Siswa High Tech, Guru dan Ortu High Touch


Oleh Rahmi Andri Wijonarko,ST*

Menjadi orangtua/guru di abad 21 menyajikan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi yang tersedia untuk anak-anak kita tidak seperti yang pernah dilihat bangsa kita sebelumnya. Lihat saja saat anak Anda membuat presentasi Powerpoint sekolah – sesuatu yang sama sekali tidak pernah terdengar ketika kita masih seusia mereka. Melalui ponsel, pesan teks (sms), pesan gambar (mms), internet, dan situs jaringan sosial, anak-anak kita dapat dihubungkan ke orang-orang di seluruh dunia. Sungguh menakjubkan.
Tetapi pada saat yang sama, dengan kemajuan teknologi yang luar biasa ini datang potensi bahaya. ’Predator online’ berlimpah di internet, dan siapa yang tahu, ada berapa banyak teman telah mengaku berstatus usia 11 tahun di Facebook sebenarnya seorang penculik anak atau gadis, berusia 41 tahun yang sedang mencari korban berikutnya. Kasus penculikan siswi kelas 1 SMA gara-gara Facebook di Jombang bulan Oktober 2009 adalah contoh nyata. Awal Februari 2010 kembali masyarakat dihebohkan berita anak kelas 8 SMP di Sidoarjo-Marieta Nova- yang pergi bersama ’suami versi facebooknya-Ari Power (18 tahun) asal Depok. Saat yang hampir berurutan Tiur, siswi sebuah SMA di Surabaya juga hilang, diduga pergi bersama teman facebook-annya. Penyalahgunaan teknologi kembali terjadi.

Anak-anak kita tentu tidak ingin dikeluarkan begitu saja dari situs jejaring sosial ini dengan gampang, tapi pada saat yang sama, mereka mungkin tidak mengerti betapa berbahayanya dunia kita sebenarnya. Dan kita tidak ingin mereka bertemu masalah, bukan?

Sebagai seorang Muslim, dan seorang guru Matematika/Sains di sekolah integral penulis mengajak untuk menjawab kerisauan ini dengan iman. Apa yang akan kita lakukan sebagai guru dan orang tua sesuai agama Islam kita tentang pendidikan anak-anak kita di zaman telepon seluler, chatrooms, instant messaging, YouTube, Facebook, dan MySpace? Semoga pemikiran ini akan berguna bagi kita semua.

Mengajarkan ke anak-anak bahwa Allah mencintainya

Satu hal penting yang kita telah pelajari sampai usia dewasa saat ini adalah bahwa Allah mencintai kita. Kita telah diajarkan bahwa Allah akan menghukum kita jika kita melakukan sesuatu yang salah. Hal ini mungkin cukup mempan saat diterapkan pada anak-anak yang masih duduk di bangku pendidikan dasar.Tetapi perlu hati-hati, bisa saja ajaran semacam ini berpotensi bahaya, karena si anak dapat tumbuh dengan sebuah gambar tentang Allah yang dingin, jauh, dan kejam-hati. Itu bukan Allah yang dia sembah sekarang. Allah yang dia sujudi lima kali sehari adalah Allah yang indah, penuh cinta, penuh belas kasihan, Allah yang rahman dan rahiim, selalu siap dan bersedia untuk menerima ketika dia datang memanggil. Dia suka melimpahkan anugerah dan rahmat-Nya atas hamba-Nya yang setia, dan Dia Maha mendengar saat hambanya memohon untuk ditambahkan hal yang lebih. Setiap kali kita membuat kesalahan, pengampunan-Nya sangat banyak dan mudah diakses. Segala yang kita miliki dalam hidup kita adalah akibat langsung dari kasih dan rahmat-Nya, oleh karena itu inginkanlah anak-anak kita mengetahui ini untuk seterusnya. Karena jika mereka tahu betapa Allah mengasihi mereka (dan Islam mengajarkan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita 70 kali lebih dari ibu kita sendiri), maka mudah-mudahan mereka akan ingin melakukan hal yang benar untuk menghormati cinta itu.

Mari kita ajarkan anak-anak ini hidup dalam cahaya kasih Allah

Setelah anak-anak tahu dan mengerti bahwa Allah mengasihi mereka, langkah berikutnya adalah mengajak mereka untuk tinggal dalam cahaya kasih itu. Ini berarti bahwa karena Allah mengasihi kita begitu banyak, hanya benar dan terhormat jika kita mengasihi-Nya kembali. Dan kita harus menunjukkan bahwa cinta kepada Allah adalah dengan melakukan apa yang Allah meminta kita untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan kita. Itu berarti meninggalkan jauh hal-hal yang Allah tidak suka. Jadi akankah Allah suka jika kita menghindari Facebook? Kami tidak tahu persis jawabannya, tapi kita bisa yakin bahwa Dia tidak ingin kita tersesat di dalamnya. Dia sebenarnya ingin kita menjadi sederhana tidak melampaui batas dalam perbuatan dan tindakan kita di dunia nyata dan maya (online). Memang ada pengorbanan karena di masa remaja anak-anak kita banyak hal baru yang menarik dan datang dari berbagai arah sehingga mereka akan merasa sayang untuk melewatkannya.Mereka akan merasa jengkel ketika terus diceramahi. Jadi, bersama dengan mengajar anak-anak kita bahwa Allah mengasihi mereka dan untuk hidup dalam kerahiman-Nya, kita harus menyuntikkan beberapa kepraktisan ketika datang waktunya untuk membesarkan anak-anak kita di abad 21.

