RSBI Mau Dibawa Kemana?

 

Secara elegan ada pesan dari alumni Sekolah Integral SMP Luqman Al Hakim tahun 2011 mengatakan dengan kejujuran intelektualitasnya agar sekolah sekolah mengarah ke SBI yang dia maknai sebagai berikut;

1.  SBI : Sekolah Berstandar Integral (tidak sekuler, tidak mencetak siswa yang atheis atau agnostik bin munafik, tetapi mencetak pelajar yang beribadah pada Allah secara shahih, benar dan termanifestasikan hasil ibadahnya itu dalam keshalihan aktifitas lain sehari-hari)

2. SBI : Sekolah Berstandar Intelektual ( bisa dijamin lulusannya mempunyai logika berpikir yang bagus, bukan sekolah yang Soalnya Berbahasa Inggris)

3. SBI : Sekolah Berstandar Islami (khususnya yang sekarang sudah mengukuhkan dirinya dengan Sekolah Berlabel Islam)

4. SBI: Sekolah Bertaraf Internasional ( sekolah yang jadi jujugan pencari ilmu dari seluruh penjuru dunia, bukan Sekolah Bertarif Internasional).

Membaca kutipan berita 4 Januari 2011:

Seluruh RSBI Tidak Layak jadi SBI

JAKARTA– Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Suyanto menyatakan, sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Indonesia belum layak untuk menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Alasannya, kualitas SDM para pengajar di RSBI masih buruk, meski berlabel internasional.

“Semua belum layak. Tapi gradasinya beda. Ada yang semuanya belum layak, ada yang dari sisi komposisi dan kompetensi gurunya. Kemudian kurikulumnya. Kelemahan utamanya di SDM gurunya. Semangat pemerintah kan guru RSBI itu S2, tapi banyak RSBI yang belum memenuhi standar itu,” ungkap Suyanto ketika ditemui di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Selasa (3/1).

Oleh karena itu, terang Suyanto, hal itu menjadi salah satu alasan utama pemerintah untuk tidak menambah jumlah RSBI. Saat ini diketahui, ada sekitar sebanyak 1100 unit RSBI yang tersebar di seluruh Indonesia. “Tetap tidak ada RSBI baru. Yang sudah ada diperbaiki kurikulum, programnya, prosesnya, rekrutmennya, manajemennya sehingga sesuai dengan permintaan masyarakat,” tukasnya.

Dikatakan, sebenarnya masyarakat keberatan dengan keberadaan RSBI karena masalah pembiayaan yang tinggi. Namun menurutnya, hal itu hanya terjadi di Jakarta. Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengatakan, di daerah lain justru banyak RSBI yang gratis atau tidak memungut biaya operasional pendidikan.

“Sebenarnya, masyarakat itu hanya menyorot masalah bayarnya saja kan? Itu yang mahal itu tidak di seluruh Indonesia, tapi hanya di Jakarta saja. Yang gratis sebenarnya juga banyak. Contohnya, di Surabaya, Nunukan, dan Sulawesi Selatan, itu karena memang ada Perdanya,” paparnya.

Ditegaskan lagi, pemerintah sangat hati-hati dalam rencana menaikkan status RSBI menjadi SBI. Pemerintah harus memperbaiki semua komponen di dalam RSBI tersebut sehingga mampu menjadi SBI yang baik ke depannya.

“Kita kan tidak salah punya sekolah yang bersifat center of excellent. Jadi, itupun juga bisa mencegah anak-anak bersekolah di luar negeri. Sekarang ini sifatnya rintisan menuju SBI. Kalaupun ada diskriminasi atau kasta, memang ada. Tapi, kasta dari sisi akademik,” imbuhnya. (cha/jpnn)

Sementara kita ingat 12  kriteria SBI adalah:

– 8 Standar Nasinal pendidikan /SNP Harus sudah terpenuhi meliputi:

– Standar isi
– Standar proses
– Standar kompetensi lulusan
– Standar Pendidikan dan tenaga kependidikan
– Standar sarana dan prasarana
– Standar Pengelolaan
– Standar pembiayaan
– Standar Penilaian pendidikan

– Guru untuk SMK, minimal S2/S3 sebanyak 30 Persen dari jumlah guru

– Kepala sekolah Min S2 dan mampu berbahasa asing secara aktif

– Akreditasi A (95)

– Sarana dan prasarana berbasis TIK

– Kurikulum KTSP diperkaya dengan kurikulum dari negara maju, serta penerapan SKS pada SMA/SMK

– Pembelajaran berbasis TIK dan bilingual, sister school dengan sekolah dari negara maju

– Manajemen berbasis TIK, ISO 9001 dan ISO 14000

– Evaluasi menerapkan model UN dan diperkaya dengan sistem Ujian Internasional

– Lulusan Memiliki daya saing internasional dalam melanjutkan pendidikan dan bekerja (untuk SMK)

– Kultur Sekolah, terjaminnya pendidikan karakter, bebas bullying (kekerasan dan pelecehan), demokratis, dan partisipatif.

