BLPH

Sebagai institusi dengan misi tarbiyah/pendidikan yang mengelola manusia dengan pernik-pernik permasalahannya maka Pesantren Hidayatullah mengembangkan Unit Kerja baru yaitu Biro Layanan Psikologi Hidayatullah. Biro ini sekarang dipimpin oleh Ustazah Feni Yuranoa, M.Si. Ustazah Feni adalah guru Bimbingan Konseling di SMP Putri Luqman Al Hakim. Memang bidang psikologi inilah yang sedang beliau geluti. Alhamdulillah, selama beliau di SMP Putri cukup banyak solusi-solusi permasalahan remaja yang berhasil beliau tangani dengan baik.
Selain secara rutin (harian) BLPH melayani lingkungan internal Sekolah Integral Luqman Al Hakim baik yang Fullday School maupun Boarding School berupa konseling untuk para siswa/i, training untuk pengasuh asrama, dan parenting class untuk ortu. Namun, ternyata secara eksternal juga aktif bergerak di level kota Surabaya. Hal itu bisa dilihat dari kegiatan yang terekan di blog BLPH.
Kami berharap semoga dengan adanya BLPH ini melengkapi kebutuhan dunia pendidikan di Hidayatullah yang bervisi pendidikan integral berbasis tauhid. Selamat!

Mabit Ramadhan 1431 H

Bulan Ramadhan adalah bulan pelatihan. Banyak cara untuk memanfaatkan momen Ramadhan di sekolah. Salah satunya adalah kegiatan Mabit Ramadhan seperti yang dilaksanakan di SMP Putri Luqman Al Hakim. Mabit artinya bermalam, tetapi umumnya juga dikenal kependekan dari Malam Bina Iman Taqwa.

Tema Mabit Ramadhan kami di 2010 ini adalah melejitkan energy iman menuju taqwa. Acara ini diselenggarakan oleh SMP Putri secara mandiri. Acara dibuka Jumat pagi (27/08) oleh Ust. Rahmi Andri mewakili kepala sekolah SMP Integral Luqman Al Hakim. Merasakan hidup berjamaah di bulan suci, menebar solidaritas dan kasih sayang, muhasabah, dan ibadah, itulah inti sambutan pembukaan mabit 2010 ini.

Materi pertama disampaikan tausiyah dari Ust Nur Aziz yang menyampaikan tema proaktif dalam meraih kemenangan. Materi dilanjutkan oleh ustazah Feni yang membawakan tentang kreasi busana muslimah yang tetap syar’i. Setelah break ada kajian dan tips kesehatan di bulan puasa yang disampaikan Ustzh Nurita.

Tiba waktu dhuhur kegiatan berpindah di mushola Assakinah. Tadarus Quran, Khitobah, sholat berjamaah, dan wirid itulah yang dilakukan disana. Acara dilanjutkan dengan diskusi tentang mitos-mitos seputar Ramadhan yang dipandu Ustazah Nin Ros Laila , sampai menjelang ashar. Waktu ashar tiba untuk bersih-bersih dan sholat. Bakda ashar digunakan untuk mempersiapkan buka puasa bersama orangtua.

Forum Kelas 7,8,9 dikoordinir oleh Bpk Hendra (Wali siswi Maharani 7C) dan Bpk Asmungi (wali dari Surya 8C) telah menyusun acara untuk menjelang datangnya saat berbuka. Acara diisi oleh Ust Miftakhuddin, yang menyampaikan tentang orientasi hidup, dan amanah Allah berupa putra putri. Baca lebih lanjut

