Be Trustworthy


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

annisaa48

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” QS. An Nisaa’: 48

Manusia memiliki tiga aspek hubungan dengan segala hal di luar dirinya, yaitu: hubungan dengan ALLAH, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam sekitarnya. Masing-masing aspek itu memiliki fondasi yang mendasarinya. Ibarat bangunan, fondasi itu akan menjadi penopang bagi segala sesuatu yang dibangun di atasnya. Jika fondasi itu kuat, insya ALLAH bangunan di atasnya akan kuat. Semakin besar dan kokoh bangunan yang hendak didirikan di atasnya, maka fondasinya juga harus kuat. Dengan logika sederhana, kita dapat membayangkan apa yang terjadi jika fondasi suatu bangunan tidak kuat atau tidak ada sama sekali atau tidak seimbang dengan bangunan yang akan ditegakkan di atasnya.
Ketiga aspek hubungan manusia bisa diibaratkan bangunan yang mensyaratkan fondasi yang kokoh. Tanpa terpenuhinya syarat tersebut (fondasi yang kokoh) maka bangunan hubungan tersebut tidak akan berdiri dengan baik. Walhasil, tidak ada pula manfaat yang dapat dipetik darinya.
ALLAH telah menggariskan syarat mutlak yang menjadi fondasi bagi hubungan manusia (sebagai makhluk) dengan diri-Nya (sebagai kholiq), yaitu tauhid. Fondasi tauhid ini menjelma ke dalam wujud: hanya mengakui ALLAH sebagai ilah, hanya menjadikan ALLAH sebagai rabb, hanya patuh kepada syariat yang dibawa nabi dan rasul-Nya, dan sebagainya. Dengan berlandaskan fondasi inilah manusia membangun hubungannya dengan ALLAH mulai dari ibadah ritual seperti yang tertuang dalam rukun Islam, muamalah dengan sesama manusia, hingga ber-jihad fi sabilillah.
Tanpa terpenuhinya syarat mutlak ini, ALLAH tidak sudi menjalin hubungan dengan manusia. Ketiadaan fondasi tauhid ini disebut sebagai syirik yang merupakan dosa terbesar dan tak terampuni sebagaimana tertuang dalam Surah ke-4 ayat 48 di awal. Dari ayat itu kita bisa memahami bahwa seorang musyrik (pelaku syirik) bagi ALLAH adalah seorang pengkhianat.

