Mind Our Daughters (Students)


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Anak yang merupakan amanah dari Allah Swt. kepada para orang tua (ortu) terus tumbuh dan berkembang sebagai seorang individu yang unik. Hari ke hari ia menjelma dari wujud bayi, menjadi anak, berlanjut menjadi remaja, dan akhirnya menjadi dewasa. Setiap tahapan perkembangan ini memiliki permasalahan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Karena itu membutuhkan penanganan yang khas sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Remaja sebagai fase perantara dari anak menuju dewasa memiliki problematika yang kompleks. Kita pun menyebutnya sebagai masa krisis. Di masa kanak-kanak mereka bisa kita atur sesukanya dan kita jejali dengan nilai-nilai keyakinan yang kita anut. Anak-anak belum terbuka dan peka terhadap kondisi dunia nyata yang seringkali paradoks dengan nilai-nilai yang kita tanamkan.

Ketika beranjak remaja, mereka mulai memperhatikan dunia di luar dirinya, keluarganya, dan sekolahnya. Saat mereka menemukan hal-hal kontradiktif itulah muncul kegoncangan dalam diri mereka. Padahal di saat yang sama mereka butuh afirmasi dan konfirmasi nyata untuk meneguhkan identitas diri mereka. Pada masa ini pula, hal-hal baru yang ditemuinya di luar menjadi sangat menarik sedangkan hal-hal yang ada di rumah dan sekolah menjadi sangat membosankan.

Masalah ini bisa lebih runyam jika pihak ortu dan sekolah ternyata tidak konsisten atau bermuka dua (standar ganda) dalam menerapkan norma yang dianut. Misalnya, mereka diajari tentang bahaya merokok terhadap kesehatan, namun (tololnya) sang ayah malah menyuruhnya untuk membelikan rokok di toko sebelah rumah. Contoh lain, di rumah dan di sekolah mereka diajari tentang kejujuran. Namun mereka mendapati ortunya tersandung kasus korupsi. Atau, mereka mendapati sekolahnya beroperasi dengan cara-cara yang tidak jujur pula (contoh: bersandiwara di hadapan tim asesor saat proses akreditasi, menginstruksikan siswa-siswa yang pintar untuk membagi jawabannya kepada teman-temannya yang lemah saat UAN, dll.).

Mengapa runyam? Berbeda dengan anak-anak yang mungkin ‘masih bisa dibohongi’ ataupun belum terlalu peduli, di masa remaja mereka sangat peka dengan hal-hal yang kontradiktif. Mereka menggugat keabsahan nilai dan norma yang selama ini didoktrinkan kepada mereka. Karena mereka sekarang merasa sudah memiliki kapabilitas untuk menentukan arah hidupnya seperti layaknya orang dewasa.

Permasalahan standar ganda (teori tidak sama dengan realita) ini bisa bermuara kepada kebingungan dalam diri remaja. Jika tidak ditangani dengan baik, maka kebingungan ini akan menuntun kepada ketidakpedulian. Sebagai solusi, mereka berusaha mencari nilai dan norma yang dianggap sesuai untuk diri mereka sendiri. Sayangnya, karena memang kapabilitas berpikir mereka belum sepenuhnya matang, nilai dan norma yang mereka pilih seringkali bertabrakan dengan yang diterapkan oleh ortu dan sekolah. Dari sinilah keruwetan-keruwetan permasalahan remaja mulai muncul.

Menurut Daniel Goleman dalam Emotional Intelligences, manusia memiliki dua macam respon terhadap segala hal yang dihadapinya: ‘bertempur’ atau ‘kabur’. Ironisnya, dalam permasalahan remaja ortu (dan guru, plus sekolah) lebih cenderung untuk ‘kabur’ daripada ‘bertempur’. Pihak-pihak berwajib (ortu, guru, sekolah) seringkali hidup dalam imajinasi dengan memunculkan penyangkalan-penyangkalan (denial) saat berhadapan dengan problematika remaja.
Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
Say No to Val’s-day
Jika masalahnya sudah akut dan kronis, misalnya ada siswi yang hamil di luar nikah atau kecanduan narkoba, barulah mereka tersadar dan tergopoh-gopoh mencari solusi. Lebih parah lagi, solusi yang dimunculkan bersifat instan, reaktif, parsial, jaga gengsi sekolah, dan hanya menekan pihak remaja saja (yang bisa jadi justru menjadi korban). Sementara pihak guru dan sekolah ingin buru-buru cuci tangan begitu saja. Sedangkan ortu yang mengklaim sudah membayar mahal untuk membeli pelayanan pendidikan menuntut garansi dari pihak sekolah.

