SMP PUTRI LUQMAN AL HAKIM

Hari Pers 1946-2010 a la SMP Luqman Al Hakim

10 Februari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sekolah Integral SMP-SMA Luqman Al Hakim, Pesantren Hidayatullah Surabaya. Apa yang menarik di Selasa pagi-9 Februari 2010-ini? Yah, ini adalah harinya para pewarta Indonesia. Tanggal 9 Februari telah dijadikan Hari Pers sejak 1946. Sekolah Integral yang mempunyai indikator visi berdakwah secara aktif tahun 2010 ini ikut memeriahkan momen Hari Pers dengan kegiatan kompetisi antar siswa yang menarik. Lomba yang digelar meliputi News Reading Competition, News Writing Competition dan Clipping Competition.

Pesan dari acara ini adalah: “Jadilah Pewarta yang jujur, adil dan Cerdas”.Ustadz Miftahuddin selaku ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya dalam sambutannya mengajak generasi muda untuk terampil menulis sebagai media dakwah islam di era informasi ini. Dari pesantren ini diharapkan akan lahir para penulis handal yang akan meninggikan kalimat tauhid. Selanjutnya Ustadz Anwar Djaelani, selaku Koordinator Humas Pesantren secara interaktif memberikan suatu pengantar tentang dunia pers. Beliau mengajak beberapa siswa untuk tampil sekaligus memerankan diri sebagi seorang pewawancara atau pencari berita. Luar biasa. Ternyata saat beliau menanyakan perihal dunia pers para santri Luqman Al Hakim mampu memberikan jawaban yang bernas. Misalnya Zain Al Din saat ditanya mengapa pers harus adil? Dia menjawab dengan yakin,” Kalau pers atau berita tidak adil dampaknya bisa terjadi perang!” Adanya door prize dari panitia semakin menambah suasana interaktif dalam acara ini.

Berikut adalah para pemenang lomba di Acara Hari Pers 2010 di SMP-SMA Luqman Al Hakim.

1. Lomba Kliping Pendidikan

Juri: Imron Arif (Guru Bahasa Indonesia), Rahmi Andri W (Guru Matematika)

Juara I . M Ferdion Firdaus

Juara II Fahrizal Faizal

Juara III Mutia Rachmania

2. Lomba News Reading

Juri: Briggita Manohara (MetroTV Surabaya), Nur Azis Asmuni (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)

Juara I Iqlima Btary Leony

Juara II Khaulah Robbani Dzikrullah

Juara III Avicena

3. Lomba News Writing

Juri : Anwar Djaelani (Humas Pesantren), Y.S Mardianto (Guru Bahasa Indonesia)

Juara I Dzakiyah Rusydah

Juara II Alifia Faradiba

Juara III M Ferdion Firdaus

→ Tinggalkan KomentarKategori: Kesiswaan
Ditandai:

50 Tahun Mendatang Anak Kita…

4 Februari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh Fauzil A.

[www.hidayatullah.com]

50 tahun yang akan datang, anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan zikir kepada Allah

50 tahun yang akan datang…

Mungkin kita sudah mati dan jasad kita dikubur entah dimana; atau sedang tua renta sehingga harus berpegangan tongkat untuk berjalan; atau sedang menjemput syahid di jalan Allah di hari yang sama dengan hari ketika kita bertemu sekarang dan jam yang sama dengan jam saat kita berbincang; atau kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allahumma amin…