Bagaimana halnya dengan hubungan antara manusia dengan manusia? Analog dengan yang diungkapkan sebelumnya, hubungan dengan manusia pun membutuhkan adanya fondasi sebagai syarat bagi tegaknya bangunan hubungan tersebut. Paling tidak, dari sedikit pengalaman hidup saya (yang sudah hampir separo jatah, mengacu kepada umur Rasulullah Saw.) dan observasi terhadap kehidupan sosial di lingkungan sekitar, saya menemukan ada satu hal yang menjadi bahan baku untuk membuat fondasi bagi hubungan dengan manusia ini, yaitu: KEPERCAYAAN.
Berbagai macam wujud hubungan antar manusia: suami – istri, orang tua – anak, guru – murid, dosen – mahasiswa, bos – pekerja, pimpinan – anak buah, persahabatan, rekan bisnis, rekan kerja, atau apapun, semuanya membutuhkan kepercayaan. Tentu saja tanpanya, tidak akan berdiri dengan kokoh bangunan hubungan manusia yang harmonis dan saling memberi manfaat (simbiosis mutualisme, kata Usd. Rita, guru Biosains). Bahkan, dalam sebuah komplotan maling dan penipu sekalipun, mereka butuh percaya agar sindikatnya sukses menjalankan aksi kriminalnya.
Lawan dari kepercayaan adalah pengkhianatan. Bisa Anda bayangkan sendiri apa yang akan terjadi jika hal terakhir ini muncul dalam sebuah relasi yang tengah dibina antar sesama manusia? Kembali ke contoh komplotan tadi, maling dan penipu saja tidak ingin dikhianati, apalagi orang baik-baik.
Artikel ini tidak ingin memaparkan definisi kepercayaan, karena Anda pasti sudah mahfum dan saya hanya akan menggarami lautan (atau mengajari bebek berenang). Akan tetapi saya akan lebih banyak mengajak Anda untuk menganalisa dampak dari ketiadaan kepercayaan dalam suatu hubungan manusia.
Dalam aspek hubungan dengan sesama manusia, kepercayaan tidak saja menyangkut data-data yang telah disepakati untuk dirahasiakan. Kepercayaan tidak melulu harus berhubungan dengan informasi yang harus disampaikan secara terbuka. Namun, kepercayaan juga berkaitan dengan harapan-harapan dari pihak-pihak yang terlibat dalam suatu hubungan. Saya akan beri contoh nyata:
> Seorang istri percaya bahwa suaminya akan setia mencintainya dan memprioritaskan kesejahteraan keluarganya.
> Orang tua percaya bahwa anaknya akan berusaha keras menjadi anak yang baik, taat aturan, memanfaatkan fasilitas secara positif, dan berprestasi di sekolah.
> Seorang murid/mahasiswa percaya bahwa guru/dosennya akan mengajarkan ilmu yang berguna dan membimbingnya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang.
> Seorang pekerja percaya bahwa bosnya akan memperhatikan kesejahteraannya dan bersikap bijaksana meski dalam keadaan krisis seperti sekarang.
> Seorang pebisnis percaya bahwa mitra usahanya akan berbagi keuntungan secara adil dan sama-sama menanggung resiko dalam usaha yang mereka jalankan.
> Seorang profesional percaya bahwa rekan kerjanya akan bersinergi bersamanya untuk melaksanakan tugas-tugas profesinya.
Dari segelintir contoh tersebut, kita dapat memahami bahwa pengkhianatan terhadap kepercayaan bukan hanya berupa kebohongan ataupun pengungkapan rahasia kepada pihak yang tidak berhak (tanpa alasan yang dibenarkan syariat) saja. Tetapi mengkandaskan harapan-harapan positif dari pihak-pihak yang menjalin hubungan dengan kita juga adalah bentuk pelanggaran kepercayaan, atau lebih keras dikatakan sebagai pengkhianatan.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan:
> seorang istri yang mendapati suaminya berselingkuh atau lebih memilih membeli rokok daripada membayar SPP anaknya?
> orang tua yang menerima fakta-fakta bahwa anaknya telah membuat masalah di sekolah sekaligus mencoreng nama baik keluarga?
> seorang murid/mahasiswa mendapatkan sikap penolakan dari guru/dosennya saat ia minta dibimbing?
> seorang pekerja yang mendapati bosnya lebih memilih memecatnya daripada mengurangi sedikit keuntungan perusahaannya dengan alasan efisiensi?
> seorang pebisnis yang ditinggal kabur mitranya saat mengalami kerugian dan tertimpa hutang?
> seorang profesional yang mendapati rekannya hanya ongkang-ongkang kaki dan mendompleng nama saat mendapat tugas dari perusahaan?
Tentu Anda setuju jika dikatakan bahwa dalam kondisi tersebut seseorang merasa dikhianati. Sebagaimana ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik, sangat berat sekali bagi kita untuk memaafkan sebuah aksi pengkhianatan. Sekali lagi, sangat berat, walau bukan tidak mungkin.
Dulu di sekolah, dalam pelajaran Bahasa Indonesia saya pernah belajar sebuah pepatah, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak akan percaya”. Maknanya menggambarkan betapa kita harus menjunjung tinggi kepercayaan yang menjadi fondasi bagi bangunan hubungan dengan manusia. Semakin tinggi kualitas dan intensitas hubungannya, semakin kuat pula kepercayaan yang dibutuhkan.
Kita boleh ambil contoh hubungan orang tua – anak.
Ketika kecil, orang tua begitu protektif kepada anaknya, sebuah kewajaran karena kondisi yang menuntut demikian. Saat sang anak beranjak dewasa, orang tua sedikit demi sedikit “melepaskan”, sebagai bentuk pembelajaran kemandirian. Semakin dewasa, orang tua akan semakin melepaskan sang anak untuk membangun jalan kehidupannya. Tentu saja mereka berharap, seiring dengan pelepasan tersebut, tingkat kepercayaan kepada anaknya juga semakin tinggi. Sementara si anak harus membuktikan bahwa dirinya adalah sesuai dengan harapan orang tuanya tersebut, yaitu sungguh-sungguh dapat menjaga kepercayaan.
Apa yang terjadi jika sang anak melanggar kepercayaan dari orang tua? Misalnya, ketika orang tua mengamanatkan agar anak perempuannya tidak berpacaran, karena tidak sesuai dengan jalan syariat, tapi si anak malah pacaran backstreet. Ditambah lagi, aksi pacaran backstreet itu dibumbui dengan kebohongan di sana sini serta penyalahgunaan fasilitas yang diberikan oleh orang tua kepadanya. Contoh lain, uang yang dengan susah payah dikumpulkan orang tua lewat tetesan keringat dan air mata untuk melunasi uang sekolah, belakangan terbukti malah disalahgunakan sang anak untuk berfoya-foya bersama temannya.
Bagaimana, nih???
Sikap “dapat dipercaya” adalah bagian dari karakter yang harus dibangun dalam diri manusia, apalagi jika disadari bahwa manusia saling membutuhkan satu dengan yang lain (mungkin, jika kita seperti Tarzan yang tinggal di hutan tanpa kehadiran manusia, tidak perlu menjadi manusia yang dapat dipercaya, emang monyet bisa marah kalo dikhianati???). Karenanya jika seorang anak/murid memunculkan gejala “tidak dapat dipercaya”, kita bisa saja menimpakan kesalahan kepada orang tua ataupun sekolah yang mendidiknya. Tapi, saya tidak ingin menantang Anda untuk adu panjang-panjangan jari telunjuk. Saya hanya ingin mengajak (terutama kepada diri sendiri) untuk berintrospeksi, sudahkah kita menjadi seorang individu yang dapat dipercaya? Dipercaya dalam arti (selain jujur dan dapat menyimpan rahasia) dapat memenuhi harapan-harapan positif dari orang lain (yang logis dan syar’i) yang menjalin hubungan dengan kita. Wallahu’alam

* Penulis adalah pengelola dan pengasuh di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

One thought on “Be Trustworthy

  1. Doddy Winarto mengatakan:

    Ass,wrwb,
    Terimakasih Pak Nov atas tulisannya, semoga bermanfaat buat anak2 kita, mohon diberikan juaga tulisan tentang , budi pekerti, etiket pergaulan atau fiqih wanita buat putri2 kita. Terimakasih. Vivat Spilukqim. Bravo

    Wass,
    Doddy Winarto

    Terima kasih kembali, atas segala perhatian dan apresiasi dari para orang tua/wali. Keep in touch serta mohon terus dukung dan doakan kami dalam setiap jihad kami dalam mendidik generasi remaja muslimah calon ibu para pemimpin dan pejuang Islam masa depan ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s