Menjadi Yatim Piatu, (Bahkan) Sebelum Ortu Wafat


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

doa-kepada-ortu

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku saat aku masih kecil.

Saat seorang manusia (baca: muslim) mati, maka terputuslah seluruh amalannya di dunia. Kecuali tiga hal, yaitu: doa anak dari yang sholeh/sholehah, ilmu bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain, dan harta halal yang dinafkahkan sebagai amal jariyah. Insya Allah, ketiga hal tersebut akan terus mengalir pahalanya kepada kita yang sedang menikmati alam kubur (Allahumma amiin) ataupun tersiksa azab kubur (Naudzubillah min dzalik).

Sebagai ortu, jika Anda ditanya, ingin anak yang seperti apa? Kira-kira apa jawaban Anda? Mungkin akan muncul beragam jawaban:

“Saya ingin anak yang mandiri.”
“Saya ingin anak yang kreatif.”
“Saya ingin anak yang cerdas.”
“Saya ingin anak yang berprestasi.”
“Saya ingin anak saya terkenal dan menjadi selebriti.”
“Saya ingin anak saya menjadi presiden, atau minimal jadi menteri atau ketua partai.”
“Saya ingin anak saya kelak mewarisi perusahaan-perusahaan saya.”
Atau mungkin ada jawaban yang berbau khas ‘orde baru’: “Saya ingin agar anak saya kelak berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan negara, serta masyarakat.”

Ya, terserah Anda sajalah…

Tapi apakah kita ‘cukup waras’ untuk memiliki visi sesederhana ini: “Saya ingin anak yang sholeh/sholehah yang selalu memohonkan ampunan kepada Allah atas dosa-dosa saya serta kelak menjadi ortu yang lebih baik bagi anak-anak mereka.”

Mari kita merenung…

Tahukah Anda, sebuah pekerjaan yang harus dikerjakan 24 jam sehari dan menuntut keterampilan, kemahiran, dan kecakapan profesional standar dunia-akhirat, namun tidak ada satu pun lembaga pendidikan yang mengajarkannya?

Jawabannya adalah: MENJADI ORANG TUA

Kita berasumsi, seiring bertambahnya umur maka bertambah pula tingkat kedewasaan. Kita juga menganggap, nanti jika sudah tiba waktunya maka kita akan bisa dengan sendirinya menjadi ortu. Kita pun berpikir, toh ortu kita saja gak pake sekolah parenting, bisa juga kan jadi ortu. Nih buktinya kita sudah dewasa, lulus sekolah, dan jadi ortu juga kayak mereka

Jika yang Anda maksud, menjadi ortu adalah (hanya sekedar):
‘memproses pembentukan’ anak hingga lahir, menafkahi kebutuhan lahiriah anak sebanyak yang ia mau atau yang Anda mampu, menyekolahkan anak hingga setinggi-tingginya, menikahkan anak jika ia telah bertemu jodohnya, maka tidak ada masalah. Semua orang pasti bisa menjadi ortu.

Namun, dalam keseharian sebagai pengasuh di SPiLuqkim, saya kok bisa menyimpulkan ternyata menjadi ortu tidak semudah yang dikira. Mohon maaf jika Anda tersinggung, saya berani mengatakan ada ortu yang gak becus menjadi ortu. Sekali lagi, saya mohon maaf. Namun itulah kenyataan yang saya temui. (Sebuah kenyataan yang membuat saya, yang belum menikah, jadi ‘merinding’ ngeri sembari bertanya dalam hati: bagaimana dengan saya jika mendapat amanah dari ALLAH untuk menjadi ortu bagi anak-anak saya kelak???)

Judul artikel ini muncul saat saya (dan Ust. Andri) berdiskusi dengan Ustd. Ery Soekresno (konsultan pendidikan di lembaga ini) pasca supervisi kelas terhadap kami berdua (13/03), berkaitan dengan suatu kasus yang terjadi di SPiLuqkim.

Di lain kesempatan, saya ngobrol-ngobrol dengan istri dari mas sepupu saya. Beliau mengatakan kurang lebih begini: “Anak itu kan gimana ortunya. Kalo si anak rumongso gak diopeni ortunya, ya jangan harap nanti kalo si ortu sudah sepuh dan jompo, anak-anaknya mau ngopeni mereka”. Sebuah pernyataan bijak meski usia mbak saya itu hanya terpaut tujuh tahun lebih tua.

Kata ‘ngopeni’ ini yang menjadi pemikiran saya, seperti apa sih yang disebut ‘ngopeni’?

“Semua ortu pasti sayang kepada anaknya. “ Sebuah pernyataan yang tak akan terbantahkan hingga akhir zaman. Namun ternyata manifestasi dari ‘sayang’ itulah yang kerap perlu dipertanyakan. Saya ingin menyoroti dua kasus kondisi mental para ortu.

