik anti-semit pada masa di Eropa pada masa Perang Dunia II.

Organisasi HAM B’Tselem di Israel yang telah memberi peralatan kamera video pada Fida mengatakan, pihaknya berharap kasus ini akan mendorong pemerintah dan militer Israel untuk mengambil tindakan pada para pemukim Yahudi di Hebron yang telah melanggar hukum.

“Situasi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak adanya penegakkan hukum sudah dibahas sejak lama. Tapi tidak ada hasilnya dan belum ada langkah yang dilakukan.” kata juru bicara B’Tselem, Sarit Michaeli.

“Kapanpun ada warga Palestina yang diserang atau dibunuh Israel, tidak ada langkah tegas. Namun ketika ada seorang warga Israel yang diserang oleh warga Palestina, orang-orang Palestina ditindak tegas. Kondisi ini menjadikan kota ini seperti kota hantu.” imbuhnya.

Meski demikian, militer Israel menyatakan bahwa kekerasan dialami kedua belah pihak, baik warga Palestina maupun pemukim Israel. “Ini hal yang problematis. Di kawasan ini, warga Arab dan pemukim Yahudi hidup bersama, dan mereka punya masalah.” kata Benny Shahino, juru bicara Kementerian Pertahanan Israel.

Tapi, setelah beredarnya rekaman video Fida, Menteri Pertahanan Israel, Ephraim Sneh berjanji akan mengkonsolidasikan kerjasama antara polisi dan tentaranya mulai akhir bulan depan, dalam upaya penegakkan hukum dan memastikan warga Hebron tidak melanggar aturan yang berlaku. (ln/MoL).

* Penulis adalah Koordinator Kesiswaan, pengelola, dan pengasuh di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

Iklan

One thought on “Kamera di Tangan Remaja Palestina

  1. Oma berkata:

    Blog SMP putri keren bangetttt…
    sayang yah jika blognya itu hanya berlalu begitu saja, soalnya saya ini juga kebetulan saja tersangkut disini.
    tapi komentarnya masih kurang respon yah, mungkin tidak kebetulan tersangkut di sisi kali yah.Maksudku jumlahnya masih sedikit. termasuk blog siswanya juga sedikit.
    Pokoke met gebyar deh kita tunggu yach.

    thanks dukungannya. sering2 main kesini and kasih comment…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s