Ketika Keyakinan Harus Bertempur Melawan Nilai Raport


Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Ada banyak ‘model’ sekolah-sekolah Islam yang dikenal masyarakat. Sebut saja sekolah milik ormas Muhammadiyah, NU, atau Al Irsyad yang lebih dahulu eksis di republik ini. Ada pula sekolah franchise macam Al Azhar atau sekolah elit macam Al Hikmah dan Al Falah.

Di antara sekolah-sekolah islam itu, Sekolah Integral Luqman Al Hakim yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Hidayatullah bisa dibilang menerapkan syariat dengan lebih ketat. Bahkan ada yang mengecap terlalu fanatik. Sebut saja: pemisahan kelas putra dan kelas putri sejak kelas IV SD hingga IX SMP, mengenakan jilbab panjang hingga ke dada (bahkan di Hidayatullah Balikpapan mayoritas wanitanya bercadar), wajib mengenakan rok panjang meski dalemannya sudah bercelana panjang, tidak berjabat tangan antara ikhwan (pria) dan akhwat (wanita), sholat fardhu tepat waktu (bahkan pelajaran maupun rapat harus dihentikan jika adzan berkumandang dan segera ke masjid). Ini belum setumpuk pelajaran-pelajaran diniyah plus penanaman nilai-nilai islam lewat berbagai pelajaran akademik.

Namun, betapapun keras dan intensnya upaya suatu lembaga pendidikan untuk mendidik muridnya, tidak satu pun yang berani menggaransi (apalagi lifetime warranty) kualitas lulusannya. Betapapun tingginya cita-cita dan impian tentang profil lulusan, tidak ada satu lembaga pun yang berani menjamin lulusannya akan memenuhi semua kriteria tersebut. Harus diakui, demikian pula dengan lembaga ini.

Saya coba mengevaluasi (secara kasaran) beberapa alumni SPiLuqkim angkatan 2006 yang baru saja lulus dan sekarang sebagian besar menyebar di SMA/MA negeri. Paling tidak dari mereka-mereka yang masih sering main ke sekolah atau masih rajin berkirim pesan singkat kepada saya.

Dari situ, dengan sangat menyesal, saya bisa mengatakan bahwa hanya butuh sebelah tangan saja untuk menghitung banyaknya alumni yang masih (berjuang keras) konsisten menjalankan ‘budaya’ (baca: syariat islam) yang dibangun di SPiLuqkim di lingkungannya yang sekarang. Misalnya: sekarang mereka sudah tidak canggung lagi berjabat tangan dengan ikhwan atau tidak lagi mengenakan rok panjang (karena memang beberapa sekolah islam berseragam celana panjang baik untuk putra maupun putri). Namun, yang lebih miris lagi, pengakuan alumni yang sekolah di sebuah sekolah islam negeri, guru-gurunya gak ngurusi apakah siswa-siswinya sudah sholat dhuhur/ashar ataukah belum. Naudzubillah min dzalik

Beberapa alumni yang cukup ‘kebal’ dari pengaruh luar dan berusaha tetap bertahan terbukti memang didukung penuh oleh keluarganya. Konon, ada alumni yang berani menantang kepala SMA-nya, kalau tidak boleh berpakaian panjang (jubah) ya sudah tidak usah sekolah disini. Perlu dicatat, sekolah sang alumni tersebut adalah SMA negeri.

Sedangkan alumni yang sudah ‘lepas’ memang berasal dari keluarga ‘biasa-biasa’ saja. Okelah, saya akui, evaluasi saya terlalu mudah dimentahkan dan tidak punya dasar ilmiah sama sekali. Toh, bukan itu fokus pemikiran saya saaat ini.

Pada artikel ini, saya ingin mengangkat salah satu kasus yang dialami alumni SPiLuqkim angkatan 2006 di SMA negerinya yang sekarang. Kita sebut saja ukhti ini Aisyah yang bersekolah di SMAN 1x di kawasan Surabaya Timur.

Awal-awal pesan singkat yang dikirimkan kepada saya berkisar pada: cerita MOS di sekolahnya yang jahiliyah menurut standar Luqman Al Hakim, anak-anak di lingkungannya yang begitu mudah misuh, pakaian seragamnya yang paling menyolok, hingga kegusarannya apakah ia mampu mencintai sekolah seperti ia dulu sangat mencintai SPiLuqkim.

Di SMAN 1x ini, Aisyah (dan ketiga rekannya I, A, dan N) adalah rombongan alumni SPiLuqkim pertama yang terdampar disana. Karena itu kehadiran mereka saat MOS yang masih harus berseragam SMP sangat menarik perhatian lingkungannya, terutama guru-guru. Banyak di antara guru wanita yang menyukai model seragam tersebut dan memuji-muji attitude yang ditunjukkan oleh keempat alumni SPiLuqkim itu.

Paling sering, Aisyah sharing kepada saya tentang rekan-rekan barunya yang non muslim. Lewat pesan singkat saya berupaya menyisipkan nasehat-nasehat yang baik tentang bergaul dengan mereka. Saat ini, Aisyah duduk sebangku dengan siswi yang beragama Hindu.

