Cahaya di Atas Cahaya


Oleh: Ust. Novrian (Physics)

SPiLuqkim’s Mathematics & Sciences Development Team

an-nuur-35-cut

… Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), ALLAH membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, … (QS. An Nuur: 35)

Siswa-siswi SMP atau SMA (terutama jurusan IPA) jaman sekarang mungkin sudah fasih dengan sifat-sifat gelombang. Paling tidak, di tingkat SMP sudah mendapatkan dasar teori gelombang dan pernah mengutak-atik sinar-sinar istimewa pada cermin dan lensa, yang notabene menganggap cahaya sebagai gelombang yang dapat dipantulkan (reflected) dan dibiaskan (refracted). Sedangkan di tingkat SMA siswa sudah mengenal interferensi, superposisi, dan difraksi sebagai fenomena yang khas gelombang.

Tahun 1666, Sir Isaac Newton (1642 – 1727), yang dianggap sebagai bapak Fisika Klasik, melakukan eksperimen terhadap cahaya sebagai berikut:
Cahaya matahari masuk menembus celah kecil, melintasi ruang gelap, dan kemudian jatuh miring mengenai permukaan prisma kaca bening berbentuk segi tiga. Di sisi lain dari prisma tersebut berkas sinar keluar ditangkap oleh layar putih.

Newton menemukan cahaya yang tampak pada layar tidak lagi putih melainkan tersebar menjadi barisan warna-warni yang teratur seperti pita, yaitu: merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu (biasa dilafalkan dalam akronim: me-ji-ku-hi-bi-u). Barisan cahaya seperti pita warna-warni ini disebut sebagai spectrum, dalam bahasa Latin berarti ‘hantu’.

dispersion

Sebagai gelombang, cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang dapat merambat di ruang hampa dengan kelajuan tiga ratus juta meter per detik, kuantitas ini disimbolkan sebagai c. Menurut teori relativitas khusus yang dikemukakan oleh Albert Einstein, c diyakini sebagai batas tertinggi kelajuan yang dapat dicapai oleh partikel apapun yang ada di alam semesta. Bagi fisikawan muslimin, kuantitas c adalah wujud batasan ALLAH terhadap segala makhluk yang diciptakan-Nya, tidak ada makhluk yang dapat menembus dan melebihi c ini.

rainbowPeristiwa pemisahan warna-warna pada cahaya polikromatis (misalnya cahaya putih) disebut sebagai dispersi seperti halnya yang terjadi pada pelangi yang tampak setelah hujan. Cahaya polikromatis sendiri adalah cahaya yang terdiri dari banyak cahaya yang panjang gelombangnya berbeda-beda. Jika fenomenanya dibalik, cahaya-cahaya me-ji-ku-hi-bi-u tadi digabungkan, maka akan kembali didapatkan cahaya putih. Eksperimen lainnya yang menunjukkan fenomena dispersi pada cahaya putih yang juga dirancang oleh Newton adalah cincin Newton (Newton’s ring).

Apakah peristiwa dispersi ini adalah tafsiran dari potongan ayat ke-35 darinewtonsring Surat An Nuur? Wallahu’alam… Yang jelas, Al Quran sebagai The Book of Signs membuka kesempatan seluas-luasnya kepada manusia untuk mengeksplorasi alam semesta yang luas ini.

Masih banyak ayat-ayat kauniyah lain, yang jumlahnya sekitar 85% dari isi Al Quran, menunggu untuk ditafsirkan maknanya. Dan tidak seperti ayat-ayat tentang aqidah, akhlak, dan fiqih (yang hanya seperlima dari isi Al Quran), ayat-ayat kauniyah bersifat sangat dinamis dan terbuka dalam penafsiran karena bergantung kepada ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh manusia pada suatu masa. Bisa jadi di masa yang lain tafsirannya berubah karena ditemukannya pengetahuan dan bukti empiris yang baru.

Sources:
Agus Purwanto, D.Sc., Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al Quran yang Terlupakan, Penerbit Mizan.
Microsoft Encarta Premium DVD 2006.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s