Kisruh DPT dan SIM C AsPal


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Beberapa waktu belakangan ini, info seputar pemilihan calon anggota legislatif (Pileg) 2009 menjadi menu wajib di berbagai media massa. Saya (yang tiap hari baca TV, nonton koran) kok jadi mblenger lihat berita Pileg yang menghiasi televisi, koran, dan radio setiap hari. Mulai dari kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang diduga menjadi lahan penggelembungan suara dan hilangnya hak pilih jutaan WNI, ulah caleg yang stess karena minim perolehan suara, rombengan koalisi sana-sini, hingga ancaman boikot Pilpres. Padahal, trilyunan rupiah uang rakyat dihamburkan untuk ‘pesta demokrasi’ yang gak jelas kayak gini.

Karena kapasitas saya sebagai pengasuh dan pengelola sekolah, saya ingin memfokuskan artikel ini kepada fakta-fakta yang berkaitan dengan anak-anak didik saya. Apa hubungannya pemilu dengan anak SMP? Bukankah mereka belum memiliki hak pilih?

Begini loh…

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyusun DPT berdasarkan data-data dari Departemen Dalam Negeri (Depdagri) yang dibantu oleh pemerintah daerah untuk mengurusi masalah kependudukan. Seperti kita ketahui, sistem pemerintahan di negara kita memiliki hirarki kepemimpinan yang berjenjang. Mulai dari Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan (sistem presidensiil), Gubernur sebagai pimpinan provinsi, Walikota/Bupati yang memimpin kota/kabupaten, Camat mengepalai kecamatan, Lurah memimpin kelurahan, terus turun ke Ketua Rukun Warga (RW), dan Ketua Rukun Tetangga (RT). Semua data-data tentang kependudukan disusun oleh pemerintah dengan memanfaatkan badan, lembaga, dan dinas pada tingkat-tingkatan tersebut, kecuali RT/RW yang merupakan kepemimpinan informal.

Warga Negara Indonesia (WNI) dinyatakan memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu bila sudah berusia 17 tahun ke atas (atau sudah/pernah menikah, batas usia menikah adalah 16 tahun untuk perempuan). Pada usia 17 tahun tersebut seorang WNI wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang sekaligus mendapatkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai identitas pokok yang nantinya menjadi syarat untuk urusan-urusan administratif kenegaraan dan pemerintahan lainnya. Misalnya, membuat Surat Ijin Mengemudi (SIM), paspor, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), mendirikan perusahaan, menikah, mendaftar caleg/capres/cawapres, dan lain sebagainya. Dengan demikian, WNI yang terdaftar sebagai pemilih dalam pemilu telah berusia sekurang-kurangnya 17 tahun yang ditandai dengan kepemilikan KTP.

Bagaimana cara mengurus KTP?

Untuk bisa membuat KTP seseorang harus terdaftar dalam Kartu Susunan Keluarga (KSK) yang berisi data-data nama, tempat lahir, tanggal lahir, jenis kelamin, pendidikan, dan status dalam keluarga. Kemudian mengurus surat pengantar secara berjenjang mulai dari Ketua RT, Ketua RW, Lurah, baru selanjutnya ke Kecamatan yang berwenang menerbitkan KTP dan KSK. Dalam setiap tingkatan ada formulir dan biaya tertentu yang harus dikeluarkan (baca: potensi kolusi, korupsi, dan pungli).

Kembali ke sekolahan…

Suatu hari, kami guru-guru SPiLuqkim di bawah komando Koordinator Kesiswaan melakukan razia rutin terhadap barang-barang milik siswi. Mulai dari tas sekolah, tas bawaan, loker, hingga dompet, ponsel (waktu itu masih diizinkan), bahkan para asatidzah melakukan penggeledahan fisik ke tubuh siswi (di ruang tertutup, siswi ditutupi mukena/sarung, dan berhadapan 1 asatidzah versus 1 siswi). Waktu itu target kami adalah menemukan uang siswi yang hilang dan melacak siswi yang pacaran backstreet.

