Menyambut Hardiknas 2009 dengan Kemunafikan


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Menjelang Hardiknas tahun 2009 ini, dunia pendidikan Indonesia disibukkan dengan agenda Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SMA/SMK/MA dan dilanjutkan dengan UAN tingkat SMP/MTs.

Saya tidak ingin menambah panjang daftar artikel yang menjelentrehkan bobroknya sistem pendidikan nasional maupun inkonsistensi pemerintah antara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlandaskan UU Sisdiknas dengan pelaksanaan UAN yang merenggut hak guru untuk mengevaluasi dan memutuskan kelulusan anak didiknya.

(Bisik-bisik di tingkat akar rumput: Mengapa kurikulum kerap gonta-ganti? Karena pesanan para penerbit buku agar tiap tahun buku bisa ganti. Mengapa UAN tetap dipertahankan meski bertentangan dengan UU Sisdiknas? Karena pesanan dari para bos pemilik Lembaga Bimbingan Belajar, LBB. Bahkan Depdiknas akan membuat Ditjen khusus yang membawahi LBB. Lagipula kalau dipikir-pikir, milyaran rupiah dana pelaksanaan UAN kan menggiurkan banget, tuh!)

Saya cuma ingin berbagi beberapa catatan sedih…

Satu pekerjaan yang (demi ALLAH) benar-benar ingin saya hindari akhirnya datang juga menimpa saya: MENJADI PENGAWAS UAN. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun

Jumat, 24 April 2009 seluruh pengawas UAN dikumpulkan di sekolah koordinator sub rayon untuk mendapatkan pengarahan. Seperti yang sudah saya duga, di antara poin-poin pengarahan adalah:
“Target pemerintah kota Surabaya adalah lulus UAN 100%, karena itu dimohon para pengawas untuk tidak terlalu memelototi para peserta UAN agar tidak grogi.”

(maksudnya biar tidak grogi saat hendak nyontek, ngrepek, atau bagi-bagi jawaban, gitu ta???)

Poin ini diulangi kembali pada Senin, 27 April 2009, UAN hari pertama, sebelum para pengawas bertugas di ruangannya masing-masing.

(saya ditugaskan mengawasi UAN di sebuah SMP berinisial “I” di kawasan Surabaya Timur)

Kamis, 30 April 2009, hari terakhir UAN, menjelang pukul 5 sore saya ditelepon salah satu siswi saya.

(meski di awal tahun 2009 ini sekolah kami berhasil meraih akreditasi A, oleh karena kesemrawutan administrasi, kami belum dapat menggelar UAN di kampus kami sendiri, terpaksa masih harus nunut di sekolah koordinator sub rayon)

Dia mengungkapkan, menjelang akhir-akhir jam ujian, salah satu pengawas di ruang 21 berbicara dalam bahasa Arab. Karena anak-anak gak mudheng, mereka bertanya apa maksudnya. Kemudian ia bicara dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini, “Karena ini hari terakhir, kalian saya ijinkan untuk bertanya jawaban kepada temannya untuk 1 atau 2 soal saja.”

Siswi kelas IX SPiLuqkim yang sejak awal di-set untuk jujur dalam setiap ujian (selama mereka belajar Fisika dengan saya, jika ada yang ketahuan curang saat ulangan, lembar jawabannya langsung saya rampas dan sobek, plus tidak lulus untuk materi tersebut tanpa hak untuk remedial) kontan saja tidak merespon “himbauan” tersebut, bahkan di antara mereka ada yang spontan ber-istighfar. Kecuali 1 orang oknum siswi yang ternyata membawa krepe’an.

(naudzubillah min dzalik, cacat produksi satu nih! Semoga ALLAH mengampuni kegagalan kami)

Di ruang itu ada 4 siswa putra dari SMP “X” yang berbagi ruangan dengan siswi SPiLuqkim (catat: bukan didikan SPiLuqkim!) yang ternyata merespon positif bisikan syaithon ar rojim tersebut. Ya sudah, selanjutnya mereka pada usreg bagi-bagi jawaban.

