Be Nice to Our Parents


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

al-israa-231

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Israa’: 23)

Perhatikan! Larangan berbuat syirik (menyembah selain Dia – ALLAH) kemudian disandingkan dengan perintah berbuat baik kepada ortu. Hal ini bermakna bahwa berbuat baik kepada ortu dalam Islam memiliki urgensi yang sangat besar dan kedudukan yang sangat tinggi seperti halnya tidak menyembah selain ALLAH.

Suatu hari seorang ibu curhat kepada saya. Ceritanya, ia baru saja menangis gara-gara bertengkar dengan putri bungsunya. Ia mengaku (masih) sakit hati karena ucapan sang anak saat mereka berselisih paham. Naudzubillah min dzalik

Saya menyimak penuturan ibu tersebut dengan penuh empati. Saya berusaha menggali poin-poin penting dari keluhannya. Misalnya, saya tanyakan mengapa ibu sakit hati? Menurutnya, bagaimana seharusnya sikap seorang anak? Karena sudah terlanjur berbuat salah, apa yang ia inginkan dari anaknya?

(Selama mendengarkan curhat dari ibu tersebut, saya berusaha keras menahan air mata saya agar tidak jatuh. Terus terang, saya pun jadi teringat pada tingkah laku saya dulu kepada ortu yang mungkin tidak jauh-jauh beda dengan anak sang ibu ini. Baru pada kondisi seperti inilah saya bisa benar-benar merasakan sakit hatinya ortu jika mendapat perlakukan kasar dari anaknya. Mungkin karena saya sendiri sudah jauh lebih dewasa dan bertambah ilmu/hikmah. Mungkin karena saya mulai mengalami banyak hal dalam kehidupan terutama sejak saya hidup jauh dari ortu sekitar sebelas tahun belakangan ini. Mungkin juga karena hampir tiga tahun belakangan ini saya sudah menjalankan sebagian peran sebagai ortu yaitu ketika mengasuh siswi-siswi SPiLuqkim.)

Setelah cukup lama bercerita panjang lebar, beliau meminta tanggapan saya.

Pertama saya ingatkan ibu itu untuk sabar (btw, ia pernah berpesan kepada saya ketika menitipkan putrinya di SPiLuqkim agar banyak-banyak bersabar dalam membimbing siswi). Saya katakan, “Bukankah ibu dulu pernah menasehati saya agar bersabar dalam menghadapi siswi, lalu mengapa sekarang kok jadi ibu sendiri yang nggak sabar menghadapi anak ibu sendiri.” Mendengar kata-kata saya itu beliau tertawa kecil sembari mengiyakan perkataan saya.

Selanjutnya saya katakan agar beliau tidak terpancing emosi. Karena dalam keadaan emosi tinggi seseorang bisa saja melakukan hal-hal yang belakangan akan disesalinya, meski sekedar ucapan. Saya ingatkan beliau bahwa sebagai seorang ibu, doa-doanya kepada anaknya pasti akan didengar oleh ALLAH Swt. Bahkan, jangankan berdoa, seorang ibu yang baru mbhatin dalam hati saja tentang anaknya, kadang sudah kejadian beneran. Lalu saya ingatkan pula akan kisah Malin Kundang yang dikutuk ibunya menjadi batu. Saya katakan pada beliau tentang keyakinan saya bahwa ibu si Malin pasti menyesal telah mengutuk anaknya. Karena saya percaya, seburuk apapun tingkah laku anak, ortu pasti tetap sayang dan tidak ingin hal buruk menimpa anaknya.

Sang ibu yang saya ceritakan ini adalah figur seorang perempuan pejuang keluarga. Beliau lulusan SMA, menikah muda, dan memiliki tiga orang anak. Suaminya sudah sering sakit-sakitan sehingga tidak dapat menafkahi keluarganya secara penuh. Sejak beberapa tahun terakhir ini beliau menjadi tulang punggung keluarga dengan berdagang secara angsuran. Dari hasil jerih payahnya, ia sekeluarga, yang hidup menumpang di rumah salah seorang sanak famili, bisa hidup cukup walau sederhana sekali. Bahkan ketiga anaknya bersekolah di lembaga swasta sejak SD. Si sulung sekarang kuliah di salah satu PTS di Surabaya. Meski mendapat keringanan biaya sekolah tapi tetap saja beban yang beliau sandang tidaklah ringan.

Sebenarnya, beliau terbiasa dengan kehidupan yang keras. Karena profesinya itu setiap hari ia sering berhadapan dengan klien yang memperlakukannya dengan kasar. Meski demikian, beliau mengaku tetap tidak bisa menerima perlakuan kasar yang datang dari anaknya itu.