50 tahun yang akan datang…

Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat Islam seluruh dunia, berbicara dari Mesir hingga Amerika, dari Al-Makkah al-Mukarramah hingga Barcelona . Ia menggerakkan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan sehingga kota-kota yang pernah terang benderang di zaman keemasan Islam, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istambul hingga Shenzhen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat penghujung malam datang. Sementara siangnya mereka seperti singa kelaparan yang bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dengan keringat karena kerasnya bekerja meski segala fasilitas dunia telah ada, sementara di malam hari mereka membasahi wajah dan hatinya dengan airmata karena besarnya rasa takut pada Allah Ta’ala. Rasa takut yang bersumber dari cinta dan taat kepada-Nya. Ya, mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta dan takut mati, tetapi karena ingin menjadikan setiap detik kehidupannya untuk menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengambil fardhu kifayah yang belum banyak tertangani. Gigih bekerja karena mengharap setiap tetes keringatnya dapat menjadi pembuka jalan ke surga. Kelak (izinkan saya bermimpi) anak-anak kita bertebaran di muka bumi. Meninggikan kalimat Allah, menyeru kepada kebenaran dengan cara yang baik¸ saling mengingatkan untuk menjauhi kemunkaran, dan mengimani Allah dengan benar. Tangannya mengendalikan kehidupan, tetapi hatinya merindukan kematian. Bukan karena jenuh dan berputus asa terhadap dunia, tetapi karena kuatnya keinginan untuk pulang ke kampung akhirat dan mengharap pertemuan dengan Allah dan rasul-Nya. Mereka inilah anak-anak yang hidup jiwanya. Bukan sekadar cerdas otaknya. Kuat imannya, kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat himmah-nya, kuat ikhtiarnya, kuat pula sujudnya. Dan itu semua tak akan pernah terwujud jika kita tidak mempersiapkannya, hari ini!

50 tahun yang akan datang…

Anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan zikir kepada Allah. Mereka mungkin sedang mengendalikan jaringan bisnis besar, supermarket–hypermarket hingga perusahaan-perusahaan manufaktur berteknologi tinggi di seluruh dunia. Sebagian lainnya mungkin sedang memimpin ma’had putri yang setiap alumninya menjadi penentu sejarah dunia. Bukankah al-ummuh madrasah al-ula (ibu adalah madrasah pertama) yang membentuk karakter dan cara berpikir satu generasi di belakangnya? Maka mempersiapkan visi dan kecakapan seorang ibu sama pentingnya dengan mempersiapkan peradaban umat ini lima tahun ke depan. Membiarkan anak-anak perempuan menyibukkan diri dengan hasrat untuk memperoleh perhatian lawan jenis, seperti mengizinkan masa depan agama dan umat ini hancur. Anak-anak itu harus dibekali agar kelak mampu menjadi perempuan untuk agama ini; yang setiap tutur katanya akan meninggikan kalimat Allah. Sementara rahimnya, tidaklah akan tumbuh benih di dalamnya kecuali generasi yang sejak awal pertemuan sudah bertabur kalimat suci. Bukankah kepribadian itu terbentuk sejak benih bapak-ibunya bertemu? Bagaimana kedua orangtua mereka mempertemukan benih, sangat mempengaruhi bagaimana benih itu kelak akan tumbuh dan berkembang. Persiapkan pula anak laki-laki kita agar menjadi pemberani bagi agama ini. Mereka menghiasi hidupnya dengan tangis di malam hari, dan usaha yang gigih di siang hari. Mereka mampu menegakkan kepala dengan ‘izzah (harga diri) yang tinggi di hadapan manusia karena kehormatannya, kemuliaannya, keimanannya, dan kekuatannya. Tetapi terhadap istrinya, sikapnya lembut penuh cinta. Bukankah untuk melahirkan anak-anak yang hebat dan shalih, pintu pertamanya adalah mencintai ibu mereka dengan sepenuh hati? Ketulusan cinta mampu menggerakkan hati para bunda untuk tak henti-hentinya memberi perhatian. Ia tetap mampu tersenyum di saat anak bangun tengah malam, tepat ketika ia baru saja terlelap, meski ada suami yang mencintainya sepenuh hati sepenuh jiwa. Seorang suami yang bukan hanya memberikan harta, lebih dari itu memberikan perhatian dan kesediaannya berbagi. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menangis kagum kepada suaminya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena perhatiannya yang lembut? Sebagaimana dinukil Ibnu Katsir, ‘Aisyah menangis seraya berucap, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba (Ah, semuanya menakjubkan bagiku),” tatkala ditanya tentang apa yang paling berkesan baginya dari Rasulullah. Ia kemudian bertutur tentang bagaimana Rasulullah meminta izin kepadanya untuk qiyamul-lail. Hanya itu. Tetapi perkara yang kecil itu tak akan hadir jika tak ada perhatian yang besar.

