Teknologi yang Membelenggu


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

no-cellphoneIlmu pengetahuan dan teknologi berkembang sebagai keniscayaan atas anugerah ALLAH Swt. kepada manusia, yaitu akal pikiran. Dengan semakin tingginya tuntunan kebutuhan manusia, semakin maju pula teknologi berkembang. Atau sebaliknya, teknologi berkembang mendahului kebutuhan manusia, sehingga dapat menuntun manusia ke dalam gaya hidup yang baru. Jelaslah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor yang berkonstribusi terhadap pembangunan peradaban dan kebudayaan. Pola berpikir dan pola hidup manusia masa kini telah dituntun oleh teknologi.

Telepon selular sebagai hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kini tidak lagi menjadi barang mewah. Hanya dengan uang dua ratus ribuan kita sudah bisa memperoleh satu unit ponsel dengan layar berwarna dan nada dering polifonik. Kartu perdana pun sangat mudah didapatkan. Hanya dengan kisaran lima belas ribuan kita sudah bisa mendapatkannya. Bahkan kini kartu perdana yang telah teregistrasi atas nama orang lain (seringkali palsu) dijual dengan hanya tiga ribu rupiah. Karenanya tidak heran jika anak SD bisa punya lebih dari satu ponsel, biasanya satu GSM dan satu lagi CDMA.

Dua tahun pertama beroperasinya SPiLuqkim, periode 2005 – 2006 dan periode 2006 – 2007, pihak sekolah sama sekali tidak mengatur masalah ponsel ini. Siswi bebas membawa ponsel tipe apapun secara bebas. Sejatinya kita bisa maklum bahwa ponsel itu memang dibutuhkan untuk berkomunikasi, terutama antara siswi yang jam sekolahnya hingga sore hari kepada ortunya untuk minta jemputan. Atau hal-hal urgent lainnya. Namun dalam perkembangannya, seiring dengan munculnya berbagai kasus-kasus pelanggaran siswi, pihak sekolah memandang ponsel menjadi faktor penting yang memudahkan oknum siswi melakukan pelanggaran.

Lain kasus, karena tidak ada pembatasan sedikit pun, siswi jadi jor-joran pamer ponsel. Apalagi pada masa itu beragam ponsel multimedia mulai membanjiri pasar dengan harga terjangkau. Anda tahu, begitu bel pulang sekolah berbunyi, keluar dari kelas siswi buru-buru mengaktifkan ponsel, jepret sana-sini, transfer lagu atau gambar, atau lainnya. Pokoknya, sepulang sekolah jadi seperti ajang tukar-menukar mp3 dan gambar. Ortu pun sudah mulai mengeluh anaknya menuntut dibelikan ponsel dengan fitur yang lengkap agar bisa menyamai teman-temannya. Belum lagi insiden-insiden penyalahgunaan kamera ponsel sudah mulai bermunculan.

Dari pengalaman itu, di tahun akademik 2008 – 2009, SPiLuqkim mulai menerapkan pembatasan ponsel yang boleh dibawa siswi. Kali ini hanya ponsel yang tidak dilengkapi fitur multimedia (kamera, radio, media player, internet, bluetooth, infrared) yang boleh dibawa. Sekolah menganggap fungsi utama ponsel adalah alat komunikasi, karena itu asal bisa digunakan bertelepon dan mengirim pesan singkat (SMS), ya sudah cukup.

