Benarkah 1 ons = 100 gram???


Oleh: Ust. Novrian (Physics)
SPiLuqkim’s Mathematics & Sciences Development Team

Sejak sekolah di SD hingga SMU program IPA (sekarang SMA), guru IPA/Fisika saya mengajarkan bahwa terdapat satuan massa yang disebut ‘ons’. Satuan ini ‘dipercaya’ sebagai nama lain dari hektogram (hg). Karenanya, 1 ons setara dengan 0,1 kg atau setara dengan 100 gram. (istilah massa dalam Fisika bergeser menjadi berat dalam kehidupan sehari-hari)

Kemarin, Senin (09/02), saya mendapatkan e-mail dari salah satu ortu/wali siswi kelas 9, yang juga seorang dosen Teknik Sipil di ITS, yang isinya menggugat kebenaran sistem konversi satuan massa tersebut. E-mail tersebut sudah di-forward kemana-mana.

Kontan isi e-mail tersebut membuat saya tersentak. Lebih tepat lagi, MALU!!! Mengapa? Saya yang jebolan Jurusan Fisika FMIPA dari salah satu institut teknologi milik pemerintah di Surabaya dan saat kuliah bertahun-tahun berperan sebagai asisten di Laboratorium Fisika Dasar sekaligus mengambil bidang studi Fisika Instrumentasi, ternyata melakukan sebuah kesalahan fatal: mengajarkan suatu hal kepada murid saya tanpa melakukan check and recheck padahal topik ini adalah spesialisasi saya. Seperti halnya ribuan guru-guru ‘biasa’ lainnya di pelosok nusantara, saya hanya membebek begitu saja dengan isi buku teks yang dipilih oleh sekolah. Padahal, saya memiliki berbagai sumber daya dan sumber informasi untuk mengecek ulang semua materi pelajaran Fisika yang menjadi tanggung jawab saya.

Dari tiga buku teks pelajaran Fisika yang saya pegang:
* Tim Abdi Guru, Sains Fisika untuk SMP Kelas VII (kurikulum 2004 berbasis kompetensi), Penerbit Erlangga
* Djoko Arisworo, Yusa, Nana Sutresna, Ilmu Pengetahuan Alam (Fisika, Biologi, Kimia) untuk kelas VII Sekolah Menengah Pertama (berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 2006), Penerbit Grafindo Media Pratama
* Budi Prasojo, dkk., Seri IPA Teori dan Aplikasi Fisika SMP Kelas VII (sesuai standar isi 2006), Penerbit Yudhistira
hanya buku yang disebut terakhir yang tidak mencantumkan kesalahan tersebut (my gratitude to all the guys at Yudhistira). Sedangkan di dalam dua buku lainnya ada, pada buku pertama terdapat di halaman 19 (1 ons = 0,1 kg) sedangkan pada buku kedua terdapat di halaman 7 (1 kg = 10 ons).

Iseng-iseng saya cek di halaman daftar pustakanya, kedua buku yang salah itu mencantumkan beberapa judul buku yang dijadikan buku pegangan anak kuliahan. Salah satu buku juga ‘mengaku’ merujuk dari Microsoft Encarta Encyclopedia. Kemudian saya cek ke Encarta dan salah satu buku teks tingkat perguruan tinggi (Halliday & Resnick, Fisika jilid 1 terjemahan) memang saya tidak temukan satupun tulisan yang menyatakan 1 ons = 100 gram.

Masih dari e-mail yang saya terima, sang penulis mengaku sudah cross-check ke Direktorat Metrologi dan mendapat jawaban bahwa faktor konversi ‘1 ons = 100 gram’ sudah dilarang digunakan untuk transaksi di Indonesia.

