Habis Gelap-gelapan, Terbit Larangan

Naudzubillah. Puluhan sampai ratusan siswi tak ikut UN karena hamil memang memprihatinkan. Hal ini tidak terjadi andaikan mereka membaca surat Kartini pada Nyonya Abendanon, “Perempuan itu jadi sokoguru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap untuk itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh bahwa dari perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya, dalam hal membaikkan maupun memburukkan kehidupan, bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan manusia”. Meski dalam persentase yang mungkin masih di bawah 1 % fenomena hamil di masa pendidikan tentu menghenyakkan, karena cita-cita besar seperti dalam lagu Ibu Kita Kartini dikandaskan oleh kaumnya sendiri.
Kejadian yang terus berulang dan menjadi polemik di masyarakat perlu diberikan solusi. Peran sekolah lewat guru Bimbingan Konseling perlu ditingkatkan. Aturan dari Dinas Pendidikan mestinya jauh-jauh hari memberi warning tegas, bagi siswi yang hamil diluar nikah harus berhenti dari sekolah. Aturan sudah tersosialisasi dari masuk sekolah, bahkan dari usia SMP yang memang dari survey sudah perlu diperlukan langkah preventif. Terpaksa tertunda pendidikan bagi siswi 1 tahun itu sudah merupakan konsekuensi yang harus diterima. Berapa ribu remaja yang gagal ikut audisi Indonesian Idol saja tidak masalah berarti , bukan? Apalagi Pendidikan karakter yang sedang digulirkan, akan sia-sia bila tidak ada ketegasan. Para orang tua juga mesti secara konkrit terlibat dalam usaha ini, terutama kaum ibu, semestinya memahamkan kepada buah hatinya efek negatif pergaulan bebas. Tentu dengan dialogis bukan kekerasan. Media informasi visual yang mudah diakses tak mungkin di dielakkan, filter dan kendali pada masing-masing pribadi yang mesti dikuatkan. Ayo, perangi kebiadaban, menuju peradaban mulia! (RAW)

(Tulisan ini juga di muat di kolom Gagasan,  JawaPos 21 April 2012)

Insya Allah, mabit untuk persiapan Ujian Sekolah dan UN 2012 diselenggarakan 9 Maret 2012. I believe in Allah, I believe Allah will give His bounty to us.

Tantangan muslimah

Jangan berhenti menjadi wanita shalihah saja tapi tidak mushlihah yaitu yang melakukan ishlahul ummah (perbaikan umat). Dalam  QS. 7:4-5 suatu negeri yang akan dihancurkan, tetapi malaikat memohon agar tidak jadi karena masih ada satu orang shalih yang berdzikir, namun justru Allah SWT tetap menyuruh negri itu dihancurkan dan justru dimulai dari orang yang shalih tersebut. So?  Hendaknya kita juga mawas diri terhadap firman Allah QS. 25:30

Tantangan bagi MUSLIMAH

Bagaimana berkompetisi untuk berprestasi dan profesional dalam semua peran yang dimiliki.

Tantangan bagi muslimah yang juga ISTRI dan/atau IBU lebih berat lagi krn dia tahu posisi fitrah ini tidak tergantikan tapi tetap tidak berarti menjadi „excuse“ baginya untuk tetap berperan dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya tanpa hrus mengabaikan apalagi meninggalkan posisi tersebut

Ingat: hanya ibu-ibu/istri yang „canggih“ saja yang akan melahirkan generasi yang „canggih“ juga

Muslimah harus segera berpikir positif membangun citra diri kemuslimahan yang baik, berjiddiyah (bersungguh-sungguh) menjaga keseimbangan dan memiliki kemampuan mengatur skala prioritas. Ia juga harus memiliki kondisi fisik, aqliyah dan ruhiyah yang prima karena ia bekerja di luar kelaziman wanita-wanita lain pada umumnya. Karena ia tidak egois, karena ia memikirkan umat, karena ia punya cita-cita mulia yakni menegakkan syariat Islam dan tentu saja, karena ia ingin masuk Surga dan bertemu dengan Ilah-nya.

Inilah liputan aksi di kelana kota Suara Surabaya

http://www.suarasurabaya.net/potretkelanakota/index.php?d=1&id=90e8e5fd6c64cb17cc617dcfe76aa3fd19135

Siswa Pesantren Hidayatullah Tolak Rayakan Valentines Day

suarasurabaya.net| Karena dianggap hanya merusak moral, dan tidak bermanfaat bagi generasi muda, ratusan siswa pesantren Hidayatullah Surabaya, Senin (13/2/2012) turun kejalan menggelar aksi didepan Grahadi, menolak perayaan Valentine’s day.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan semacam ini, para siswa dapat memahami sejak dini bahwa perayaan Valentine’s day yang bukan berasal dari budaya dan tradisi negeri kita sendiri, hanya merugikan dan tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi mereka,” ujar M. Anwar Jaelani koordinator aksi.

Sekurangnya 300 siswa, dengan mengenakan pakaian seragam sekolah warna putih, berkumpul didepan Grahadi Surabaya, kemudian membentangkan sejumlah spanduk dan poster berisi penolakan terhadap perayaan Valentine’s day yang dinilai hanya merugikan.

Valentine’s day Hari Kasih Sayang, No Way; No Valentine’s day; Rayakan Valentine’s day = Pintu Maksiat; Awas Bahaya Laten Valentine’s day; Valentine’s day Haram, begitu isi poster yang dibawa para siswa.

Selain membentangkan poster dan spanduk, para siswa kemudian menghadirkan teatrikal yang bercerita makin banyaknya anak-anak muda yang jadi korban akibat ulah tak bermoral saat merayakan Valentine’s day.

Sementara itu, kepada pengguna kendaraan, utamanya para pengendara sepeda motor, khususnya perempuan yang tidak mengenakan jilbab atau kerudung, para siswa pesantren Hidayatullah Surabaya, Senin (13/2/2012) membagikan jilbab dengan cuma-cuma.

“Kami juga ingin mengajak para siswi untuk memiliki kepedulian kepada sesamanya dengan mengingatkan mereka untuk menggunakan jilbab. Para siswa pada kesempatan aksi kali ini membagikan jilbab dengan cuma-cuma,” tambah M. Anwar Jaelani saat berbincang dengan suarasurabaya.net, Senin (13/2/2012).(tok)

liputan detiknews:

Banyak Mudharatnya, Ratusan Siswa Tolak Valentine Day

Imam Wahyudiyanta – detikSurabaya


Surabaya – Tidak bermanfaat dan hanya dianggap merusak moral generasi muda, ratusan siswa pesantren Hidayatullah menggelar aksi menolak valentine day. Bagi mereka, hari valentine bukanlah budaya dan tradisi bangsa Indonesia.

