Menyambut Datangnya Musim Ujian…


Tempuhlah ‘jalan lulus’ dengan ‘jalan lurus’!
Oleh: Rahmi Andri Wijonarko*

Ujian Akhir Nasional (UAN) sebentar lagi. Persiapan sudah matang? Menyambut datangnya musim ujian tentu tidak sama dengan menyambut musim lebaran atau tahun baru. Murid yang belum siap jadi rajin ketemu guru, baik guru di sekolah, guru bimbel atau guru privat. Berapa persen yang jadi rajin ketemu ortunya? Entah. Yah, guru jadi penting musim beginian. Guru  menjadi pihak yang dipandang bisa membantu, melewatkan ke salah satu ‘jalan lulus’, walaupun dari berita-berita yang sudah-sudah, ternyata banyak juga sampai melupakan ‘jalan lurus’! Kejujuran. Naudzubillahi min dzalik

Ujian nasional juga tidak hanya dilakukan di Indonesia. Tentang ujian nasional di AS, ada orang sana berkata begini…

Jika Anda bisa memimpin lewat ujian, bangsa ini akan memimpin dunia di semua kategori pendidikan. Hmmm….Bukankah, Anda tidak akan bisa menggemukkan domba dengan cara menimbangnya? Kapan sih orang-orang itu akan mengerti?

— Jonathan Kozol

at Westfield State College’s 157th Commencement

Terlepas dari pernyataan di atas, apa kebaikan-kebaikan dari ujian yang terstandarkan?
Saya kurang tahu persis apakah tes standar (UAN) secara aktual memberi banyak informasi tentang siswa secara perorangan. Tahun sebelumnya tingkat kelulusan di atas 90 %. Bagus. Tetapi, apakah bukan karena siswa-siswa yang 90% itu kondisinya sedang bagus pada saat pengambilan ujian standar nasional? Sedang yang 10% tidak bagus. Itu mungkin saja, bukan? Sehingga tidak heran kalau ada yang tak lulus, walaupun dia itu pintar. Ujian mungkin saja membuat kita mampu membandingkan secara akurat kelompok siswa dalam scope yang luas (kabupaten, propinsi bahkan negara)- tapi jika itu adalah hal yang diinginkan semua tim/pihak penguji, kenapa masih perlu nama-nama siswa?

Kalau penulis pikir-pikir hasil ujian itu juga bergantung pada hal-hal berikut.

  • Kecepatan membaca, yang sangat bervariasi dari siswa satu dengan yang lain
  • Apakah siswa sedang sentlap-sentlup, ingusan, flu, meriang atau tidak? (saat saya sampaikan di depan kelas murid-murid saya tertawa semua. Padahal saya ingin berpesan: siapin dong diri Anda jangan sampai gak bisa konsentrasi karena badan sakit atu kena flu)
  • Apakah siswa berdebat dengan saudara atau ayah ibunya malam itu? (mungkin juga loh, gara-gara bertengkar kebawa sampai ruang ujian. Mengerjakan ujian dengan perasaan kesal, dongkol juga tidak baik, begitu intinya)
  • Apakah siswa mudah bosan dan malah memutuskan main game atau nonton TV daripada belajar sehingga waktu ujian juga memilih hitung kancing, bondha-bandhi saja? (wah, mau mengharapkan mukjizat? Lari dari masalah bertemu masalah baru! Bagaimana biar gak bosan belajarnya?)
  • Apakah siswa mendapati teks soalya menarik ataukah berpikir, huh menyebalkan? (Wah, tebal banget, soal berlembar-lembar bacaan panjang-panjang, capek deh! Sudah ah….)
  • Apakah siswa kena gangguan pencernaan? (ini juga mengganggu. Bisa minum obat dulu, kan? Eh, ntar kalau sering ke belakang malah diikutin pengawasnya.)
  • Lupa sarapan tidak? ( Nah ini dia. Mana bisa ngerjain soal yang dua jam itu dengan perut merengek minta diisi?)
  • Apakah siswi masuk ke ruang yang familiar atau merasakan tempat asing karena settingnya beda? ( Ruangannya kok formal banget sih? Asing.)
  • Apakah dia khawatir dengan apa-apa yang ada di rumah? (Eh kucingku belum dikasih makan, tadi.
  • Dan lain-lain

Sikap guru bisa berpengaruh berbeda dalam pembelajaran muridnya. Dari yang disebutkan di sini, manakah guru yang ‘Anda banget’?

Saya secara kontinyu mengerjakan aritmetika dengan ayah saya, menjelajahi pecahan sampai desimal. Suatu saat saya sampai pada topik dimana ada sapi memakan rumput, dan tangki diisi air dalam hitungan jam. Saya merasakan itu sangat memikat

Agatha Christie di An Autobiography-nya

I continued to do arithmetic with my father, passing proudly through fractions to decimals. I eventually arrived at the point where so many cows ate so much grass, and tanks filled with water in so many hours. I found it quite enthralling .

…ataukah…

“Bisakah kamu menjumlah?” tanya White Queen (dalam cerita kartun Alice in wonderland). ”Coba, berapa satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu?”

“?????????? Tidak tahu,” jawab Alice.” …..Aku kehilangan perhitungannya.”

Lewis Carroll
Through the Looking Glass

Sebagai guru saya pasti senang kalau murid-muridnya lulus ujian (UAN) karena mungkin akan menghapus masalah dengan pemerintah (diknas), keluarga, sekolah, dan teman bergaul. Nilai UAN yang tinggi juga akan membantunya masuk ke jenjang pendidikan sesuai yang dikehendakinya karena kita tidak menutup mata bahwa di Indonesia ini masih menggunakan patokan nilai untuk menyeleksi calon siswa masuk ke sekolah yang dikatakan bagus, favorit, unggulan, dan terutama sekolah negeri.

Bagi saya, sebagai guru, nilai UAN yang dites dalam beberapa jam itu masih kurang menggambarkan kemampuan sesungguhnya dari siswa. Alasannya? Kembali ke banyak faktor X yang saya sebutkan di atas, yang berada di luar jangkauan kita. Tetapi paling tidak kisi-kisi yang sudah ada dan usaha yang dilakukan dengan try out dan sejenisnya insya Allah membuahkan keberhasilan. UAN tidak layak ditakuti. UAN adalah hal biasa kalau para siswa sudah terbiasa. Justru hasil secara alamiah yang kita lihat itulah yang membanggakan.

Saya mengucapkan, be prepared, bersiaplah kepada seluruh peserta UAN. Don’t give up!

Tempuhlah jalan lulus dengan jalan lurus!

* Penulis adalah pengasuh, pengelola, dan sekaligus Koordinator Kesiswaan di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

2 thoughts on “Menyambut Datangnya Musim Ujian…

  1. Izza mengatakan:

    saya atas nama Bina Izzatu Dini, siswi SMP Putri Luqman Al-Hakim dengan ini menyatakan:
    SIAP UNAS 2009 DENGAN JUJUR DAN SIAP MENANGGUNG SEGALA RESIKONYA!

    Subhanallah. It is great! Be the first and THE BEST.

  2. abi ENHA mengatakan:

    SlmWrWb

    ALHAMDULILLAH, rasa syukur kami orangtua atas respons ananda Izza diatas. Satu bukti lagi, bahwa pola pendidikan integral ini telah melahirkan mujahidah/mujahid yg sangat dibutuhkan dalam pembangunan peradaban tauhid yg dicanangkan oleh HIDAYATULLAH. Kami para orangtua menunggu munculnya mujahidah2 muda lainnya dari lembaga ini.

    Kepada ustadzah RITA, ustadzah FENY, ustad NOVRI & ustad ANDRI beserta seluruh pengasuh SMP Putri sungguh kami telah berhutang tanggung jawab kepadamu. Dan didikan KERAS yg menempa putri2 kita laksana PALU BESI dengan sentuhan KASIH-SAYANG dan SETULUS DOA telah terbukti sudah hasilnya. Teruslah berjuang di jalan ini, karena masih banyak diperlukan bukti2 nyata bahwa panjenengan dan kawan2 di smp putri ini, telah melakukan pendidikan yang terbaik !

    Doa kami semua ……………………….

    Amin. Ditunggu pernyataan sikap dari 31 siswi kelas 9 SPiLuqkim yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s