Saya kutipkan dari sebuah sumber:

“…The terms “pound” and “ounce” are derived from the Latin pondo (the name of the Roman 12-ounce pound) and uncia (meaning “one-twelfth part”), as these units were introduced into the British Isles during the Roman occupation. In the Middle Ages the basic unit of weight was the grain, based on the weight of a wheat grain, but for a long time there was no such thing as a standard universal pound weight. The pound for common goods could vary between 6,750 and 7,680 grains. Furthermore, there were also: the tower pound for testing coins, at 5,400 grains; the troy pound for gold and silver, at 5,760 grains; and the wool pound, at 6,992 grains. Thanks to reforms put in place by Henry VIII and Elizabeth I, these were reduced to two: the ordinary or avoirdupois pound at 7,000 grains for everyday commodities; and the troy pound for precious stones and metals. The troy pound probably took its value and its name from a weight used in the town of Troyes in France…
Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

“…Istilah “pound” dan “ounce” (dalam logat Indonesia dilafalkan “pon” dan “ons”) berasal dari bahasa Latin pondo (nama Romawi 12 ons) dan uncia (yang berarti seperduabelas bagian) adalah satuan yang diperkenalkan ke Inggris selama pendudukan Romawi. Di abad pertengahan satuan dasar dari berat adalah grain (butir), didasarkan pada berat sebutir gandum, namun selama beberapa waktu kemudian tidak ada pound weight (satuan pound untuk berat) standar yang berlaku universal. Satuan pound untuk barang-barang umum bervariasi antara 6.750 – 7.680 grains. Lebih jauh lagi, terdapat pula tower pound untuk menguji koin yang setara dengan 5.400 grains; troy pound untuk emas dan perak yang setara dengan 5.760 grains; dan wool pound yang setara dengan 6.992 grains. Berkat pembaharuan yang dilakukan oleh Raja Henry VIII dan Ratu Elizabeth I, satuan-satuan tersebut direduksi untuk komoditas sehari-hari menjadi avoirdupois pound yaitu 7.000 grains dan troy pound untuk logam dan batu berharga. Istilah troy pound kemungkinan diambil dari ukuran berat yang digunakan di kota Troyes, Prancis…”

Pemerintah Indonesia sendiri memberlakukan Standar Industri Indonesia (SII) yang mengadopsi sistem MKS (meter, kilogram, sekon), karena itu sebenarnya kita tidak mengenal satuan pound dan ounce. Masih mengacu kepada Encarta (Imperial and Metric Conversion Factors):

Konversi dari ounces ke gram dikalikan 28,349523
Konversi dari pounds ke kilogram dikalikan 0,453592

Dengan demikian:
1 ounce = 28,349523 gram
1 pound = 0,453592 kg

yang sangat berbeda dibandingkan dengan pelajaran yang kita terima sejak dulu hingga saat ini.

Saya teringat saat kuliah hari pertama untuk mata kuliah Fisika Dasar I dahulu. Dosen saya, Prof. Sugimin Wahyu Winata mengatakan (kurang lebih) begini, “Lupakan semua yang kalian pelajari di SMA. Sekarang kita belajar lagi dari awal.” Tentu saja saya bingung, lalu selama ini susah-susah belajar buat apa? Hanya sekedar untuk lulus Ebtanas dan UMPTN (sekarang UAN dan SPMB) saja??? Setelah semakin banyak belajar, baru saya menyadari bahwa konsep dasar berpikir yang diajarkan di SMA (pastinya juga di SMP dan SD) banyak yang tidak tepat, bahkan salah sama sekali. Tidak hanya konsep berpikirnya, bahkan materinya pun juga ada yang salah.

Jika dunia pendidikan Indonesia dikritik tajam karena menyampaikan pelajaran yang tidak “membumi”, maka hal seperti ini bisa dijadikan salah satu buktinya. Padahal masih banyak materi-materi ajar lain yang tidak sesuai dengan kenyataan dan harus segera direvisi. Belum lagi, di sekolah Islam seperti SPiLuqkim yang menganut konsep pendidikan integral dimana unsur tauhid harus ada dalam setiap mata pelajaran, hal-hal yang berbau sekuler yang ada dalam pelajaran Matematika, IPA, dan IPS (urgently) harus segera disingkirkan.