“Kami ingin semua bisa memahami dan mengerti sejak dini bahwa valentine bukanlah budaya kita. Tidak ada manfaat merayakan valentine, yang ada hanyalah kerugian,” kata koordinator aksi, Anwar Jaelani, kepada wartawan, Senin (13/2/2012).

Untuk menunjukkan bahaya valentine, sebuah aksi teatrikal digelar yang
menunjukkan makin banyaknya generasi muda yang jadi korban akibat ulah tak bermoral saat merayakan valentine. Selain aksi teatrikal, sekitar 300 siswa tersebut juga membentangkan sejumlah poster dan spanduk berisi penolakan valentine day.

Isi poster dan spanduk itu antara lain rayakan valentine’s day = pintu maksiat, awas bahaya laten valentine’s day, valentine’s daya haram dan lain sebagainya.

Dalam aksi tersebut, para siswa membagi-bagikan jilbab atau kerudung kepada para pengguna jalan khususnya bagi kaum hawa. “Kami ingin mengajak masyarakat agar menggunakan jilbab untuk memiliki kepedulian kepada sesama,” tandas Anwar.

(iwd/fat)

berita jatim :

http://www.beritajatim.com/fotoberita.php?newsid=4710

Santri Hidayatullah Ajak Cinta Nabi dan Bagi Jilbab Gratis

Selasa, 14 Februari 2012

Hidayatullah.com—Sebuah poster panjang yang dibentangkan 300-an pelajar Sekolah Integral Luqman Al-Hakim hari Senin, (13/02/2012) di tepat di depan Gedung Grahadi, Jalan Gubernur Suryo Surabaya.

Setelah berbaris rapi di sepanjang pedestrian taman, sejumlah santri membentangkan aneka poster, menggelar orasi, membaca puisi dan melakukan aksi teatrikal.

Acarapun yang dibuka oleh Pengurus Pesantren Hidayatullah Surabaya ini dimulai pukul 10.00 WIB itu merupakan aksi simpatik gabungan pelajar SMP, SMA, dan STAI Luqman Al-Hakim dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wassalam.

“Teladan Nabi harus kita contoh. Agar kita bisa menyinari dunia dari kegelapan,” tutur Rosyidan Qurrota A’yun, siswi SMP Luqman al Hakim dalam puisi yang agak panjang berjudul “Nabiku Idola dan Teladanku” yang dibaca bergantian dengan dua temannya, Frida Rahmadhania dan Nur Aidatuzzahra.

Sementara yang lain, santri SMA berorasi menanggapi maraknya fenomena Valentine’s Day.

“Jangan jadi generasi bebek yang cuma ikut-ikutan saja,” ujar M. Rizky Nope Yendi. Lebih jauh, Rizky mengajak kaum muda untuk tak terpedaya oleh budaya yang tak benar.

Aksi para santi ini juga diramaikan ratusan poster bertuliskan pesan, “Valentine’s Day rawan seks bebas. Tolak!”, “Valentine’s Day merusak mental remaja. Jauhi!” “Valentine’s Day mengundang bencana. Boikot!”.

Acara dilanjutkan dengan unjuk teatrikal di mana para santri menggambarkan bahwa kita akan selamat jika ajaran agama kita pegang dengan teguh. Jadilah generasi yang cinta Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam.

Indahnya menutup aurat

Di saat bersamaan, para santri juga membagi-bagi brosur ajakan untuk setia memegang ajaran agama yang dibagikan secara tertib para pengguna jalan yang sedang melintas.

Pesan yang disampaikan dalam brosur di antarnya berbunyi; “Suka berkasih-sayang itu anugerah Allah. Maka, berkasih-sayanglah dengan sesama sesuai aturan Allah”. “Busana kita, jati diri kita. Maka, tampil elok-lah dengan busana yang sempurna menutup aurat.”

Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagi jilbab pada para pengguna jalan yang sedang lewat. Penutup aurat dibagi secara cuma-cuma kepada masyarakat yang lewat, khususnya yang belum merasakan menggunakan jilbab agar pakaian penutup aurat ini bisa bermanfaat dalam kesehariannya.

Aksi diakhiri dengan pembacaan doa tepat pukul 11.00 WIB. Yang tak kalah menari, acara ini juga diikuti oleh Az-Zahra, sebuah organisasi yang menghimpun ibu-ibu Walimurid Sekolah Luqman Al-Hakim.

Menurut Kepala SMP Luqman Al-Hakim, Ustadz Santoso, kegiatan ini untuk melatih para santri tampil berdakwah dalam segala situasi.

“Intinya melatih santri agar trampil berdakwah di berbagai situasi. Selain itu, kami membiasakan santri peduli kepada semua permasalahan di lingkungan sekitarnya,” ujar Santoso.*/imam nawawi

99+1 Alasan Saya Menutup Aurat

99+1 Sebab Kenapa Saya Menutup Aurat

1.      Menjalankan syi’ar Islam.

2.      Berniat untuk ibadah.

3.      Karena saya ingin ta’at kepada Allah yang telah menciptakan saya, menyempurnakan kejadian, memberi rezki, melindungi, dan menolong saya.

4.      Karena saya ingin ta’at kepada Rasul-Nya, pembimbing ummat dengan risalah beliau.

5.      Merupakan wujud tanda bersyukur atas nikmat-Nya yang tiada putus.

6.      Seluruh ulama sepakat bahwa hukum mengenakan jilbab itu wajib bagi muslimah.

7. Agar kaum wanita lain juga menutup auratnya.
8. Bukan karena mau bergaya.
9. Bukan karena mengikuti trend.
10. Bukan karena berlagak baik.
11. Bukan karena mau menyembunyikan dosa .
12. Tidak sekadar bermaksud agar berbeda dari yang lain.
13. Meninggikan derajat wanita dari belenggu kehinaan yang hanya menjadi objek nafsu semata.
14. Jilbab sesuai untuk semua wanita yang mau menjaga dirinya dari objek nafsu semata.
15. Saya perlu menjadi wanita solehah.
16. Saya tengah berusaha mencapai derajat taqwa.
17. Jilbab adalah pakaian taqwa.
18. Jilbab menutup aurat terhadap yang bukan mahram.
19. Jilbab adalah identitas wanita muslimah.
20. Diawali dengan mengenakan jilbab, saya ingin menapak jalan ke surga.
21. Dengan jilbab, akan menjauhkan diri dari azab panasnya api neraka di hari kemudian.
22. Isteri-isteri Rasulullah berbusana muslimah.
23. Para sahabiah (sahabat Rasulullah yang wanita) juga berbusana muslimah.
24. Para isteri Rasul dan sahabiah adalah panutan seluruh muslimah, begitu juga saya.