– Pembiayaan dari APBN, APBD, dan boleh memungut biaya dari masyarakat atas dasar RAPBS yang akuntabel, minimal 20 persen peserta didik tidak mampu mendapatkan subsidi pendidikan.

memang bukan ringan untuk ukuran negeri Indonesia. Sementara dari analisis, keunggulan RSBI yang diharapkan adalah:
1) Pembelajaran bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang.
2) Penerapan pembelajaran berbasis TIK menjadi salah satu keunggulan karena dengan pembelajaran berbasis TIK siswa diajarkan untuk lebih mandiri.
3) Sarana dan prasarana yang menunjang siswa dalam pembelajaran seperti Laboratorium bahasa, laboratorium IPA, ruang kelas yang dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK, ruang multimedia, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olahraga, klinik, dan lain – lain.

Dampak positifnya;

1) Dengan pembelajaran yang bersifat interaktif dan inspiratif memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.
2) Penerapan pembelajaran berbasis TIK, disamping berdampak negatife, keberadaannya juga banyak membawa dampak positif, selama para pelakunya memanfaatkan teknologi dengan benar dan tepat.Dalam dunia pendidikan, teknologi dapat mempermudah guru dalam bahan ajar menjadi menarik untuk disimak para siswa, begitupun disegi administrasi, akan mempermudah para tenaga administrasi dalam pengelolaan administrasi sekolah.Namun untuk mewujudkan sekolah berbasis ICT tidaklah seperti membalik telapak tangan, perlu kerja keras serta kemauan yang kuat dari semua pihak, banyak faktor yang menyebabkan tidak berjalannya teknologi di sekolah, salah satunya adalah sumber daya manusia yang belum siap.
3) Memotivasi para siswa untuk mampu bersaing dalam dunia global. Anak-anak kita tak kalah dengan anak-anak dari negara lain. Siswa-siswa sekolah kita lebih berani mencoba hal-hal baru, dan menantang para guru untuk mengembangkan metode dan model pembelajaran di dunia internasional.

Pun begitu kelemahan program RSBI adalah:

1) Konsepnya Lemah
Di dalam program RSBI dikenal standar penilaian seperti berikut : RSBI = SNP + X, yang artinya Standart Nasional Pendidikan (SNP) ditambah X. Yang dimaksud ditambah X disini adalah Standart Nasional Pendidikan yang diperkaya, dikembangkan, diperluas, diperdalam melalui adaptasi atau adopsi terhadap standar pendidikan yang dianggap reputasi mutunya diakui secara internasional baik dari dalam maupun luar negeri.Namun,dalam hal ini mengenai apa yang diperkaya, dikembangkan, diperluas , ataupun diperdalam adalah suatu hal yang belum jelas dan masih dipertanyakan.Sering disebutkan bahwa unsur X itu diambil dari standart internasional dari salah satu anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) atau sebuah organisasi kerjasama antar negara dalam bidang ekonomi dan pengembangan.
Apakah dengan menggunakan standart tersebut maka sekolah di Indonesia sudah ‘ bertaraf Internasional’?.Hal ini benar – benar perlu dipertanyakan karena apakah semudah itu untuk menjadi sekolah bertaraf Internasional.Jadi unsur X dalam standart tersebut bersifat tidak jelas atau dapat dikatakan bahwa konsep RSBI tidak jelas.
2) Salah Model
Dikdasmen membuat rumusan 4 model pembinaan SBI yaitu:
a) Model Sekolah Baru (Newly Developed SBI).Dalam model penyelenggaraan ini, SBI didirikan dengan segala isinya yang baru (siswa, kurikulum, guru, kepala sekolah, sarana dan prasarana, dan dana ) bertaraf Internasional.
b) Model Pengembangan Sekolah Yang Ada (Exixting Developed SBI). Pengembangan SBI dilakukan dengan mengembangkan sekolah yang telah ada saat ini, khususnya sekolah yang memiliki mutu bagus (misalnya sekolah dengan katogeri mandiri atau SKM), memiliki guru professional, kepala sekolah tangguh, dan sarana dan prasarana yang memungkinkan dapat dikembangkan lebih lanjut
c) Model Terpadu (Integrated SBI).Model pengembangan SBI di mana sekolah dengan beda jenjang (SD, SMP, SMA, dan SMK )dibangun secara terpadu dalam satu kompleks dan dipimpin oleh seorang kepala sekolah atau masing – masing satuan pendidikan dipimpin oleh satu kepalasekolah. Dalam manajemennya terdapatsharing fasilitaspendidikan akan sangat meringankan karena terdapatsharing biaya modal (shared capital cost) dansharing biaya operasional (shared operational cost) sekaligus.
d) Model Kemitraan (Partnership SBI).Dalam model ini, SBI dipilih dari sekolah yang ada saat ini (existing)maupun sekolah baru (newly) untuk bermitra dengan salah satu sekolah di luar Negara maju yang telah memiliki reputasi internasional.
Dari keempat model tersebut Padahal sebenarnya hanya ada dua model yang digunakan yaitu Model (1) Model Sekolah Baru dan Model (2) Model Sekolah yang Telah Ada. Dua lainnya hanyalah teknis pelaksanaannya saja. Dari dua model tersebut Dikdasmen sebenarnya hanya melakukan satu model rintisan yaitu Model (2) Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada (existing School) dan tidak memiliki atau berusaha untuk membuat model (1) Model Sekolah Baru. Anehnya, buku Panduan Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang dikeluarkan sebenarnya lebih mengacu pada Model (1) padahal yang dikembangkan saat ini semua adalah Model (2). Jelas bahwa sekolah yang ada tidak akan mungkin bisa memenuhi kriteria untuk menjadi sekolah SBI karena acuan yang dikeluarkan sebenarnya ditujukan bagi pendirian sekolah baru atau Model (1).
* Sebagai contoh, jika sekolah yang ada sekarang ini diminta untuk memiliki guru berkategori hard science seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi (dan nantinya diharapkan kategori soft science-nya juga menyusul) menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, atau memiliki tanah dengan luas minimal 15.000 m, dll persyaratan seperti dalam buku Panduan, maka jelas itu tidak akan mungkin dapat dipenuhi oleh sekolah yang ada. Ini ibarat meminta kereta api untuk berjalan di jalan tol!
Sebagai ilustrasi, sedangkan guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah ‘favorit’ kita saja hanya sedikit yang memiliki TOEFL > 500, padahal mereka adalah guru-guru bahasa Inggris yang telah mendapat pendidikan khusus tentang pembelajaran bahasa Inggris selama minimal 4 tahun di kampus dengan tenaga dosen mumpuni,. Tapi toh hanya sedikit di antara mereka (para guru bahasa Inggris) yang mampu memperoleh skor TOEFL >500. Apalagi jika itu dipersyaratkan bagi guru-guru mata pelajaran hard science. Maka itu jelas tidak mungkin. Ini berarti Dikdasmen tidak mampu untuk menerjemahkan model yang ditetapkannya sendiri sehingga membuat Dikdasmen berresiko gagal total dalam mencapai tujuannya.
3) Salah Asumsi
Konsep ini berangkat dari asumsi yang salah tentang penguasaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan hubungannya dengan nilai TOEFL. Dalam hal ini muncul asumsi bahwa untuk mengajar dengan bahasa pengantar bahasa Inggris maka seorang pendidik harus memiliki TOEFL > 500.Padahal tidak ada hubungannya antara nilai TOEFL dengan kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris.Banyak orang yang memiliki nilai TOEFL tinggi namun pada kenyaannya dia belum mampu menggunakan Bahasa Inggris secara baik dan benar,Jadi TOEFL bukanlah tolak ukur seoarng pengajar yang berkompeten dalam bahasa Inggris.Sungguh menyedihkan jika kita menghubungkan dua hal yang pada dasarnya tidak ada kaitanya sama sekali.
4) Ketidakpahaman
Di dalam buku Panduan Penyelenggaraan Rintisan RSBI/SBI dijelaskan bahwa seorang guru RSBI harus memenuhi syarat yaitu memiliki TOEFL > 500.Nampaknya penggagas ide tersebut tidak paham bahwa tidak semua orang ( terutama guru PNS ) bias dijadikan fasih berbahasa Inggris ( apalagi mengjar dengan menggunakan Bahasa Inggris )mereka meskipun orang tersebut diminta untuk tinggal dan hidup di negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari – hari. Di Indonesia, masih banyak kita temukan guru yang tidak fasih menggunakan Bahasa Indonesia dalam mengajar karena sebagian dari guru kita di tanah air ini masih menggunakan bahasa daerahnya dalam mengajar meski tinggal dan hidup di lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.Menjadikan orang dewasa yang tidak berbahasa Inggris sama sekali agar menguasai bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari atau untuk meminta mereka mentransfer konsep pengajaran dalam bahasa Inggris secara cepat adlah hal yang sangat sulit.Hal ini menunjukan bahwa tidak mungkin ‘menyulap’ para guru agar dapat fasih berbahasa Inggris secara cepat walaupun dikursuskan di sekolah bahasa Inggris terbaik.
5) Proses, dan Bukan Alat
Penggunaan kata atau istilah ‘ bertaraf Internasional ‘ juga memberikan asumsi yang salah bahwa sekolah bertaraf internasional itu harus menggunakan bahasa asing ( Inggris ) dan harus menggunakan alat-alat canggih seperti laptop,penyediaan ruang ber – AC, LCD, atau VCD.Bahkan ada yang beranggapan bahwa tanpa adanya sarana dan prasarana tersebut maka tidak memenuhi kriteria sekolah bertaraf Internasional.Padahal di negara-negara maju seperti Jepang, Perancis, Finlandia, Jerman, Korea, Italia, dll. yang dijadikan rujukan oleh negara kita tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pendidikan jika ingin menjadikan sekolah mereka bertaraf internasional.Disamping itu,masih banyak sekolah hebat di luar negeri yang masih menggunakan kapur tulis sebagai media pembelajaran dan tidak mensyaratkan penggunaan alat-alat canggih.
Program RSBI di Indonesia ini kelihatanya lebih mengutamakan alat daripada proses.RSBI dipandang sebagai suatu hal yang mewah dengan adanya alat-alat yang canggih dan mahal serta penggunaan bahasa Inggris dalam pembalajaranya.

