Ketika Keyakinan Harus Bertempur Melawan Nilai Raport

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Ada banyak ‘model’ sekolah-sekolah Islam yang dikenal masyarakat. Sebut saja sekolah milik ormas Muhammadiyah, NU, atau Al Irsyad yang lebih dahulu eksis di republik ini. Ada pula sekolah franchise macam Al Azhar atau sekolah elit macam Al Hikmah dan Al Falah.

Di antara sekolah-sekolah islam itu, Sekolah Integral Luqman Al Hakim yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Hidayatullah bisa dibilang menerapkan syariat dengan lebih ketat. Bahkan ada yang mengecap terlalu fanatik. Sebut saja: pemisahan kelas putra dan kelas putri sejak kelas IV SD hingga IX SMP, mengenakan jilbab panjang hingga ke dada (bahkan di Hidayatullah Balikpapan mayoritas wanitanya bercadar), wajib mengenakan rok panjang meski dalemannya sudah bercelana panjang, tidak berjabat tangan antara ikhwan (pria) dan akhwat (wanita), sholat fardhu tepat waktu (bahkan pelajaran maupun rapat harus dihentikan jika adzan berkumandang dan segera ke masjid). Ini belum setumpuk pelajaran-pelajaran diniyah plus penanaman nilai-nilai islam lewat berbagai pelajaran akademik.

Namun, betapapun keras dan intensnya upaya suatu lembaga pendidikan untuk mendidik muridnya, tidak satu pun yang berani menggaransi (apalagi lifetime warranty) kualitas lulusannya. Betapapun tingginya cita-cita dan impian tentang profil lulusan, tidak ada satu lembaga pun yang berani menjamin lulusannya akan memenuhi semua kriteria tersebut. Harus diakui, demikian pula dengan lembaga ini. baca terus

Share and Be Happy

Oleh: Andri Wongso
Take and Give, itulah kata yang sering kita dengar. Namun sekarang telah terjadi pergeseran, sejak dengan memberi kita akan mendapatkan kebahagiaan maka istilahnya menjadi Give and Take. Kita semua ini harus berbagi agar mendapat kesejahteraan bagi semua umat. Namun semangat berbagi memang masih harus diperjuangkan.
Berikut adalah ilustrasi cerita, yang dengannya kita bisa terinspirasi dan termotivasi untuk berbagi.
Adi adalah seorang anak SD kelas lima. Dia selalu membawa bekal ke sekolah. Setiap hari Adi selalu datang pagi sekali. Teman – temannya pun belum ada yang datang. Suatu hari saat jam istrahat tiba, Adi terkejut melihat bekal yang dibawanya dari rumah berkurang separuh.

Dia pun bertanya dalam hati, siapa kiranya yang mengambil separuh bekalnya. Ketika pulang sekolah, Adi langsung mengklarifikasi mengenai bekalnya yang hilang separuh itu kepada ibunya. Lalu Ibu Adi berkata bahwa beliau tidak pernah kurang menyiapkan bekal Adi.
baca lanjutannya

Tips Menghadapi MOS

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Tahun ajaran baru telah dimulai, terutama bagi sekolah-sekolah negeri baik SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA (kalo SPiLuqkim sih masuknya baru tanggal 21 Juli). Beberapa alumni SPiLuqkim melayangkan curhat lewat pesan singkat. Umumnya mereka ‘takut’ menghadapi MOS di sekolahnya yang baru. Apalagi setelah menghadiri pra-MOS kemarin (Minggu, 12/07) mereka semakin ‘ngeri’ karena umumnya mendapatkan penugasan yang aneh-aneh. So, disini kami mau berbagi sedikit tips agar kamu bisa menghadapi MOS dengan gagah berani tanpa ada perasaan terintimidasi.

INGAT: MASA-MASA PERPLONCOAN SUDAH LEWAT!!!
Sebelumnya, kita inventarisir dulu segala macam tindakan yang disebut perploncoan (bullying): baca selengkapnya

Learning from the Trouble, the Pain, and the Sorrow

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Suatu hari seorang anak kecil sedang bermain di taman. Tengah asyik bermain perhatiannya tiba-tiba tertuju kepada suatu pemandangan yang unik dan langka. Di ranting sebuah tanaman perdu ia melihat seekor calon kupu-kupu yang baru saja menyelesaikan fase kepompongnya dan berusaha keras keluar dari selubung kepompong. Tubuh kupu-kupu itu cukup besar bila dibandingkan dengan sempitnya lubang kepompong. Akibatnya sang kupu-kupu harus bersusah payah keluar dari lubang sempit itu. Karena iba, sang anak kecil berusaha membantu dengan menyobek sedikit selubung kepompong itu hingga terbentuk lubang yang cukup besar bagi sang kupu-kupu untuk dapat keluar. Benar saja, kupu-kupu itu dengan mudahnya keluar. Sang anak kecil tersenyum dan meninggalkan kupu-kupu muda itu dengan perasaaan puas karena merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Yang ia tidak tahu adalah tidak berapa lama kemudian kupu-kupu itu mati tanpa sempat mengepakkan sayapnya. baca selengkapnya

Menyambut Hardiknas 2009 dengan Kemunafikan

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Menjelang Hardiknas tahun 2009 ini, dunia pendidikan Indonesia disibukkan dengan agenda Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SMA/SMK/MA dan dilanjutkan dengan UAN tingkat SMP/MTs.