25.  Maryam,  wanita yang dimuliakan dalam Allah dalam Al Quran, ibu nabi Isa AS juga menutup aurat.

26. Semoga Allah memberikan kepada kita balasan jannah/surga yang sama seperti mereka dan menjadi tetangga mereka di surga

27.Untuk meninggikan izzah (kemuliaan) Islam.

28. Untuk meninggikan izzah (kemuliaan) diri sebagai wanita (muslimah).

29. Saya yakin jilbab akan lebih melindungi diri.

30. Saya yakin jilbab membuat saya lebih merasa aman.

31. Menjaga diri dari gangguan lelaki gatal.

32. Menjaga diri dari obyek pandangan lelaki yang hanya ingin ‘cuci mata’.

33. Menjaga diri dari objek syahwat lelaki.

34. Menjaga diri dari mata lelaki yang bernafsu.

35. Menjaga diri dari tangan-tangan lelaki yang ingin meraba.

36. Menghindar dari zina mata dan zina hati.

37. Menutup aurat merupakan pencegahan dari perbuatan zina itu sendiri.

38. Saya perlu menutup aurat  agar dapat menghindarkan saya dari sikap-sikap yang negative

39. Jilbab dan menutup aurat dapat menghapus keinginan-keinginan yang menyimpang.

40. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya lebih bersahaja.

41. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya lebih khusyu’.

42. Berjilbab dan menutup aurat menjauhkan saya dari perbuatan dosa (insyaAllah).

43. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya malu bila berbuat dosa.

44. Berjilbab dan menutup aurat mendekatkan saya pada Allah.

45. Berjilbab dan menutup aurat mendekatkan saya pada Rasulullah.

46. Berjilbab dan menutup aurat mendekatkan saya pada nabi-nabi-Nya.

47. Berjilbab dan menutup aurat mendekatkan saya pada sesama muslim.

48. Berjilbab dan menutup aurat mendekatkan saya pada ajaran Islam.

49. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya tetap ingin belajar tentang Islam.

50. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya selalu merasa haus akan ajaran Islam.

51. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya tetap ingin menjalankan ajaran Islam.

52. Dengan menutup aurat saya meyakini ajaran Islam berlaku sepanjang masa,

53. Berjilbab dan menutup aurat bukan sesuatu yang kuno.

54. Mengatakan jilbab itu kuno berarti telah menggugat undang-undang Allah.

55. Allah Yang Maha Mengetahui lebih tahu apa yang terbaik bagi ummat-Nya

56. Berjilbab dan menutup aurat  menandakan kemajuan penerapan ajaran Islam di masa kini.

57. Berjilbab dan menutup aurat merupakan satu barometer telah terbentuknya suatu lingkungan yang Islami.

58. Berjilbab dan menutup aurat membedakan diri dari penganut agama lain.

59. Berjilbab dan menutup aurat memudahkan dalam mengenali sesama saudari seiman.

60. Berjilbab dan menutup aurat memperkuat tali silaturahmi dan ukhuwah sesama muslimah.

61. Berjilbab dan menutup aurat menghilangkan keraguan saya bila ingin menyapa saudari muslimah.

62. Berjilbab dan menutup aurat memudahkan menanamkan rasa sayang-menyayangi sesama saudara/saudari seiman.

63. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya lebih anggun.

64. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya terlihat menyejukkan.

65. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya lebih terlihat sebagai ibu.

66. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya tidak terlihat seperti laki-laki.

67. Berjilbab dan menutup aurat membuat saya selalu berada dalam lingkungan yang Islami.

67. Berjilbab dan menutup aurat menjaga saya dari pergaulan yang salah.

68. Berjilbab dan menutup aurat memudahkan saya, dengan izin Allah, mengenal lelaki yang soleh.

69. Saya yakin wanita yang baik (solehah) berjodoh dengan lelaki yang baik (soleh) pula.

70. Berjilbab dan menutup aurat saya berdoa Mudah-mudahan berjodoh dengan lelaki yang soleh.

71. Dengan keta’atan pada Allah berjilbab dan menutup aurat, Allah akan memberikan kemudahan-Nya.

72. Berjilbab dan menutup aurat memudahkan saya dalam berdakwah.

73. Berjilbab dan menutup aurat membuat lebih leluasa bergerak.

74. Jilbab menjagaku sehingga tidak terlihat lekuk-lekuk tubuh

75. Saya sangat susah bila memakai pakaian wanita ketat dan mini seperti trend saat ini

76. Saya tidak suka memakai pakaian yang ketat.

77. Saya percaya pakaian yang ketat dapat menyebabkan gangguan kesehatan karena suhu di sekitar rahim tidak teratur /panas.

78. Pengingat untuk  sholat saat ada seruan sholat

79. Pelindung dari berlebihan dalam berhias.

80. Tidak perlu susah-susah selalu berusaha mengikuti trend modern yang berkembang.

81. Pencegah untuk membeli pakaian yang sedang trend.

82. Pencegah  untuk membeli make up yang neko-neko

83. Melindungi kulit wajah dari make up yang dapat merusak kulit.

84. Melindungi kulit dari sengatan sinar matahari.

85. Berjilbab dan menutup aurat mengurangkan risiko penyakit kanker kulit.

86. Pancaran matahari dapat mengurangi kelembaban kulit sehingga kulit jadi kering.

87. Mengurangi munculnya bintik-bintik hitam pada permukaan kulit akibat perubahan pigmen di usia tertentu.

88. Melindungi rambut dari debu-debu yang berterbangan.

89. Debu-debu itu dapat mengotori rambut dan menyebabkan rambut mudah kotor yang menyebabkan ketidaknyamanan.

90. Membuat saya untuk terpacu hidup lebih sederhana.

91. Menghindari hidup yang boros

92. Membuat diri tidak silau dengan kemegahan dunia dan segala perhiasannya.

93. Membuat saya lebih memikirkan hal lain selain model dan perhiasan.

94. Menempatkan wanita menjadi subjek dalam proses pembangunan ummat.

95. Memiliki semangat untuk melakukan ibadah haji.

96. Memiliki kesempatan lebih banyak untuk berinfaq dan sedekah.

97. Berjilbab dan menutup aurat lebih banyak pahala untuk bekal di hari kemudian.

98. Para nonmuslim yang tidak mentauhidkan Allah saja sangat pede menutup auratnya
99. Membuat saya merasa menjadi wanita sejati.

