Habis Gelap-gelapan, Terbit Larangan


Habis Gelap-gelapan, Terbit Larangan

Naudzubillah. Puluhan sampai ratusan siswi tak ikut UN karena hamil memang memprihatinkan. Hal ini tidak terjadi andaikan mereka membaca surat Kartini pada Nyonya Abendanon, “Perempuan itu jadi sokoguru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap untuk itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh bahwa dari perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya, dalam hal membaikkan maupun memburukkan kehidupan, bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan manusia”. Meski dalam persentase yang mungkin masih di bawah 1 % fenomena hamil di masa pendidikan tentu menghenyakkan, karena cita-cita besar seperti dalam lagu Ibu Kita Kartini dikandaskan oleh kaumnya sendiri.
Kejadian yang terus berulang dan menjadi polemik di masyarakat perlu diberikan solusi. Peran sekolah lewat guru Bimbingan Konseling perlu ditingkatkan. Aturan dari Dinas Pendidikan mestinya jauh-jauh hari memberi warning tegas, bagi siswi yang hamil diluar nikah harus berhenti dari sekolah. Aturan sudah tersosialisasi dari masuk sekolah, bahkan dari usia SMP yang memang dari survey sudah perlu diperlukan langkah preventif. Terpaksa tertunda pendidikan bagi siswi 1 tahun itu sudah merupakan konsekuensi yang harus diterima. Berapa ribu remaja yang gagal ikut audisi Indonesian Idol saja tidak masalah berarti , bukan? Apalagi Pendidikan karakter yang sedang digulirkan, akan sia-sia bila tidak ada ketegasan. Para orang tua juga mesti secara konkrit terlibat dalam usaha ini, terutama kaum ibu, semestinya memahamkan kepada buah hatinya efek negatif pergaulan bebas. Tentu dengan dialogis bukan kekerasan. Media informasi visual yang mudah diakses tak mungkin di dielakkan, filter dan kendali pada masing-masing pribadi yang mesti dikuatkan. Ayo, perangi kebiadaban, menuju peradaban mulia! (RAW)

(Tulisan ini juga di muat di kolom Gagasan,  JawaPos 21 April 2012)

Iklan

2 thoughts on “Habis Gelap-gelapan, Terbit Larangan

  1. Novrian Eka Sandhi berkata:

    kasus siswi hamil, itu calon bapaknya si bayi kemana, ya??? kenapa perempuan lagi yg hrs menanggung segala akibatnya??? dgn adanya kasus-kasus seperti ini, masihkah sulit bagi para siswi utk diajarkan menegakkan hijab, menundukkan pandangan, dan menjaga pergaulan??? masihkah sulit bagi para orang tua utk diajak bersinegi mendidik putra-putrinya???

    • smpputri berkata:

      repotnya jika segala sesuatu itu serba terlanjur, pak. makanya pendidikan ini hrs punya pandangan: mencegah dgn menuntun anak dan siswa kita ke jalan yg lurus dan diridhoi ALLAH Swt, insya ALLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s