6) Tujuan Pendidikan yang Misleading
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( RSBI ) mengadopsi atau berkiblat pada Standart Internasional seperti Cambridge atau Internasional Baccalaureate ( IB ) .Dengan sistem tersebut siswa mereka memang dipersiapkan untuk belajar dan melanjutkan ke luar negeri.Mereka tidak perlu dengan adanya Ujian Nasional karena mereka lebih dipersiapkan untuk ke Universitas di luar negeri bukan ke Universitas di Indonesia sendiri.Dengan demikian, apa yang sebenarnya hendak dituju dengan program RSBI?. Jika yang hendak dituju adalah peningkatan mutu pembelajaran dan output pendidikan maka mengadopsi IB ataupun mengikutsertaan siswa dalam ujian Cambridge bukan jawaban yang tepat. Ujian Cambridge hanya diperuntukkan bagi siswa yang ingin melanjutkan ke luar negeri.Meski demikian nilai yang tinggi dalam ujian Cambridge juga bukan jaminan penuh untuk diterima di perguruan tinggi di luar negeri.Ujian Cambridge hanya bersifat memudahkankan siswa untuk diterima di Perguran Tinggi Luar negeri yang mengakui hasil ujian Cambridge.Masalah yang muncul adalah berapa banyak siswa yang ingin melajutkan ke luar negeri? Berapa banyak lulusan dari sekolah kita yang mampu secara materi dan prestari untuk melanjutkan ke luar negeri ? Jika pemerintah tidak mempunyai data yang jelas tentang hal ini,tidak seharusnya pemerintah semenang-menang mengubah sistem menjadi RSBI.Hal tersebut sama halnya kita menelantarkan mereka yang tidak mampu melanjutkan ke luar negeri.Untuk apa kita bekerja keras membawa siswa kita menuju system Cambridge jika sebenarnya tujuan yang hendak dituju bukanlah kesana.Ini adalah contoh tujuan pendidikan yang misleading.Jelas sekali bahwa tidak mungkin sekolah memiliki dua kiblat yaitu Ujian Cambridge dan Ujian Nasional karena akan menyulitkan dan memberatkan bagi sekolah maupun murid untuk mengikuti dua kiblat tersebut. Alangkah ganjilnya jika sebuah sekolah yang bertaraf Internasional tapi kemudian masih harus mengikuti sebuah Ujian Nasional!.
7) Pernah Gagal di Malaisya
Malaisya adalah salah satu Negara yang juga menerapkan program RSBI di negaranya namun mereka menyatakan bahwa program RSBI/SBI tersebut gagal.Seharusnya pemerintah perlu mengetahui hal tersebut karena kita juga perlu belajar dari kegagalan – kegagalan Negara tersebut.Jangan sampai kita juga terperosok dalam kegagalan itu juga.Pengalaman Negara Malaisya dengan program pengajaran IPA dan matematika di sekolah – sekolah yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris sejak tahun 2003 ini sudah dianggap gagal dan berencana menghentikannya secara total pada tahun 2012 nanti.Berdasarkan riset yang mereka lakukan,penggunaan bahasa Inggris tersebut justru menurunkan mutu SDM. Dan Malaisya kembali menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar pendidikan.Sungguh kesalah besar jika kita mengulangi keslahn yang pernah dilakukan oleh Negara Malaisya.