99+1. Untuk memperoleh Ridha Allah (InsyaAllah).

 

(http://smpputri.wordpress.com)

Mewujudkan kampus miniatur peradaban Islam adalah visi pesantren Hidayatullah Surabaya. Visi ini adalah mulia, dan untuk merealisasikannya perlu spirit yang senantiasa perlu dipelihara. Ust Mohammad Nur Fuad, M -Ketua Badan Pengurus PPH Surabaya, dalam berbagai kesempatan berupaya memberikan apa itu spirit, semangat, passion yang akan menentukan terealisasikannya misi itu. Beliau menyampaikan 5 spirit PPH Surabaya yang diambil dari manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) yaitu:

1. I-khlas (Iqra’ bismirabbika…)

2. Istiqomah dan Disiplin

3. Ibadah kuat

4. Amar ma’ruf Nahi Munkar

5. Ukhuwwah/ Berjamaah

Kelima spirit itu perlu dimiliki oleh siapapun untuk dapat merealisasikan cita-cita/visi. Di Pesantren segenap warga, santri, asatid(ah), pengelola sekolah, karyawan, santri, orang tua, tamu dll apabila memiliki spirit tersebut maka kampus miniatur peradaban islam insya Allah akan terealisasikan.

 

 

Secara elegan ada pesan dari alumni Sekolah Integral SMP Luqman Al Hakim tahun 2011 mengatakan dengan kejujuran intelektualitasnya agar sekolah sekolah mengarah ke SBI yang dia maknai sebagai berikut;

1.  SBI : Sekolah Berstandar Integral (tidak sekuler, tidak mencetak siswa yang atheis atau agnostik bin munafik, tetapi mencetak pelajar yang beribadah pada Allah secara shahih, benar dan termanifestasikan hasil ibadahnya itu dalam keshalihan aktifitas lain sehari-hari)

2. SBI : Sekolah Berstandar Intelektual ( bisa dijamin lulusannya mempunyai logika berpikir yang bagus, bukan sekolah yang Soalnya Berbahasa Inggris)

3. SBI : Sekolah Berstandar Islami (khususnya yang sekarang sudah mengukuhkan dirinya dengan Sekolah Berlabel Islam)

4. SBI: Sekolah Bertaraf Internasional ( sekolah yang jadi jujugan pencari ilmu dari seluruh penjuru dunia, bukan Sekolah Bertarif Internasional).

Membaca kutipan berita 4 Januari 2011:

Seluruh RSBI Tidak Layak jadi SBI

JAKARTA– Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Suyanto menyatakan, sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Indonesia belum layak untuk menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Alasannya, kualitas SDM para pengajar di RSBI masih buruk, meski berlabel internasional.

“Semua belum layak. Tapi gradasinya beda. Ada yang semuanya belum layak, ada yang dari sisi komposisi dan kompetensi gurunya. Kemudian kurikulumnya. Kelemahan utamanya di SDM gurunya. Semangat pemerintah kan guru RSBI itu S2, tapi banyak RSBI yang belum memenuhi standar itu,” ungkap Suyanto ketika ditemui di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Selasa (3/1).

Oleh karena itu, terang Suyanto, hal itu menjadi salah satu alasan utama pemerintah untuk tidak menambah jumlah RSBI. Saat ini diketahui, ada sekitar sebanyak 1100 unit RSBI yang tersebar di seluruh Indonesia. “Tetap tidak ada RSBI baru. Yang sudah ada diperbaiki kurikulum, programnya, prosesnya, rekrutmennya, manajemennya sehingga sesuai dengan permintaan masyarakat,” tukasnya.

Dikatakan, sebenarnya masyarakat keberatan dengan keberadaan RSBI karena masalah pembiayaan yang tinggi. Namun menurutnya, hal itu hanya terjadi di Jakarta. Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengatakan, di daerah lain justru banyak RSBI yang gratis atau tidak memungut biaya operasional pendidikan.

“Sebenarnya, masyarakat itu hanya menyorot masalah bayarnya saja kan? Itu yang mahal itu tidak di seluruh Indonesia, tapi hanya di Jakarta saja. Yang gratis sebenarnya juga banyak. Contohnya, di Surabaya, Nunukan, dan Sulawesi Selatan, itu karena memang ada Perdanya,” paparnya.

Ditegaskan lagi, pemerintah sangat hati-hati dalam rencana menaikkan status RSBI menjadi SBI. Pemerintah harus memperbaiki semua komponen di dalam RSBI tersebut sehingga mampu menjadi SBI yang baik ke depannya.

“Kita kan tidak salah punya sekolah yang bersifat center of excellent. Jadi, itupun juga bisa mencegah anak-anak bersekolah di luar negeri. Sekarang ini sifatnya rintisan menuju SBI. Kalaupun ada diskriminasi atau kasta, memang ada. Tapi, kasta dari sisi akademik,” imbuhnya. (cha/jpnn)

Sementara kita ingat 12  kriteria SBI adalah:

- 8 Standar Nasinal pendidikan /SNP Harus sudah terpenuhi meliputi:

- Standar isi
- Standar proses
- Standar kompetensi lulusan
- Standar Pendidikan dan tenaga kependidikan
- Standar sarana dan prasarana
- Standar Pengelolaan
- Standar pembiayaan
- Standar Penilaian pendidikan

- Guru untuk SMK, minimal S2/S3 sebanyak 30 Persen dari jumlah guru

- Kepala sekolah Min S2 dan mampu berbahasa asing secara aktif

- Akreditasi A (95)

- Sarana dan prasarana berbasis TIK

- Kurikulum KTSP diperkaya dengan kurikulum dari negara maju, serta penerapan SKS pada SMA/SMK

- Pembelajaran berbasis TIK dan bilingual, sister school dengan sekolah dari negara maju

- Manajemen berbasis TIK, ISO 9001 dan ISO 14000

- Evaluasi menerapkan model UN dan diperkaya dengan sistem Ujian Internasional

- Lulusan Memiliki daya saing internasional dalam melanjutkan pendidikan dan bekerja (untuk SMK)

- Kultur Sekolah, terjaminnya pendidikan karakter, bebas bullying (kekerasan dan pelecehan), demokratis, dan partisipatif.