Ba’da maghrib, saya mengirim pesan singkat kepada salah satu siswi saya yang ujian di ruang 22. Saya tanya, “Gimana UAN di kelasmu? Anak-anak masih tetap istiqomah lurus?” Tak lama kemudian ia menjawab, “Alhamdulillah, istiqomah lurus Pak.” Saya pun bersyukur lega.

Hari ini, Jumat 1 Mei 2009, saat saya mengetik artikel ini, terlintas dalam pikiran bahwa besok adalah Hardiknas. Sekaligus terngiang-ngiang dalam pikiran tentang insiden-insiden yang saya alami ini. Prihatin, jelas!

Tahun 2008 lalu, beberapa oknum siswi angkatan 2005 belakangan mengaku berbuat curang saat UAN dulu dengan cara berbagi jawaban. Sebuah kenyataan yang sangat memalukan dan menusuk jantung saya serta meruntuhkan kebanggaan saya terhadap mereka. Konyolnya, saat mereka bertandang ke SPiLuqkim (Selasa, 21 April 2009) siang dengan maksud memotivasi adik-adiknya angkatan 2006 yang akan ikut UAN, salah satu oknum alumnus malah menghimbau adik-adiknya agar bekerjasama bagi-bagi jawaban saat UAN. Oknum alumnus itu memberikan “saran” menyesatkan itu seusai acara silaturrahim saat menunggu jemputan.

Mungkin, yang bisa saya syukuri saat ini adalah, paling tidak jumlah siswi SPiLuqkim yang curang saat UAN hanya tinggal satu (tahun lalu ada beberapa, meski saya tidak tahu persis jumlahnya).

Masalahnya, dunia pendidikan tidak bisa disamakan dengan dunia industri yang masih boleh mentolerir “cacat produksi” atas produknya. Jika dunia pendidikan concern terhadap pembentukan karakter dan pembangunan kepribadian (daripada hanya sekedar aspek kognitif belaka), cacat produksi berarti meloloskan oknum murid yang karakter dan kepribadiannya belum terbangun dengan baik, maka itu tidak bisa diterima.

Masalah ini akan teratasi jika di sekolah lanjutan (SMA/SMK/MA) nanti siswi tersebut dididik dengan lebih baik alias “didandani/dibenahi”. Tapi jika tidak, bahkan mungkin lebih parah, maka habislah sudah. Generasi pragmatis nan munafik yang menghalalkan segala cara akan semakin bertambah panjang.

Wallahu’alam

*Penulis adalah pekerja pendidikan di SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

4 thoughts on “Menyambut Hardiknas 2009 dengan Kemunafikan

  1. abi enha mengatakan:

    ‘innalillaahi wa inna ilaihi rojiun’

    ustad,
    Inilah potret buram (atau bahkan potret yang terkoyak-koyak) negeri ini. Dan salah satunya ‘pendidikan’ kita.

    Beberapa catatan saya :

    1. Perlu keteladanan dari orangtua, guru dan pelaku pendidikan untuk tetap istiqomah. Sekali teladan itu tercederai, anak2 kita akan mengalami disorientasi.

    2. Perlu lembaga pendidikan yang berkelanjutan, khususnya jenjang dasar dan menengah. Karena diusia inilah pembentukan karakter ini dimulai dan berkembang untuk selanjutnya menjadi bagian dari jati-diri yang positip

    Tampaknya memang kita belum dapat berharap banyak pada pemerintah sbg pemegang otoritas pendidikan di negeri ini. Oleh karenanya melalui kampus HIDAYATULLAH inilah (yang telah memposisikan sebagai lembaga da’wah dan pendidikan untuk membangun komunitas yang bertauhid) saya sebagai orangtua masih sangat berharap hingga detik ini !

    Semoga harapan ini tidak menjadi sia-sia ……………………

    InsyaALLAH kami bersama dengan panjenengan semua, dalam ikut mewujudkan cita-cita ini.