8) Metode Pembelajaran yang Kurang Tepat
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Model pembelajaran dalam RSBI menggunakan bahasa Inggris sebagai medium of instruction ( bilingual pada setiap mata pelajaran ).Hal ini menimbulkan penekanan pada guru – guru yang pada dasarnya tidak memiliki kompetensi di dalam Bahasa Inggris,namun mereka dituntut untuk menguasai dan menyampaikan materi dalam bahasa inggris. Berharap target yang tinggi dari guru yang tidak kompeten (atau kompetensinya merosot karena harus menggunakan bahasa asing) adalah kesalahan yang sangat fatal. Resiko kegagalannya sangat besar untuk ditanggung. Program RSBI/SBI ini bakal menghancurkan best practices dalam proses KBM yang selama ini telah dimiliki oleh sekolah-sekolah Mandiri yang dianggap telah mencapai standar SNP tersebut.Bagaimana bisa seorang guru membantu peserta didiknya agar bias belajar dengan baik jika gurunya sendiri tidak baik dalam penyampaian materinya.
9) Pendidikan bermutu bukan hanya untuk orang yang cerdas dan kaya
Seorang siswa yang ingin masuk ke sekolah dengan program RSBI harus mengikuti beberapa tes diantaranya yaitu tes IQ , tes pengetahuan akademik, tes TOEFL, dan tes bakat minat.Dari serentetan tes tersebut terlihat bahwa program ini lebih mengutamakan seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi.Sehingga muncul asumsi bahwa seorang anak dengan kecerdasan rata – rata tidak dapat diterima di sekolah tersebut.Ini juga mengasumsikan bahwa SNP ( Standart Nasional Pendidikan ) hanyalah bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan ‘rata – rata’.Ini adalah asumsi yang berbahaya dan secara tidak sadar telah ‘mengkhianati’ SNP itu sendiri karena menganggapnya ‘tidak layak’ bagi siswa – siswa cerdas Indonesia.Disamping itu biaya yang mahal juga menunjukkan bahwa program ini hanya ditujukan untuk kalangan menengah ke atas yang mampu membayar uang gedung yang jumlahnya tidak sedikit.

Dan dampak negatif RSBI ;

1) Tergesernya Budaya Indonesia
Dalam hal ini yang dimaksud dengan budaya Indonesia yaitu
“ Bahasa Indonesia “.Bahasa Nasional yang diikrarkan pada tahun 1928 sebagai bahasa persatuan itu kini sedikit demi sedikt mulai tergeser. Peneliti bahasa, Dr Dendy Sugono, menilai penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan di sekolah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 (Kompas.com:8/11/10). Dalam Undang – Undang dasar 1945 pasal 29 tentang Bendera, Bahasa, Lambang negara serta lagu kebangsaan,disebutkan secara jelas bahwa bahasa resmi negara yang digunakan adalah Bahasa Indonesia.Hal ini juga bertentangan dengan Pasal 33 Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional .
Dalam kedua Undang – Undang tersebut,bahasa pengantar pendidikan nasional adalah bahasa Indonesia,sehingga sejumlah SBI dan RSBI seharusnya mengutamakan penggunaan bahasa Idonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan bukan bahasa asing seperti bahasa Inggris.
Untuk mencapai pendidikan bertaraf Internasional,seharusnya yang perlu ditingkatkan adalah mutu pendidikan dan wawasan para siswanya,tidak sebatas penggunaan bahasa asing di sekolah.

2) Rintisan Sekolah Bertarif Internasional
Telah terjadi kesalahan asumsi bahwa sekolah ‘bertaraf Internasional’ itu harus diajarkan dengan bahasa asing (Inggris) dengan menggunakan media pedidikan yang mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, VCD, dan lain – lain.Serta harus dilengkapi dengan fasilitas yang memadai dan serba wah,seperti ruang ber- AC, hotspot area, laboratorium praktikum yang mana biaya dari pengadaan sarana dan prasarana tersebut juga menjadi tanggungan para siswanya.Sebelum resmi menjadi seorang siswa di sekolah RSBI, dia akan disodori surat pernyataan tentang kesanggupan menyumbang fasilitas sekolah yang saat itu dibutuhkan misalnya computer. Bayangkan saja berapa harga computer saat itu, belum lagi uang pendaftaran yang tidak murah serta uang SPP bulanan yang saat ini mahalnya bersaing dengan biaya SPP di perguruan tinggi.Selain biaya fasilitas, kita lihat juga biaya yang digunakan untuk buku panduan.Buku yang digunakan adalah buku impor yang berstandart Negara maju, karena bukunya impor maka harganya pun impor alias mahal.
Negara Indonesia rata – rata berpenghasilan menengah ke bawah, jika semua sekolah berlomba – lomba untuk menjadi sekolah RSBI, maka bagaimana nasib orang yang tak mampu membiayai pendidikan anaknya.Tentu ini akan menimbulkan masalah putus sekolah pada anak – anak tidak mampu.