Kasus pertama, ortu yang memiliki ambisi kuat untuk mengaktualisasikan dirinya. Mereka beranggapan bahwa menikah dan berkeluarga tidak boleh menghambat karirnya. Jadi, suami/istri dan anak yang harus disinkronkan untuk mendukung karir mereka. Mereka ini seperti anak kecil yang sedang kecanduan video game, bermain tanpa kenal batas waktu, dan tidak mau disuruh mengerjakan pekejaan yang lainnya, bahkan kerap mengamuk jika keasyikannya diganggu. Nah, untuk orang-orang (yang mikirin diri sendiri) seperti ini, yang harus ditata ulang adalah pola berpikir dan orientasi hidupnya. Kalo emang mau mengejar karir, ya jangan nikah dan punya anak dong!!! Karena memang, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, orientasi hidup seseorang yang sudah menikah haruslah keluarga (baca: istri/suami dan anak), bukan yang lain.

Kasus kedua, ortu yang berupaya keras menafkahi keluarganya dan mendedikasikan segala harta yang dimilikinya (termasuk yang belum dimiliki) untuk kebahagiaan sang anak. Ortu yang seperti ini sungguh jauh dari sifat egois. Ibarat kata, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, semua buat anak. Dari segi niat, tidak ada yang salah dari ortu seperti ini, begitu pun juga orientasi hidupnya yang sudah berada pada track yang tepat. Selesai??? Ada sebuah kasus, kami berhadapan dengan seorang ayah yang seperti ini, namun ternyata putrinya menyelewengkan SPP-nya lebih dari satu semester (notabene: sang ayah di-PHK, berbulan-bulan berikutnya kerja serabutan, hingga terpaksa nyupir buat seorang ‘kafir’ yang bertentangan dengan suara batinnya). Jadi, pemenuhan segala kebutuhan materiil tidak membuat semua masalah menjadi selesai.

Dalam kasus yang kedua tersebut kita bisa katakan sang ayah sudah berusaha ‘ngopeni’ anaknya. Namun, ternyata ‘ngopeni’ yang seperti itu belumlah cukup. ‘Ngopeni’ yang dimaksud ternyata lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan materiil belaka. Banyak aspek-aspek dari sisi psikologis, atau sebut saja batin, yang juga harus dipenuhi. Malah sejujurnya, nafkah batin jauh lebih penting daripada sekedar nafkah lahiriah. Ungkapan: “mangan ora mangan sing penting kumpul” ingin mendeskripsikan bahwa dengan berbagi kasih sayang dalam sebuah keluarga yang utuh bisa mengalahkan hambatan fisik seberat apapun, lapar misalnya.

Ras manusia sukses bertahan ribuan tahun bukan karena mewarisi bekal kekayaan lahiriah dari nenek moyangnya. Akan tetapi kekuatan dari segi batin, pemenuhan kebutuhan psikologis, dan keunggulan karakterlah yang mendorong manusia untuk selalu bergerak maju dan mendobrak segala hambatan.

Anak-anak butuh peran ortu dalam proses tumbuh dan berkembangnya. Karena itu jika ortunya tidak ‘ngopeni’, mereka ibarat menjadi anak yatim piatu bahkan sebelum ortunya meninggal dunia. Oh, poor dear

Pendidikan karakter berbasis tauhid yang menjadi titik berat SPiLuqkim mensyaratkan keterlibatan penuh ortu dalam menguatkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh sekolah. Ibarat kata, zaman sekarang yang namanya menyekolahkan anak berarti ortunya juga ikut sekolah. Juga harus disadari bahwa zaman yang dihadapi anak-anak sekarang berbeda daripada zaman kita dulu. Nantinya anak-anak mereka (cucu kita) akan hidup di zaman yang berbeda lagi. Tugas kita adalah mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan zamannya serta menjadi ortu-ortu di masa depan.

Di awal artikel ini saya kutipkan sebuah doa ‘standar’ yang selalu dibaca usai wirid. Coba perhatikan kata-kata terakhir dari doa itu: “…sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku saat aku masih kecil”.

Maka sebagai penutup, pertanyaan yang harus muncul dalam benak para ortu adalah: sudahkah kita menyayangi anak-anak kita, hingga rasa sayang dari kita (ortunya) itu berkesan sangat kuat di dalam dirinya, yang kemudian mendorongnya untuk bermunajat kepada ALLAH seperti demikian dengan penuh kekhusyukan dan ketulusan hati???

* Penulis adalah pengasuh dan pengelola SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Iklan

One thought on “Menjadi Yatim Piatu, (Bahkan) Sebelum Ortu Wafat

  1. Lia berkata:

    Bener sekali pak menjadi orang tua yang bener-bener “orang tua” memang tidak mudah n tidak semua orang bisa meskipun mereka sudah sekolah tinggi bahkan sudah naik haji. Emang jadi orang tua adalah pekerjaan yang berat selain menuntut keterampilan, kemahiran, dan kecakapan profesional standar dunia-akhirat,harus dikerjakan 24 jam sehari, udah gitu gak ada yg sekolahnya en satu lagi harus dilakukan seumur hidup. Lihat saja orang tua yang anaknya sudah menikah bahkan anaknya dah jadi orang tua pula tapi mereka tetap memikirkan anaknya, memberinya nasehat, mengkhawatirkannya jika anaknya sakit apalagi kalau cucunya sakit kadang2 yg justru lebih stress adalah mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s