    Wallaahu a’lam

    Tentang keteladanan ortu, kami baru mendpt info dari siswi kami yg melaporkan kisah salah satu rekannya, siswi kelas IX SPiluqkim juga, sebut saja siswi A. Menjelang UAN, ortu dan famili siswi A tsb. sdh mendpt bocoran kunci jawaban, entah dari mana dan entah sejauh mana ketepatan jawabannya. Sekeluarga berusaha membujuk siswi A tsb utk memanfaatkan bocoran yg sdh di tangan itu. Naudzubillah min dzalik
    Tapi, Subhanallah, Maha Suci ALLAH, siswi A tsb. bersikeras menolak dan bertekad utk tetap jujur dan berusaha dgn kemampuannya sendiri. Dan kemudian itu dibuktikannya di UAN yg lalu!
    Kami salut, kami bangga, dan kami bersyukur atas keteguhan pendirian siswi A tsb. sebagaimana ke-30 siswi kami yg lainnya…

    • abi enha mengatakan:

      SUBHANALLAAH ternyata usaha panjenengan semua tidak pernah tersia-sia. insyaALLAH catatan indah (betapapun kecilnya) panjenengan pada nurani putri-putri kita akan terus membekas dalam sanubarinya. Semoga kami (para orangtuanya) juga mampu mencatatkan ‘sesuatu’ bagi nurani para mujahidah muda ini.

      …………………….
      berhenti, tiada tempat di jalan ini
      mereka yang bergerak
      mereka itulah yang menyongsong
      masa depan,
      yang berhenti
      (sejenak sekalipun),
      pasti tergilas
      ……………………………
      (m iqbal)

  2. Endangarahman mengatakan:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Saya salut dengan usaha yang telah dilakukan semua jajaran guru untuk membentuk karakter bertauhid. Di sisi lain tentunya prihatin dengan adanya cacat produksi, yang menunjukkan harus adanya perbaikan dan peningkatan kualitas proses. Di sini sy cuma ingin berbagi. Ada yang menarik dari Dr. Muhammad Iqbal buat kita tentang Visi ayahnya. Ada yang bisa kita petik dari ayah Dr. Muhammad Iqbal. Kepada Iqbal kecil, ayahnya memberi nasehat, “Bacalah Al- Qur’an seakan-akan ia diturunkan untukmu.”

    Tentunya banyak nasehat yang pernah diberikan ayahnya. Tetapi nasehat inilah yang membekas di dada Iqbal kecil sehingga mempengaruhi perkembangan jiwanya.

    Tentang nasehat ayahnya ini, ia memberi kesaksian.”Setelah itu,” kata Dr. Muhammad Iqbal menuturkan, “Al-Qur’an terasa berbicara langsung kepadaku!”

    Inilah nasehat yang sangat visioner. la mengingatkan hal-hal pokok yang apabila itu hidup dalam dirinya, maka seluruh pikiran dan tindakannya akan terwarnai. Hal yang sama berlaku untuk motivasi, dorongan belajar, nasehat tentang perilaku dan seterusnya. Ada nasehat yang hanya memiliki kekuatan satu dua jam, ada nasehat yang memiliki kekuatan satu dua minggu dan ada juga nasehat yang memiliki kekuatan hingga masa yang sangat panjang.

    Kemampuan memberi nasehat yang paling tepat untuk menggerakkan kebaikan dalam diri anak (baik kandung, didik maupun asuh}, kerapkali bukan lahir dari kecerdasan intelektual orang tua atau pengasuhnya. Betapa banyak anak- anak yang memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi, tetapi kualitas pengasuhan dan pendidikan yang ia (anak) terima hanya setingkat dengan mereka yang tidak mampu menamatkan pendidikan dasar yang paling buruk. Kenapa? Salah satu sebabnya, karena orang tuanya tidak punya visi dalam mengasuh dan mendidik.

    Tetapi harap diingat, lamunan yang tak diikuti dengan upaya yang keras, gambaran yang jelas dan tujuan yang kuat, bukanlah visi. la adalah angan-angan kosong. Tak bernilai.