3) Menimbulkan paham diskriminatif
Salah satu hal yang melatar belakangi berdirinya program RSBI adalah untuk mencegah kalangan menengah keatas yang ingin mengirim anak-anaknya keluar negeri karena ingin memberikan pendidikan yang bermutu bagi anaknya.Tentunya alasan itu hanyalah isu belaka.Selama ini adakah hal yang membuktikan bahwa dengan adanya RSBI para orang tua yang ingin menyekolahkan ke luar negeri akhirnya membelokan mereka ke sekolah RSBI.Argumen tersebut juga terasa ganjil dan tidak wajar.Jika dipikir,kenapa pemerintah harus mencegah mereka yang ingin bersekolah di luar negeri dengan membuat program sekolah khusus seperti RSBI ini jika mereka sendiri pada dasarnya sudah memiliki kepandaian ( dan biaya ),sehingga mereka bisa bebas memilih pendidikan bermutu dimana saja.Bagi mereka dari kalangan menengah atas, pintu untuk masuk kesekolah mana saja adalah hal yang sangat mudah.Mereka tidak butuh sekolah gratis dan bisa bayar sekolah swasta semahal apapun.Uang bukanlah masalah buat mereka dan pemerintah tidak perlu repot-repot membuatkan program khusus untuk mereka yang ingin bersekolah di luar negeri.Program ini terlihat begitu mengabaikan siswa yang secara ekonomis dan akademis lebih membutuhkan penanganan. Sesungguhnya program ini adalah program yang memalukan bangsa dan menghianati rakyat kecil.Ini bersifat diskriminatif terhadap rakyat kecil.

4) Menyebabkan degradasi penurunan mutu pendidikan
Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar justru menurunkan kualitas pendidikan karena belajar menggunakan bahasa asing itu adalah hal yang sulit.Mata pelajaran IPA dan Matematika dengan panduan bahasa Indonesia aja sudah dianggap sulit oleh siswa, apalagi jika dituntut untuk mempelajari buku yang berbahasa Inngris denagn di ddampingi oleh guru yang tidak berkompeten juga.Hal tersebut justru merusak KBM.Karena dari guru maupun siswanya sama – sama tidak mengetahui jiwa buku tersebut.
Hal tersebut juga mempengaruhi psikologi seorang siswa. Seorang siswa yang belum siap akan sistem pembelajaran tersebut, dia pasti akan mengalami takanan karena merasa tidak mampu walaupun pada saat tes dia mendapatkan nilai TOEFL yang bagus.Tidak akan ada peningkatan mutu jika hal tersebut tetap terjadi.Justru sebaliknya, mutu pendidikan di Indonesia akan menurun.

5) Komersialisasi pendidikan
Salah satu kritik terbesar dari masyarakat tentang SBI ini adalah bahwa program ini telah memberi legitimasi kepada sekolah untuk melakukan komersialisasi pendidikan. Pendidikan diperdagangkan justru oleh pemerintah yang seharusnya memberikan pelayanan pendidikan kepada rakyatnya secara gratis dan juga bermutu. Komersialisasi pendidikan ini adalah pengkhianatan terhadap tujuan pendirian bangsa dan negara. Saat ini sekolah-sekolah publik RSBI bahkan telah menjadi lebih swasta dari swasta dalam memungut biaya pada masyarakat. Hampir semua sekolah RSBI menarik dana dari masyarakat dengan biaya tinggi yang sebenarnya sungguh tidak layak mengingat mereka adalah sekolah publik yang semestinya dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah dan ‘haram’ sifatnya menjadi komersial. Saat ini biaya untuk masuk ke sekolah SMA RSBI mencapai Rp. 15.000.000,- untuk biaya masuknya dan Rp. 450.000,- untuk SPP-nya.

6) Menimbulkan Kesenjangan Sosial
Program SBI ini di lapangan ternyata menciptakan kesenjangan sosial pada siswa. Program SBI menjadikan sekolah yang mengikutinya menjadi eksklusif dan menciptakan kastanisasi karena hanya bisa dimasuki oleh anak-anak kalangan menengah ke atas. Tingginya pembiayaan yang dikenakan pada orang tua siswa membuat sekolah-sekolah SBI ini tidak dapat dimasuki oleh anak-anak dari kalangan bawah. Akibatnya terjadi kesenjangan sosial di sekolah. Siswa yang belajar di program ini merasa seperti kelompok elit yang berbeda dengan siswa kelas reguler.

7) Meremehkan SNP
Salah satu masalah yang muncul dari istilah ‘bertaraf internasional’ adalah kerancuan dan keganjilan. Sungguh ganjil jika sebuah UU Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) tiba-tiba memunculkan sebuah istilah ‘bertaraf internasional’ ! Mau dimasukkan ke mana dan dengan konstelasi bagaimana sebuah sistem pendidikan yang ‘bertaraf internasional’ dalam sebuah Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), apalagi dianggap sebagai standar tertinggi? Coba bayangkan betapa ganjilnya sebuah UU tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang justru mengagung-agungkan kurikulum negara asing (OECD).

