Spiluqkim a la chef


Kehidupan modern saat ini membawa generasi muda khususnya wanita tercerabut dari akar tradisinya. Salah satunya ialah hilangnya tradisi memasak di kalangan generasi putri. Sebut saja nama-nama Rudy Choirudin, Haryo “Harmoni Alam”, atau dari Indonesia timur ada Bara Pattirajawane adalah pemasak-pemasak dari kalangan laki-laki.Acara kuliner pun marak dengan host kaum lelaki. Di mana para perempuan? Mereka sebagian  telah meninggalkan rumah dan anak-anaknya. Berapa persen wanita yang kini peduli dengan asupan makanan anak-anaknya?

Keadaan ini kian diperparah dengan ‘serbuan’ fast food yang membuat orang kian malas memasak. Padahal, tradisi memasak di kalangan remaja putri bisa dikembangkan menjadi modal skill dalam memasuki kehidupan.
Untuk mengasah kembali keahlian para remaja putri dalam hal masak-memasak, SMP Putri Luqman Al Hakim Surabaya, menggelar ajang kreasi memasak bagi para siswinya. Bertempat di halaman sekolah, setiap hari disuguhkan satu resep masakan lengkap dengan tata cara memasak dan menyajikannya.
Hari pertama kemarin, satu kelompok siswi membawakan resep  yang dipresentasikan oleh Muthia Racmania dan Itsna.
Keduanya membuat minuman sehat dari bahan natural. Yaitu, bunga sepatu. Minuman itu disebutnya ‘Sirup Bunga Sepatu’. Rasanya asam. Asamnya sendiri, menurut penjelasan Muthia, dihasilkan dari jeruk nipis yang dicampurkan dalam adonan.
“Jeruk, selain dipakai untuk rasa asam juga dipakai untuk sitrun atau penjernih warna,” jlentrehnya.
Bahan yang disiapkan cukup mudah didapat. Bunga sepatu, jeruk nipis, gula pasir, air putih, dan es batu. Muthia menjabarkan tata cara mengolahnya, mula-mula air dipanaskan, lalu masukkan gula pasir sesuai selera, setelah panas bunga sepatu dimasukkan.
Setelah hancur dan berubah warna menjadi biru, masukkan perasan jeruk nipis. Hasilnya, warna menjadi merah menyala. “Dalam proses ini terjadi perubahan kimiawi,” tutur Muthia.
Yus Ulfa Ningsih, guru tata boga pendamping para siswi, menuturkan kegiatan tersebut digelar sebagai langkah penanaman jiwa keibuan kepada peserta didik.
Selain itu juga sebagai ajang evaluasi kreatifitas dan inovasi siswa tentang perkembangan pelajaran tata boga. “Ini semua yang menemukan resepnya anak-anak,” ujar Ulfa.

Kegiatan Spiluqkim a la chef berlangsung selama satu minggu dengan durasi sekitar setengah jam di waktu istirahat pertama setiap hari. Para audiens mulai dari guru, kakak kelas, adik kelas, tamu, bahkan ibu catering sekolah.

Pada bagian lain Wakil Kepala Sekolah, Andri Wijanarko, menerangkan pembelajaran itu diharapkan bisa meminimalisir ‘kegagapan’ siswi dalam hal memasak. Karena saat ini, tidak semua remaja putri di Surabaya bisa memasak.
“Semoga dengan inovasi yang dibangun siswi-siswi ini akan lahir chef muslimah profesional,” doanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s