Nah, masih banyak lagi hal yang saya bahas bersama sang ibu tersebut. Termasuk sedikit masukan dari saya, selaku guru yang mengenal baik karakter putrinya, dalam mengatasi problem dengan putrinya (meski awalnya saya keberatan karena merasa belum cukup ilmu dan pengalaman dalam mengasuh anak, selain saya merasa tidak pada tempatnya untuk menasehati seorang ibu yang usianya jauh lebih tua).

Lewat artikel saya ingin berbagi curahan hati sang ibu. Saya berharap agar anak-anak remaja, khususnya siswi SPiLuqkim, dapat berakhlak lebih baik kepada ortunya serta terhindar dari larangan ALLAH sebagaimana tertuang dalam QS. Al Israa’ ayat 23 di atas. Sebenarnya tidak banyak yang diinginkan oleh ortu dari anaknya. Hal-hal berikut ini hanyalah sedikit ringkasan dari hasil ngobrol saya dengan ibu tadi. So, jika kamu memang benar-benar ingin menjadi anak yang sholeha, kamu wajib simak dan lakukan poin-poin berikut ini.

Mengambil peran dalam pekerjaan rumah

Di usia yang sudah memasuki akil baligh sudah sepatutnya seorang anak tidak lagi memposisikan diri sebagai pangeran atau tuan putri di dalam keluarganya yaitu ingin serba dilayani. Seorang remaja sudah harus mengambil peran aktif sebagai pengelola urusan rumah tangga. Sebut saja menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, membersihkan kamar mandi, dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya. Bahkan, jika ortu adalah wirausahawan, sudah waktunya si anak membantu usaha ortunya itu.

Misal, jika sang ayah adalah seorang penjahit, mungkin si anak bisa membantu mengobras kain, menyetrika baju yang sudah jadi, atau mengantarkan order baju ke pemesannya. Contoh lain, jika ortu punya warung, tidak berlebihan jika si anak ikut kerja berjualan di warung itu.

Sungguh naif jika anak merasa malu dan gengsi untuk membantu pekerjaan ortunya. Mengingat sejak kecil ia dihidupi oleh ortunya dari profesi itu. Bagi kalangan etnis Cina, justru cara sang ortu mengkader dan mewariskan bisnis keluarga dimulai dari menyuruh anaknya bantu-bantu seperti ini.

Bersegera dalam menyelesaikan pekerjaan yang diminta ortu atau yang menjadi kewajibannya

Omelan panjang dari ortu biasanya meluncur deras jika si anak tidak kunjung beranjak melakukan pekerjaan atau menunda-nundanya ataupun mengerjakannya dengan setengah hati alias ogah-ogahan binti gak niat. Keadaan akan makin runyam jika kemalasan anak ini masih dibumbui oleh bantahan atau celotehan dari si anak yang menyakitkan hati ortu. Naudzubillah

Contoh sepele, sepulang sekolah kan normalnya yang harus dilakukan adalah ganti pakaian, segera mandi (karena menjelang maghrib), bersiap sholat, atau membantu menyiapkan makan malam, atau lainnya. Tapi ternyata di usia SMP ini masih ada anak yang sepulang sekolah malah langsung ndhelosor di kamar, meraih ponsel, dan sibuk ber-SMS-an. Ataupun malas-malasan di depan televisi. Mengganti pakaian seragam masih harus diteriaki dulu, mandi harus diobrak-obrak, sholat fardhu mepet waktu sholat fardhu berikutnya, dan sebagainya.

Saya yakin, kamu sebagai anak pun sebel dan bosen diomeli ortu. Tapi kamu juga haram menghindar dari pekerjaan-pekerjaan rumah atau membantu ortu. Karena itu, satu-satunya cara agar tidak diomeli adalah segera melakukan hal yang disuruh ortu atau bereskan pekerjaan runtinmu sebelum ortu mengingatkan. Pokoknya ortu tahu beres.

Mandiri dalam menyelesaikan masalah

Jangan sedikit-sedikit minta bantu ortu, sedikit-sedikit manggil ortu, sedikit-sedikit nyerah. Wah, kalau saja dulu ortumu menyerah dengan segala problemnya dalam rumah tangga, mungkin kamu tidak akan lahir ke dunia ini. Karena ortumu putus asa dari dulu-dulu.

Ada ungkapan mengatakan, hidup memang penuh dengan masalah, jika tidak ingin masalah, maka jangan hidup. Lagipula, seninya hidup menjadi manusia adalah menghadapi dan membereskan segala masalah yang disodorkan ALLAH kepada kita dengan tetap berpegang teguh kepada syariat Islam. Apalagi?!