8) Kesalahan konseptual
Kesalahan konseptual (R)SBI adalah terutama pada penekanannya pada segala hal yang bersifat akademik dengan menafikan segala yang non-akademik. Semua keunggulan yang hendak dicapai oleh program SBI ini adalah keunggulan akademik semata dan tak ada lain. Seolah tujuan pendidikan adalah untuk menjadikan siswa untuk menjadi seseoarang yang cerdas akademik belaka. Tak ada dibicarakan tentang keunggulan di bidang Seni, Budaya, dan Olahraga. Padahal paradigma keunggulan akademik adalah pandangan yang sudah sangat kuno. Seolah ‘bertaraf internasional’ adalah keunggulan akademik padahal justru Seni, Budaya, dan Olahragalah yang akan lebih mampu mengantarkan kita untuk bersaing dan tampil di dunia internasional. Jika kita tanya pada hampir semua orang mengenai apa yang mereka ketahui tentang Negara Argentina maka jawaban yang kita dapatkan mayoritas menyatakan “Maradona.”! Dan Maradona bukanlah symbol tentang keunggulan akademik samasekali. Di negara lain pemerintah juga menyelenggarakan pendidikan khusus bagi anak-anak yang paling berbakat agar mereka dapat melesatkan potensi mereka tanpa bergantung pada siswa yang lambat. Ada beberapa sekolah publik untuk gifted students di Australia. Meski demikian pembiayaannya tidak dengan menarik iuran pada orang tua. Sekolah tersebut harus kreatif mencari dana untuk membiayai kegiatan-kegiatannya yang padat tersebut.

Terus bagaimana?

Secara elegan ada pesan dari alumni Sekolah Integral SMP Luqman Al Hakim mengatakan dengan kejujuran intelektualitasnya agar sekolah sekolah mengarah ke SBI yang dia maknai sebagai berikut;

1.  SBI : Sekolah Berstandar Integral (tidak sekuler, tidak mencetak siswa yang atheis atau agnostik bin munafik, tetapi mencetak pelajar yang beribadah pada Allah secara shahih, benar dan termanifestasikan hasil ibadahnya itu dalam keshalihan aktifitas lain sehari-hari)

2. SBI : Sekolah Berstandar Intelektual ( bisa dijamin lulusannya mempunyai logika berpikir yang bagus, bukan sekolah yang Soalnya Berbahasa Inggris)

3. SBI : Sekolah Berstandar Islami (khususnya yang sekarang sudah mengukuhkan dirinya dengan Sekolah Berlabel Islam)

4. SBI: Sekolah Berstandar Internasional ( sekolah yang jadi jujugan pencari ilmu dari seluruh penjuru dunia, bukan Sekolah Bertarif Internasional).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rihlah 2010 a Hidayatullah Batu

Batu, 25-26 Mei 2010

Sejuknya udara Villa Hidayatullah Batu menyambut rombongan SMP Putri  yang berjumlah 28 orang siang itu. Hamparan menghijau, kicau burung, lambaian lembut pucuk pinus menjadi senyum, sapa, salam di tempat wisata ruhani ini. Suasana seperti inilah yang kami damba, jauh-jauh dari Surabaya, dalam rangka Rihlah Akhirussanah Siswi kelas 9C SMP Putri Luqman Al Hakim. Setalah berjibaku dengan perhelatan Ujian Nasional, Ujian Sekolah dan Ujian Terbuka Al Quran selama 3 bulan terakhir, pikiran dan hati perlu disegarkan kembali dengan nuansa alami seperti ini.

Villa Hidayatullah Batu disesepuhi oleh kakek Hasan yang meskipun sudah sepuh tetap istiqomah untuk mengelola tempat ini menjadi ajang wisata ruhani yang islami. Ada masjid berdiri di tengah tengah vila dikelilingi pendopo, tempat makan lesehan, dan penginapan yang berisi kamar untuk ikhwan dan akhwat dilengkapi tempat meeting atau diklat. Di belakangnya, agak naik ke atas ada  hutan pinus diselingi tanaman kopi yang masih muda menjadi tempat yang cocok untuk kegiatan outbound. Menghadap ke selatan, terhampar kota Batu begitu jelas di bawah sana, dan mendongak sedikit ada gunung kecil arah Songgoriti. Waktu malam hanya tampak kerlap kerlip lampu perkotaan dan pedesaan, hampir sama seperti melihat kota Bandung dari Dago Pakar.

Tunggu foto dan  tulisan sambungannya….

Catatan Izza (bagian 2)

Insya ALLAH pada beberapa waktu ke depan, Bina Izzatu Dini, alumni SPiLuqkim 2006, akan berbagi pengalamannya mempersiapkan diri untuk meneruskan studi SMA di negeri Singapura. Selamat membaca…

Baca tulisan sebelumnya…

Banyak nilai plus di Pare ini. Biaya kursus yang sangat murah, rata-rata 100ribu per bulan, dengan pertemuan Senin-Jumat dua kali per hari. Jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga kursus di Surabaya, sungguh jauh. Namun, jangan pernah membayangkan kelas ber-AC, pembelajaran dengan LCD Proyektor, buku panduan dari luar negeri, atau fasilitas mewah semacamnya. Kondisi menyesuaikan harga. Namun semua itu tetap tidak mengurangi ilmu yang akan didapat. baca selengkapnya

Catatan Izza (bagian 1)

Insya ALLAH pada beberapa waktu ke depan, Bina Izzatu Dini, alumni SPiLuqkim 2006, akan berbagi pengalamannya mempersiapkan diri untuk meneruskan studi SMA di negeri Singapura. Selamat membaca…

Assalamualaikum wr. wb.