Siswa High Tech, Guru dan Ortu High Touch

Oleh Rahmi Andri Wijonarko,ST*

Menjadi orangtua/guru di abad 21 menyajikan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi yang tersedia untuk anak-anak kita tidak seperti yang pernah dilihat bangsa kita sebelumnya. Lihat saja saat anak Anda membuat presentasi Powerpoint sekolah – sesuatu yang sama sekali tidak pernah terdengar ketika kita masih seusia mereka. Melalui ponsel, pesan teks (sms), pesan gambar (mms), internet, dan situs jaringan sosial, anak-anak kita dapat dihubungkan ke orang-orang di seluruh dunia. Sungguh menakjubkan.
Tetapi pada saat yang sama, dengan kemajuan teknologi yang luar biasa ini datang potensi bahaya. ’Predator online’ berlimpah di internet, dan siapa yang tahu, ada berapa banyak teman telah mengaku berstatus usia 11 tahun di Facebook sebenarnya seorang penculik anak atau gadis, berusia 41 tahun yang sedang mencari korban berikutnya. Kasus penculikan siswi kelas 1 SMA gara-gara Facebook di Jombang bulan Oktober 2009 adalah contoh nyata. Awal Februari 2010 kembali masyarakat dihebohkan berita anak kelas 8 SMP di Sidoarjo-Marieta Nova- yang pergi bersama ’suami versi facebooknya-Ari Power (18 tahun) asal Depok. Saat yang hampir berurutan Tiur, siswi sebuah SMA di Surabaya juga hilang, diduga pergi bersama teman facebook-annya. Penyalahgunaan teknologi kembali terjadi. Baca lebih lanjut

50 Tahun Mendatang Anak Kita…

Oleh Fauzil A.

[www.hidayatullah.com]

50 tahun yang akan datang, anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan zikir kepada Allah

50 tahun yang akan datang…

Mungkin kita sudah mati dan jasad kita dikubur entah dimana; atau sedang tua renta sehingga harus berpegangan tongkat untuk berjalan; atau sedang menjemput syahid di jalan Allah di hari yang sama dengan hari ketika kita bertemu sekarang dan jam yang sama dengan jam saat kita berbincang; atau kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allahumma amin…

50 tahun yang akan datang…

Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Baca lebih lanjut

Belajar Yuuuk!

(Tulisan diambil dari: http://www.erlangga.co.id)

Dewi, cewek yang duduk di kelas tiga di sebuah SMA negeri di Bandung sibuk ngebolak-balik halaman buku persiapan ujiannya. Sesekali, jari-jarinya lincah mencet-mencet keypad handphone-nya. Ups, bukan untuk SMS-an sama cowok barunya, melainkan ngitung pake fitur kalkulator. Beberapa saat kemudian, tangan kirinya beralih ke arah setoples biskuit yang sudah tinggal setengahnya. Soal-soal fisika yang dari tadi bikin njelimet ternyata enggak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Apalagi, saat matanya lelah memandangi soal-soal yang jumlahnya puluhan, dia tinggal mengarahkan pandangannya ke arah televisi. Di situ, tampak dua orang presenter cewek-cowok yang asyik bawain acara gosip. “Ah, koq bokapnya dia ngomong gitu ya? Aneh banget!” ujarnya mengomentari gosip vokalis band yang sedang naik daun dengan sang pacar.

Hmm, selingan yang cukup bikin otak kembali segar. Makanya, enggak lama kemudian, Dewi pun kembali berkutat dengan rumus-rumus, plus handphone-nya. Gambaran di atas bukan cerita rekayasa belia lho. Tapi beneran kejadian sama adik belia yang bentar lagi mau ikutan ujian akhir sekolah dan ujian akhir nasional. Kerjaannya tiap hari hampir seperti itu. Buka-buka buku persiapan ujian, berlatih ngerjain soal-soal–biar saatnya tiba, enggak kaget dengan jumlah soal yang seabrek. Sore harinya, pergi les or bimbel barengan temen-temennya.

Waduuh, emang ujian itu saat-saat yang paling tidak menyenangkan. Kecuali kalau Belia emang punya hobi aneh–sangat senang dengan ujian! Haha, tapi kalau enggak ada ujian, Belia bakal kayak Unyil or Nobita yang enggak pernah naik-naik kelas, atau beranjak ke SMP. Biar ngerasa ditemenin pas saat ujian, nih, belia kasih buat kamu-kamu yang mau ujian, tips-tips belajar yang bakal bikin kamu semangat ngadepin ujian yang udah di depan mata. Siap? Yuk!
tanggung….mending baca terusannya

Remaja Berbakat itu Mandiri

Penelitian yang dilakukan Dra. Wisjnu Martani, SU menyimpulkan, remaja berbakat dalam mengekspresikan keberbakatannya dalam bentuk akademis dipengaruhi oleh faktor intrapersonal (faktor yang ada di dalam diri individu) dan faktor lingkungan.

