Learning from the Trouble, the Pain, and the Sorrow


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Suatu hari seorang anak kecil sedang bermain di taman. Tengah asyik bermain perhatiannya tiba-tiba tertuju kepada suatu pemandangan yang unik dan langka. Di ranting sebuah tanaman perdu ia melihat seekor calon kupu-kupu yang baru saja menyelesaikan fase kepompongnya dan berusaha keras keluar dari selubung kepompong. Tubuh kupu-kupu itu cukup besar bila dibandingkan dengan sempitnya lubang kepompong. Akibatnya sang kupu-kupu harus bersusah payah keluar dari lubang sempit itu. Karena iba, sang anak kecil berusaha membantu dengan menyobek sedikit selubung kepompong itu hingga terbentuk lubang yang cukup besar bagi sang kupu-kupu untuk dapat keluar. Benar saja, kupu-kupu itu dengan mudahnya keluar. Sang anak kecil tersenyum dan meninggalkan kupu-kupu muda itu dengan perasaaan puas karena merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Yang ia tidak tahu adalah tidak berapa lama kemudian kupu-kupu itu mati tanpa sempat mengepakkan sayapnya.

Maha Suci ALLAH yang telah mengatur setiap fase kehidupan setiap makhluk ciptaan-Nya dengan sedetil-detilnya dan tanpa kesalahan sedikit pun.

Konon menurut para pakar serangga, proses susah payah keluar dari lubang sempit kepompong yang harus dilalui kupu adalah sebuah rancangan cerdas alam yang bertujuan agar darah di dalam tubuh kupu-kupu dipaksa mengalir ke seluruh tubuh terutama sayap yang harus segera berkembang agar ia dapat terbang.

Kisah di atas sudah sering disampaikan oleh para trainer, motivator, maupun dai kondang. Sebuah upaya bantuan yang niat awalnya baik ternyata justru berakhir tragis. Tidak saja merugikan yang dibantu, bahkan berujung pada maut.

Berkaitan dengan remaja usia SMP, kami selaku pengasuh masih menemukan perlakuan-perlakuan yang overprotective dari para ortu kepada anak-anak gadisnya. Semua masih menggunakan alasan klise yang sama, “Dulu kami (ortu) hidup serba susah. Kami tidak ingin anak-anak merasakan kesusahan seperti kami dulu. Karenanya kami upayakan segala cara agar anak kami hidup bahagia dan tidak kesusahan.”

Akibatnya cukup fatal. Bahkan di usia yang akil baligh, ada anak yang masih bingung memilih pakaian kalau tidak dipilihkan ibunya. Memilih baju saja repot, bagaimana nanti memilih hal-hal yang lebih rumit dan penting???

Jika menyimak kisah hidup orang-orang sukses, maka kita tidak akan menemukan satu pun di antara mereka yang dimulai dengan kenyamanan. Semua merasakan kesulitan (trouble), rasa sakit (pain), dan kesengsaraan (sorrow, dalam bahasa Jawa dilafalkan ‘soro’). Adri Wongso pernah mencoba semua profesi sebelum menjadi motivator kondang. Bob Sadino pernah berjualan telur sebelum menjadi raja supermaket. Dahlan Iskan pernah meloper koran sebelum menjadi taipan media Jawa Pos Grup.

Dalam catatan saya, 24 dari 25 rasul ALLAH yang wajib kita imani pernah menjadi gembala domba (hanya Nabi Sulaiman as yang mewarisi kerajaan). Junjungan kita, Rasulullah Muhammad saw., tidak kurang soro-soronya sejak kecil. Ketika mereka berjuang menyiarkan Islam, semuanya mengalami yang namanya kesengsaraan dan berbagai kesulitan. Tapi lewat soro itulah ALLAH menempa dan membangun karakter seorang imam besar bagi umat penutup zaman.

al baqarah 155

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah: 155)

Bagi SPiLuqkim, urusan membangun karakter inilah yang benar-benar menguras segenap energi yang ada. Bukan sekedar menjadikan mereka seorang muslimah yang santun, berbakti, dan taat ibadah. Lebih berat lagi, mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan di masa depan.

Saya pernah memberikan tugas menyusun laporan praktikum Fisika dengan format standar ilmiah. Tugas ini dikerjakan berkelompok selama lebih kurang dua minggu. Pada hari H pengumpulan naskah, salah satu ayah siswi menemui saya. Beliau juga menyerahkan naskah laporan yang menjadi tanggung jawab anaknya sembari mengutarakan keluh kesahnya terhadap kelakuan anaknya belakangan ini. Intinya, dia seolah menyalahkan saya yang memberikan tugas tersebut. Dia bilang, “Saya lebih memilih menyelamatkan keutuhan keluarga saya daripada sekolah.” Bahkan hari itu anaknya di-grounded dengan tidak boleh masuk sekolah. Aneh, kan? Saya tuh niatnya memberikan tugas Fisika kok malah dituduh hendak menghancurkan keluarga orang lain.