Menaruh Komputer di Tempat Umum di Rumah

Jika saja para remaja kita adalah seperti Aa Gym yang berjalan di muka bumi, mereka adalah tetap remaja, yakni mereka yang rentan terhadap kejahatan dan rawan terhadap orang-orang yang akan membahayakan mereka. Kami pikir lebih masuk akal untuk memiliki komputer di tempat yang sentral dalam rumah tangga sehingga apa yang anak-anak kita lakukan secara online dapat dilihat oleh seluruh keluarga, terutama orangtua. Termasuk laptop – tidak ada laptop di kamar tidur. Jika apa yang anak kita lakukan secara online tidak boleh dilihat oleh mata umum, maka berarti tidak boleh dilakukan.

Facebook, tapi dengan ditemani orangtua

Begitu banyak orang ngomong tentang Facebook, Friendster, Twitter, Blackberry, dan situs jaringan sosial lain, dan kita tahu bahwa segera, sangat segera, anak-anak kita akan meminta menuju Facebook. Sebagian besar teman-teman dan keluarga penulis ada di Facebook, dan sejauh ini, kami telah menolak godaan untuk bergabung dengan mereka (alasan yang saya beri di antaranya adalah tidak sempat atau tidak ada akses). Namun begitu penulis menyadari, jejaring tersebut aslinya berpotensi dapat menjadi forum yang baik untuk tetap berhubungan dengan teman dan keluarga dan berbagi foto dan pesan. Ada nilai positif terhadap situs jaringan sosial. Jadi, apa yang harus dilakukan? Yah, kita mungkin tak membuka akun dan membiarkan mereka memiliki akun, tetapi dengan beberapa kondisi.

Pertama, mereka tidak bisa semaunya memasukkan apa saja yang mereka inginkan di halaman Facebook mereka. Kedua, hanya teman-teman sejati mereka harus diberikan akses ke informasi Facebook mereka, dan kita berhak untuk mengetahui siapa teman-teman ini. Dan halaman Facebook mereka terbuka untuk dijadikan “tempat inspeksi” untuk memastikan tidak ada orang asing yang telah meminta untuk menjadi teman-teman mereka. Kita wajib tahu cara menggunakan perangkat-perangkat jejaring itu dan berhak punya passwordnya untuk ikut login. Ini tentu akan menjadi situasi yang sulit, karena kami yakin anak-anak itu akan merasa bahwa kita menyerang privasi mereka. Tapi kami berharap untuk menghindari perasaan ini dengan menjelaskan kepada mereka mengapa kita perlu memeriksa mereka, bukan karena kita tidak percaya mereka, tetapi karena kita tahu tentang godaan di sekitar mereka.

Jejaring sosial seperti Facebook bisa menjadi tempat membuang waktu yang luar biasa karena banyaknya teks status yang tak ada substansinya dan yang paling penting Facebook hendaknya tidak mengambil waktu (jam) belajar atau tidak digunakan di sekolah bahkan menggunakan fasilitas sekolah. Jika nilai-nilai mereka mulai menderita karena Facebook, kemudian kata guru/ortu akun wajib melayang ke udara itu sudah termasuk terlambat. Ide yang bagus adalah membiarkan anak-anak memiliki akun Facebook dan kita sebagai seorang “teman”. Dengan begitu kita bisa menyimpan mata penuh kasih sayang pada anak-anak ini saat beraktivitas online .

Berikan Hape? Ya, tetapi dengan batasan

Sebuah ponsel sekarang ini sudah masuk dalam penopang hidup. Jika ada sesuatu terjadi pada anak anak itu, kita ingin dia memiliki cara untuk berkomunikasi dengan kita segera. Tapi ponsel dapat menjadi pintu masuk untuk bahaya lain, terutama dengan telepon seluler hari ini. Hape tidak hanya telepon. Didalamnya ada internet, kamera, MP3 player, pemutar video, televisi, dan kamera video. Dengan itu anak usia sekolah dasar mudah sekali mengakses konten-konten situs dewasa atau sadisme. Mungkin Anda tidak ingin membuat anak anda jadi bahan tertawaan teman sekolahnya dengan membawa ponsel berkemampuan minimal. Bahkan akhir-akhir ini banyak anak yang sudah mulai mengantongi Blackberry. Ingatlah, sebaiknya hal yang sama berlaku untuk ponsel yaitu dia dapat memiliki satu hape, namun akan ada pembatasan pada siapa ia dapat menelepon, teks, mengirim foto, dll. Dan, sekali lagi, hape itu harus tunduk pada pemeriksaan mendadak, hanya untuk memastikan bahwa orang-orang di folder kontak adalah orang-orang yang kita kenal dan percaya, dan isi konten yang wajar.

Akhirnya, kami pikir komponen yang sangat penting adalah keterbukaan, dan kejujuran komunikasi dengan anak-anak kita tentang bagaimana menjadi anak di hari yang penuh tantangan ini. Mereka harus tahu semua ini mencemaskan; kita tidak mencoba untuk menyiksa mereka. Dan, kita sebagai orangtua harus belajar mempercayai anak-anak kita. Terutama jika kita telah melakukan semua yang kita mampu untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral di dalam dirinya. Tapi tetap saja, anak-anak adalah anak-anak. Jadi, kita akan beroperasi dengan prinsip lama: Percaya, tapi verifikasi. Kita mungkin dianggap menjadi “orangtua/guru bodoh”, namun sejatinya kita tidak bodoh, tetapi baik.

* Penulis adalah pengajar Matematika/Sains SMP Putri Luqman Al Hakim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s