Reaksi penolakan mulai bermunculan dari ortu. Alasannya mereka sudah terlanjur membelikan ponsel-ponsel canggih tersebut. Sebenarnya alasan itu pun tidak penting. Ya kan tinggal menjual aja ponsel canggihnya, kemudian menukarnya dengan ponsel yang minim fitur, malahan masih bisa sisa uangnya. Jadi seharusnya langkah ini bisa jadi penghematan, kan?! Di lain pihak, sekolah sendiri menyediakan sarana komunikasi telepon (PSTN). Siswi dapat memanfaatkan telepon sekolah secara gratis jika hanya sekedar bicara kepada ortu (ke nomor PSTN atau Fleksi) untuk minta jemput. Ortu pun bisa menelepon ke sekolah jika ingin disambungkan dengan putrinya. Masih belum cukup, saat MOS siswi diberikan buku panduan yang sudah mencantumkan seluruh nomor ponsel asatidz/asatidzah, yang sejauh ini kami bersedia untuk dihubungi kapan saja untuk membicarakan permasalahan siswi.

Tak dinyana, aturan ini hanya bertahan selama satu semester. Dengan semakin kompleksnya permasalahan siswi, di awal semester II pihak pengelola SPiLuqkim akhirnya memutuskan untuk melarang sama sekali siswi membawa ponsel jenis apapun ke sekolah. Sedianya upaya pembatasan fitur ponsel di semester sebelumnya adalah langkah teguran dan edukasi kepada siswi untuk lebih bertanggung jawab dalam memanfaatkan fasilitas dan teknologi. Namun ternyata langkah itu belum cukup dan dipandang perlu untuk menerapkan langkah yang lebih keras dan tegas.

Keputusan ini bukannya tidak merepotkan bagi kami. Bagian Kesiswaan jadi harus semakin kerap melakukan razia, sedangkan tim BK harus semakin intensif melakukan pembinaan. Namun kami berkeyakinan bahwa langkah ini adalah benar dalam konteks pendidikan. Terutama untuk mencegah tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab dalam penggunaan ponsel. Adakah di antara Anda yang berani membantah betapa mengerikannya penyalahgunaan ponsel yang dilakukan oleh para remaja sekarang ini. Saat kami mengelola blog ini, yang kerap muncul sebagai “Tulisan Teratas dari seputar wordpress.com” adalah berita-berita seram tentang hal-hal tersebut. Saat artikel ini ditulis (25 Feb 09 10.45 WIB.) artikel yang menjadi tulisan teratas di dasbor di antaranya adalah:

* Video Mesum Siswi SMP Beredar di Blitar

* Video Porno Terbaru: Adegan Mesum ABG Pelajar SMP di Sekolah

* Lomba Video Bugil Berhadiah Rp 120 Juta

Siapa yang tidak ngelus dada melihat berita seperti ini muncul hampir 24 jam sehari???

Kami paham jika ada ortu yang yakin bahwa anaknya tidak akan terlibat dengan hal-hal seperti itu, tapi siapa yang berani menggaransi 100%?! Mungkin bukan siswi kita yang melakukannya, tetapi bisa saja dia mendapatkan copy dari orang lain. Atau bisa pula ponselnya disalahgunakan oleh temannya. Segala kemungkinan kan bisa terjadi.

Kami pun paham, mendidik seharusnya tidak dengan serba melarang. Namun dalam hal ini mari kita cermati optimalisasi dari penggunaan ponsel yang dibawa siswi. Ketika siswi masih boleh membawa ponsel, saat jam masuk sekolah pukul 07.15 WIB. ponsel harus sudah dimatikan, bukan sekedar modus senyap. Pada jam istirahat dan makan siang pun ponsel tetap tidak boleh diaktifkan. Bel pulang sekolah dibunyikan pukul 15.30 WIB. barulah ponsel boleh diaktifkan kembali. Praktis selama 8 jam 15 menit ponsel tersebut menganggur. Jadi apa gunanya membawa ponsel, toh sekolah sudah sangat kooperatif dalam hal komunikasi ortu dengan siswi. Iseng-iseng saya pernah bertanya kepada beberapa siswi, kebanyakan ponselnya terisi pulsa hanya di minggu awal bulan saja. Selebihnya ponselnya hanya bisa stand-by atau paling banter berisi pulsa SMS.