Maka sudah menjadi kebutuhan bagi kita (guru dan ortu, terlebih ortu yang pakar di bidang yang jadi bahasan dalam suatu mata pelajaran) untuk terus-menerus memantau materi yang diajarkan di sekolah. Hendaknya perbaikan kualitas pendidikan tidak hanya berkutat di masalah kesejahteraan guru dan peningkatan fasilitas fisik sekolah semata. Namun juga memperhatikan konten dan jangan hanya bongkar-pasang kurikulum belaka (ganti menteri – ganti kurikulum, ganti kurikulum – ganti buku). Wallahu’alam

Iklan

5 thoughts on “Benarkah 1 ons = 100 gram???

  1. ademaulana berkata:

    Assalamu_’Alaikum Wr.Wb…

    Syukran ya….

    Salam kenal dari ana…

    Wassalamu_’Alaikum Wr.Wb…

  2. HIMAWAN Santoso berkata:

    SlmWrWb

    ALHAMDULILLAH smoga artikel ustNOVRIE ini mencerahkan kita semua, baik sebagai praktisi pendidikan/akademis maupun orang tua dari mujahidah/mujahid muda yang kelak akan meneruskan perjuangan peradaban ini.

    Terus terang saya pribadi juga “miris” melihat fenomena ini. Dimana pendidikan dasar & menengah (baca SD, SMP & SMU) ternyata masih banyak berisi materi ajar yang tidak berdasar ( Astaghfirullaah ! ) Mari kita rapatkan barisan, satukan langkah dan tetapkan hati untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi mujahidah/mujahid muda kita. Baik dalam hal akademisnya, juga terbaik bagi akidahnya.

    Selamat berjuang dan tetap istiqomah. Semoga ALLAH memberkahi !
    Doa kami untuk panjenengan semua yang sungguh telah mencuri perhatian & membanggakan

    Billahit taufiq wal hidayah

  3. AWIK berkata:

    ust… yang namanya satuan mau berat, panjang atau yang lainnya, kan hasil kesepakatan. yang penting sepakat, tidak ada masalah. baik itu satuan internasional maupun satuan lokal (di indonesia maksudnya) yang penting ada kesepakatannya, maka dikatakan benar.
    misal, satuan satu meter adalah sepanjang logam …. yang ada di.. (maaf lupa). karena itu sudah disepakati maka dianggap itu yang benar, lainnya salah.
    saya berharap begitu juga dengan ons. mungkin di skala internasional tidak dikenal satuan berat ons, tetapi di indonesia kan sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa 1 ons= 100 g. ini pengucapannya lebih simpel dari pada hektogram. jadi tidak perlu ada yang disalahkan. saya jadi bangga ternyata ons hanya ada di indonesia tidak di lainnya. Bagaimana ust?

    Maha Suci ALLAH yang menciptakan segenap ilmu pengetahuan dan menguasai segala sesuatu secara mutlak hingga elemen terkecil yang ada di alam semesta ini.

    Menanggapi komentar Sdr. Awik:

    Pertama, dalam catatan saya Anda juga menerima forward e-mail yang menginspirasi saya menulis artikel ini. Saya cuplikkan sebagian, “…Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di-PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan…”
    Jika Anda katakan tidak ada masalah dalam hal ini, asal ada kesepakatan, ini buktinya ada masalah. Bayangkan, jika di masa depan kita mengekspor siswa-siswi ke luar negeri dengan pemahaman 1 ons = 100 gram, apa kita tidak malu se-Indonesia Raya saat di luar negeri sana mereka salah menakar timbangan???

    Kedua, saya cuplikkan bagian lain dari e-mail tersebut, “…Prihatin dan penasaran atas kasus di atas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan ‘ons’ dan ‘pound’…”
    Jika Anda berpegang pada prinsip kesepakatan, bukankah norma hukum dari pemerintah (penguasa) harus diposisikan sebagai kesepakatan legal dan formal yang mengikat seluruh warga negaranya???