Setelah saya coba telusuri alur ceritanya, rupanya ada kesimpulan yang unik. Di satu sisi, sang anak (siswi) punya kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas dari saya. Tetapi di sisi lain ia belum mahir me-manage keadaan. Misalnya, ia mengambil alih hampir sebagian besar pekerjaan yang seharusnya bisa didistribusikan ke semua anggota kelompok karena ia ingin memastikan segalanya beres. Akibat keteteran dengan kerjaan laporan yang menumpuk, tugas rutin di rumahnya jadi terbengkalai. Buntutnya, ia terlibat konflik dengan ibunya. Belum termasuk pulang telat dan sholatnya yang tidak tepat waktu karena mbelani mengerjakan laporan.

Jadi, dimana salah saya???

Memang, tujuan saya memberikan penugasan semacam laporan ataupun makalah ataupun presentasi adalah lebih dari sekedar mendalami masalah-masalah Fisika saja. Karena dalam proses menyusun laporan atau makalah siswi akan berhadapan dengan masalah-masalah nyata kehidupan yang tidak ada di dalam kurikulum manapun. Ya termasuk contoh siswi di atas, bergelut problem dengan kelompoknya, orang tuanya, tugas-tugas rutin di rumahnya, manajemen waktu, mengatur prioritas, dan lain sebagainya. Jadi, bagi saya, jika ada siswi yang mengeluhkan kesulitan yang mereka hadapi saat mengerjakan tugas, saya justru berseru, “Alhamdulillah…” Karena dengan begitu (mestinya) mereka belajar sesuatu.

Lain kasus, untuk PR biasanya saya memberikan tenggat waktu dua minggu dan dikumpulkan pada hari tertentu tepat pukul tujuh. Siswi yang telat menyerahkan, saya tolak. Pernah seorang ibu datang dan complain tentang prosedur yang saya tetapkan tersebut. Masalahnya, anaknya ikut jasa antar jemput sekolah dan karena pelanggan didominasi siswa SDLH ia selalu dijemput belakangan. Akibatnya setiap hari ia terlambat datang ke sekolah untuk ukuran SPiLuqkim yang masuknya pukul 07.15 WIB (sementara SDLH masuk pukul 07.30 WIB.). Jadi mana bisa menyerahkan tugas tepat pukul tujuh?!

Sebenarnya itu pun masalah yang sangat sepele dan bisa dengan mudah diatasi. Bagaimana? Ya, kumpulkan saja PR Fisikanya sehari sebelum deadline, beres kan???

Satu kasus lagi… Pada pelajaran Tata Boga, setiap siswi di kelompoknya kebagian membawa peralatan atau bahan untuk praktik. Salah satu ibu pernah mengeluh setiap hendak praktik, malam sebelumnya harus pontang-panting mencarikan bahan masakan dan juga menyiapkan alat-alat yang harus dibawa.

Yang saya tahu, guru pembimbing Tata Boga selalu memberikan materi dan persiapan seminggu sebelum praktik. Jadi semestinya siswi bisa segera bagi-bagi tugas dan mengkomunikasikan dengan baik kepada ortunya tentang barang-barang yang menjadi kewajibannya. Tapi sayangnya, saya pernah memergoki sendiri mereka baru koordinasi pada hari Senin, padahal jadwal pelajaran Tata Boga adalah hari Selasa esoknya. Pernah pula ortu datang ke sekolah di hari Selasa untuk mengantarkan alat dan bahan untuk anaknya praktik dan ia harus bela-belain meninggalkan pekerjaannya.

Saya coba mendalami kisah si ibu yang satu ini. Saya tanyakan, “Mengapa kok ibu yang pontang-panting? Kan anaknya yang sekolah? Biarin aja dong dia yang menyiapkan sendiri semuanya. Ibu cukup mengarahkan saja. Mungkin perlu mengantar belanja bahan yang dibutuhkan.” Dari jawabannya, ada beberapa poin:

Pertama, ia tidak tega karena melihat anaknya kelelahan.

Kedua, ia menganggap anaknya masih belum pengalaman.

Ketiga, ia ingin segala sesuatunya cepat beres karena kalau ditangani anaknya sendiri malah tidak beres (kalau tidak beres ia takut anakanya dimarahi gurunya di sekolah)

Tanggapan saya…

Pertama, “Ibu, yang namanya tidur saja bisa lelah kok. Apalagi belajar. Ya biarlah dia merasakan itu. Mudah-mudahan dia jadi paham bagaimana lelahnya ortu membiayai sekolahnya dan adik-kakaknya.”

