Puisi-puisi Ponari


ponari dikerubungi

ponari dikerubungi

oleh: Nur Aziz Asmuni*

(Edisi Pebruari 2009)

adakah luka menelantarkan mimpi

apakah kemarau
telah menenggelamkan
harapan

apakah hujan
telah membanjiri
sawah-sawah ladang
dalam keping-keping bara

adakah luka
menelantarkan mimpi
di tebing-tebing sunyi
hanya dahaga mengiris sepi
sendiri sendiri

ketika luka

ketika awan berarak
langit memerah kelam
angan mengapung curam
luka letih berteriak

bersama mereka melaut
kenali ombak menerjang
karang semangat menantang
jiwa terang berpaut

ranting dan akar

lalu ranting reranting mengering
tangkai-tangkai pun terkulai
daun-daun luruh ngungun
akar-akar sepi menggelepar

dimana rindang pepohonan
ditemukan taman-taman
mengisi sunyi perjalanan
mengurai mimpi masa depan

Ponari teriris sepi

Apakah ada darah mengucur
Rasa letih menderu rintih
Ketika orang-orang berayunan
Mencari dimana ponari

nama anak kecil
mengorbit ketika ekonomi makin sulit
jiwa mendera makin labil
orang-orang yang berobat
ada yang sekarat

Ponari
apa yang terjadi
Ponari
teriris sepi
sendiri

ketika mentari

ketika mentari menampakkan diri
embun pagi menyejukkan hati
dengan berbungah bahagialah jiwa
menyaksikan riang anak-anak sekolah

belajar mengeja zaman
membaca terbata-bata
harapan masa depan
berayunan dalam kata-kata

sayup menyejuk badan
indah masa sekolah
menari beragam kenangan
asa berpadu gelora

nur aziz

Nur Aziz Asmuni

*Pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Putri Luqman Al Hakim, Penyair yang hatinya nyinyir*

Iklan

4 thoughts on “Puisi-puisi Ponari

  1. AWIK berkata:

    wahai guruku…..
    kau pacu sepedamu….
    dengan kecepatan delapan puluh..
    demi aku…

    tapi ….
    aku duduk termangu…
    dengan bertopang dagu…
    tanpa ku dengar suaramu..
    apalagi perintahmu…
    ku putar-putar lamunanku
    dalam bayang-bayang semu…

    tapi….
    ketika suara itu…
    datang padaku….
    dan membentur kepalaku..
    kulihat kapur itu…..
    yang menghentikan lamunanku…

    jalan-jalan ke pasar baru
    tidak lupa membeli batik
    akibat ngelamun melulu
    aduh….. kasihan deh mas awik

  2. Apria berkata:

    “Ponari
    apa yang terjadi
    Ponari
    teriris sepi
    sendiri”
    sepertinya gak pas deh diatas dikerubuti orang kemudian teriris sepi, ditayangan tv wajahnya happy2 aja
    he he he
    just comment

    ya harap maklum, mbak/mas. ini kan bahasanya sang pujangga. lagipula yg terlihat dari luar blm tentu cerminan sesungguhnya yg ada di dalam

  3. hyono berkata:

    Janglah kau menduakan Allah…segala s’suatunya kita serahkan kpadanya….penyakit pukan manusai yg menyembuhkannya…melainkan ALLAH SWT. km pada minum air kotor yg di Obok-obok ponari….memintalah kau kepada yg maha kuasa atas penyakit mu..biar disembuhkan….maka jangan sekali2 km menduakan tuhan….AMIN

  4. billa berkata:

    kenapa sih gak ada puisi berjudul hakim atau jaksa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s