    Ketiga, mohon luangkan waktu sejenak untuk pergi ke dapur dan temui istri Anda. Minta beliau memperlihatkan timbangan yang biasa digunakan untuk menakar bahan-bahan makanan. Jika tidak ada, cobalah meminjam ke tetangga (mampir ke SPiLuqkim juga boleh). Apakah Anda menemui satuan ons tertera di skala timbangan tersebut? Silahkan cross-check ke semua tempat yang menjual timbangan, adakah mereka menjual timbangan yang menggunakan satuan ons???

    Keempat, poin penting yang ingin saya kemukakan dalam artikel ini bukanlah di satuan ‘ons’ dan ‘pon’ an sich. Tetapi, ada begitu banyak hal (materi ajar) yang tidak tepat, bahkan salah, yang diajarkan di sekolah. Haruskah kita biarkan atas nama ‘kesepakatan’??? Pengalaman rekan-rekan saya di sebuah SD Islam, mereka kerap menerima komplain keras dari orang tua (yang memang pakar dan ahli) terhadap materi-materi pelajaran yang tercantum di dalam buku teks. Tahukah Anda jika di kurikulum Diknas, obyek angkasa Pluto masih disebut sebagai planet ke-9 dalam Tata Surya Matahari???
    Untuk itu, kami mengajak semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan generasi masa depan umat ini untuk memantau isi materi yang ada dalam kurikulum. Terutama ortu/wali siswa yang sesungguhnya banyak yang lebih paham dan ahli dalam berbagai hal yang ada dalam pelajaran sekolah. Di antara mereka adalah praktisi dan akademisi yang bisa dimintai fatwa keilmuannya. Toh, kurikulum Diknas bukanlah kitab suci yang harus disikapi dengan “saya dengar, saya taat”.

    Demikian tanggapan kami, mohon maaf atas segala kekhilafan. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan ALLAH semata…

  4. Tini berkata:

    Kalau seperti itu, yang tidak benar itu kesepakatan orang Indonesia sejak kakek nenek kita (berdasar apa lho…) atau Encarta yang edisi refevisi…(kaya buku aja). Dan di praktek lapangnya sih, emang bandul timbangan yang beratnya 100 gr itu tidak ada persamaannya dengan 1 ons kok. Alias diprakteknya tidak ada penipuan timbangan. Apakah itu untuk mempermudah aplikasi aja, dibilangnya 100 gr itu 1 ons.

    Kami menyarankan kepada para pembimbing mata pelajaran IPA/Fisika untuk memberikan penjelasan kepada siswanya selengkap-lengkapnya, yang benarnya bagaimana dan yang salah kaprah di masyarakat bagaimana. Harapannya mereka paham yang benar dan tidak melestarikan salah kaprahnya. Namun di saat berhadapan dengan orang awam yang masih menyatakan ‘100 gram’ sebagai ‘1 ons’, mereka juga paham apa yang dimaksud

  5. ardyono berkata:

    hmmmm … ini coba baca yang lain biar bisa membandingkan … sehingga kita bisa lebih mengerti bahwa semua bisa benar tergantung sudut pandangnya … dan karena ini indonesia yaa .. kita harus menyesuaikan sudut pandang secara indonesia

    Nilai Berbeda pada Setiap Daerah

    Perlu diketahui bahwa satuan ukur di dunia ini ada bermacam-macam. Dan adakalanya sebuah satuan memiliki nilai yang berbeda, misalnya ons kita tadi, jika kita anggap bahwa nama ons itu berasal dari kata ounce (amerika), onza (spanyol), once (prancis), maka masing-masing juga memiliki ukuran yang berbeda (1 ounce = 28.35 g ; 1 onza = 27.3 g ; 1 once = 30.5 g).

    Indonesia bekas jajahan Belanda, karena itu mulai dari sistem peradilan, perhitungan, dan lain-lain banyak sekali yang diadopsi dari negeri kincir angin tersebut. Jadi ons di Indonesia bukanlah berasal dari ounce, namun berasal dari ons (Dutch). Begitu pula dengan pon bukan berasal dari pound, tapi berasal dari pond (Amsterdam). Sama halnya dengan ons, pond pun memiliki satuan nilai yang berbeda-beda di setiap wilayah.