Tak dinyana, kami menemukan sebuah SIM C di dalam dompet salah satu siswi kelas VIII (angkatan 2007). Perlu diketahui, SPiLuqkim melarang siswi mengendarai kendaraan bermotor ke sekolahan karena memang secara hukum usia SMP belum bisa mendapatkan SIM (sebagai syarat berkendara di jalanan umum) jenis apapun. Namun, kami pun tahu siapa saja siswi yang curi-curi membawa sepeda motor ke sekolah dan menitipkannya di rumah-rumah sekitar kampus. Sayang, andai dibolehkan oleh pimpinan, saya ingin menggembosi ban sepeda motornya mereka agar jera. Kalau masih kurang, hendak saya rantai saja rodanya!

Dalam bank data Kesiswaan SPiLuqkim, diketahui rentang usia siswi kami berkisar antara 12 hingga 15 tahun. Sedangkan SIM C untuk sepeda motor mensyaratkan usia minimal 16 tahun (kira-kira kelas X SMA/SMK). Dus, larangan SPiLuqkim mengenai sepeda motor sebenarnya memiliki landasan hukum negara yang sangat kuat.

Lha, terus kok bisa oknum siswi tadi memiliki SIM C?

Modus operandinya kira-kira begini (ah, pasti para pembaca semua sudah pada tahu…)

Untuk mendapatkan SIM C, butuh KTP (usia 16 tahun boleh pake Kartu Pelajar). Kan belum cukup umur, tuh. Agar ‘kelihatan’ cukup umur, oknum ortu bekerja sama dengan oknum Ketua RT, oknum Ketua RW, oknum pejabat kelurahan, dan oknum pejabat kecamatan (pastinya pak/bu Lurah dan pak/bu Camat kan tidak mungkin melototi data warganya satu per satu) untuk mengubah tahun kelahiran anaknya. Misalnya, yang tadinya kelahiran bulan April 1995 (saat ini berusia 14 tahun) diubah menjadi bulan April tahun 1992 (menjadi 17 tahun). Setelah sepakat, pejabat kecamatan membuatkan KSK baru yang asli (tapi datanya palsu). Berbekal KSK itu kemudian diterbitkanlah KTP atas nama anak yang ‘dituakan’ tersebut.

KTP kelar, tancap gas ke markas Polres setempat untuk mengajukan SIM C. Sampai disini ada dua pilihan: jalur cepat atau jalur normal. Keduanya berimplikasi pada biaya yang dikeluarkan. Toh, pada akhirnya SIM C bisa keluar. Pihak kepolisian tidak akan ambil pusing tentang keabsahan data yang tertera di KTP karena itu bukan tugasnya.

Bisa ditebak, di setiap mata rantai oknum yang terlibat, pasti ada uang-uang panas yang beredar (baca: potensi kolusi, korupsi, dan pungli, lagi!). Konon (dari sumber yang tidak jelas), total jendral butuh tidak kurang dari 300 ribuan untuk mengurus mulai dari ‘nembak’ KSK hingga jadi SIM C.

Dengan bekal SIM C tersebut oknum siswa-siswi SMP bisa melenggang bebas di jalanan sambil mengendarai sepeda motor. Saya pernah bertanya-tanya, lha kan kelihatan seragam SMP-nya, pak Polantas tuh pada gak tahu apa gak mau tahu (pokoknya kelihatan punya SIM C dan asli, yo wis…)??! Atau gak bisa menghitung usia anak SMP??!

Jadi, menaati hukum di satu sisi (mendapatkan SIM C sebelum berkendara), secara bersamaan menginjak hukum di sisi lain (memalsu data KSK dan KTP).

Nah, jika para parpol dan caleg ribut soal DPT yang kacau: nama ganda, NIK ganda, orang wafat/pindah yang masih terdaftar, dan sebagainya, bagaimana dengan yang ini??? Para ‘penembak’ SIM ini kan otomatis juga terdaftar sebagai pemilih, oleh karena mereka sudah punya KTP, yang berarti dianggap sudah 17 tahun ke atas.

Saya pun bertanya-tanya, ada berapa ya jumlah oknum siswa-siswi SMP dan SMA yang ‘nembak’ KTP dan SIM seperti ini di seluruh Indonesia??! Jangan-jangan jumlahnya sudah cukup buat menyediakan satu kursi bagi satu orang caleg (paling tidak di DPRD kota)??!

