Wahai Puteriku

Oleh Syeikh Ali Thanthawi , Ulama Mesir

Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.
Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlan nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!
Baca lebih lanjut

Remaja Berbakat itu Mandiri

Penelitian yang dilakukan Dra. Wisjnu Martani, SU menyimpulkan, remaja berbakat dalam mengekspresikan keberbakatannya dalam bentuk akademis dipengaruhi oleh faktor intrapersonal (faktor yang ada di dalam diri individu) dan faktor lingkungan.

Kesimpulan penelitian yang dilakukan Wisjnu mengatakan, faktor intrapersonal yang paling berperan bagi pencapaian prestasi akademis remaja berbakat adalah faktor kemandirian. Remaja berbakat menurutnya memiliki taraf kemandirian yang tinggi, sehingga mereka tanpa diminta oleh orangtua, guru ataupun teman sebaya sudah belajar sendiri. Sementara itu, faktor lain yang berperan dalam pencapaian prestasi akademis adalah dukungan teman sebaya. Kata dosen Fakultas Psikologi UGM ini, suatu hal yang menarik adalah antara dukungan teman sebaya dengan prestasi akademis remaja berbakat arah hubungannya negatif, jadi semakin besar dukungan teman sebaya maka semakin kecil (tidak bagus) prestasi akademisnya. “Artinya bagi remaja berbakat dukungan teman sebaya tidak diarahkan pada kegiatan akademis, karena bagi remaja berbakat teman sebaya merupakan competitor. Remaja berbakat membutuhkan dukungan sebaya adalah untuk kebutuhan-kebutuhan yang bersifat non-akademis.

Lebih lanjut, Wisjnu Martani menyarankan bahwa faktor kemandirian mempunyai peran yang paling besar dalam pencapaian prestasi akademik umum maupun bidang matematika dan ilmu pengetahuan sosial. Oleh karena itu, dia berharap dalam penyusunan program pengembangan remaja berbakat disekolah, faktor kemandirian perlu diperhatikan, misalnya dengan menerapkan model pembelajaran independent learning. Disamping itu, disarankan pula untuk dilakukan pengubahan cara guru mengajar, agar menyesuaikan dengan karakteristik siswa, khususnya siswa yang termasuk berbakat. Masih perlu dilakukan kajian lanjut faktor yang berperan dalam pencapaian akademis remaja berbakat yang berprestasi di bawah kemampuan (underachiever) dan pada remaja yang tidak termasuk dalam katagori berbakat, sehingga dapat dirancang program pengembangan yang lebih akurat dan sesuai dengan kebutuhan mereka (Humas UGM)

مؤثر رسمي للشباب KONFERENSI REMAJA

في يوم الأحد الماض, يعني في التاريخ التاسع من اغسطس 2009 أنا و أستاذة عندنا و جميع الطالبات السنة السابعة “ج” ذهبنا الى بناء

Gelora Pancasila

لأداء مؤثر رسمي للشباب الذي أدى حزب التحرير إندونيسيا

(HTI)

لجميع الشباب المسلمة. هذا البرنامج يبحث عن قانون الصحة الصورة المنقولة الشباب او

UU KRR

التي فيها حرية على عمل جنسية و حرية على استعمال الدواء الممنوع و حرية على دفع عن نفس الشباب وهي ستأدى في بلادنا اندونيسيا. عند رأي, بهذا البرنامج تحث الطالبات على التنفيذ الشريعة الإسلامية

Pada hari minggu yang lalu, yaitu bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 2009, kami, ustadzah Laila, ustadzah  Indana dan seluruh siswi kelas 7C pergi ke gedung GELORA PANCASILA untuk mengikuti pelaksanaan KONFERENSI REMAJA yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI untuk seluruh pemuda muslimah.

Acara ini membahas tentang Undang-undang Kesehatan Reproduksi Remaja atau UU KRR yang akan dilaksanakan di Indonesia yang di dalamnya berisi tentang kebebasan melakukan seks, kebebasan menggunakan obat-obatan terlarang atau NARKOBA dan kebebasan untuk mempertahankan hidup untuk kalangan pemuda. Menurut  kami dengan adanya  acara seperti ini semoga dapat mendorong siswi untuk melaksanakan syariat islam (laila)

Ketika Keyakinan Harus Bertempur Melawan Nilai Raport

Oleh: Novrian Eka Sandhi*

Ada banyak ‘model’ sekolah-sekolah Islam yang dikenal masyarakat. Sebut saja sekolah milik ormas Muhammadiyah, NU, atau Al Irsyad yang lebih dahulu eksis di republik ini. Ada pula sekolah franchise macam Al Azhar atau sekolah elit macam Al Hikmah dan Al Falah.