50 tahun yang akan datang…

Di negeri ini… kita mungkin menemui pusara bapak-bapak yang hari ini sedang mewarnai anak-anak kita. Mereka terbujur tanpa nisan tanpa prasasti, sementara hidangan di surga telah menanti. Atau sebaliknya, beribu-ribu monumen berdiri untuk mengenangnya, sementara tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan. Mereka menjadi berhala yang dikenang dengan perayaan, tetapi tak ada doa yang membasahi lisan anak-anaknya. Na’udzubillahi min dzalik.

Betapa banyak pelajaran yang bertabur di sekeliling kita; dari orang-orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan. Kisah tentang KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang mengulang-ulang pembahasan tentang Al-Maa’uun hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah, masih bertebaran. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya yang membuatnya bergerak menata akidah umat ini, rasanya semakin sulit kita lacak. Tulisan pendiri Nahdlatul ‘Ulama, Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari, sahabat dekat KH Ahmad Dahlan, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya semakin sulit ditemukan. Apa yang dulu diyakini haram oleh Hadratusy-Syaikh, hari ini justru dianggap wajib oleh mereka yang merasa sebagai pengikutnya. Apa artinya? Iman tidak kita wariskan, kecuali kalau hari ini kita didik mereka dengan sungguh-sungguh untuk mencintai Tuhannya. Keyakinan, cara pandang, dan idealisme juga tidak bisa kita wariskan ke dalam dada mereka kalau hari ini kita hanya sibuk memikirkan dunianya. Bukan akhiratnya. Atau kita persiapkan mereka menuju akhirat, tetapi kita bekali dengan kekuatan, keterampilan, dan ilmu untuk memenangi hidup di dunia dan menggenggamnya. Betapa banyak anak yang dulu rajin puasa Senin-Kamis, tetapi ketika harus bertarung melawan kesulitan hidup, yang kemudian Senin-Kamis adalah imannya. Kadang ada, kadang nyaris tak tersisa. Na’udzubillahi min dzaalik.

Teringatlah saya dengan perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihis-salaam saat menghadapi sakaratul maut. Allah mengabadikannya dalam Surat Al-Baqarah ayat 133: “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” Ya, “Maa ta’buduuna min ba’diy?(Apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku?)” Bukan, “Maa ta’kuluuna min ba’diy? (Apakah yang akan kalian makan sesudah aku tiada?)” Lalu, seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak mereka tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan untuk berbagi karena Allah? Kita hidupkan jiwanya dengan memberi bacaan yang bergizi, nasihat yang menyejukkan hati, dorongan yang melecut semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan di saat gagal sehingga ia merasa kita perhatikan. Kita nyalakan tujuan hidupnya dengan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya. Kita bangun visi besar mereka dengan menghadirkan kisah orang-orang besar sepanjang sejarah; orang-orang shalih yang telah memberi warna kehidupan, sehingga mereka menemukan figur untuk dipelajari, dikagumi, dan dicontoh.

50 tahun mendatang anak-anak kita, hari inilah menentukannya.

Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan airmata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang sudah baik dan di atas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada-Nya? Ya Allah, ampunilah aku yang lebih sering lalai daripada ingat, yang lebih sering zhalim daripada adil, yang lebih sering bakhil daripada berbagi karena mengharap ridha-Mu, yang lebih banyak jahil daripada mengilmui setiap tindakan, yang lebih banyak berbuat dosa daripada melakukan kebajikan…. Ya Allah Yang Menggenggam langit dan bumi…. Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai penutup keburukan dan pembuka kebaikan. Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikan ia sebagai jalan perjumpaan dengan-Mu dan bukan permulaan musibah yang tak ada ujungnya. Jadikan ia sebagai penggenap kebaikan agar anak-anak kami mampu berbuat yang lebih baik untuk agamamu. Ya Allah, jangan jadikan kami penghalang kebaikan dan kemuliaan anak-anak kami hanya karena kami tak mengerti mereka. Amin.