    * 1 Amsterdam pond (pound) (Amsterdams pond – waaggewicht) = 494.09 grams,
    * 1 Gorinchem pound (Gorinchems pond) = 466 grams,
    * 1 Utrecht heavy pound (Utrechts zwaar pond) = 497.8 grams.

    Pond sendiri masih digunakan kehidupan sehari-hari hingga sekarang yang setara dengan 500g, tidak jauh dari berat historisnya.
    1 ons memang 100 gram

    Karena ons di Indonesia bukan berasal dari ounce, karena itu jangan heran kalau nilainya memang berbeda dengan ounce.

    Begitu pula menurut Yohanes Surya, seorang pakar Fisika yang melejitkan nama Indonesia di dunia Internasional dalam bidang Fisika. Menurut Yohanes Surya ons itu nama lain untuk hektogram, yaitu sama dengan 0,1 kilogram. Bisa anda baca komentarnya di FisikaAsyik.
    Satuan Ukur Sangat Bervariasi

    Seperti penjelasan diatas, satuan ukur sangatlah bervariasi. Karena dahulu kala orang masih berpikiran sederhana, biasanya mereka mengukur hanya menggunakan barang yang gampang ditemui. Misalnya jengkal, hasta, kaki, kaleng, dan lain-lain. Karena itulah tak heran jika satuan tersebut sangat bervariasi di setiap daerah, karena bisa saja besar tangan pada orang jawa berbeda dengan orang kalimantan misalnya. Memang mungkin hanya terpaut beberap cm, namun jika ini dipakai dalam usaha, jelas akan membingungkan, karena itu sering pula kita mendengar cerita kalau zaman nenek moyang kita masih hidup jika menjual beras menggunakan kaleng kecil, namun jika membeli beras menggunakan kaleng besar biar dapat banyak, karena harga beras satu kaleng sama.
    Satuan Internasional

    Agar seluruh dunia ukurannya sama, muncullah Satuan Internasional (SI) atau jika dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan IU.
    Indonesia sudah tidak menggunakan Ons dan Pon

    Berdasarkan UU no 2 tahun 1981, disebutkan bahwa ukuran-ukuran yang barlaku di Indonesia mengacu kepada Standard Internasional (SI) yaitu contohnya:
    Satuan panjang = meter (m)
    Satuan massa = kilogram (kg)
    Dalam Peraturan itu juga disebukan bahwa, Pemerintah Indoesia melarang penggunaan lambang atau sebutan ukuran selain yang terdapat dalam Undang-undang tersebut (Pasal 29 UU no 2 th 1981 ).

    Berarti seharusnya penggunaan satuan ons sudah tidak diperbolehkan lagi.
    KESIMPULAN :

    ons memang 100g.
    ounce memang 28,35.
    Karena keduanya memang berbeda. Satu dari Belanda dan satu lagi dari Amerika.

    Oleh sebab itu sebaiknya kita mulai meninggalakan istilah ons, pon, dan lain-lain agar tidak salah kaprah lagi. Jika misalnya kita bekerja di perusahaan asing yang menggunakan satuan negara mereka, maka pastikan anda tidak keliru dalam merubahnya ke satuan lain. Jangan malu bertanya pada atasan jika kurang paham.

    Dan jangan mudah terpancing oleh isu-isu di internet, selidiki dulu kebenarannya. Tanya pada yang lebih ahli untuk masalah terkait.

    Penulis : Agam Rosyidi

    URL : http://rosyidi.com/ons-bukan-ounce/
    Prev: 1 ONS BUKAN 100 GRAM

    terima kasih. Penjelasan yang bagus. Kini kita mengerti, kapan menggunakan ‘ons’ dan ‘ounce’. Minimal perlu konfirmasi saat membicarakan satuan ons, dikonfirm dulu ke satuan gramnya. Sehingga tidak timbul masalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s