- Pembiayaan dari APBN, APBD, dan boleh memungut biaya dari masyarakat atas dasar RAPBS yang akuntabel, minimal 20 persen peserta didik tidak mampu mendapatkan subsidi pendidikan.

memang bukan ringan untuk ukuran negeri Indonesia. Sementara dari analisis, keunggulan RSBI yang diharapkan adalah:
1) Pembelajaran bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang.
2) Penerapan pembelajaran berbasis TIK menjadi salah satu keunggulan karena dengan pembelajaran berbasis TIK siswa diajarkan untuk lebih mandiri.
3) Sarana dan prasarana yang menunjang siswa dalam pembelajaran seperti Laboratorium bahasa, laboratorium IPA, ruang kelas yang dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK, ruang multimedia, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olahraga, klinik, dan lain – lain.

Dampak positifnya;

1) Dengan pembelajaran yang bersifat interaktif dan inspiratif memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.
2) Penerapan pembelajaran berbasis TIK, disamping berdampak negatife, keberadaannya juga banyak membawa dampak positif, selama para pelakunya memanfaatkan teknologi dengan benar dan tepat.Dalam dunia pendidikan, teknologi dapat mempermudah guru dalam bahan ajar menjadi menarik untuk disimak para siswa, begitupun disegi administrasi, akan mempermudah para tenaga administrasi dalam pengelolaan administrasi sekolah.Namun untuk mewujudkan sekolah berbasis ICT tidaklah seperti membalik telapak tangan, perlu kerja keras serta kemauan yang kuat dari semua pihak, banyak faktor yang menyebabkan tidak berjalannya teknologi di sekolah, salah satunya adalah sumber daya manusia yang belum siap.
3) Memotivasi para siswa untuk mampu bersaing dalam dunia global. Anak-anak kita tak kalah dengan anak-anak dari negara lain. Siswa-siswa sekolah kita lebih berani mencoba hal-hal baru, dan menantang para guru untuk mengembangkan metode dan model pembelajaran di dunia internasional.

Pun begitu kelemahan program RSBI adalah:

1) Konsepnya Lemah
Di dalam program RSBI dikenal standar penilaian seperti berikut : RSBI = SNP + X, yang artinya Standart Nasional Pendidikan (SNP) ditambah X. Yang dimaksud ditambah X disini adalah Standart Nasional Pendidikan yang diperkaya, dikembangkan, diperluas, diperdalam melalui adaptasi atau adopsi terhadap standar pendidikan yang dianggap reputasi mutunya diakui secara internasional baik dari dalam maupun luar negeri.Namun,dalam hal ini mengenai apa yang diperkaya, dikembangkan, diperluas , ataupun diperdalam adalah suatu hal yang belum jelas dan masih dipertanyakan.Sering disebutkan bahwa unsur X itu diambil dari standart internasional dari salah satu anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) atau sebuah organisasi kerjasama antar negara dalam bidang ekonomi dan pengembangan.
Apakah dengan menggunakan standart tersebut maka sekolah di Indonesia sudah ‘ bertaraf Internasional’?.Hal ini benar – benar perlu dipertanyakan karena apakah semudah itu untuk menjadi sekolah bertaraf Internasional.Jadi unsur X dalam standart tersebut bersifat tidak jelas atau dapat dikatakan bahwa konsep RSBI tidak jelas.
2) Salah Model
Dikdasmen membuat rumusan 4 model pembinaan SBI yaitu:
a) Model Sekolah Baru (Newly Developed SBI).Dalam model penyelenggaraan ini, SBI didirikan dengan segala isinya yang baru (siswa, kurikulum, guru, kepala sekolah, sarana dan prasarana, dan dana ) bertaraf Internasional.
b) Model Pengembangan Sekolah Yang Ada (Exixting Developed SBI). Pengembangan SBI dilakukan dengan mengembangkan sekolah yang telah ada saat ini, khususnya sekolah yang memiliki mutu bagus (misalnya sekolah dengan katogeri mandiri atau SKM), memiliki guru professional, kepala sekolah tangguh, dan sarana dan prasarana yang memungkinkan dapat dikembangkan lebih lanjut
c) Model Terpadu (Integrated SBI).Model pengembangan SBI di mana sekolah dengan beda jenjang (SD, SMP, SMA, dan SMK )dibangun secara terpadu dalam satu kompleks dan dipimpin oleh seorang kepala sekolah atau masing – masing satuan pendidikan dipimpin oleh satu kepalasekolah. Dalam manajemennya terdapatsharing fasilitaspendidikan akan sangat meringankan karena terdapatsharing biaya modal (shared capital cost) dansharing biaya operasional (shared operational cost) sekaligus.
d) Model Kemitraan (Partnership SBI).Dalam model ini, SBI dipilih dari sekolah yang ada saat ini (existing)maupun sekolah baru (newly) untuk bermitra dengan salah satu sekolah di luar Negara maju yang telah memiliki reputasi internasional.
Dari keempat model tersebut Padahal sebenarnya hanya ada dua model yang digunakan yaitu Model (1) Model Sekolah Baru dan Model (2) Model Sekolah yang Telah Ada. Dua lainnya hanyalah teknis pelaksanaannya saja. Dari dua model tersebut Dikdasmen sebenarnya hanya melakukan satu model rintisan yaitu Model (2) Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada (existing School) dan tidak memiliki atau berusaha untuk membuat model (1) Model Sekolah Baru. Anehnya, buku Panduan Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang dikeluarkan sebenarnya lebih mengacu pada Model (1) padahal yang dikembangkan saat ini semua adalah Model (2). Jelas bahwa sekolah yang ada tidak akan mungkin bisa memenuhi kriteria untuk menjadi sekolah SBI karena acuan yang dikeluarkan sebenarnya ditujukan bagi pendirian sekolah baru atau Model (1).
* Sebagai contoh, jika sekolah yang ada sekarang ini diminta untuk memiliki guru berkategori hard science seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi (dan nantinya diharapkan kategori soft science-nya juga menyusul) menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, atau memiliki tanah dengan luas minimal 15.000 m, dll persyaratan seperti dalam buku Panduan, maka jelas itu tidak akan mungkin dapat dipenuhi oleh sekolah yang ada. Ini ibarat meminta kereta api untuk berjalan di jalan tol!
Sebagai ilustrasi, sedangkan guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah ‘favorit’ kita saja hanya sedikit yang memiliki TOEFL > 500, padahal mereka adalah guru-guru bahasa Inggris yang telah mendapat pendidikan khusus tentang pembelajaran bahasa Inggris selama minimal 4 tahun di kampus dengan tenaga dosen mumpuni,. Tapi toh hanya sedikit di antara mereka (para guru bahasa Inggris) yang mampu memperoleh skor TOEFL >500. Apalagi jika itu dipersyaratkan bagi guru-guru mata pelajaran hard science. Maka itu jelas tidak mungkin. Ini berarti Dikdasmen tidak mampu untuk menerjemahkan model yang ditetapkannya sendiri sehingga membuat Dikdasmen berresiko gagal total dalam mencapai tujuannya.
3) Salah Asumsi
Konsep ini berangkat dari asumsi yang salah tentang penguasaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan hubungannya dengan nilai TOEFL. Dalam hal ini muncul asumsi bahwa untuk mengajar dengan bahasa pengantar bahasa Inggris maka seorang pendidik harus memiliki TOEFL > 500.Padahal tidak ada hubungannya antara nilai TOEFL dengan kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris.Banyak orang yang memiliki nilai TOEFL tinggi namun pada kenyaannya dia belum mampu menggunakan Bahasa Inggris secara baik dan benar,Jadi TOEFL bukanlah tolak ukur seoarng pengajar yang berkompeten dalam bahasa Inggris.Sungguh menyedihkan jika kita menghubungkan dua hal yang pada dasarnya tidak ada kaitanya sama sekali.
4) Ketidakpahaman
Di dalam buku Panduan Penyelenggaraan Rintisan RSBI/SBI dijelaskan bahwa seorang guru RSBI harus memenuhi syarat yaitu memiliki TOEFL > 500.Nampaknya penggagas ide tersebut tidak paham bahwa tidak semua orang ( terutama guru PNS ) bias dijadikan fasih berbahasa Inggris ( apalagi mengjar dengan menggunakan Bahasa Inggris )mereka meskipun orang tersebut diminta untuk tinggal dan hidup di negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari – hari. Di Indonesia, masih banyak kita temukan guru yang tidak fasih menggunakan Bahasa Indonesia dalam mengajar karena sebagian dari guru kita di tanah air ini masih menggunakan bahasa daerahnya dalam mengajar meski tinggal dan hidup di lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.Menjadikan orang dewasa yang tidak berbahasa Inggris sama sekali agar menguasai bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari atau untuk meminta mereka mentransfer konsep pengajaran dalam bahasa Inggris secara cepat adlah hal yang sangat sulit.Hal ini menunjukan bahwa tidak mungkin ‘menyulap’ para guru agar dapat fasih berbahasa Inggris secara cepat walaupun dikursuskan di sekolah bahasa Inggris terbaik.
5) Proses, dan Bukan Alat
Penggunaan kata atau istilah ‘ bertaraf Internasional ‘ juga memberikan asumsi yang salah bahwa sekolah bertaraf internasional itu harus menggunakan bahasa asing ( Inggris ) dan harus menggunakan alat-alat canggih seperti laptop,penyediaan ruang ber – AC, LCD, atau VCD.Bahkan ada yang beranggapan bahwa tanpa adanya sarana dan prasarana tersebut maka tidak memenuhi kriteria sekolah bertaraf Internasional.Padahal di negara-negara maju seperti Jepang, Perancis, Finlandia, Jerman, Korea, Italia, dll. yang dijadikan rujukan oleh negara kita tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pendidikan jika ingin menjadikan sekolah mereka bertaraf internasional.Disamping itu,masih banyak sekolah hebat di luar negeri yang masih menggunakan kapur tulis sebagai media pembelajaran dan tidak mensyaratkan penggunaan alat-alat canggih.
Program RSBI di Indonesia ini kelihatanya lebih mengutamakan alat daripada proses.RSBI dipandang sebagai suatu hal yang mewah dengan adanya alat-alat yang canggih dan mahal serta penggunaan bahasa Inggris dalam pembalajaranya.