So, pasti ortu mau bantu kita menyelesaikan masalah anaknya. Namun, “menyelesaikan masalahmu dengan bantuan ortu” dan “menimpakan masalahmu kepada ortu untuk diselesaikan” adalah dua hal yang jauh berbeda. Dan seharusnya, semakin dewasa dirimu, semakin mahir pula kamu dalam menyelesaikan masalah, serta semakin sedikit keterlibatan ortu dalam masalah hidupmu. Dampaknya, kamu pun semakin independen dari ortu, yang artinya kamu siap hidup secara mandiri.

Mendengarkan nasehat dan masukan dari ortu

Memang, ortu hidup di era/zaman yang berbeda dari kita. Memang, problem yang kamu hadapi berbeda dari ortumu. Memang, kamu yang lebih tahu tentang masalahmu dari ortumu.

Tapi, jangan pernah merendahkan atau meremehkan ortumu, apalagi menganggapnya katrok. Selain gak sopan, awas dosa!

Yang perlu kamu tahu, sebenarnya masalah manusia dari zaman Datuk Adam as dulu hingga nanti dunia kiamat, sama saja. Hanya detil dan pernik-pernik saja berbeda. Mungkin wujud masalahnya beda, tapi hakekatnya tetap sama.

Nah, terlepas dari apapun latar belakang ortu, beliau adalah orang-orang yang sudah pernah mengalami banyak hal dalam hidupnya. Bahasa kiasannya, sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Pasti ada banyak hikmah yang bisa kamu pelajari. Walaupun belum tentu relevan dengan masalahmu atau tidak dapat memecahkan masalahmu secara langsung, paling tidak nasehat dari mereka bisa dapat menambah khazanah berpikirmu. Siapa tahu suatu saat berguna.

Satu lagi, dengan sering-sering ngobrol bersama ortu dan mendengarkan kisah hidup mereka, bisa membuat hubungan dan ikatan batin di antara ortu dan anak. Kedekatan emosional ini pun menguntungkan buat kalian sebagai anak. Percaya deh, dengan kalian sering-sering mendengarkan ortu, lama-lama ortu pun akan membuka diri untuk mendengarkan kalian.

Bertutur kata dengan lembut dan santun

Poin terakhir ini adalah aplikasi langsung dari QS. Al Israa’ ayat 23 di awal. Yang perlu kamu ketahui, bertutur kata dengan lembut dan santun ini bukan masalah kepribadian. Tapi bisa dilatih dan dibiasakan (btw, saya sendiri juga masih latihan untuk yang satu ini, karena rekan-rekan guru maupun siswi sering komplain dengan nada bicara saya yang katanya medheni).

Bisa dimengerti, seringkali kamu sebagai anak dalam keadaan letih, stres, ataupun banyak kerjaan. Lalu tiba-tiba ortumu menyuruh mengerjakan sesuatu. Dalam keadaan begini biasanya kamu, entah sadar atau nggak, kamu spontan membantah. Padahal itulah yang dilarang oleh ALLAH.

Terus gimana?

Sebenarnya bisa kok disiasati tanpa kamu harus jadi anak durhaka. Caranya, tahan dulu segala komentar, wis pokoke waktu ortu kasih perintah, dengarkan dulu dan jangan dibantah. Misalnya, kamu lagi asyik kerjakan PR (atau pekerjaan lain yang memang penting, bukannya kamu lagi nonton tv atau males-malesan), tiba-tiba ibumu menyuruh beli obat ke warung sebelah. Setelah beliau selesai bicara, baru deh kamu merespon. Kamu bisa bilang begini, “Baik, Bu. Insya ALLAH segera aku kerjakan. Boleh nggak aku selesaikan dulu satu soal lagi. Tanggung, nih. Keburu lupa. Ya, Bu?”

Intinya kamu harus betul-betul sadar dan memang berniat kuat menjadi anak sholeha. Lalu menahan diri dari tindakan atau ucapan yang bisa memancing emosi ortu. Setelah itu, belajarlah bicara secara diplomatis, bukan melawan. Meski kamu dan ortu beda pendapat, atau meski kami nggak setuju dengan kemauan ortu. Pandai-pandailah menyampaikan pikiranmu dengan tutur kata yang lembut dan santun. Insya ALLAH, konflik dengan ortu bisa terhindar dan kamu dengan mudah meraih ridho dari ortumu yang otomatis ridho dari ALLAH juga.

Be nice to your parents, gals

* Penulis adalah pengasuh dan pengelola SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s