Jadi apa gunanya?! Penerapan larangan membawa ponsel pada hakekatnya hanya memindahkan posisi ponsel yang tadinya dibawa-bawa di saku baju siswi, sekarang ditinggal di rumahnya. Malah lebih aman, kan?!

Kisah nyata…

Suatu hari, kami mendapat telepon dari ortu (seorang ibu) siswi. Mulanya beliau (yang terhormat) bertanya,

“Apakah sudah jam istirahat?”

Saya lalu menjawab,

“Belum.”

Lalu dengan itikad baik saya tawarkan, jika memang ada hal yang mendesak saya akan panggilkan putrinya (kelasnya di lantai 2) agar bisa bicara langsung dengan sang ibu lewat telepon sekolah. Dengan entengnya beliau berkata (kurang lebih begini),

“Oh, tidak usah. Tolong titip pesan saja kepada anak saya si XXX agar mengaktifkan ponselnya karena saya mau bicara. Memang saya sengaja suruh dia membawa ponselnya ke sekolah.”

?????????????????????????????????????????????????

Saat itu saya tidak bisa bicara apa-apa lagi, telepon saya alihkan ke Ustd. Feni yang kebetulan ada di dekat saya.

Asumsi saya, ortu menyekolahkan anaknya disini berarti mereka percaya dan yakin dengan metode pendidikan dan pembinaan yang diterapkan di SPiLuqkim. Aturan-aturan yang diberlakukan pun sesungguhnya adalah bagian dari pendidikan dan pembinaan juga. Nah, jika mereka sendiri yang malah menginjak-injak aturan yang diberlakukan sekolah, lalu kami (baca: sekolah) ini dianggap apa??? Jika kami sudah tidak dipercaya mendidik anaknya, ya kenapa anaknya masih sekolah disini???

Setelah didalami oleh Ustd. Feni, sang ibu tadi mengeluh karena sekarang menjadi sulit menghubungi putrinya saat di sekolah. Dalam hati saya bertanya, segitu-gitunya kah sampai harus sering kontak dengan anaknya? Apa fasilitas komunikasi yang disediakan sekolah masih belum cukup juga. Kurang baik apalagi sih SPiLuqkim ini??? Ternyata jawabannya sepele, si ibu tadi sungkan menelepon ke sekolah. Yaa Allah, Subhanallah

Ingatlah, dulu saat kita SMP seperti putri kita saat ini, kita lo tidak bawa-bawa ponsel ke sekolah. Pihak sekolah kita dulu pun begitu angkernya. Jangankan mau pinjam telepon sekolah, ngobrol dengan guru aja kita males puol! Ditambah lagi telepon umum koin tidak tersedia di sembarang tempat. Jangankan ponsel, telepon rumah (PSTN) saja adalah barang mewah kala itu. Toh, kita dulu mampu survive melewati masa-masa SMP dengan baik. Ortu kita dulu pun tidak perlu repot-repot mengecek kita dimana, dengan siapa, dan sedang berbuat apa?!

Mereka memberikan kepercayaan penuh kepada kita. Kita pun sebagai anak sangat bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan ortu kepada kita. Kalo pamitnya ke rumah si A untuk mengerjakan PR, ya berarti kita memang ada di rumahnya A mengerjakan PR. Jika ingin pergi kemana-mana, kita pun selalu minta ijin ke ortu dulu.

Saya jadi bertanya-tanya, jika ortu jaman sekarang menganggap begitu perlunya untuk memantau sang putri secara ketat dari waktu ke waktu, apakah si anak memang tidak bisa bertanggung jawab atau tidak bisa dipercaya? Sampai-sampai harus selalu dicek. Jika memang demikian, mohon maaf, rumah tangga sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak, dan ortu sebagai guru yang pertama dan utama bagi anak, sudahkah menjalankan peran untuk mendidik mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dapat menjaga amanah???