[www.hidayatullah.com] Penulis adalah Kolumnis di Hidayatullah.com

→ Tinggalkan KomentarKategori: Bina Keputrian (Nisa') · Kesiswaan · Konseling
Ditandai:

Try Out UN MKKS Surabaya

1 Februari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Senin, 1 Februari 2010 sampai hari Kamis, 4 Februari 2010 berlangsung Try Out UN SMP dan Mts se Surabaya. Seperti tahun-tahun yang lalu, biasanya setelah semingguan berselang dari kegiatan ini akan muncul berita di koran tentang kesiapan pra UN. Data-data akan dipaparkan dan akan dinilai sekian persen siswa yang telah siap UN. pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, helatan ini seperti ‘cambukan’ buat siswa. Betapa tidak? Jika nilai yang diperoleh rata-rata minim  maka sisi positifnya adalah anak akan belajar lebih keras lagi. Makin konsen. Tapi, sisi negatifnya bisa saja si anak akan makin takut. Inilah saatnya motivasi dari luar mesti terus di tambah. Orang tua, guru, keluarga, teman perlu mensuport dan menyemangati.

Di hari pertama, pelajaran Bahasa Indonesia diujikan. Dari pelajaran ini  tahun 2009 pernah terjadi kehebohan karena kasus soal Ujian SD yang bernuansa porno. Bila di lihat soal Try Out Bahasa Indonesia UN SMP MKKS ini cukup rapi dari segi editingnya. lima puluh butir soal disajikan terdiri dari 2 aspek kebahasaan yaitu membaca dan menulis. Teks yang biasanya panjang kali ini cukup singkat dan seharusnya siswa akan cepat menemukan inti gagasan atau pertanyaan yang dimaksud. Bercermin dari kejadian soal yang berbau porno, penulis sempat mencoba menyelidik beberapa soal. Menurut penafsiran penulis ada beberapa soal yang berpotensi menimbulkan kritikan. Sebagai misal penuls sempat membaca soal berkaitan dengan teks drama. Ternyata dalam teks tersebut kalau dibaca,  serasa kita membaca script para bintang sinetron yang bahasanya  gaul/non formal dan menjurus umpatan (seperti maaf:  sialan),  sayang-sayangan (pacaran yang posesif) dan sejenisnya. Pertanyaan penulis: Pantaskah soal seperti ini ditampilkan dalam Ujian Nasional? Mungkinkah etika berbahasa kita semakin mengalami kemunduran?

Kedua, dalam memilih nama tokoh dalam wacana (cerpen) berbau SARA. Saya ambil misal di sebuah soal di situ di sebut tokoh Abu Usman yang membunuh istrinya yaitu Fatimah. Bagi yang sensitif tentu  nama-nama ini adalah nama yang mulia (terutama kalangan muslim). Karena Fatimah adalah nama putri Rasulullah. Usman adalah menantu Rasulullah sekaligus sahabat beliau. Kesamaan nama sebisa mungkin dihindari untuk mengurangi kesanburuk terhadap suku , agama, Ras, atau golongan tertentu.

Itulah sekilas pengamatan penulis selama mengawasi try out 2 jam di hari pertama ini. Mudah-mudahan try out selanjutnya pembuat soal lebih hati-hati.(And)

→ Tinggalkan KomentarKategori: Akademik
Ditandai:

Welcome to Spiluqkim, Adeline!

25 Januari 2010 · & Komentar

Senin, 25 Januari 2010 ada yang lain di kelas 7C. Ada wajah baru, yang benar-benar asing. Siswi berbaju biru berjilbab putih itu tampak paling tinggi saat berdiri. Wajahnya  lain dari teman-temannya, mirip bule yang sering dilihat di TV atau saat jalan-jalan di mal. Ya, hari ini ada siswi baru, pindahan dari sekolah islam Al Hidayah Australia. Adeline Duncan, itulah namanya.

Adeline, beribu seorang Jawa berbapak seorang Australia. Dari kecil dia hidup dan sekolah di Perth Australia. Di sana pun rupanya ayahnya telah mendidiknya secara islami di Al Hidayah Islamic School, koq hampir mirip dengan Hidayatullah, ya….! (Alumni 2009, Ananda Bina Izzatu Dini, saat ini juga tengah menjalani kelanjutan studinya di sekolah islam yang namanya juga Al Hidayah di Johor Malaysia. Subhanallah, Allah yang merencanakan  ini semua). Dia, Adeline,  sebenarnya di Australia sudah menyelesaikan kelas 7. Kan di sana permulaan tahun ajarannya Pebruari, tidak sama dengan di Indonesia (bulanJuli).  Tetapi, untuk penyesuaian, di sini dia mengikuti pembelajaran di kelas 7 lagi (semester 2). Nah, bagi anak kelas 7C yang masih ogah berbahasa inggris, ayo… dipacu semangatnya…jangan kalah sama Adeline. Tunjukin, ya…..