Kesimpulan penelitian yang dilakukan Wisjnu mengatakan, faktor intrapersonal yang paling berperan bagi pencapaian prestasi akademis remaja berbakat adalah faktor kemandirian. Remaja berbakat menurutnya memiliki taraf kemandirian yang tinggi, sehingga mereka tanpa diminta oleh orangtua, guru ataupun teman sebaya sudah belajar sendiri. Sementara itu, faktor lain yang berperan dalam pencapaian prestasi akademis adalah dukungan teman sebaya. Kata dosen Fakultas Psikologi UGM ini, suatu hal yang menarik adalah antara dukungan teman sebaya dengan prestasi akademis remaja berbakat arah hubungannya negatif, jadi semakin besar dukungan teman sebaya maka semakin kecil (tidak bagus) prestasi akademisnya. “Artinya bagi remaja berbakat dukungan teman sebaya tidak diarahkan pada kegiatan akademis, karena bagi remaja berbakat teman sebaya merupakan competitor. Remaja berbakat membutuhkan dukungan sebaya adalah untuk kebutuhan-kebutuhan yang bersifat non-akademis.

Lebih lanjut, Wisjnu Martani menyarankan bahwa faktor kemandirian mempunyai peran yang paling besar dalam pencapaian prestasi akademik umum maupun bidang matematika dan ilmu pengetahuan sosial. Oleh karena itu, dia berharap dalam penyusunan program pengembangan remaja berbakat disekolah, faktor kemandirian perlu diperhatikan, misalnya dengan menerapkan model pembelajaran independent learning. Disamping itu, disarankan pula untuk dilakukan pengubahan cara guru mengajar, agar menyesuaikan dengan karakteristik siswa, khususnya siswa yang termasuk berbakat. Masih perlu dilakukan kajian lanjut faktor yang berperan dalam pencapaian akademis remaja berbakat yang berprestasi di bawah kemampuan (underachiever) dan pada remaja yang tidak termasuk dalam katagori berbakat, sehingga dapat dirancang program pengembangan yang lebih akurat dan sesuai dengan kebutuhan mereka (Humas UGM)

Remaja Bingung Jenis Kelaminnya Sendiri?

Aha…masih nongkrongin TV and masih sering nonton acara yang menyuguhkan ‘bencong’ di depan kamu? Kira-kira bakal berapa abrek lagi manusia semacam itu di layar TV-mu? Benapa bisa begitu? Baca deh tulisan berikut….!

Hidayatullah.com–Kebebasan yang didengungkan masyarakat Barat memang kelewat batas. Beberapa tahun belakangan semakin banyak anak-anak yang dibiarkan tidak memahami eksistensi dan jatidirinya dengan baik, hingga akhirnya banyak muncul kasus operasi ganti kelamin di kalangan anak-anak remaja. Alasan yang biasa dikemukakan adalah karena mereka mengalami gender dysphoria, keadaan di mana seseorang merasa terperangkap pada tubuh dengan jenis kelamin yang salah.

Padahal jika diperhatikan lebih cermat, masalah itu adalah karena kebiasaan sejak kecil. Anak-anak itu dibiarkan tumbuh tanpa bimbingan yang baik untuk mengenal siapa dirinya. Orangtua hanya “pasrah” menuruti kebiasaan yang ditunjukkan oleh anak mereka, hingga akhirnya terbawa hingga dewasa. Jelas sekali orangtua tidak menggunakan masa 0 tahun hingga balita, yang merupakan masa emas untuk pembentukan jatidiri anak.
*****
lanjut