Remember These, When You Come to Other’s House


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Ada-ada saja problem yang dicurhatin ke saya. Kadang masalah yang sangat berat hingga memperbanyak rambut saya yang rontok. Kadang sesuatu yang sepertinya sangat sepele. Tetapi bagi orang lain cukup rumit dan bikin pusing.

Seperti baru-baru ini, dua orang sekaligus share masalah yang mirip kepada saya. Pertama, seorang ibu yang mengeluh tetangganya suka nyelonong masuk ke rumahnya meski tidak ada orang atau bahkan saat keluarganya sedang istirahat siang. Kedua, sahabat lama saya yang juga seorang pengelola pondok pesantren (di sebuah kota di Jawa Timur) mengeluhkan rekannya dari unit lain (B) yang masuk ke ‘wilayahnya’ meski di saat unitnya (A)  sedang libur dan tidak ada yang piket. Ngapain? Menurut teman saya, biasanya pinjam sesuatu. Tetapi yang terakhir kali beberapa rekannya mengadakan rapat (bersama pimpinan B) di ruang unitnya di saat libur dan ia tidak pernah mendapat pemberitahuan termasuk pula pimpinan unitnya (A).

Saya coba buka-buka kitab tentang adab. Subhanallah… Ternyata hasilnya sangat mencengangkan! Hal yang terlihat sepele ini mendapat perhatian yang luar biasa dalam Islam.

Dalam kitab suci Quran monggo dibuka QS. An Nuur ayat 27:

an nuur 27

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.

Kemudian lanjutannya (masih surat yang sama) di ayat 28:

an nuur 28

Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Berikut kutipan beberapa hadits shahih yang juga membahas masalah ini:

Apabila seorang bertamu lalu minta ijin (mengetuk pintu atau memanggil-manggil) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak dibukakan pintu) maka hendaklah ia pulang. (HR. Bukhari)

Barangsiapa mengintip-intip rumah suatu kaum tanpa ijin mereka maka sah bagi mereka untuk mencolok matanya. (HR. Muslim)

Seorang tamu yang masuk ke rumah suatu kaum hendaklah duduk di tempat yang ditunjuk kaum itu sebab mereka lebih mengenal tempat-tempat aurat rumah mereka. (HR. Ath-Thabrani)

Nah, perlu saya tegaskan dulu bahwa saya bukanlah ahli tafsir Quran maupun tafsir hadits.

Akan tetapi, pernyataan dalam ayat dan hadits di atas sudah amat sangat jelas dan gamblang serta tidak perlu ada perdebatan tentang tata krama berkunjung ke rumah orang lain.

Jadi, untuk orang pertama yang curhat ke saya (sang ibu), masalah prinsip sudah beres. Tinggal menemukan strategi jitu untuk mendakwahi si tetangga yang hobi ‘SLONONK BOY‘ itu.

Tinggal masalah orang kedua yang curhat ke saya (sahabat). Gimana, nih? Apakah ‘rumah pribadi’ boleh dianalogikan dengan ‘kantor’ atau ‘unit’ yang menjadi tanggung jawab kita? (Untuk yang ini, saya mohon urun rembug dari pembaca yang mendalami hukum syariat)

Konteksnya mungkin berbeda dari kasus tetangga yang nyelonong rumah orang tanpa permisi tadi. Kita bisa membawanya ke dalam konteks ‘tolong menolong’ dan ‘pinjam-meminjam’. Untuk menjawab keluhan sahabat saya itu, saya menceritakan pengalaman kami (SPiLuqkim) sendiri yang semoga bisa menjadi contoh baik (jika memang baik).

Sebagai pengelola sebuah unit sekolah bukanlah hal yang luar biasa ketika kita saling pinjam-meminjam sarana dan fasilitas di antara unit dalam sesama institusi. Sadar diri sebagai unit terkecil dan termuda di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, kami (SPiLuqkim) sudah gak kurang-kurang banyak  ngerepoti unit-unit ‘kakak’ kami yang lain (Kantor YPPH, KB/TK Yaa Bunayya, SDILH, SMP/SMA Putra LH, STAIL, BMH, SAHID, MUSHIDA, Koperasi Wahidah, dsb). Karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi kami ‘membalas’ dengan balik membantu ‘kakak-kakak’ kami saat mereka membutuhkan fasilitas dan sarana yang kami miliki. Toh, keberadaan kami juga lewat ‘tangan-tangan’ mereka yang dulu merintis SPiLuqkim.

Sebagai contoh, sejak tahun lalu kami membantu STAIL menyediakan ruang kelas untuk kuliah Program Akta IV setiap hari Sabtu dan Ahad. Di masa yang lalu, ruang kelas kami sering dipinjam untuk kegiatan halaqoh ataupun penginapan bagi peserta mabit akhwat. Demikian pula dengan peralatan yang kami miliki, tidak jarang dipinjam sana-sini untuk mendukung berbagai kegiatan.

