Menghantarkan Remaja Putri ke Sekolah Putri


Oleh: Ustd. Feni Yuranoa

fen

Guru Bimbingan Konseling (BK) SPiLuqkim

Masa remaja merupakan masa yang paling dinamis dan penuh gejolak, banyak ahli psikologi menyebutnya masa “puber” sebagai masa “badai dan topan”. Kiranya ungkapan itu tidaklah berlebihan bila ditinjau dari fakta yang sering terjadi pada remaja kita. Maraknya kenakalan remaja, mulai dari mencoba bergaya hidup glamor mereka sering menyebut dirinya “remaja gaul, funky, punk abis”, ada perkelahian geng, narkoba, seks bebas, serta mencoba berpacaran dan melakukan kegiatan mesra tanpa sungkan pada lingkungan. Situasi itu diperparah oleh adanya perkembangan teknologi dan informasi yang tidak jauh dengan dunia remaja dan sangat mudah diakses remaja. Melalui media internet dengan dalih mengerjakan tugas dari sekolah dengan leluasa mereka melihat tayangan porno yang lewat.

Fenomena tersebut membuka mata hati orang tua untuk lebih selektif memilihkan dan mengarahkan putrinya untuk berada di sekolah mana. Muncul beberapa pertimbangan dari pemikiran orangtua, kira-kira bagaimana putri kita bisa tetap berprestasi di masa remajanya? Bagaimana usaha yang harus dilakukan agar remaja putri tetap bersinar? Kedengaran kuno? Sekolah khusus putri tidak kalah dengan sekolah regular pada umumnya, terutama sekolah yang telah memiliki managemen yang bagus, dengan dukungan SDM yang profesional. Mungkin muncul anggapan “Wah… tidak seru donk berada di sekolah khusus putri?”, sekolah yang melakukan pemisahan antara remaja putra dan putri. Tapi yang menarik pada sekolah yang dalam pembelajaran dan kegiatannya dipisah ternyata membawa dampak yang positif, lho. Apa aja sich? Coba simak :

1. Menurut Menteri Pendidikan di salah satu negara termaju dunia (Inggris) sekolah yang telah terpisah akan memacu konsentrasi siswi sehingga berprestasi.

2. Mempertipis tindakan anarkis misalnya tawuran antar geng, kebut-kebutan sepeda motor, dsb.

3. Mempertipis bercampurnya kegiatan lawan jenis, karena sering kali remaja putri kadang-kadang merasa cemas atau emosi kurang stabil saat haid.

4. Remaja putri sering merasa canggung saat berada di kelas mixed karena remaja putra lebih sering mendominasi mencari perhatian guru.

5. Para peneliti di Universitas Cambridge menemukan bukti bahwa prestasi siswi putri dan putra membaik bila dalam belajar matematika dan bahasa mereka berada dalam kelas terpisah.

Alhamdulillah, lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, yakni Sekolah Integral Luqman Al Hakim telah menerapkan sistem pembelajaran terpisah pada tingkat SD kelas atas (kelas IV – VI), dan SMP. Kami sudah ada di dekat Anda, tunggu apa lagi? Mari hantarkan remaja putri kita ke sekolah putri ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s