Catatan Izza (bagian 2)


Insya ALLAH pada beberapa waktu ke depan, Bina Izzatu Dini, alumni SPiLuqkim 2006, akan berbagi pengalamannya mempersiapkan diri untuk meneruskan studi SMA di negeri Singapura. Selamat membaca…

Baca tulisan sebelumnya…

Banyak nilai plus di Pare ini. Biaya kursus yang sangat murah, rata-rata 100ribu per bulan, dengan pertemuan Senin-Jumat dua kali per hari. Jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga kursus di Surabaya, sungguh jauh. Namun, jangan pernah membayangkan kelas ber-AC, pembelajaran dengan LCD Proyektor, buku panduan dari luar negeri, atau fasilitas mewah semacamnya. Kondisi menyesuaikan harga. Namun semua itu tetap tidak mengurangi ilmu yang akan didapat.

Biaya makan, buku, dan segala macam di Pare sangat murah. Untuk biaya makan mungkin tidak terlalu murah, sih. Menu satu porsi, berupa nasi, sayur, sambal, dan telur ceplok tanpa minum di sini berharga Rp. 3500.

Okelah, saya juga masih sering menemukan menu dengan harga 3500-an di Surabaya. Namun untuk urusan buku, biayanya jauh lebih murah. Kamus Hasan Shadily yang biasa dijual di Surabaya seharga 90 ribuan, di sini hanya dijual seharga 25 ribu. Namun lagi-lagi, kondisi menyesuaikan harga. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa 95% buku yang dipasarkan di Pare ini adalah palsu alias bajakan.

Salah satu kelebihan lain yang sangat menyenangkan bagi saya karena saya seorang muslimah adalah mayoritas penduduk Pare muslim dan disini atmosfer islaminya sangat kental. Sulit untuk menemukan perempuan yang tidak berjilbab di sini. Bahkan didukung oleh lembaga-lembaga kursus yang ada, sebagian besar lembaga kursus mewajibkan muridnya untuk berbusana muslim, dan tentunya berjilbab bagi perempuan.

Mengenai program yang saya ikuti, akan saya ceritakan sedikit. Saya mengambil program pre-speaking di awal kedatangan saya. Rencananya saya juga akan mengambil program grammar dan translation di bulan Agustus nanti.

Setelah mengikuti kelas pertama pada tanggal 27 Juli 2009 yang lalu, saya rasa cukup menarik dan bagus. Pertemuan diawali dengan penyampaian materi, lalu vocabulary, dan di 30 menit terakhir adalah waktu khusus yang digunakan untuk praktek. Siswa diwajibkan untuk berdikusi bahasa Inggris mengenai topik yang baru saja diterangkan. Karena ini merupakan program pre-speaking, maka pokok bahasannya masih ringan, hanya berkisar pada daily activities seperti: “study at class“, “study at home“, “human body“, dan semacamnya. Sedangkan pada hari Jum’at, kelas akan difokuskan pada pelajaran pronounciation.

Semakin tinggi tingkatan, Speaking I atau Speaking II misalnya, maka otomatis semakin berat pokok bahasannya. Untuk Speaking I misalnya, beberapa pokok bahasannya: “I enjoy my job“, “Marriage Under Age“, “Poligamy“, “Bank”, dan masih banyak lagi. Setelah diskusi mengenai topik yang telah ditentukan, siswi ditugaskan untuk menghafal sepuluh vocabulary yang berkaitan dengan topik, yang kemudian harus disetorkan keesokan harinya. (bersambung)

Baca tulisan sebelumnya…

Iklan

One thought on “Catatan Izza (bagian 2)

  1. wahyu am berkata:

    nice 😉

    thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s