Atau mungkin lingkungan kita ini sudah sangat tidak aman bagi remaja putri. Sehingga mereka selalu dalam kondisi bahaya dan terancam saat di luar rumah, ortu harus selalu melacak posisi keberadaannya? Kenapa gak sekalian aja putri kita dipasangi pelacak GPS? Kan lebih sip, benar-benar realtime online.

Sebelum ada ponsel, hidup kita sudah baik-baik saja. Dengan ponsel hidup kita jadi lebih mudah. Andaikan ponsel ditiadakan pun, seharusnya hidup kita tetap baik-baik saja.

Teknologi seharusnya memudahkan pekerjaan dan meningkatkan kualitas hidup kita. Namun, jangan sampai hidup kita jadi terkuasai dan diperbudak olehnya. Alat bukanlah tujuan!

Wallahu’alam

* Penulis adalah pengelola dan pengasuh di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

Artikel terkait:

1. Penelitian terhadap siswa SD Jabodetabek
2. Tajikistan mengharamkan ponsel untuk pelajar dan mahasiswa
3. 30% Ponsel Pelajar Kediri berisi materi pornografi
4. Diskusi Terbatas di Kediri: Ponsel, antara Manfaat dan Mudarat

Iklan

3 thoughts on “Teknologi yang Membelenggu

  1. tya berkata:

    peraturan ada untuk dilanggar!
    isn’t right!??
    buat apa ada peraturan tanpa pelanggaran?
    sama aja bo’ong!!!

    Sebelumnya mari berpikir positif. Ananda tidak perlu terpengaruh oleh pernyataan tersebut. Cobalah pikir, apakah kita ini bisa bebas dari peraturan? Contoh sederhana, Orang itu merasa sehat, fit kondisinya karena dalam tubuhnya ada peraturan fisiologis (fungsi alat tubuh). Peraturannya darah mengalir dipompa jantung, keseluruh tubuh. Darah harus ikut peraturan itu. Kalau melanggar? Sakitlah tubuh orang itu. Jadi, peraturan itu pada dasarnya adalah mengikuti sunatullah, mencari kemaslahatan, kebaikan, bukan kekacauan dan kerugian. Mohon dipahami analogi sederhana ini.

  2. lauriNE darKO loCkHeArteN berkata:

    saya berada di tempat yg netral saja deh . . .

    sikap netral Anda pun perlu dipertanyakan. apakah Anda: (1) paham masalah namun ingin tetap suasana ‘sejuk’; (2) tdk paham masalah sehingga tdk bisa menentukan sikap; (3) tdk paham masalah dan tdk peduli pd masalah itu; (4) bagian dari masalah tsb. dan tdk ingin terlihat bermasalah???

  3. IHSAN berkata:

    memang di era ini yang di kenal dengan era Teknologi Informasi (IT/TI), sangat wajar jika orang tua orang tua khawatir kalau anaknya terjerumus ke dalam hal2 yang tidak diinginkan.
    Tapi salah juga jika ada yang meyalahkan IT dengan alasan yang macam2. karena memang IT untuk memudahkan aktivitas manusia. Saya Pikir, yang salah adalah Usernya, dan juga kurangnya wawasan agama yang dimiliki oleh User tesebut. IT hanyalah benda netral yang manfaat baik atau buruknya tergantung Si Usernya bukan barangnya. jadi salahnya seorang User tidak harus mengeneralisasi masalah seakan-akan semuanya salah dan buruk. itu juga tidak benar. Iya kan?

    kami sepakat dgn komentar Anda. krn itu dlm artikel ini yg kami gugat adalah perilaku siswi dan ortunya yg tdk memanfaatkan teknologi secara tepat. selain itu, sikap ketergantungan yg pd akhirnya membelenggu itu yg juga kami soroti. teknologi seharusnya memudahkan hidup, bukan malah mengambil alih hidup. apalagi jika penggunaan teknologi itu malah memicu konflik, misalnya ‘pembangkangan’ ortu thd aturan sekolah yg nyata2 melarang membawa ponsel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s