6) Tujuan Pendidikan yang Misleading
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( RSBI ) mengadopsi atau berkiblat pada Standart Internasional seperti Cambridge atau Internasional Baccalaureate ( IB ) .Dengan sistem tersebut siswa mereka memang dipersiapkan untuk belajar dan melanjutkan ke luar negeri.Mereka tidak perlu dengan adanya Ujian Nasional karena mereka lebih dipersiapkan untuk ke Universitas di luar negeri bukan ke Universitas di Indonesia sendiri.Dengan demikian, apa yang sebenarnya hendak dituju dengan program RSBI?. Jika yang hendak dituju adalah peningkatan mutu pembelajaran dan output pendidikan maka mengadopsi IB ataupun mengikutsertaan siswa dalam ujian Cambridge bukan jawaban yang tepat. Ujian Cambridge hanya diperuntukkan bagi siswa yang ingin melanjutkan ke luar negeri.Meski demikian nilai yang tinggi dalam ujian Cambridge juga bukan jaminan penuh untuk diterima di perguruan tinggi di luar negeri.Ujian Cambridge hanya bersifat memudahkankan siswa untuk diterima di Perguran Tinggi Luar negeri yang mengakui hasil ujian Cambridge.Masalah yang muncul adalah berapa banyak siswa yang ingin melajutkan ke luar negeri? Berapa banyak lulusan dari sekolah kita yang mampu secara materi dan prestari untuk melanjutkan ke luar negeri ? Jika pemerintah tidak mempunyai data yang jelas tentang hal ini,tidak seharusnya pemerintah semenang-menang mengubah sistem menjadi RSBI.Hal tersebut sama halnya kita menelantarkan mereka yang tidak mampu melanjutkan ke luar negeri.Untuk apa kita bekerja keras membawa siswa kita menuju system Cambridge jika sebenarnya tujuan yang hendak dituju bukanlah kesana.Ini adalah contoh tujuan pendidikan yang misleading.Jelas sekali bahwa tidak mungkin sekolah memiliki dua kiblat yaitu Ujian Cambridge dan Ujian Nasional karena akan menyulitkan dan memberatkan bagi sekolah maupun murid untuk mengikuti dua kiblat tersebut. Alangkah ganjilnya jika sebuah sekolah yang bertaraf Internasional tapi kemudian masih harus mengikuti sebuah Ujian Nasional!.
7) Pernah Gagal di Malaisya
Malaisya adalah salah satu Negara yang juga menerapkan program RSBI di negaranya namun mereka menyatakan bahwa program RSBI/SBI tersebut gagal.Seharusnya pemerintah perlu mengetahui hal tersebut karena kita juga perlu belajar dari kegagalan – kegagalan Negara tersebut.Jangan sampai kita juga terperosok dalam kegagalan itu juga.Pengalaman Negara Malaisya dengan program pengajaran IPA dan matematika di sekolah – sekolah yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris sejak tahun 2003 ini sudah dianggap gagal dan berencana menghentikannya secara total pada tahun 2012 nanti.Berdasarkan riset yang mereka lakukan,penggunaan bahasa Inggris tersebut justru menurunkan mutu SDM. Dan Malaisya kembali menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar pendidikan.Sungguh kesalah besar jika kita mengulangi keslahn yang pernah dilakukan oleh Negara Malaisya.

