Val’s Day is a False Day


Oleh: Rahmi Andri Wijonarko*

al-anaam-541

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’aam: 54)

“The marketers would have us believe that Valentine’s Day is a time for roses, chocolates and champagne, despite a survey showing that the majority of Australian women don’t feel very romantic about it… (The Sidney Morning Herald)

Simpang Siur Asal Muasal Valentine (Sejarah, Mitos, Sastra, Gereja???)

Menurut Catholic Encyclopaedia 1908, istilah valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa. Santo berasal dari orang biasa yang setelah di seleksi ketat oleh tim khusus pihak gereja (Vatican) berkaitan dengan kelebihan-kelebihan atau mereka sebut ‘mukjizat’ diajukan dan diresmikan menjadi santo. Koneksi antara tiga martir (orang yang mati membela keyakinan Kristen/Katolik) ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan, bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. Tanggal 14 Februari dirayakan sebagai peringatan Santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan, sebuah upacara penyembahan berhala) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa jenazah Santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah Santo Valentinus diletakkan kedalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Catatan pertama dikaitkannya hari besar santo dengan kasih sayang dimulai sejak abad ke-14 di Inggris dan Prancis, dimana diyakini bahwa 14 Februari merupakan hari ketika burung mencari pasangan hidupnya. Keyakinan ini ditulis dalam karya sastrawan Inggris abad ke-14 bernama Geoffery Chaucer. Dalam karya tersebut dia menuliskan:

“…for this was sent on seynt valentyne’s day,…when every foul cometh ther to chose his match (inilah yang dikirim pada hari santo Valentinus,…saat semua burung datang kesana untuk memilih pasangannya)”.

Sumber lain dari sebuah kartu Valentine abad ke-14 yang konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London menceritakan beberapa legenda Santo Valentinus, diantaranya mencatat bahwa: sore hari sebelum Valentinus gugur sebagai martir, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikan kepada sipir penjaranya bertuliskan “dari Valentinus”. Konon ketika itu serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, Santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka. Itu sebabnya pada zaman tersebut para pasangan yang tengah menjalin cinta lazim bertukar catatan dan memanggil pasangannya sebagai “Valentine”.

Alasan-alasan Mengapa Umat Islam Menolak
1. Alasan yang rasional dan universal untuk menolak perayaan Valentine bagi umat Islam adalah dengan mengajukan pertanyaan:

  • untuk apa Valentine dirayakan?
  • cukup beralasankah 14 Februari dideklarasikan sebagai hari kasih sayang?

Maka pertanyaan ini dengan sendirinya akan menghadirkan jawaban bahwa Valentine tidak lain diperingati untuk mengenang Santo Valentinus yang hanya ada dalam keyakinan Kristen. Oleh karenanya, sangat tidak tepat jika Valentine dirayakan oleh umat Islam dengan alasan turut merayakan hari kasih sayang. Padahal, Kristen sendiri sebagai institusi yang memulai propaganda perayaan tersebut, pernah menghapuskan penanggalan ini dari kalender gereja dengan alasan sejarah yang tidak jelas. Naif sekali jika remaja Islam yang notabene ikut-ikutan justru menjadi figur yang paling getol merayakan Valentine tersebut.

2. Pornoaksi terselubung dan ajakan kemaksiatan
Bagi kalangan muda, hari Valentine cenderung ditafsirkan secara sempit sebagai momen penting untuk menjalin hubungan muda-mudi yang serius bukan lagi ungkapan kasih sayang yang tulus dan universal tanpa melibatkan kontak fisik.  Kebanyakan generasi muda utamanya di negara – negara barat merayakan Valentine dengan sebuah janji kencan yang sering diakhiri dengan kontak fisik dan perzinahan. Naudzubillah!
Dalam budaya masyarakat barat yang toleran dan terbuka terhadap perilaku seks bebas, perayaan Valentine diwarnai dengan kencan pasangan-pasangan muda sepanjang malam itu, bahkan beberapa tempat dan hotel sengaja menggelar aneka acara yang berakhir dengan pesta-pesta kemaksiatan.
Sementara bagi generasi muda bangsa kita yang berbudaya ketimuran dan lebih khusus lagi bagi generasi muda Islam sudah sepatutnya bersiap membentengi diri dari virus pornoaksi yang terselubung dan tersamarkan dalam balutan perayaan Valentine’s Day. Di Jepang, Valentine dirayakan sebagai propaganda marketing secara besar-besaran.
Orang Prancis dan Australia mungkin punya alasan sendiri untuk merayakan Valentine. Tapi yang sulit dimengerti adalah si “Fulan” penduduk asli Indonesia, dengan biaya yang cukup mahal turut mengemas kado istimewa untuk dipersembahkan kepada kekasihnya di tanggal 14 Februari. Apakah si “Fulan” juga punya alasan merayakan Valentine, atau justru menjadi korban ikut-ikutan?

Kampanye Via SMS
Siapapun bisa menjadi bagian dari gerakan anti Valentine’s Day dengan menyebarkan pernyataan singkat di bawah ini melalui pesan singkat (SMS) :

Stop Pornoaksi yang merebak dalam balutan Valentine’s Day, mari kita benahi pemahaman tentang cinta dan kasih sayang yang benar sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Rasulullah Muhammad Saw.

Akhirnya, berdasar pada fakta negatif dan nuansa pornoaksi yang terselubung dan merebak melalui peringatan hari Valentine, maka marilah kita secara bersama-sama satukan tekad:

HAPUSKAN VALENTINE’S DAY SEKARANG JUGA !!!

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout

(dihimpun dari berbagai sumber)

Yang berkaitan:

Hukum pesta perayaan VD

Valentine Days versus Kasih Sayang dalam Islam

Valentine Hari Kasih Yang Semu (pdf)

* Penulis adalah Koordinator Bidang Kesiswaan di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

Iklan

One thought on “Val’s Day is a False Day

  1. ENY TRIHASTOETI/bunda TYA kls 9 berkata:

    It’s inspired !!!
    Saya sedang mencari artikel yang ringkas dan padat tentang hal ini, betapa banyak dari kita yang tidak sadar telah diperdaya oleh industri.
    Insya ALLAH , saya terapkan pada diri sendiri dan lingkungan untuk tidak sekedar guyon dengan berkirim coklat dihari ini. Betapa ini menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai ortu untuk menguatkan aqidah anaknya. Sekedar melarang tentu sudah bukan zamannya, memberi pengertian dgn menceritakan sejarah dari peristiwa tersebut bisa menguatkan diri untuk tidak terjerumus di komunitas pergaulan manapun.

    Terima kasih, Ibu. Karena motif ekonomi kita bisa lihat banyak kesyirikan dilestarikan. Pemasaran memang perlu jeli melihat peluang. Alasan menarik wisatawan, saudara kita yang terbelakang (suku-suku pedalaman) dibiarkan telanjang, praktek ritual ‘nenek moyang’ terus berjalan, sedang yang sudah beradab dan berpendidikan juga tidak lepas dari jeratan trend fashion yang aslinya mengajak kepada keterbelakangan (baju dan celana minim menjadi pakaian kebiasan muda-mudi kita). Bukan kemodernan. Dilihat dari pakaian, antar suku pedalaman dan pakaian artis/orang modern yang berbaju tapi …maaf… ‘telanjang’ jadi gak ada bedanya, bukan? Begitu juga dari pemikiran, mempercayai ‘gugon tuhon’, melakukan sesuatu yang bukan perintah ALLAH, yaitu bukan penghambaan kepada-Nya. Kasih sayang sejatinya mengalir sepanjang waktu sebagaimana aliran sungai menuju kelaut. Tidak harus pakai momen-momen macam Val’s day itu. Kalau kita sulit memboikot produk zionis, ada cara yang tak kalah jitu, boikot juga pemikiran zionis macam tradisi palsu itu yang dihembuskan ke kita yang ujung-ujungnya untuk jualan produknya .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s