Tentunya, pinjam-meminjam di tingkatan institusi tidak bisa disamakan dengan pinjam-meminjam secara personal individual. Karena, (yang amat sangat harus diperhatikan) ‘barang’ yang dipinjam jelas bukan milik pribadi salah satu oknum staf. Akan tetapi ‘barang-barang’ itu adalah amanah yang dititipkan oleh pimpinan kepada kami selaku pengelola.

Sebagai muslim kita diajari untuk menjadi pribadi yang amanah. Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya. Menyia-nyiakan amanah adalah khianat. Dan khianat adalah kedhaliman yang besar.

Di tataran pribadi, pinjam-meminjam mungkin cukup dengan lisan dan modal kepercayaan saja. Namun di tataran institusional, kita harus bermain dengan etika-etika profesional. Ada aturan-aturan yang harus ditaati. Ada prosedur-prosedur birokrasi yang harus dilalui. Ada tata krama (tidak tertulis) yang harus dipahami sebagai seorang profesional.

Sebagai contoh, jika meminjam atau meminta bantuan ke unit lain, SPiLuqkim menempuh beberapa tahapan. Mulai dari pendekatan non formal yaitu: survei dan pendekatan lisan kepada staf yang berwenang (ditembusi juga ke pimpinan jika perlu). Jika ada ‘lampu hijau’, maka prosedur profesional dijalankan yaitu: mengajukan lewat surat permohonan resmi. Semua tahapan ini kami lakukan secara terencana dan dalam rentang waktu yang cukup (termasuk ada waktu bagi pihak yang kami minta bantuannya untuk mempertimbangkan permohonan kami dan menyiapkannya).

Yang patut saya syukuri (dan terus saya harapkan), kami di SPiLuqkim juga mendapatkan perlukan seperti itu. Selama ini, setiap pihak yang butuh bantuan SPiLuqkim selalu menemui saya (selaku Koordinator Sarana) dan mengikuti prosedur yang kami buat (termasuk membuat surat permohonan peminjaman ataupun perjanjian pinjam-meminjam). Bahkan, seringkali yang datang menemui saya adalah sang pimpinan langsung yang notabene adalah ustadz/ustadzah senior (dibandingkan dengan saya staf bawahan yang masih ‘bau kencur’).

Intinya:

  1. harus ada pemahaman terhadap amanah yang diemban masing-masing staf dan komitmen profesional untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab
  2. harus ada sikap penghormatan dan kemauan untuk mengikuti sistem/prosedur/aturan maupun hierarki kepemimpinan yang dibuat (baik yang berlaku secara keseluruhan institusi maupun berlaku spesifik di suatu unit) yang tentunya ditujukan untuk kelancaran berjalannya suatu organisasi

Sebagai seorang staf bawahan (seperti halnya saya), sahabat saya yang curhat tadi hanya bisa melakukan sejauh yang menjadi kewenangannya. Bila pelanggaran sistem/prosedur/aturan dilakukan oleh atasannya, tentu bawahan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi hingga detik ini, di pesantren masih berlaku doktrin “SAMI’NA WA ATHA’NA” (saya dengar dan saya taat).

Saya jadi teringat sebuah kalimat dalam film SPIDERMAN, ketika Uncle Ben menasehati Peter:

With great power, comes great responsibility.

Tentu amat sangat diharapkan para ‘IMAM‘ (pimpinan) yang memegang GREAT POWER untuk benar-benar menjalankan GREAT RESPONSIBILITY.

* Dihimpun dari berbagai sumber

* Penulis adalah pengasuh dan pengelola SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Iklan

One thought on “Remember These, When You Come to Other’s House

  1. abi enha berkata:

    SlmWrWb

    SUBHANALLAAH, sebuah catatan dari ustNovri yang harusnya menginspirasi kita semua sebagai bagian komunitas ‘hidayatullah’ Semoga menjadikan kita semua lebih bijak dalam mengambil langkah atas amanah yang ada pada diri masing-masing.

    Teruslah membaca, menulis dan mengekspresikannya pada media ini ustad, sungguh kami masih memerlukan pencerahan2 seperti ini dari orang2 muda yang peduli !

    Wa’alaikumsalam wr. wb.
    Terima kasih atas perhatiannya.
    Sebenarnya kami takut untuk menulis seperti ini karena khawatir tdk dpt melaksanakannya. Tetapi kami sangat berharap ini dpt bermanfaat terutama untuk melecut diri kami sendiri. Syukur alhamdulillah jika bermanfaat pula bagi pembaca.
    Keep in touch

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s