Hormati Gurumu!


(dari hidayatullah.com)

Tiap bulan lahir ratusan doktor dan kaum professional di dunia dari rahim dunia pendidikan. Namun berapa banyak murid yang menghormati guru-guru mereka?  Saat ini, era di mana sikap santun dan hormat  yang telah menipis bagi banyak orang untuk menghormati jasa guru. Tak sedikit orang cerdik pandai lahir ke dunia namun mereka lupa seolah-olah kepandaian dan kekayaan ilmunya jadi dengan sendirinya tanpa sentuhan dan doa para guru-guru mereka yang mengajarkan secara ikhlas.

Padahal Islam sangat juga menganjurkan agar umatnya memberikan pengormatan kepada para ulama dan guru-guru mereka.

Begitu pentingnya sikap dan penghormatan terhadap para guru-guru bagi para pencari ilmu (murid), maka di dunia pesantren diajarkan kitab Ta’lim Muta’allim.  Dalam kitab ini diajarkan bagaimana cara menghormati guru antara lain disebutkan; tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, bila dihadapan gurunya tidak memulai pembicaraan – bahkan mencari ilmu lain — kecuali atas izinnya. Intinya, sang murid haruslah mencari keridhaan dari gurunya. Itulah salah satu di antara adab dan kesopanan antara murid dan guru dalam khasanah Islam.

Diriwayatkan oleh Imam At Thabrani, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda:

Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu.

Ilmu tidak akan bisa diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu’ si murid terhadap gurunya, karena keridhaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu. Sehingga Imam Al Munawi di Faidh Al Qadir (3/253) dalam mensyarh hadits di atas menyatakan bahwa tawadhu’ murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian kemuliaan si murid.

Tunduknya kepada guru justru merupakan izzah dan kehormatan baginya. Perilaku para sahabat, yang memperoleh pendidikan langsung dari Rasulullah SAW layak untuk dijadikan suri tauladan.  Ibnu Abbas, sahabat mulia yang amat dekat dengan Rasulullah mempersilahkan Zain Bin Tsabit, untuk naik di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntunnya.

“Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami”, ucap Ibnu Abbas. Zaid Bin Tsabit sendiri mencium tangan Ibnu Abbas. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ahli bait Rasulullah,” balas Zaid.

Imam Al Munawi juga menjelaskan, bahwa As Sulaimi pernah menceritakan pengormatan orang-orang terdahulu terhadap ulama mereka. Pada zamannya, orang-orang tidak akan bertanya sesuatu kepada Said bin Musayyab, faqih tabi’in, kecuali meminta izin terlebih dahulu, seperti layaknya seseorang yang sedang berhadapan dengan khalifah.

Rupanya, sifat ini juga “menurun” kepada para ulama. Tengoklah bagaimana rasa hormat Imam Abu Hanifah kepada guru beliau. “Aku tidak pernah shalat setelah guruku, Hammad, wafat, kecuali aku memintakan ampun untuknya dan untuk orang tuaku”. Rupanya perbuatan  ini “menurun” juga kepada Abu Yusuf. Murid Abu Hanifah, ia selalu mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan kedua orang tuanya sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Manaqib Al Imam Abu Hanifah, oleh Al Muwaffiq Al Khawarizmi (2/7).

Pengormatan Imam As Syaf’i kepada guru beliau Imam Malik, juga bisa kita ambil pelajaran. “Di hadapan Malik aku membuka lembaran-lembaran dengan sangat hati-hati, agar jatuhnya lembaran kertas itu tidak terdengar”. Rabi’, murid Imam As Syafi’i juga tidak ingin gurunya itu melihatnya ketika sedang minum, sebagaimana diebutkan Al Munawi dalam Faidh Al Qadir (3/352)

Dalam Tarikh Al Baghdadi (2/62,66) disebutkan, Abdullah, putra dari Imam Ahmad bertanya kepada ayahnya. “Syafi’i itu seperti apa orangnya, hingga aku melihat ayah benyak mendoakannya?”. “Wahai anakku, Syafi’i seperti matahari bagi dunia.”, jawab Ahmad bin Hanbal. Sebagaimana disebutkan beberapa riwayat, bahwa selama tiga puluh tahun Imam Ahmad mendoakan dan memintakan ampunan untuk guru beliau Imam As Syafi’i.

