Ketika Keyakinan Harus Bertempur Melawan Nilai Raport

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Ada banyak ‘model’ sekolah-sekolah Islam yang dikenal masyarakat. Sebut saja sekolah milik ormas Muhammadiyah, NU, atau Al Irsyad yang lebih dahulu eksis di republik ini. Ada pula sekolah franchise macam Al Azhar atau sekolah elit macam Al Hikmah dan Al Falah.

Di antara sekolah-sekolah islam itu, Sekolah Integral Luqman Al Hakim yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Hidayatullah bisa dibilang menerapkan syariat dengan lebih ketat. Bahkan ada yang mengecap terlalu fanatik. Sebut saja: pemisahan kelas putra dan kelas putri sejak kelas IV SD hingga IX SMP, mengenakan jilbab panjang hingga ke dada (bahkan di Hidayatullah Balikpapan mayoritas wanitanya bercadar), wajib mengenakan rok panjang meski dalemannya sudah bercelana panjang, tidak berjabat tangan antara ikhwan (pria) dan akhwat (wanita), sholat fardhu tepat waktu (bahkan pelajaran maupun rapat harus dihentikan jika adzan berkumandang dan segera ke masjid). Ini belum setumpuk pelajaran-pelajaran diniyah plus penanaman nilai-nilai islam lewat berbagai pelajaran akademik.

Namun, betapapun keras dan intensnya upaya suatu lembaga pendidikan untuk mendidik muridnya, tidak satu pun yang berani menggaransi (apalagi lifetime warranty) kualitas lulusannya. Betapapun tingginya cita-cita dan impian tentang profil lulusan, tidak ada satu lembaga pun yang berani menjamin lulusannya akan memenuhi semua kriteria tersebut. Harus diakui, demikian pula dengan lembaga ini. baca terus

MOS SpiLuqkim: Bakti Sosial “Birul Walidayni”

Sabtu (25/07), 55 orang siswi SpiLuqkim, termasuk 17 orang siswi baru kelas VII/C, mengadakan kunjungan ke pondok sosial Pemkot Surabaya di kawasan Keputih. Kegiatan singkat yang merupakan penutupan rangkaian Masa Orientasi Siswi (MOS) ini digelar bekerja sama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Surabaya. Selain sebagai upaya memupuk kepekaan sosial, kegiatan ini juga bertujuan menghapus kesan MOS yang identik dengan perploncoan. Selama berada di pondok sosial ini, siswi menyerahkan bingkisan kecil yang dikumpulkan dari infaq mingguan mereka kepada para lanjut usia yang dititipkan disini. Kegiatan diisi pula dengan wejangan dari pengelola pondok sosial, pembacaan “Surat Untuk Eyang” oleh Ust. Aziz, dan doa bersama.
Lihat foto-foto kegiatan

Tips Menghadapi MOS

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Tahun ajaran baru telah dimulai, terutama bagi sekolah-sekolah negeri baik SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA (kalo SPiLuqkim sih masuknya baru tanggal 21 Juli). Beberapa alumni SPiLuqkim melayangkan curhat lewat pesan singkat. Umumnya mereka ‘takut’ menghadapi MOS di sekolahnya yang baru. Apalagi setelah menghadiri pra-MOS kemarin (Minggu, 12/07) mereka semakin ‘ngeri’ karena umumnya mendapatkan penugasan yang aneh-aneh. So, disini kami mau berbagi sedikit tips agar kamu bisa menghadapi MOS dengan gagah berani tanpa ada perasaan terintimidasi.

INGAT: MASA-MASA PERPLONCOAN SUDAH LEWAT!!!
Sebelumnya, kita inventarisir dulu segala macam tindakan yang disebut perploncoan (bullying): baca selengkapnya

Dahulukan Ilmu Fardhu ‘Ain dalam Mencari Ilmu

Banyak orang Islam lalai. Berlomba-loma mencari ilmu yang tidak wajib, tapi justru lalai dengan yang wajib (fardhu ‘ain)

Hidayatullah.com

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain yang ahlinya bagaikan menggantungkan permata mutiara dan emas pada babi hutan. (HR. Ibnu Majah)