Di antara sekolah-sekolah islam itu, Sekolah Integral Luqman Al Hakim yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Hidayatullah bisa dibilang menerapkan syariat dengan lebih ketat. Bahkan ada yang mengecap terlalu fanatik. Sebut saja: pemisahan kelas putra dan kelas putri sejak kelas IV SD hingga IX SMP, mengenakan jilbab panjang hingga ke dada (bahkan di Hidayatullah Balikpapan mayoritas wanitanya bercadar), wajib mengenakan rok panjang meski dalemannya sudah bercelana panjang, tidak berjabat tangan antara ikhwan (pria) dan akhwat (wanita), sholat fardhu tepat waktu (bahkan pelajaran maupun rapat harus dihentikan jika adzan berkumandang dan segera ke masjid). Ini belum setumpuk pelajaran-pelajaran diniyah plus penanaman nilai-nilai islam lewat berbagai pelajaran akademik.

Namun, betapapun keras dan intensnya upaya suatu lembaga pendidikan untuk mendidik muridnya, tidak satu pun yang berani menggaransi (apalagi lifetime warranty) kualitas lulusannya. Betapapun tingginya cita-cita dan impian tentang profil lulusan, tidak ada satu lembaga pun yang berani menjamin lulusannya akan memenuhi semua kriteria tersebut. Harus diakui, demikian pula dengan lembaga ini. baca terus

Catatan Izza (bagian 2)

Insya ALLAH pada beberapa waktu ke depan, Bina Izzatu Dini, alumni SPiLuqkim 2006, akan berbagi pengalamannya mempersiapkan diri untuk meneruskan studi SMA di negeri Singapura. Selamat membaca…

Baca tulisan sebelumnya…

Banyak nilai plus di Pare ini. Biaya kursus yang sangat murah, rata-rata 100ribu per bulan, dengan pertemuan Senin-Jumat dua kali per hari. Jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga kursus di Surabaya, sungguh jauh. Namun, jangan pernah membayangkan kelas ber-AC, pembelajaran dengan LCD Proyektor, buku panduan dari luar negeri, atau fasilitas mewah semacamnya. Kondisi menyesuaikan harga. Namun semua itu tetap tidak mengurangi ilmu yang akan didapat. baca selengkapnya

Catatan Izza (bagian 1)

Insya ALLAH pada beberapa waktu ke depan, Bina Izzatu Dini, alumni SPiLuqkim 2006, akan berbagi pengalamannya mempersiapkan diri untuk meneruskan studi SMA di negeri Singapura. Selamat membaca…

Assalamualaikum wr. wb.

Menunggu studi SMA di Singapura yang baru dimulai Januari 2010 yang akan datang, sekalian menambah skill bahasa inggris yang masih jauh dari sempurna, saya memutuskan untuk menetap di Pare, kampung Inggris, selama beberapa bulan.

Setelah seminggu di Pare, saya rasa merupakan sebuah ide yang cukup menarik ketika Ust. Novri meminta saya untuk berbagi kisah dan pengalaman selama di Pare ini.

Pare disebut kampung Inggris bukan karena banyak bule yang tinggal di wilayah ini. Melainkan karena banyaknya lembaga kursus bahasa Inggris yang ada di Pare, tepatnya desa Tulungrejo. Ada sekitar 70 lebih lembaga kursus bahasa disini. Sebagian besar memang lembaga kursus bahasa Inggris, namun ada juga beberapa lembaga kursus bahasa Jepang, Mandarin, Korea, Arab, Jerman, dan Prancis. Tidak hanya menyediakan kursus, banyak yang juga menyediakan English Camp. Di sinilah yang saya pilih sebagai tempat tinggal saya selama di Pare.

Di English Camp ini ada kewajiban berkomunikasi bahasa Inggris selama 24 jam sehari, 6 jam seminggu, kecuali hari Minggu diliburkan dari kewajiban ini. Bagi yang melakukan pelanggaran, setiap camp memiliki konsekuensinya masing-masing. Di camp saya, setiap berbahasa Indonesia, per kata di denda 500 rupiah. Selain kewajiban berkomunikasi bahasa Inggris, juga ada program sholat subuh dan maghrib berjamaah, serta program ba’da subuh plus ba’da maghrib. Bisa berupa memorize vocab, speech, discuss, presentation, ataupun watching movie. (bersambung)

MOS SpiLuqkim: Bakti Sosial “Birul Walidayni”

Sabtu (25/07), 55 orang siswi SpiLuqkim, termasuk 17 orang siswi baru kelas VII/C, mengadakan kunjungan ke pondok sosial Pemkot Surabaya di kawasan Keputih. Kegiatan singkat yang merupakan penutupan rangkaian Masa Orientasi Siswi (MOS) ini digelar bekerja sama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Surabaya. Selain sebagai upaya memupuk kepekaan sosial, kegiatan ini juga bertujuan menghapus kesan MOS yang identik dengan perploncoan. Selama berada di pondok sosial ini, siswi menyerahkan bingkisan kecil yang dikumpulkan dari infaq mingguan mereka kepada para lanjut usia yang dititipkan disini. Kegiatan diisi pula dengan wejangan dari pengelola pondok sosial, pembacaan “Surat Untuk Eyang” oleh Ust. Aziz, dan doa bersama.
Lihat foto-foto kegiatan