    Mudah-mudahan semua oran tua bisa melirik dan mampir di blog ini, sebagai bahan renungan dan ruang untuk berbagi.

    Semoga Allah Ta’ala melindungi kita, beserta seluruh keturunan kita. Semoga kita semua dapat kembali kepada-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai-Nya.

    Allahumma amin.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Alhamdulillah. Bimbingan seperti inilah yang selalu kami tunggu dari para senior kami. Terima kasih. Mohon pantauan Ustad dengan sering mampir di blog smpputri

  3. eny's mengatakan:

    So, what’s the point? Did u disappointed be a teacher?

    Sedikit berbagi tentang diri sendiri ; lulus SD PUJA I saya ke SMP TAMAN SISWA, suatu sekolah yang tidak terkenal dan membuat kecewa pada mulanya. Sungguh diluar dugaan sekolah ini dengan sistem pamongnya, gurunya juga sudah sepuh mampu membekali saya tdk saja nilai akademis tapi juga nilai kehidupan. Dari semua jenjang sekolah yang saya lalui, sekolah inilah yang paling berkesan’
    Saya ingat betul nama guru: Pak Probo, Bu Siti, Pak Azis (rasa hormat saya yang dalam pada beliau). Beliau2 inilah meyakinkan saya untuk optimis meraih tempat yang baik dengan ” kehormatan” penuh, 3 dari angkatan saya masuk PTN ternama.
    Orangtua saya mengajarkan untuk “fair fight”, guna mendapatkan tempat terhormat. Sungguh saya beruntung; mereka ada disekitar.

    Nah, tidak ada BEKAS GURU , pendidik menanamkan nilai dan keteladanan pada siswa yang nantinya menjadi fondasi dirinya. Bila anda kecewa, maka anda adalah hanya pengajar (yang hanya memindahkan isi kepala) bukan pendidik.
    Sungguh beruntung anak didik anda, personil guru yang ada ditempat anda dengan keistiqomahannya pada akidah sungguh suatu aset yang luar biasa.
    Untuk PENGELOLA SPiLuqKim, JANGAN SAMPAI BELIAU-BALIAU INI DIBAJAK OLEH INSTITUSI PENDIDIKAN LAIN. Sungguh jangan sampai !
    Adakah keinginan anda untuk meninggalkan profesi ini krn kecewa? Akan ada berapa anak lagi yang “cacat produksi”?

    Mari kita peduli dan pikirkan bersama generasi di bawah kita. Di setiap tempat pasti masih ada yang peduli. Saya membangun mimpi bersama anak2 untuk menjadi muslimah sejati, semoga kelak atmosfir mereka mendukung untuk itu, Amin.

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Dear, Mrs. Eny…
    Kecewa? Tentu kami kecewa krn kami terjebak dlm situasi spt itu. Sedih krn kami tdk mampu berbuat lebih, meski kami sangat ingin, but we are just human, not more
    Sesungguhnya, kami malu. Krn di luar sana ada saudara kita, pesantren yg tegar berdiri dgn prinsipnya mempertahankan aqidah hingga memutuskan utk tdk ikut UAN semata-mata demi menjaga kelurusan santri-santrinya.
    Kami masih pny harapan besar, sebagaimana ketika dulu kami memutuskan utk memilih berjuang di lembaga ini. Krn kami yakin thd komitmen lembaga ini utk benar2 mewujudkan peradaban Islam.
    Kami hanya butuh bukti nyata dari komitmen itu, termasuk dari ortu/wali sebagai klien dan mitra kami.
    Akankah harapan kami kandas?
    Sampai kapan energi idealisme kami dpt bertahan?
    Wallahu’alam
    Tapi kami tdk pernah menyesal menjadi GURU. Di lembaga ini, ataukah dimana pun, tekad kami sdh bulat utk mengabdi kpd ALLAH sebagai pendidik. At least, that’s all we can do
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s