8) Metode Pembelajaran yang Kurang Tepat
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Model pembelajaran dalam RSBI menggunakan bahasa Inggris sebagai medium of instruction ( bilingual pada setiap mata pelajaran ).Hal ini menimbulkan penekanan pada guru – guru yang pada dasarnya tidak memiliki kompetensi di dalam Bahasa Inggris,namun mereka dituntut untuk menguasai dan menyampaikan materi dalam bahasa inggris. Berharap target yang tinggi dari guru yang tidak kompeten (atau kompetensinya merosot karena harus menggunakan bahasa asing) adalah kesalahan yang sangat fatal. Resiko kegagalannya sangat besar untuk ditanggung. Program RSBI/SBI ini bakal menghancurkan best practices dalam proses KBM yang selama ini telah dimiliki oleh sekolah-sekolah Mandiri yang dianggap telah mencapai standar SNP tersebut.Bagaimana bisa seorang guru membantu peserta didiknya agar bias belajar dengan baik jika gurunya sendiri tidak baik dalam penyampaian materinya.
9) Pendidikan bermutu bukan hanya untuk orang yang cerdas dan kaya
Seorang siswa yang ingin masuk ke sekolah dengan program RSBI harus mengikuti beberapa tes diantaranya yaitu tes IQ , tes pengetahuan akademik, tes TOEFL, dan tes bakat minat.Dari serentetan tes tersebut terlihat bahwa program ini lebih mengutamakan seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi.Sehingga muncul asumsi bahwa seorang anak dengan kecerdasan rata – rata tidak dapat diterima di sekolah tersebut.Ini juga mengasumsikan bahwa SNP ( Standart Nasional Pendidikan ) hanyalah bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan ‘rata – rata’.Ini adalah asumsi yang berbahaya dan secara tidak sadar telah ‘mengkhianati’ SNP itu sendiri karena menganggapnya ‘tidak layak’ bagi siswa – siswa cerdas Indonesia.Disamping itu biaya yang mahal juga menunjukkan bahwa program ini hanya ditujukan untuk kalangan menengah ke atas yang mampu membayar uang gedung yang jumlahnya tidak sedikit.

Dan dampak negatif RSBI ;

1) Tergesernya Budaya Indonesia
Dalam hal ini yang dimaksud dengan budaya Indonesia yaitu
“ Bahasa Indonesia “.Bahasa Nasional yang diikrarkan pada tahun 1928 sebagai bahasa persatuan itu kini sedikit demi sedikt mulai tergeser. Peneliti bahasa, Dr Dendy Sugono, menilai penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan di sekolah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 (Kompas.com:8/11/10). Dalam Undang – Undang dasar 1945 pasal 29 tentang Bendera, Bahasa, Lambang negara serta lagu kebangsaan,disebutkan secara jelas bahwa bahasa resmi negara yang digunakan adalah Bahasa Indonesia.Hal ini juga bertentangan dengan Pasal 33 Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional .
Dalam kedua Undang – Undang tersebut,bahasa pengantar pendidikan nasional adalah bahasa Indonesia,sehingga sejumlah SBI dan RSBI seharusnya mengutamakan penggunaan bahasa Idonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan bukan bahasa asing seperti bahasa Inggris.
Untuk mencapai pendidikan bertaraf Internasional,seharusnya yang perlu ditingkatkan adalah mutu pendidikan dan wawasan para siswanya,tidak sebatas penggunaan bahasa asing di sekolah.

2) Rintisan Sekolah Bertarif Internasional
Telah terjadi kesalahan asumsi bahwa sekolah ‘bertaraf Internasional’ itu harus diajarkan dengan bahasa asing (Inggris) dengan menggunakan media pedidikan yang mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, VCD, dan lain – lain.Serta harus dilengkapi dengan fasilitas yang memadai dan serba wah,seperti ruang ber- AC, hotspot area, laboratorium praktikum yang mana biaya dari pengadaan sarana dan prasarana tersebut juga menjadi tanggungan para siswanya.Sebelum resmi menjadi seorang siswa di sekolah RSBI, dia akan disodori surat pernyataan tentang kesanggupan menyumbang fasilitas sekolah yang saat itu dibutuhkan misalnya computer. Bayangkan saja berapa harga computer saat itu, belum lagi uang pendaftaran yang tidak murah serta uang SPP bulanan yang saat ini mahalnya bersaing dengan biaya SPP di perguruan tinggi.Selain biaya fasilitas, kita lihat juga biaya yang digunakan untuk buku panduan.Buku yang digunakan adalah buku impor yang berstandart Negara maju, karena bukunya impor maka harganya pun impor alias mahal.
Negara Indonesia rata – rata berpenghasilan menengah ke bawah, jika semua sekolah berlomba – lomba untuk menjadi sekolah RSBI, maka bagaimana nasib orang yang tak mampu membiayai pendidikan anaknya.Tentu ini akan menimbulkan masalah putus sekolah pada anak – anak tidak mampu.

3) Menimbulkan paham diskriminatif
Salah satu hal yang melatar belakangi berdirinya program RSBI adalah untuk mencegah kalangan menengah keatas yang ingin mengirim anak-anaknya keluar negeri karena ingin memberikan pendidikan yang bermutu bagi anaknya.Tentunya alasan itu hanyalah isu belaka.Selama ini adakah hal yang membuktikan bahwa dengan adanya RSBI para orang tua yang ingin menyekolahkan ke luar negeri akhirnya membelokan mereka ke sekolah RSBI.Argumen tersebut juga terasa ganjil dan tidak wajar.Jika dipikir,kenapa pemerintah harus mencegah mereka yang ingin bersekolah di luar negeri dengan membuat program sekolah khusus seperti RSBI ini jika mereka sendiri pada dasarnya sudah memiliki kepandaian ( dan biaya ),sehingga mereka bisa bebas memilih pendidikan bermutu dimana saja.Bagi mereka dari kalangan menengah atas, pintu untuk masuk kesekolah mana saja adalah hal yang sangat mudah.Mereka tidak butuh sekolah gratis dan bisa bayar sekolah swasta semahal apapun.Uang bukanlah masalah buat mereka dan pemerintah tidak perlu repot-repot membuatkan program khusus untuk mereka yang ingin bersekolah di luar negeri.Program ini terlihat begitu mengabaikan siswa yang secara ekonomis dan akademis lebih membutuhkan penanganan. Sesungguhnya program ini adalah program yang memalukan bangsa dan menghianati rakyat kecil.Ini bersifat diskriminatif terhadap rakyat kecil.