Meski tidak lagi mengenakan seragam dengan potongan standar Hidayatullah, saat ini kerudung Aisyah adalah yang paling panjang di sekolahnya. Paling tidak itu yang bisa ia lakukan. Jadi, rekan-rekan atau kakak kelasnya mengidentifikasi Aisyah dengan sebutan “cewek berkaca mata yang jilbabnya paling besar sak sekolahan”.

Dari cerita-cerita Aisyah, saya bisa menyimpulkan bahwa menghadapi orang-orang kafir (non muslim) masih jauh lebih mudah daripada menghadapi sesama muslim sendiri. Bukan sekali saja ia dicemooh tentang hijabnya. Bahkan ada kakak kelasnya yang menyarankan untuk membuka jilbab. Katanya, “Kan disini tidak wajib berjilbab.”

Nasehat saya kepada Aisyah, saat menghadapi orang-orang muslim yang GeJe itu, bilang saja begini:
“Kamu tuh sudah benar-benar paham syahadat atau belum?”
“Kamu tuh ngerti aurat, apa nggak?”
“Kamu tuh ngerti hijab, apa nggak?”
“Nah, kalo kamu sudah bisa jawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan baik, baru boleh kritik jilbab saya.”

Hampir dua minggu belakangan, Aisyah dihadapkan oleh masalah yang cukup pelik. Semester ganjil ini kelasnya mendapat jatah pelajaran kesenian Tari. Bagi Aisyah yang alumni SMP Putri Luqman Al Hakim pelajaran ini adalah bencana. Karena:

  1. Sebenarnya, Aisyah tidak ada masalah belajar di kelasnya campur putra dan putri. Tapi, jika harus menari-nari di depan laki-laki yang bukan muhrim, ya maaf-maaf saja. Karena Aisyah berkeyakinan (sesuai syariat islam) bahwa perempuan dilarang memperlihatkan perhiasannya kecuali di hadapan muhrimnya. Apalagi sampai melenggak-lenggokkan tubuh yang notabene adalah aurat bagi perempuan. Belum lagi kostum tari yang digunakan di sekolahnya adalah celana dan kaos ketat. Baginya pakaian itu tetap menampakkan aurat.
  2. Jenis tari yang diajarkan sudah sangat jelas tidak berakar pada budaya yang islami. Tari-tari Jawa tentu berakar pada budaya animisme/dinamisme, maupun Hindu dan Budha. Sedangkan tari moderen, ini sih lebih kacau lagi karena berakar dari budaya bangsa kafir.

Sebagai siswi, Aisyah maklum jika aktifitas pelajaran akan menentukan nilai raportnya. Namun kegalauannya besumber kepada pertanyaan,

Haruskah keyakinan saya dikalahkan oleh sekedar nilai raport???

Andaikan bisa memilih, ia ingin mengikuti pelajaran Kesenian, tentu yang tidak bertentangan dengan keyakinannya (baca: syariat islam). Semisal: kaligrafi, kerajinan tangan, desain, dan sejenisnya.

Aisyah sudah berupaya melobi sang guru tari untuk mengijinkannya mengikuti Kesenian yang lain. Namun permintaannya ditolak. Celakanya, sang guru juga wanita yang berkerudung (catat: bukan jilbab/hijab) merasa materi pelajaran tarinya tidak ada masalah dengan syariat islam.

Aisyah lalu berharap sang ayah menjadi perisai kokoh pelindung aqidahnya yang selanjutnya.

Entah karena psikosomatik atau apa (yang pasti karena kehendak ALLAH), sejak awal pekan ini Aisyah jatuh sakit dan harus istirahat panjang di rumah. Belum lama ini saya sempat bersua dengan ayahnya di teras lobi PPH dan juga sempat chatting lewat Y!M. Saya kok menangkap kesan sang ayah malah tidak sependirian dengan Aisyah, putri pertamanya. Beliau malah ingin sang anak ‘menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang sekarang’.

Bagaimana nasib keyakinan Aisyah selanjutnya??? Wallahu’alam… Saya hanya bisa berdoa memohonkan yang terbaik bagi Aisyah kepada ALLAH dan menunggu pesan singkat darinya…

* (Saat artikel ini ditulis) Penulis adalah (masih berstatus) pengasuh dan pengelola SMP Putri Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

3 thoughts on “Ketika Keyakinan Harus Bertempur Melawan Nilai Raport

  1. tya mengatakan:

    makasi buuuuanget ya, pak & bu!
    aq tau spiluqkim ndukung aq..
    i luph u all so much!

    ketika islam ku gadaikan,
    ketika syari’at ku lupakan,
    sama dengan terlemparnya diri ku dari surga..
    yaa Allah,
    jadikan ini semua sebagai pahala jihad ku dijalanMu..
    pilihkan aku jalan yang terbaik menuju surgaMu,
    meski harus ku lalui dengan penuh rintangan..
    sungguh, aku memohon padaMu,
    seutas tali kasih orang tua yang mendukung ku..
    Rabbi, jadikan ku pelangi yang mewarnai sekitarku dengan indahnya..

  2. Peduli Pendidikan mengatakan:

    Info yang bagus…. trim’s
    Patut dicontoh untuk sekolah lainnya….

    terima kasih atas kunjungannya

  3. berat juga ya ujiannya…semoga tetap teguh dan tegar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s