Mabit Ramadhan Merdeka

Momen 17 Agustus dan 17 Ramadan 1432 H secara berbarengan diisi kelas putri SMP Luqman Al Hakim dengan mabit (Pondok Ramadhan). Di awali dengan apel  Rabu pagi, dirangkai dengan  Sholat Dhuha acara tersebut dibuka oleh ketua panitia, ustazah Nin Ros Laila. Sebagai materi pertama, diisi oleh ust Anwar Djaelani, dengan dialog interaktif ramadhan sebagai bulan pembelajaran mengendalikan nafsu, membentuk pribadi jujur meraih taqwa. Acara sangat menarik siswi. Mereka diajak mengemukakan pendapatnya untuk menggali potensi positif diri lebih dalam. Saking asyiknya sepertinya jatah waktu yang diberikan masih kurang. Lain kali bisa tambah, ustadz?

selengkapnya

Iklan

Catatan Izza (bagian 2)

Insya ALLAH pada beberapa waktu ke depan, Bina Izzatu Dini, alumni SPiLuqkim 2006, akan berbagi pengalamannya mempersiapkan diri untuk meneruskan studi SMA di negeri Singapura. Selamat membaca…

Baca tulisan sebelumnya…

Banyak nilai plus di Pare ini. Biaya kursus yang sangat murah, rata-rata 100ribu per bulan, dengan pertemuan Senin-Jumat dua kali per hari. Jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga kursus di Surabaya, sungguh jauh. Namun, jangan pernah membayangkan kelas ber-AC, pembelajaran dengan LCD Proyektor, buku panduan dari luar negeri, atau fasilitas mewah semacamnya. Kondisi menyesuaikan harga. Namun semua itu tetap tidak mengurangi ilmu yang akan didapat. baca selengkapnya

Catatan Izza (bagian 1)

Insya ALLAH pada beberapa waktu ke depan, Bina Izzatu Dini, alumni SPiLuqkim 2006, akan berbagi pengalamannya mempersiapkan diri untuk meneruskan studi SMA di negeri Singapura. Selamat membaca…

Assalamualaikum wr. wb.

Menunggu studi SMA di Singapura yang baru dimulai Januari 2010 yang akan datang, sekalian menambah skill bahasa inggris yang masih jauh dari sempurna, saya memutuskan untuk menetap di Pare, kampung Inggris, selama beberapa bulan.

Setelah seminggu di Pare, saya rasa merupakan sebuah ide yang cukup menarik ketika Ust. Novri meminta saya untuk berbagi kisah dan pengalaman selama di Pare ini.

Pare disebut kampung Inggris bukan karena banyak bule yang tinggal di wilayah ini. Melainkan karena banyaknya lembaga kursus bahasa Inggris yang ada di Pare, tepatnya desa Tulungrejo. Ada sekitar 70 lebih lembaga kursus bahasa disini. Sebagian besar memang lembaga kursus bahasa Inggris, namun ada juga beberapa lembaga kursus bahasa Jepang, Mandarin, Korea, Arab, Jerman, dan Prancis. Tidak hanya menyediakan kursus, banyak yang juga menyediakan English Camp. Di sinilah yang saya pilih sebagai tempat tinggal saya selama di Pare.

Di English Camp ini ada kewajiban berkomunikasi bahasa Inggris selama 24 jam sehari, 6 jam seminggu, kecuali hari Minggu diliburkan dari kewajiban ini. Bagi yang melakukan pelanggaran, setiap camp memiliki konsekuensinya masing-masing. Di camp saya, setiap berbahasa Indonesia, per kata di denda 500 rupiah. Selain kewajiban berkomunikasi bahasa Inggris, juga ada program sholat subuh dan maghrib berjamaah, serta program ba’da subuh plus ba’da maghrib. Bisa berupa memorize vocab, speech, discuss, presentation, ataupun watching movie. (bersambung)

Alumni Angkatan 2005 Mampir

Sudah berkali-kali alumni SPiLuqkim angkatan 2005, yang lulus bulan Juni lalu, bersilaturrahim ke almamaternya. Namun baru kunjungan pada hari Jumat (14/11) lalu yang sempat terekam kamera tim weblog SPiLuqkim. Mereka adalah: Ajeng, Nita, dan Nabila (SMA Muhammadiyah 2 Surabaya) serta Atul (SMK Adhika Wacana Surabaya) yang datang ke SPiLuqkim beberapa saat menjelang dhuhur. Tidak hanya kangen-kangenan dengan para guru, mereka pun sempat berkenalan dan berbagi cerita dengan adik kelas VII angkatan 2008 di kelasnya, karena kebetulan Ustd. Indana mendadak sakit.
Selain kunjungan (spontan) seperti ini, beberapa alumni juga sesekali datang ke SPiLuqkim untuk belajar (minta dibimbing) khususnya pelajaran Matematika dan Fisika. (artikel & foto: nov)

alumni05_141108