Nah, mumpung kita belum terjebak oleh keruwetan seperti itu, jalan terbaiknya adalah dengan mempelajari dan memahami karakteristik remaja kita. Pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati, masih relevan dalam hal ini. Berikuti ini tips untuk menghadapi remaja dan syarat yang dibutuhkan untuk menjalankan tips tersebut:

Pertama, perlakukan remaja sebagai sahabat dan akui eksistensinya sebagai individu yang beranjak dewasa. Menganggap mereka sebagai anak kecil, anak ingusan, anak seumur jagung, anak bau kencur, atau anak kemarin sore hanya akan merusak harga dirinya dan pada akhirnya meruntuhkan bangunan karakter kepribadiannya.
Syarat: anda harus siap meninggalkan kedudukan, kehormatan, dan gengsi sebagai orang tua (atau guru) yang berkuasa serta rela turun ke level mereka (get down to their level).

Kedua, dengarkan pendapatnya dan ajaklah berdiskusi untuk memahami berbagai macam pemikiran yang berbeda. Jaga suasana diskusi tetap demokratis, egaliter, dan sejuk agar tidak muncul perasaan tertekan, seberat apapun topik yang dibahas.
Syarat: sepanjang bukan menyangkut hal-hal yang fundamental dalam Islam (misalnya, aqidah), anda harus siap berbeda, menerima perbedaan, dan mengakui kelemahan pendapat anda. Anda juga harus memiliki wawasan yang luas tentang berbagai rupa pernik-pernik kehidupan dunia nyata, termasuk sisi gelapnya sekalipun.

Ketiga, tetap teguh dan konsisten (istiqomah) dengan nilai syariat Islam yang kita anut sebagai solusi paripurna dari Allah Swt. Sikap istiqomah ini akan menjadi fondasi kokoh yang menjadi tumpuan bagi para remaja setelah mereka bereksplorasi dengan berbagai alternatif norma dan solusi yang menjadi realita kehidupan.
Syarat: anda harus menguasai ilmu-ilmu keislaman, karenanya harus terus-menerus ‘mengaji’. Sehingga saat dituntut membuat ‘fatwa’, tidak ada keraguan sedikit pun dari anda. Anda juga harus belajar berkomunikasi efektif dan diplomatis agar ‘fatwa’ anda tersampaikan kepada mereka tanpa kesan otoriter.

Keempat, berbagi pengalaman hidup anda sendiri di masa lalu. Remaja butuh belajar dari orang-orang yang terpercaya. Siapa lagi kalau bukan anda?
Syarat: anda harus siap malu dan ditertawakan. Namun percayalah, dengan bahasa yang baik dan mengedepankan pesan-pesan moralnya, kisah sekonyol apapun tidak akan membuat martabat anda jatuh. Justru ketika anda bercerita, mereka akan mendengarkannya dengan penuh simpati dan tanpa resistensi. Mereka merasa dekat karena mengetahui anda adalah juga manusia biasa seperti mereka, bukan sesosok dewa agung yang serba sempurna. Saat hati dan pikiran mereka terbuka seperti inilah kesempatan emas untuk memasukkan nilai dan norma yang kita inginkan.

Kelima, berempati terhadap kondisi mental mereka yang sangat fluktuatif. Perubahan mood yang drastis, mendadak, dan berdurasi pendek akan sering anda hadapi.
Syarat: anda harus ekstra sabar dan mampu mengendalikan (bukan menahan) emosi. Silahkan kalau anda hendak meluapkan kemarahan, karena mereka juga perlu sesekali dimarahi. Asalkan marah yang: sasarannya tepat, waktunya pas, kadarnya sesuai, tujuannya baik, dan caranya bijak. Ingatlah, sosok remaja yang sedang kita hadapi ini adalah darah daging kita sendiri yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt. di akhirat kelak.

Keenam, tetap tenang (jangan terkejut, panik, atau bereaksi berlebihan) saat mereka ingin bereksperimen dengan hal-hal baru yang (mungkin menurut kita) gila, nyeleneh, norak, bahaya, atau apalah namanya. Misalnya: ingin mengecat rambut, bungee jumping, terjun payung, menunggang kuda, ikut balapan, mendaki Mt. Everest, menyelam di Samudera Pasifik, menjinakkan raja kobra, berkemah di Kutub Utara, atau hal-hal ekstrim lainnya. Seringkali, hal-hal tersebut barulah sebatas ide yang mereka lontarkan untuk menguji batas toleransi kita. Belum tentu mereka serius ingin melakukannya. Lihat kembali poin kedua, terkadang setelah diajak berpikir yang logis lewat diskusi, mereka membatalkan niatnya. Resiko terburuk, jika mereka benar-benar serius ingin mencoba, ya sudah jalani saja.
Syarat: jika sanggup, ikutlah berpetualang bersama mereka. Paling tidak, jika hal buruk terjadi (hopefully not), andalah yang berada di sisinya dan mendampinginya, you are the shoulder for her to cry on. Bukan orang lain yang belum tentu bisa dimintai pertanggungjawaban.