Menunggu studi SMA di Singapura yang baru dimulai Januari 2010 yang akan datang, sekalian menambah skill bahasa inggris yang masih jauh dari sempurna, saya memutuskan untuk menetap di Pare, kampung Inggris, selama beberapa bulan.

Setelah seminggu di Pare, saya rasa merupakan sebuah ide yang cukup menarik ketika Ust. Novri meminta saya untuk berbagi kisah dan pengalaman selama di Pare ini.

Pare disebut kampung Inggris bukan karena banyak bule yang tinggal di wilayah ini. Melainkan karena banyaknya lembaga kursus bahasa Inggris yang ada di Pare, tepatnya desa Tulungrejo. Ada sekitar 70 lebih lembaga kursus bahasa disini. Sebagian besar memang lembaga kursus bahasa Inggris, namun ada juga beberapa lembaga kursus bahasa Jepang, Mandarin, Korea, Arab, Jerman, dan Prancis. Tidak hanya menyediakan kursus, banyak yang juga menyediakan English Camp. Di sinilah yang saya pilih sebagai tempat tinggal saya selama di Pare.

Di English Camp ini ada kewajiban berkomunikasi bahasa Inggris selama 24 jam sehari, 6 jam seminggu, kecuali hari Minggu diliburkan dari kewajiban ini. Bagi yang melakukan pelanggaran, setiap camp memiliki konsekuensinya masing-masing. Di camp saya, setiap berbahasa Indonesia, per kata di denda 500 rupiah. Selain kewajiban berkomunikasi bahasa Inggris, juga ada program sholat subuh dan maghrib berjamaah, serta program ba’da subuh plus ba’da maghrib. Bisa berupa memorize vocab, speech, discuss, presentation, ataupun watching movie. (bersambung)

Alumni 06 Ngeluruk Kampus

Minggu (19/17) yang cerah saat sinar matahari menyengat terik, rombongan alumni angkatan 2006 yang baru seminggu lulus, ternyata sudah tidak tahan kangen dengan kampusnya tercinta, SPiLuqkim. Tidak kurang dari: Diva, Izza, Tya, Rani, Rina, Khansa, Dhita, Shofi, Uly, Nisa, Rhea, Hilya, Novi, Nia, Monic, dan Intan bikin rame kampus yang biasanya sepi di hari Minggu. Seperti biasa, kalo sudah dikumpulin pasti heboh. Cerita-cerita seru saat MOS di SMA/MA masing-masing jadi bahan gosip yang dominan. Sayang hari ini di SPiLuqkim sepi kegiatan jadi harapan mereka melepas rindu dengan guru dan pengasuhnya tidak terpuaskan. Ya gak apalah… Sering-sering sowan ke SPiLuqkim, ya neng…

alumni_190709

PSB online

Pendaftaran PSB Online

  1. Dilaksanakan mulai tanggal 1 Juli 2009 jam 00.00 s.d tanggal 4 juli 2009 jam 10.00.
  2. Tempat mendaftar bisa dari mana saja melalui internet selama 24 jam/hari.
  3. Dalam jam kerja tiap sekolah wajib menyediakan layanan PSB Online untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
  4. Mengunjungi website PSB Online www.psbsby-online.net dari tempat manapun, pilih pendaftaran. Ketik No UASBN/UN, PIN, dan Captcha, Klik Login Tersaji Data siswa lengkap.
  5. Mengisi pilihan sekolah. Bila pilihan sudah mantap, klik daftar. Data sudah “tidak bisa diubah lagi”.
  6. Calon siswa di ranking berdasar nilai UN/UASBN.
  7. Pengumuman dilaksanakan tanggal : 6 Juli 2009 pukul 00.00

Alumni Angkatan 2005 Mampir

Sudah berkali-kali alumni SPiLuqkim angkatan 2005, yang lulus bulan Juni lalu, bersilaturrahim ke almamaternya. Namun baru kunjungan pada hari Jumat (14/11) lalu yang sempat terekam kamera tim weblog SPiLuqkim. Mereka adalah: Ajeng, Nita, dan Nabila (SMA Muhammadiyah 2 Surabaya) serta Atul (SMK Adhika Wacana Surabaya) yang datang ke SPiLuqkim beberapa saat menjelang dhuhur. Tidak hanya kangen-kangenan dengan para guru, mereka pun sempat berkenalan dan berbagi cerita dengan adik kelas VII angkatan 2008 di kelasnya, karena kebetulan Ustd. Indana mendadak sakit.
Selain kunjungan (spontan) seperti ini, beberapa alumni juga sesekali datang ke SPiLuqkim untuk belajar (minta dibimbing) khususnya pelajaran Matematika dan Fisika. (artikel & foto: nov)

alumni05_141108