Dalam satu hadits lain, Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang kedatangan ajal, sedang ia masih menuntut ilmu, maka ia akan bertemu dengan Allah dimana tidak ada jarak antara dia dan antara para nabi, kecuali satu derajat kenabian. (HR. Thabrani)

Mencari ilmu adalah amal yang mulia dan terpuji dalam Islam. Sebab dengan ilmu-lah seseorang dapat menghindari larangan Allah, menjalankan perintah-Nya, dan mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil. Karena itulah, dalam banyak hadits disebutkan, para malaikat selalu melindungi orang-orang yang sedang menuntut ilmu. Dan kelak di hadapan Allah mereka mendapat kemuliaan, yang hanya terpaut satu derajat dengan para nabi.

Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Akan tetapi, akhlaq mencari ilmu kaum Muslim berbeda dengan kaum yang lain. Orang mukmin, perlu mengetahui adab-adabnya, sehingga ilmu yang diperoleh berbarakah dan mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala. Berikut, beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu. baca selengkapnya

Remember These, When You Come to Other’s House

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Ada-ada saja problem yang dicurhatin ke saya. Kadang masalah yang sangat berat hingga memperbanyak rambut saya yang rontok. Kadang sesuatu yang sepertinya sangat sepele. Tetapi bagi orang lain cukup rumit dan bikin pusing.

Seperti baru-baru ini, dua orang sekaligus share masalah yang mirip kepada saya. Pertama, seorang ibu yang mengeluh tetangganya suka nyelonong masuk ke rumahnya meski tidak ada orang atau bahkan saat keluarganya sedang istirahat siang. Kedua, sahabat lama saya yang juga seorang pengelola pondok pesantren (di sebuah kota di Jawa Timur) mengeluhkan rekannya dari unit lain (B) yang masuk ke ‘wilayahnya’ meski di saat unitnya (A)  sedang libur dan tidak ada yang piket. Ngapain? Menurut teman saya, biasanya pinjam sesuatu. Tetapi yang terakhir kali beberapa rekannya mengadakan rapat (bersama pimpinan B) di ruang unitnya di saat libur dan ia tidak pernah mendapat pemberitahuan termasuk pula pimpinan unitnya (A).

Saya coba buka-buka kitab tentang adab. Subhanallah… Ternyata hasilnya sangat mencengangkan! Hal yang terlihat sepele ini mendapat perhatian yang luar biasa dalam Islam. selengkapnya

Hormati Gurumu!

(dari hidayatullah.com)

Tiap bulan lahir ratusan doktor dan kaum professional di dunia dari rahim dunia pendidikan. Namun berapa banyak murid yang menghormati guru-guru mereka?  Saat ini, era di mana sikap santun dan hormat  yang telah menipis bagi banyak orang untuk menghormati jasa guru. Tak sedikit orang cerdik pandai lahir ke dunia namun mereka lupa seolah-olah kepandaian dan kekayaan ilmunya jadi dengan sendirinya tanpa sentuhan dan doa para guru-guru mereka yang mengajarkan secara ikhlas. baca selengkapnya

Learning from the Trouble, the Pain, and the Sorrow

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Suatu hari seorang anak kecil sedang bermain di taman. Tengah asyik bermain perhatiannya tiba-tiba tertuju kepada suatu pemandangan yang unik dan langka. Di ranting sebuah tanaman perdu ia melihat seekor calon kupu-kupu yang baru saja menyelesaikan fase kepompongnya dan berusaha keras keluar dari selubung kepompong. Tubuh kupu-kupu itu cukup besar bila dibandingkan dengan sempitnya lubang kepompong. Akibatnya sang kupu-kupu harus bersusah payah keluar dari lubang sempit itu. Karena iba, sang anak kecil berusaha membantu dengan menyobek sedikit selubung kepompong itu hingga terbentuk lubang yang cukup besar bagi sang kupu-kupu untuk dapat keluar. Benar saja, kupu-kupu itu dengan mudahnya keluar. Sang anak kecil tersenyum dan meninggalkan kupu-kupu muda itu dengan perasaaan puas karena merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Yang ia tidak tahu adalah tidak berapa lama kemudian kupu-kupu itu mati tanpa sempat mengepakkan sayapnya. baca selengkapnya