Tapi yang paling memprihatinkan bagi saya adalah:

Sejak dini anak telah diajari untuk memalsu data. Dus, melakukan segala cara untuk mencapai tujuan oleh orang tuanya sendiri yang notabene adalah guru yang pertama dan yang utama…

(Pantes aja, diajari akhlak di sekolah sampai urat leher guru nyaris putus, always mendhal. Guru di sekolah kan kalah pamor dengan ortunya di rumah…)

Wallahu’alam

* Penulis adalah pengasuh dan pengelola SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Iklan

3 thoughts on “Kisruh DPT dan SIM C AsPal

  1. Doddy Winarto berkata:

    Assalamu’alaikum Ustad,
    Saya ikut prihatin kalo ada ortu yg kayak gini ini, mestinya dia khawatir atas keselamatan anaknya (yg belum cukup dewasa) di jalan raya, apa nggak mikir kalo anak seusia sekarang masih mudah ‘digoda’ atau dipengaruhi (bhs.jawa = digung-gung) yang akibatnya bisa fatal dan anak tsb juga tidak menyadari akan kerugian buat masa depannya.
    Kalo masalah sistem administrasi di negara kita Naudzubillah min dhalik bener2 rusak pak, susah kalo ustd sendiri yang ingin membenahi masalah moral bangsa ini, perlu ‘revolusi’ ! dan itu tugas kita bersama untuk memberantas ‘oknum-oknum’ yang tidak berperikemanusiaan maupun berperikebinatangan (ma’af).
    Mudah2an orang2 yang ‘sadar’ diberi kekuatan Allah SWT untuk dapat berhimpun dan dapat membentuk kekuatan untuk ‘revolusi’ tsb. Insya Allah.

    Mungkin, mengubah sebuah negara/bangsa sdh bukan kapasitas kami. Tapi plg tdk kami sdh berupaya memberikan penyadaran kepada ortu/wali siswi kami. Lebih minim lagi, plg tdk kami sdh menyuarakan adanya hal yg perlu kita benahi bersama.
    Terima kasih atas kunjungannya, Mr. Doddy 🙂

  2. Endangarahman berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Selamat berjuang bagi para pengasuh. Mudah-mudahan teori yang antum paparkan adalah hanya sebuah analisa yang tidak pernah terjadi di kalangan orang tua Sekolah Remaja Muslimah Berbasis Tauhid ini. Memang tugas berat ya, mendidik anank-anak menjadi insan tauladan. Sukses selalu buat para pengasuh…..
    Wassalamualaikum Wr Wb

    Wa’alaikumsalam wr. wb. Ust. Endang yg dirahmati ALLAH…
    Dgn sangat menyesal harus kami katakan, memang seperti itulah yg terjadi, meski hanya kasus khusus yg tdk secara general.
    Ikhtiar kami tdk hanya sebatas menanamkan nilai ke dalam diri siswi, namun seringkali kami harus berjuang memenangkan hati siswi agar pengaruh positif dari kamilah yg masuk ke dalam dirinya. Bukan pengaruh negatif yg lain.
    Doa dan dukungan serta masukan tetap kami harapkan dari para atasan dan senior selaku pembimbing kami, terutama dari ALLAH Swt.
    Terima kasih atas kunjungannya…
    Wasalamu’alaikum wr. wb.

  3. kenmahdi berkata:

    Kesal boleh-boleh saja mas,
    Tapi berniat menggembosi atau merantai motor kok kesannya kurang bagus ya. apalagi buat seorang pendidik.
    Smoga usahanya untuk memperbaiki akhlak anak didik berhasil.

    Pertama, kami toh tidak melakukan penggembosan. makanya kekesalan kami tumpahkan ke dalam artikel ini. Biar gak anarkis.
    Kedua, praktek penggembosan buat kendaraan yang melanggar kan bukan barang baru di Indonesia. Di SMP dan SMA saya dulu juga begitu (saya dulu belajar di sekolah negeri favorit, loh). Konon, di DKI Jakarta, kendaraan yang parkir sembarangan bakal digembok rodanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s