Saya tidak ingin menambah panjang daftar artikel yang menjelentrehkan bobroknya sistem pendidikan nasional maupun inkonsistensi pemerintah antara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlandaskan UU Sisdiknas dengan pelaksanaan UAN yang merenggut hak guru untuk mengevaluasi dan memutuskan kelulusan anak didiknya.

(Bisik-bisik di tingkat akar rumput: Mengapa kurikulum kerap gonta-ganti? Karena pesanan para penerbit buku agar tiap tahun buku bisa ganti. Mengapa UAN tetap dipertahankan meski bertentangan dengan UU Sisdiknas? Karena pesanan dari para bos pemilik Lembaga Bimbingan Belajar, LBB. Bahkan Depdiknas akan membuat Ditjen khusus yang membawahi LBB. Lagipula kalau dipikir-pikir, milyaran rupiah dana pelaksanaan UAN kan menggiurkan banget, tuh!)

Saya cuma ingin berbagi beberapa catatan sedih…

gak menarik, jangan diterusin bacanya

Kisruh DPT dan SIM C AsPal

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Beberapa waktu belakangan ini, info seputar pemilihan calon anggota legislatif (Pileg) 2009 menjadi menu wajib di berbagai media massa. Saya (yang tiap hari baca TV, nonton koran) kok jadi mblenger lihat berita Pileg yang menghiasi televisi, koran, dan radio setiap hari. Mulai dari kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang diduga menjadi lahan penggelembungan suara dan hilangnya hak pilih jutaan WNI, ulah caleg yang stess karena minim perolehan suara, rombengan koalisi sana-sini, hingga ancaman boikot Pilpres. Padahal, trilyunan rupiah uang rakyat dihamburkan untuk ‘pesta demokrasi’ yang gak jelas kayak gini.

Karena kapasitas saya sebagai pengasuh dan pengelola sekolah, saya ingin memfokuskan artikel ini kepada fakta-fakta yang berkaitan dengan anak-anak didik saya. Apa hubungannya pemilu dengan anak SMP? Bukankah mereka belum memiliki hak pilih?

Begini loh… baca selengkapnya

UAN dan Hamil – Masalah Akhlak

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Senin (20/04) bertepatan dengan dimulainya Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SMA/MA/SMK. Pagi-pagi sekali saya dilanda nyeri perut yang luar biasa. Mestinya saya bisa tidak masuk dengan alasan sakit. Namun karena sudah janji untuk membantu panitia UAN di SMA Luqman Al Hakim menyiapkan sound system, saya kuatkan diri untuk berangkat juga. Setelah beres, saya kembali ke kantor di SPiLuqkim dan nggelethak di lantai sambil menahan sakit perut. Akhirnya sekitar pukul setengah sembilan setelah menghabiskan teh hangat buatan Ustd. Ulfa, saya minta ijin ke Ustd. Ina (Waka SPiLuqkim) untuk pulang.

Di kos-kosan, saya terkapar sendirian tak berdaya sambil sesekali terbirit-birit ke toilet. Seperti biasa jika berada di kamar kos, radio saya nyalakan dan tune-in di Suara Surabaya FM (SS). Seharian itu isu yang dibahas seputar UAN SMA/MA/SMK. Beragam info dan opini masyarakat diudarakan sejak pagi.

Salah satu isu yang mengusik saya sebagai pendidik adalah kasus siswi SMK Negeri 8 Surabaya yang di-DO sekolahnya sebulan menjelang UAN karena kedapatan hamil. Sang kepala sekolah berargumen bahwa tiap awal tahun ajaran siswa-siswinya telah menandatangani klausul pernyataan menyanggupi peraturan dan tata tertib sekolah, yang di antaranya menyebutkan larangan menikah dan hamil. Sanksi atas pelanggaran aturan tersebut adalah dikembalikan ke orang tua/wali, bahasa halusnya dari dikeluarkan. Di pihak lain, sang siswi (yang di-back up oleh seorang anggota Komisi D DPRD Surabaya) berdalih aturan itu baru diberlakukan tahun 2009 sedangkan ia masuk SMKN 8 tahun 2006. Selain itu ia mempertanyakan mengapa sebelum UAN ia dibolehkan ikut ujian-ujian lain di sekolahnya, kenapa tidak dari dulu-dulu dilarang ikut ujian kalau toh akhirnya tidak boleh ikut UAN. selengkapnya