4) Menyebabkan degradasi penurunan mutu pendidikan
Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar justru menurunkan kualitas pendidikan karena belajar menggunakan bahasa asing itu adalah hal yang sulit.Mata pelajaran IPA dan Matematika dengan panduan bahasa Indonesia aja sudah dianggap sulit oleh siswa, apalagi jika dituntut untuk mempelajari buku yang berbahasa Inngris denagn di ddampingi oleh guru yang tidak berkompeten juga.Hal tersebut justru merusak KBM.Karena dari guru maupun siswanya sama – sama tidak mengetahui jiwa buku tersebut.
Hal tersebut juga mempengaruhi psikologi seorang siswa. Seorang siswa yang belum siap akan sistem pembelajaran tersebut, dia pasti akan mengalami takanan karena merasa tidak mampu walaupun pada saat tes dia mendapatkan nilai TOEFL yang bagus.Tidak akan ada peningkatan mutu jika hal tersebut tetap terjadi.Justru sebaliknya, mutu pendidikan di Indonesia akan menurun.

5) Komersialisasi pendidikan
Salah satu kritik terbesar dari masyarakat tentang SBI ini adalah bahwa program ini telah memberi legitimasi kepada sekolah untuk melakukan komersialisasi pendidikan. Pendidikan diperdagangkan justru oleh pemerintah yang seharusnya memberikan pelayanan pendidikan kepada rakyatnya secara gratis dan juga bermutu. Komersialisasi pendidikan ini adalah pengkhianatan terhadap tujuan pendirian bangsa dan negara. Saat ini sekolah-sekolah publik RSBI bahkan telah menjadi lebih swasta dari swasta dalam memungut biaya pada masyarakat. Hampir semua sekolah RSBI menarik dana dari masyarakat dengan biaya tinggi yang sebenarnya sungguh tidak layak mengingat mereka adalah sekolah publik yang semestinya dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah dan ‘haram’ sifatnya menjadi komersial. Saat ini biaya untuk masuk ke sekolah SMA RSBI mencapai Rp. 15.000.000,- untuk biaya masuknya dan Rp. 450.000,- untuk SPP-nya.

6) Menimbulkan Kesenjangan Sosial
Program SBI ini di lapangan ternyata menciptakan kesenjangan sosial pada siswa. Program SBI menjadikan sekolah yang mengikutinya menjadi eksklusif dan menciptakan kastanisasi karena hanya bisa dimasuki oleh anak-anak kalangan menengah ke atas. Tingginya pembiayaan yang dikenakan pada orang tua siswa membuat sekolah-sekolah SBI ini tidak dapat dimasuki oleh anak-anak dari kalangan bawah. Akibatnya terjadi kesenjangan sosial di sekolah. Siswa yang belajar di program ini merasa seperti kelompok elit yang berbeda dengan siswa kelas reguler.

7) Meremehkan SNP
Salah satu masalah yang muncul dari istilah ‘bertaraf internasional’ adalah kerancuan dan keganjilan. Sungguh ganjil jika sebuah UU Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) tiba-tiba memunculkan sebuah istilah ‘bertaraf internasional’ ! Mau dimasukkan ke mana dan dengan konstelasi bagaimana sebuah sistem pendidikan yang ‘bertaraf internasional’ dalam sebuah Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), apalagi dianggap sebagai standar tertinggi? Coba bayangkan betapa ganjilnya sebuah UU tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang justru mengagung-agungkan kurikulum negara asing (OECD).

8) Kesalahan konseptual
Kesalahan konseptual (R)SBI adalah terutama pada penekanannya pada segala hal yang bersifat akademik dengan menafikan segala yang non-akademik. Semua keunggulan yang hendak dicapai oleh program SBI ini adalah keunggulan akademik semata dan tak ada lain. Seolah tujuan pendidikan adalah untuk menjadikan siswa untuk menjadi seseoarang yang cerdas akademik belaka. Tak ada dibicarakan tentang keunggulan di bidang Seni, Budaya, dan Olahraga. Padahal paradigma keunggulan akademik adalah pandangan yang sudah sangat kuno. Seolah ‘bertaraf internasional’ adalah keunggulan akademik padahal justru Seni, Budaya, dan Olahragalah yang akan lebih mampu mengantarkan kita untuk bersaing dan tampil di dunia internasional. Jika kita tanya pada hampir semua orang mengenai apa yang mereka ketahui tentang Negara Argentina maka jawaban yang kita dapatkan mayoritas menyatakan “Maradona.”! Dan Maradona bukanlah symbol tentang keunggulan akademik samasekali. Di negara lain pemerintah juga menyelenggarakan pendidikan khusus bagi anak-anak yang paling berbakat agar mereka dapat melesatkan potensi mereka tanpa bergantung pada siswa yang lambat. Ada beberapa sekolah publik untuk gifted students di Australia. Meski demikian pembiayaannya tidak dengan menarik iuran pada orang tua. Sekolah tersebut harus kreatif mencari dana untuk membiayai kegiatan-kegiatannya yang padat tersebut.

Terus bagaimana?

Secara elegan ada pesan dari alumni Sekolah Integral SMP Luqman Al Hakim mengatakan dengan kejujuran intelektualitasnya agar sekolah sekolah mengarah ke SBI yang dia maknai sebagai berikut;

1.  SBI : Sekolah Berstandar Integral (tidak sekuler, tidak mencetak siswa yang atheis atau agnostik bin munafik, tetapi mencetak pelajar yang beribadah pada Allah secara shahih, benar dan termanifestasikan hasil ibadahnya itu dalam keshalihan aktifitas lain sehari-hari)

2. SBI : Sekolah Berstandar Intelektual ( bisa dijamin lulusannya mempunyai logika berpikir yang bagus, bukan sekolah yang Soalnya Berbahasa Inggris)

3. SBI : Sekolah Berstandar Islami (khususnya yang sekarang sudah mengukuhkan dirinya dengan Sekolah Berlabel Islam)

4. SBI: Sekolah Berstandar Internasional ( sekolah yang jadi jujugan pencari ilmu dari seluruh penjuru dunia, bukan Sekolah Bertarif Internasional).