Dengan guru beliau yang lain pun demikian. Imam Ahmad pernah berguru juga kepada Husyaim bin Bashir Al Wasithi selama lima tahun. ”Aku tidak pernah bertanya kepadanya, kecuali dua masalah saja karena rasa hormat.” Kisah ini disebutkan dalam Al ’Ilal fi Ma’rifati Ar Rijal (1/145).

Sikap hormat dan tawadhu’ mereka kapada para guru amat tinggi, bahkan dalam berdoa sendiri mereka mendahulukan para guru, baru kemudian orang tua. Kenapa dimikian? Imam Al Ghazali menjelaskannya dalam Al Ikhya’ (1/55). ”Hak para guru lebih besar daripada hak orang tua. Orang tua merupakan sebab kehadiran manusia di dunia fana, sedangkan guru bermanfaat bagi manusia untuk mengarungi kehidupan kekal. Kalaulah bukan karena jeri payah guru, maka usaha orang tua akan sia-sia dan tid bermanfaat. Karena para guru yang memberikan manusia bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal”.

Saat ini, adab yang dicontohkan para ulama salaf ini sudah hampir pupus karena terkikis oleh kebodohan, sehingga tidaklah heran jika ada pencari ilmu yang mencela gurunya sendiri, dikarenakan berbeda pendapat dalam masalah furu’. Sejauh apapun perbedaan kita, guru tetaplah guru. Nah, mudah-mudahan kita tidak termasuk dari golongan yang seperti ini.  [tho/www.hidayatullah.com

Iklan

2 thoughts on “Hormati Gurumu!

  1. Izza '06 berkata:

    ”Hak para guru lebih besar daripada hak orang tua.”
    tapi kenapa saat Rasul ditanya, yang dijawab pertama kali adalah “Ibu”, dan bukan “Guru”?

    Dear, Ananda Izza
    Kami sdh sangat merindukan pertanyaan-pertanyaan cerdas nan kritis dari Ananda. Terima kasih sdh menyempatkan diri kembali sowan ke blog ini.
    1. Memang, terkadang ajaran Islam seolah terlihat tumpang-tindih atau kontradiktif. Karena itu Ananda hrs mempelajarinya secara mendalam, tdk hanya sekedar membaca teksnya saja. Tips: PAHAMI KONTEKSNYA.
    2. Artikel ini disandarkan pada riwayat dan kisah para sahabat, imam, orang-orang sholeh (yg memiliki integritas sangat tinggi) sesudah Rasulullah saw. Karenanya sikap, ucapan, dan perilaku mereka bisa dijadikan tolok ukur atau (paling tidak) inspirasi bagi kita kaum muslimin, bukan sebuah ketetapan yg menjadi landasan syariat Islam sebagaimana Quran dan Hadits.
    Sedangkan perintah memuliakan ortu bersandar kepada Quran dan hadits shahih Rasulullah, sehingga memiliki prioritas yg lebih tinggi.
    3. Perhatikan pula pemaknaan frasa ‘orang tua’. Apakah arti ‘orang tua’ menurut Ananda Izza? Apakah makna ‘orang tua’ adalah ayah yg memberikan spermanya utk membuahi ovum dari ibunda yg sekaligus mengandung Ananda selama 9 bulan (‘orang tua’ biologis) semata? Ataukah ‘orang tua’ adalah orang-orang menjalankan peran mengasuh, membesarkan, dan mendidik Ananda? Berlebihankah jika guru disebut juga sebagai ‘orang tua’ meski darah mereka tidak mengalir dalam urat nadi Ananda?
    4. Perhatikan kelanjutan dari kalimat-kalimat yang Ananda kutip:
    …Imam Al Ghazali menjelaskannya dalam Al Ikhya’ (1/55). ”Hak para guru lebih besar daripada hak orang tua. Orang tua merupakan sebab kehadiran manusia di dunia fana, sedangkan guru bermanfaat bagi manusia untuk mengarungi kehidupan kekal. Kalaulah bukan karena jeri payah guru, maka usaha orang tua akan sia-sia dan tid bermanfaat. Karena para guru yang memberikan manusia bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.”
    Nah, kalimat ini seharusnya menjadi inspirasi bagi para ‘orang tua biologis’. Betapa indahnya jika mereka juga dpt berperan sekaligus sebagai guru bagi anak-anak mereka. Ibu (orang tua) adalah guru yang pertama dan utama bagi anaknya.

  2. […] terkait: Hormati Gurumu! Tidak Perlu Malu Berkata “Tidak […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s