Ketujuh, kenali teman-temannya, selami dunianya, dan pelajari bahasanya. Dengan demikian anda tidak akan kehilangan kontak dan kontrol terhadap mereka. Kontak dan kontrol bukan untuk terus-terusan ingin menguasai mereka. Ingatlah, cepat atau lambat mereka harus hidup independen dari keluarga. Langkah ini penting agar anda bisa selalu tune-in dengan remaja anda.
Syarat: sama seperti poin pertama sebelumnya, get down to their level.

Last but not least. Kita punya Allah Swt. Dia-lah yang menciptakan remaja-remaja kita. Dia pulalah yang mampu membolak-balikkan hati remaja kita. Karenanya, ikhtiar dari sisi spiritual tidak boleh diabaikan. Sebagai orang tua muslim:
Satu, luruskan aqidah dan tegakkan ibadah-ibadah fardhu.
Dua, pastikan anda menafkahi keluarga anda dengan rejeki dan makanan yang halal serta jaga kesucian harta anda lewat zakat dan infaq.
Tiga, perbanyak amalan-amalan sosial karena dengan semakin banyak orang yang anda tolong maka semakin banyak pula orang yang akan menolong anda dan keluarga anda.
Empat, tunjukkan cinta anda dengan tulus, biarkan mereka tahu kalau anda menyayanginya. Bisa lewat pelukan, ciuman, atau belaian lembut tangan anda di kepala mereka. Jangan biarkan mereka kurang kasih sayang dan mencari cinta dari orang lain apalagi yang bukan mahramnya.
Lima, selalu sempatkan waktu anda untuk bersujud kepada Allah di waktu malam (qiyamul lail) untuk mengeluhkan problem-problem anda dalam menghadapi mereka, memintakan solusi, dan mendoakan yang terbaik untuk keluarga anda.

Demikian sekedar sumbangan pemikiran dari saya yang masih jauh dari sempurna. Mohon maaf atas kata-kata yang tidak berkenan dan menggurui.

Astaghfirullah hal adzim… Astaghfirullah hal adzim… Astaghfirullah hal adzim…

Semoga bermanfaat bagi kita semua…

Sumber: http://www.e-psikologi.com

*Penulis adalah pengelola dan pengasuh di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Iklan

3 thoughts on “Mind Our Daughters (Students)

  1. Doddy Winarto berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb,
    Thankyou pak, saya sudah diingatkan, Very good article. Good luck, don’t give up.

    Wassalam,
    Doddy Winarto

  2. Lia berkata:

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Setuju banget pak. Saya pikir kalau kita ingin mempengaruhi pemikiran dan menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak didik kita terutama yang masih remaja, kita memang harus memiliki empati yang tinggi, berusaha merasakan apa yang mereka rasakan, berusaha berpikir dari sudut pandang mereka sehingga kita bisa memahami mereka dengan baik. Kadang kala kita harus bisa menjadi teman, orang tua, sekaligus guru bagi mereka. Kalau kita sudah mendapatkan kepercayaan dari mereka akan lebih mudah untuk mengarahkan mereka pada nilai-nilai yang benar. Dan yang terpenting kita harus sabar karena segala sesuatu butuh proses, jangan harap mereka berubah seperti yang kita inginkan dalam waktu seminggu atau dua minggu (hasil instant). Nabi Muhammad SAW saja butuh waktu bertahun-tahun untuk merubah pemikiran kaum musyrikin.
    Thanks pak artikelnya bagus moga banyak yang baca n nerapin di kehidupan sehari-hari. Good Luck!
    Wassalamu’alaikum wr.wb

  3. HIMAWAN Santoso berkata:

    SlmWrWb

    SUBHANALLAAH selalu saja ada mutiara2 hikmah bagi orangtua, di blog ini. Sesungguhnya kita sebagai orangtua masih belum memperoleh predikat & sertifikat dari madrasah pendidikan orangtua selama ini.

    Semoga tulisan2 yg mencerahkan dari ust NOVRIE, ust ANDRE, ustdzh RITA serta semua saja tak terkecualikan (yg sungguh membanggakan kami) dapat menjadi alternatif madrasah orangtua dalam menjaga amanah putri-putranya.

    Salam kami untuk seluruh pengelola spiluqim !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s