Kedua, “Ibu, segala sesuatu selalu ada saat pertamanya. Kapan ia akan dapat pengalaman kalau ibu terus-terusan mengambil alih tugasnya?”

Ketiga, “Ibu, di SPiLuqkim ini guru yang paling galak adalah saya. Kalaupun saya marah, hanya sekedar di mulut dan tatapan mata saja. Tidak akan pernah sampai melakukan kekerasan fisik. Kenapa takut dimarahi? Itu kan salah satu pelajaran buat dia untuk menerima konsekuensi jika tidak beres menjalankan amanah. Lagipula itu hanya prasangka Ibu saja. Jika memang khawatir tidak beres, ya mestinya Ibu ajari dong dia caranya supaya beres.”

Masih banyak kasus dan insiden lainnya yang unik.

Sayangnya, memang kendala yang kami hadapi dalam membangun karakter siswi tidak jarang justru berasal dari ortu sendiri. Mereka lebih suka ‘ngelabrak’ guru dan sekolah jika merasa anaknya ‘disoro-soro’ daripada membimbing anaknya untuk me-manage setiap masalah dan memotivasi mereka untuk tegar, sabar, dan tabah dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Mungkin, mereka lupa bahwa sekecil apapun langkah yang kami rancang selaku pengasuh dan pengelola SPiLuqkim, insya ALLAH, sudah bertujuan mendidik. Meski itu terkesan sulit, njlimet, soro, mbulet, dan sejenisnya.

Pengalaman kami membuktikan:

Pertama, belajar tidak hanya dari hal yang enak-enak atau yang baik-baik saja. Dari yang tidak enak pun kita bisa belajar. Bahkan mungkin efeknya bisa lebih manjur dan mengena. Saya termasuk tidak setuju terhadap ortu dan guru yang tidak pernah memarahi (termasuk menghukum) anak/siswanya. Bagaimana dia bisa paham tentang makna ‘mempertanggungjawabkan perbuatan’ jika setiap kesalahan tidak pernah membawa konsekuensi, minimal dimarahi??? Tapi marah yang bagaimana? Kata Aristoteles: “Marah di saat yang tepat, dengan kadar yang sesuai, dengan cara yang benar, dan dengan tujuan yang baik.”, itulah tantangan bagi para pendidik (ortu dan guru).

Kedua, karakter dan kreatifitas justru akan terasah dan terpacu dalam kondisi yang serba sulit dan kekurangan serta dihimpit oleh tuntutan kebutuhan yang tinggi dan mendesak. Jangan harap anak paham tentang hikmah puasa jika perutnya kenyang. Jangan bicara pentingnya mengatur keuangan jika ATM dan kartu kreditnya selalu penuh dengan fulus dan anak tidak pernah mengalami sendiri sulitnya mencari nafkah. Jangan berpikir tentang tanggung jawab jika anak tidak pernah diserahi tugas rumah (menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian, dsb.).

Percayalah, anak yang bergelimang fasilitas justru tidak akan jadi ‘orang’ sama sekali. Justru pemanjaan yang ortu lakukan kepada anak malah membunuh potensi kemanusiaannya. Anak akan jadi seperti hewan peliharaan yang hidup dalam sangkar emas.

Saya punya pertanyaan buat ortu yang senantiasa memanjakan anak dengan fasilitas, overprotective, maupun berpikiran untuk menjauhkan segala masalah dan kesulitan dari kehidupan anaknya:

Apakah Anda (ortu) yakin akan hidup lama dan berumur panjang untuk mengantarkan anak Anda sampai bisa mandiri? Kapan Anda berharap anak Anda bisa mandiri kalau tidak mulai hari ini? Tidakkah Anda pernah mengira semenit lagi Anda bisa mati? Tidakkah Anda pernah berpikir, tanpa Anda, anak akan hidup seperti apa (di luar masalah materi)?

al insyirah 5

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

al insyirah 6

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al Insyirah: 5 – 6)

* Penulis adalah pengasuh dan pengelola SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Iklan

One thought on “Learning from the Trouble, the Pain, and the Sorrow

  1. dzurriyatil Muhlisoh berkata:

    sungguh sangat mengesankan, yang sdh hilang q ketemukan kembali tapi sayang anak2 sdh pada mengerti hukum dan memang ada banyak pengacara yg selalu siap membantun, sehingga dimarahi sedikit saja, guru harus siap menghadapi mutasi atau pecat …….., aah.. …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s