Pagi hari ini dia langsung terlibat dalam kegiatan belajar Pengembangan Diri Muslimah, Komputer, Sains, Al Quran dan Bahasa Jawa. Semoga tidak kebingungan menghadapi materi yang beda dengan yang ada di sana.Ah tidak, Islam berlaku di mana saja dan kapan saja. SMP Putri Luqman Al Hakim kan sekolah Islam yang telah berusaha mewujudkan sekolah Internasionalnya walaupun tanpa diembel-embeli SBI dan semacamnya. Di sekolah ini tinggal istiqomah menjalankan misinya maka insya Allah tidak kalah dengan sekolah yang melabelkan diri dengan SBI. Tul, tidak?

To Adeline:

All students of SMP Putri Luqman Al Hakim are your family. The teachers are also  your family, too. Have a nice  day in Surabaya. Welcome to SPiluqkim. Be the best!

→ 2 CommentsKategori: Administrasi dan Penerimaan Siswa Baru · Kesiswaan
Ditandai:

Prosedur Operasional Standar UAN 2010

15 Januari 2010 · & Komentar

Ingin tahu perkembangan tentang UAN?

Silahkan download POS UAN 2010

→ 3 CommentsKategori: Akademik · Download
Ditandai:

MENELADANI SEMANGAT BELAJAR ANAK-ANAK PALESTINA

5 Januari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

(Sebuah nasehat guru untuk siswa)

oleh: Pratama, M.Pd

Sekitar 200.000 pelajar Palestina akan mulai masuk sekolah, namun mereka tidak memiliki buku-buku untuk belajar, hal itu disebabkan otoritas pemerintah Israel yang melarang pengiriman kertas ke jalur Gaza, Israel juga melarang bahan bakar minyak ke jalur Gaza, sehingga pembangkit-pembangkit listrik di wilayah itu tidak bisa memproduksi kebutuhan listrik masyarakat dan menyebabkan wilayah Gaza gelap gulita, situasi di sana juga tidak aman bahkan saat terjadi agresi militer Israel ke Gaza, tidak kurang 280 anak mati syahid oleh kebiadaban Israel laknatullah, sekolah-sekolah mereka hancur bahkan diperparah sikap Israel yang melarang pihak lain untuk mensuplai kebutuhan bahan bangunan ataupun merenovasi sekolah, sehingga sekolah mereka sangat tidak nyaman. Seorang guru Bassam Salkha memberikan semangat kepada siswa-siswinya untuk selalu menunjukkan sikap semangat mereka dalam belajar, sesusah apapun keadaan di luar sana. Wahai segenap siswa sekolah Islam terpadu… Coba kalian simak, betapa berat kondisi saudara-saudara (pelajar) kita di Palestina, mereka tidak mempunyai buku yang lengkap sebagai mana yang kalian miliki, mereka tidak memiliki fasilitas yang memadai baik listrik untuk penerangan, ruang kelas untuk belajar dan sebagainya, berbeda jauh dengan apa yang kalian miliki hari ini, fasilitas di rumah kalian lengkap, situasi kalian di sekolah nyaman, keluarga kalian lengkap, dan kondisi belajar kalian sangat kondusif. Tidak dihantui ketakutan, kelaparan, kehilangan ayah, kehilangan adik, kehilangan orang-orang yang kalian sayangi. Lantas apa yang menghalangi kalian untuk berprestasi? Jawab dengan hati nuranimu anak-anakku. Mengapa diantara kalian masih ada yang malas mengerjakan pekerjaan rumah, mengapa diantara kalian masih ada yang mendapat nilai ulangan jelek, mengapa kalian masih bermain-main dengan masa depan kalian sendiri? kalian harus menyadari masa depan Islam dan bangsa ada ditangan kalian. Belajarlah anak-anakku, tentukan cita-citamu, aturlah waktu belajarmu khususnya bagi siswa kelas akhir yang hendak menghadapi ujian nasional, pastikan target nilai kalian adalah nilai yang terbaik di sekolah kalian, bahkan terbaik untuk wilayah masing-masing. Anak-anakku…, ingat orang besar lahir dari kemampuannya mengukir prestasi-prestasi kecil yang menggunung akhirnnya menjadi prestasi besar, semua itu datang bukan dari langit tetapi datang dari usaha dan doa kalian. Saudara-saudara kita di Palestina, dengan segala keterbatasan tetap semangat, walau mereka tahu kematian mereka sangat rentan datangnya, mereka menganggap belajar adalah kewajiban yang harus ditunaikan demi masa depannya. Mereka tidak gentar walaupun keluar dari pintu gerbang sekolah ajal menjemputnya. Sungguh betapa hebatnya semangat juang meraka. Tetapi mengapa kalian disini tidak bias mencontoh mereka? Mereka adalah guru terbaik yang Allah ciptakan untuk kalian anak-anakku. Berdoa dan berusahalah pertolonga Allah sangat dekat “Barang siapa berdoa kepadaKu maka niscaya akan Aku kabulkan” Wallahu alam bisawab.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Akademik · Bina Keputrian (Nisa')
Ditandai:

UAS

16 Desember 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Insya Allah Ujian Akhir Semester I tahun Ajaran 2009-2010  dilaksanakan mulai 21 Desember 2009 dan berakhir 4 Januari 2010. Gals, antunna mesti siapin stamina otak dan mental spiritual untuk menjalaninya. selain ujian tulis, ada ujian Praktek yaitu Komputer, Ketrampilan pilihan (despro, Cooking) Penjas, Quran, arabic, Fiqh, English dan Sains. Buang rasa malasmu, hidupkan mode rajinmu! Ingat….. Rajin pangkal pandai. Jadikan dirimu bangga dengan prestasi sendiri. Inilah saatnya yang tepat tunjukkan siapa dirimu sebenarnya.

Aku Anak Islam

Cerdas kuat dan bertaqwa

Selalu shalat lima waktu

Sujud pada Tuhanku

Aku anak Islam

Taat pada orang tua

Hormat pada guruku,

Rajin menuntut ilmu

Baktiku untuk-Mu,

Shalatku untuk-Mu

Bimbing ya Allah

diriku tuk mencapai tujuanku

Rasulullah teladanku,

Al Qurâan petunjukku

Tunjukkan aku jalan-Mu

Tuk jadi anak yang sholeh

(Harmoni Voice)

Bagaimana supaya rajin belajar?

Kata seorang pembelajar teh begini:

Cara Rajin Belajar? kalau gw jadi lo, ini yang gw lakukan….

Pertama, cari motivasi yang dapat membuat lo tetap diam didepan tu meja belajar (mimpi, cita-cita…. dll)

Sudah? nah lanjut kebawah……

1. Jauhkan segala macam hal2 yang dapat mengganggu proses belajar ( matiin tuh laptop, HP, TV, Playstation, dll! ).

2. Buat Jadwal belajar mulai hari ini sampai waktu ujian tiba. Belajar yang baik tidak perlu lama, tetapi rutin.

3. lebih baik belajar selama 1 jam dengan 10 menit istirahat. dibandingkan belajar 5 jam dengan 1 jam istirahat. ( usahakan jangan istirahat terlalu lama. )

4. kalau lo termasuk orang yg bisa menerima pelajaran dengan lebih mudah jika mendengarkan musik, maka dengarkanlahmusik sembari belajar. jika tidak, JANGAN!

5. Berdoa.

6. Sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri. Kalau lo lelah/capek. berhenti sebentar. Karena kalo lo belum terbiasa belajar, gw yakin akan sulit untuk tetap fokus dalam pelajaran tersebut. Istirahatlah sebentar dan lanjut lagi saat dirimu sidah tenang dan nyaman.

7. Yang paling penting dari smeuanya adalah……., TEKAD, NIAT, dan KETEKUNAN. Tanpa ini semua, percayalah, bahwa sebanyak apapun saran yang lo terima, gak akan ada pengaruhnya.

oh ya, belajar setelah bangun tidur dan sekitar 2 jam sebelum tidur akan membuat materi yang anda pelajari lebih mudah dipahami/ lebih mudah masuk. ( tergantung orangnya juga sie :P )

→ Tinggalkan KomentarKategori: Akademik
Ditandai:

KBS

7 Desember 2009 · & Komentar

→ 2 CommentsKategori: Akademik
Ditandai: